Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
227. Memaafkan


__ADS_3

Happy Reading..


__________


"I- ibu... " Lirih Fatma.


Matanya terbelalak namun langkahnya kini berubah menjadi mundur dan menjauh dari Nesa.


Besar yang sudah ketahuan air matanya kini kembali mengalir deras deras, apalagi di tambah dengan melihat mata kebencian dari mata Fatma, itu semakin membuatnya sakit.


Ternyata begitu sakit saat di benci oleh anaknya sendiri, kenapa dia tidak pernah berfikir ini dulu saat dia menelantarkan kedua anaknya.


"Fat- Fatma, maafkan ibu." Tatapan mata yang seharusnya penuh dengan kasih sayang dan mengayomi kini berubah menjadi tatapan yang sangat sangat menyakitkan dan penuh dengan penyesalan.


Derai air mata yang seharusnya keluar karena melihat tangis kesedihan dari semua anak-anaknya kini air mata itu keluar karena meminta belas kasih untuk mendapatkan maaf dari anaknya.


Rindu, itulah yang Nesa rasakan, dia ingin sekali menggapai tubuh anaknya yang kini sudah dewasa, dia ingin memeluknya dengan hangat, menghapus air matanya dan mengurangi beban dukanya tapi sepertinya itu tidak akan bisa dia lakukan.


Sungguh sakit hati Nesa, mungkin dia memang tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan maaf dari Fatma maupun dari Aira. Apalagi untuk bisa memeluknya? Itu tidak akan pantas lagi setelah apa yang dia lakukan.


Melihat Fatma yang tak mau mendekat membuat hati Nesa semakin bertambah sakit. Tapi Nesa tak bisa apa-apa dia hanya bisa menyesal dan menyesal di dalam derai air matanya.


Nesa terduduk, bersimpuh di hadapan Fatma yang juga sama sakit hatinya."Maafkan Ibu, maafkan Ibu.. " Nesa terus menunduk menyatukan kedua tangannya seraya memohon ampun kepada Fatma.


"Ibu ngaku salah, Ibu menyesal. Ibu minta maaf, Fatma. Ibu minta maaf.. " Nesa semakin terisak dalam penyesalan.


"Mungkin Ibu memang tidak pantas mendapatkan kata maaf darimu, Fatma. Tapi Ibu benar-benar menyesal. Ibu hanya ingin bisa tenang Fatma, setelah ini Ibu janji tidak akan pernah hadir di hadapanmu lagi, tapi Ibu mohon, maafkan Ibu."


Fatma masih diam, dia sangat bingung apa yang harus dia lakukan. Fatma juga sangat merindukan ibunya, dia juga ingin memeluknya, dia juga ingin bisa merasakan setiap belaian dari seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


Tapi hatinya terasa sangat susah untuk menerimanya, kebenciannya sangat besar dan seakan menghapus semua akalnya. Fatma menggeleng, dia masih tak mau menerima permintaan maaf itu dari Nesa. "Tidak, tidak."


Nesa semakin sakit mendengar penolakan dari Fatma, mungkin itu memang pantas untuknya. Tapi itu tetap tidak menyurutkan senang Nesa untuk mendapatkan maaf Dari Fatma, Nesa merangkak mendekati Fatma jika harus dengan mencium kakinya dia bisa mendapatkan maaf dari Fatma maka Nesa akan bersedia untuk melakukannya.


"Bu, apa yang ibu lakukan! " Jio yang panik melihat Nesa yang sudah merangkak ke arah Fatma, bahkan Jio mengikuti Nesa berjalan menggunakan lututnya.


Fatma terus mundur, dia tidak ingin sampai Nesa berhasil menyentuhnya.


Ikhsan yang melihat adegan itu, dia langsung mendekati Fatma, merangkul pundaknya dan berusahalah menasehatinya.


"Fatma, Mas tau itu tidak akan mudah untuk kamu memaafkan Ibu Nesa. Tapi Fatma, sebesar apapun kesalahannya dia tetaplah ibumu, tak seorang anak yang melakukan kesalahan lalu meminta maaf kepada orang tua, tapi ada kalanya orang tua bisa melakukan kesalahan, dan kita sebagai anak harus bisa memaafkannya."


"Ibu Nesa sudah sangat menyesali perbuatannya, dia sudah mendapatkan ganjarannya, apakah tidak ada sedikit rasa kasih sayang yang tersisa di hatimu untuk Ibu Nesa? Apa kamu benar-benar tidak akan bisa memaafkan Ibu Nesa? "


"Kamu adalah wanita yang baik Fatma, mas sangat tau itu. Jangan kamu kau tutup semua kebaikan yang ada di dalam hatimu itu dengan kebencian, maafkanlah Ibu Nesa, aku yakin kamu akan lebih bahagia saat kamu benar-benar bisa memaafkan. "


"Allah saja maha Pemaaf, apakah kita yang hanya seorang hamba tidak bisa memaafkan?"


"Mas.. " Fatma memandangi Ikhsan dan Ikhsan hamya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawabannya.


Nesa sudah ada tepat di hadapan Fatma, dia duduk di sana memohon ampun pada anaknya sendiri akan semua kesalahannya.


"Fatma, jika Ibu harus mencium kakimu supaya bisa mendapatkan maaf mu, maka Ibu akan lakukan, Fatma. Ibu akan lakukan apapun untuk mendapatkan maaf darimu."


Fatma melotot mendengar itu dari Nesa, seorang Ibu tidak patut melakukan itu pada anaknya, jika itu terjadi bukankah anaknya yang akan menjadi anak yang durhaka?.


Perlahan-lahan Nesa mulai membungkuk, tangan nya sudah ingin menyentuh kaki Fatma.


Bukan hanya Nesa yang merasa sakit Fatma pun juga merasa sangat sakit hatinya. Jika Nesa benar-benar sampai menyentuh kakinya maka durhaka lah Fatma kepadanya.

__ADS_1


Akhsan dan Ikhsan sudah sangat was-was melihat Apa yang akan di lakukan oleh Nesa. Berkali-kali mereka berdua memandangi Fatma yang masih berdiam dan beralih ke Nesa yang sudah semakin dekat.


"Fatma... " Lirih Ikhsan.


"Bu, ibu kenapa? Kakak cantik! Ibu kenapa?? " Teriak Jio panik.


"Bu, ibu! Apa yang ibu lakukan! Bukankah ibu yang selalu bilang pada Jio kalau kita tidak boleh bersujud kepada orang! Bukankah kita hanya boleh bersujud kepada Allah saja!? " Teriak Jio.


Suara dari Jio hanya seperti angin lalu untuk Nesa, dia sudah tidak peduli lagi, dia hanya ingin bisa mendapatkan kata maaf dari Fatma, dia tidak peduli lagi harkat martabatnya jatuh.


Tangan yang hampir menyentuh kaki Fatma akhirnya terhenti karena Fatma mengibaskan nya.


Semua terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Fatma barusan, namun itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba Fatma ikut terduduk di hadapan Nesa lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Maafkan Fatma, Bu. Maafkan Fatma yang terlalu egois. Maafkan Fatma. " Tangis keduanya pecah.


Keduanya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan yang erat. Nesa bersyukur akhirnya Fatma bisa memaafkannya, dan akhirnya dia bisa memeluk anaknya setelah sekian lama tidak bertemu.


"Maafkan Ibu, Fatma. Maafkan Ibu. " Lirihnya.


Air mata tuak luput dari mata Akhsan juga Ikhsan, mereka berdua sangat terjadi melihat kejadian ini. Keduanya sangat bersyukur akhirnya Fatma bisa memaafkan Ibunya.


"Alhamdulillah." Seru Ikhsan seraya mengusap kedua telapak tangan ke wajahnya.


"Alhamdulillah." Akhsan mendekati Ikhsan menepuk-nepuk bahunya karena ikut senang.


Antara senang dan haru berseru menjadi satu di hati Ikhsan, dia tidak pernah salah menilai Fatma, meskipun dia suka usil dan kadang-kadang suka tidak wajar namun hatinya sangatlah baik, dan itulah yang membuat cinta Ikhsan semakin besar untuk Fatma.


__

__ADS_1


Bersambung...


______________


__ADS_2