
Sang surya telah kembali bersinar, menghangatkan dunia dengan pancaran nya yang selalu di nantikan. Hari baru dan aktivitas pun kembali di mulai seperti biasa, duka yang kemarin gak boleh menghentikan kehidupan untuk masa sekarang dan masa depan.
Semua terdiam di meja makan asyik dengan makanan mereka masing-masing tanpa bersuara. duka masih terlihat jelas di wajah Keisha nafsu makannya belum juga kembali ingatan akan anak gadis nya yang sudah satu minggu pergi pun masih terus terbayang bebas di pikiran nya.
Semua nampak kasihan, tapi mau bagaimana lagi, Keisha masih menolak untuk mengakui jika yang telah pergi itu adalah Aisyah anaknya.
" Ma, makan lah. apa perlu Papa suapin.? Rayyan menarik piring Keisha kehadapan nya mengambil satu sendok nasi dan ia sodorkan pada Keisha namun tak di terimanya. " Ma,, "
Bukannya menerimanya Keisha malah beranjak pergi, dia masih marah dengan semuanya yang tak percaya padanya. dia seolah hanya seorang diri yang percaya bahwa anaknya masih hidup " aku tidak lapar. " Keisha melenggang pergi dari hadapan semuanya.
Rayyan mengeluarkan nafas panjang, mengatur kesabarannya menghadapi sang istri. Rayyan mengurai senyum saat dia menjadi pusat perhatian dari ketiga anaknya dan dua menantunya. " makan lah. biar Papa yang menyusul Mama " Rayyan pun beranjak dengan sepiring nasi beserta lauk pauk di tangan nya.
" Iya Pa." jawab semua nya serentak
Mereka kembali menikmati makanan mereka, mereka harus kembali beraktivitas seperti biasa, sekolah dan juga kantor semua harus kembali berjalan.
" Bang, apa kalian benar-benar yakin mereka adalah Aisyah dan Shelvia.? tanya Faisal dengan menunduk takut di hadapan kedua abangnya. " tapi kenapa rasanya begitu susah untuk percaya. "
Apa yang Faisal katakan memang benar bahkan Akhsan dan Ikhsan juga belum bisa percaya sepenuhnya bahwa mereka adalah Aisyah dan Shelvia, tapi semua bukti mengarah pada keduanya, bahkan berbagai tes pun juga tak bisa di ragukan lagi. mana mungkin kan ada seseorang yang berniat memalsukan semua tes itu, untuk apa coba.?
" sebenarnya Abang juga belum percaya itu dek. Tapi semuanya telah dapat di buktikan bukan. " jawab Akhsan kembali bersedih. " seandainya yang kita kuburkan bukan mereka terus dimana mereka sekarang, dan siapa orang yang telah meninggal itu. "
Ikhsan menaikkan kedua bahunya tidak tau. semuanya terasa seperti teka-teki namun terasa sangat sukar untuk di selidiki karena semua sudah jelas, tapi bagaimana jika memang ada yang memalsukan semua tes itu.
" sudah lah, jangan bicarakan ini di sini kalau sampai Mama dan Aunty dengar mereka akan kembali sedih "
Ya setelah kepergian Aisyah dan Shelvia, Airin masih di sana tapi berada di pendopo Tasya dan Fahmi. Airin begitu terpukul bahkan sampai sekarang dia masih terus diam dan tak mau bicara sepatah katapun meskipun itu dengan David ataupun Tasya.
" Mas, ini sudah siang, nanti Fatma telat" Fatma mengerucut bibir, kesal karena tak kunjung berangkat padahal mereka sudah selesai dengan sarapan mereka bahkan piring dan gelasnya sudah dia bereskan.
semuanya menoleh ke Fatma dan mengangguk setelah melihat arloji di tangan mereka masing-masing. " ya sudah yuk berangkat. " Ikhsan beranjak dengan membawa tas nya.
" meskipun telat nggak bakal di hukum kan Fatma,? mana mungkin suami mu akan menghukum mu. iya kan Dek, " Akhsan berucap dengan asal terkikik dengan wajah menunduk.
__ADS_1
Kairi yang melotot dan menganga, sejak kapan suami nya mulai lemes mulut nya. meskipun benar sih Ikhsan tak bakal menghukum Fatma tapi nggak seharusnya kan Akhsan menggoda seperti itu. " Bugh, " Kairi memukul lengan Akhsan sedikit keras dan membuat Akhsan semakin terkikik. " Mas,!!
" yuk Fatma, anggap saja hanya suara tokek yang iri " Ikhsan menarik pergelangan tangan Fatma dengan cepat. dan segera berangkat.
Fatma mengangguk menurut itu lebih baik. " Hm. "
" Fufff,,, " nafas berat keluar dari hidung Faisal dengan wajah masam menatap kedua Abang nya yang telah bucin. " woi Bang, kalau mau bermesraan di tempat yang pantas, jangan di depan anak di bawah umur. " celetuknya, mengambil tasnya dan menyampirkan di bahu dan cepat pergi.
"Iri tanda tak mampu Faisal,, Maka dari itu carilah juga pasangan, isal. biar kita bisa berlomba, " saut Akhsan iseng " tak masalah kan kamu masih di bawah umur, nyatanya tuh Fatma juga masih di bawah umur kan. " sambung Akhsan.
" Masss,!! geram Kairi.
Akhsan meringis di plototin Kairi, sementara Faisal sudah acuh tak menanggapi Akhsan lagi.
" Yuk berangkat " teguk terakhir Akhsan habiskan minuman hangat nya sebelum dia juga menyusul untuk berangkat.
" Bentar Mas, " Kairi berlari masuk membereskan sebentar piring dan gelas kotor nya milik nya dan Akhsan, sedangkan yang Fatma tadi sudah membereskan miliknya dan Ikhsan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
" Permisi, bisa bertemu dengan pak Akhsan, " seorang laki-laki menunduk hormat di hadapan Kairi yang tengah berbincang dengan Nara, laki-laki itu menunggu jawaban Kairi dengan sabar, " Bu, " panggil nya lebih keras karena Kairi terlalu asyik dengan Nara.
Kairi dan Nara menoleh bersamaan, menatap laki-laki berpakaian rapi dengan bingung, " Bapak siapa ya.? Kairi berjalan mendekati Laki-laki itu. dengan pelan.
" Saya, orang yang di panggil pak Akhsan untuk datang, tapi saya tak tau dimana ruangan nya, boleh tunjukkan pada saya di mana ruangan nya. " Laki-laki itu penuh harap akan mendapatkan jawaban ari Kairi atau Nara dengan kata Ya, atau mungkin sekedar mengangguk saja dan mengantarkan nya sampai ruangan Akhsan.
Kairi menoleh kebelakang menatap Nara yang di balas kedipan mata darinya " mari saya antarkan " Kairi mulai melangkah tanpa ragu mungkin apa yang di katakan orang itu benar. " Bapak siapa, ? Kairi menoleh bukannya mendapatkan Jawaban tapi hanya senyum ramah saja yang ia dapat kan, dan Kairi mengangguk tak masalah.
Tok tok tok...
" Assalamu'alaikum,,, pak " salam Kairi pelan dan masuk di ruangan Akhsan yang sedikit terbuka, Akhsan sempat heran kenapa Kairi memanggilnya pak, padahal hanya ada mereka berdua, tapi semua itu terjawab setelah Di belakang Kairi muncul laki-laki " Pak ada yang ingin bertemu bapak.
Akhsan yang sempat mengurai senyum itu kembali menghapus senyum nya lagi dan berganti dengan wajah datar " wa'alaikumsalam, ya makasih. Kamu boleh keluar sekarang " titahnya.
__ADS_1
Kairi mengangguk pasrah, " saya pamit pak, Assalamu'alaikum, " Kairi undur diri dan keluar tak lupa dia menutup pintu lagi.
" Wa'alaikumsalam,, " jawab Akhsan,
" Arlan kenapa kamu harus kesini.? tinggal kau telfon saja aku bisa datang ke markas kan, Ck kau ini.! kesal Akhsan dengan laki-laki itu yang tak bukan adalah Arlan asisten nya.
Arlan menelan saliva nya sendiri mengurai senyum kikuk pada Akhsan, " maaf bos, aku sudah coba menghubungi bos tapi tidak bisa " ucapnya membuat mata Akhsan langsung melebar " beneran kok Bos saya tidak bohong. "
Akhsan memeriksa ponsel nya dengan cepat dan ternyata adalah benar ponsel Akhsan mati habis bateri. " terus berita apa yang kamu bawa. " Akhsan semakin menatap tajam sabar pada Arlan. tak mungkin tak ada berita yang ia bawa kan.?
" Bos, apa tak apa-apa bicara di sini.? bagaimana kalau sampai di dengar oleh orang lain, apa tidak akan berbahaya.? mata Arlan celingukan menoleh ke setiap jendela dan juga pintu yang tertutup, dan kembali lagi ke fokus pada Akhsan, " bagaimana kalau ada yang dengar, atau tiba-tiba datang.?
Yang dikatakan Arlan memang benar, tapi buat apa dia kesini kalau tak mau mengatakan apapun pada Akhsan, bukankah itu hanya akan membuang-buang waktu saja kan " selama kamu pelan tidak dengan teriak takbir akan ada yang mendengar nya Arlan. " jawab Akhsan percaya dan begitu yakin.
Jarak duduk keduanya semakin dekat takut sampai ada yang akan mendengarkan pembicaraan mereka nantinya. " Bos ini masalah orang yang memiliki pin tiga kepala ular itu " lirih Arlan seketika membuat mata Akhsan membuat.
" Siapa mereka, apa kalian berhasil membuntuti mereka, " tukas Akhsan.
" kami sudah berhasil Bos, tiga kepala ular itu menandakan mereka adalah tiga ketua dalam satu organisasi bos, dan salah satunya,,,?? Ragu Arlan mengatakan pada Akhsan.
" Hm.., siapa dia..!! tak sabar ingin sekali tau siapa orang itu dari mulut Arlan tapi malah Arlan berhenti membuat Akhsan ingin sekali menghujat laki-laki di hadapan nya ini. " Siapa,,!! sentaknya karena Arlan tak kunjung bicara.
" Hmm....? Pak.. Marco bos,, " lirih Arlan.
" sudah aku tebak, pasti dia ikutan di organisasi sesat seperti itu. " mata Akhsan lurus ke depan dan kembali ke arah Arlan, " terus yaa lain.?
" Saya belum tau namanya bos, yanga saya tau dia sempat masuk ke perusahaan bos saat akan terjadinya ledakan di markas Oma, dan dia juga seorang pengusaha " terang Arlan.
Akhsan terdiam sesaat, berfikir siapa yang pernah masuk di perusahaan nya saat itu, pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu " Younes,,! pekik Akhsan tak percaya, laki-laki itu begitu baik dan sangat sopan mana mungkin dia,? tapi tak ada yang lain selain dia. "aku harus selidiki ini semuanya, "
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Sedikit lagi lah tak apa-apa, ,,