Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
216. Keluarga Harmonis


__ADS_3

____


Happy Reading...


___________________


Kali ini Fatma benar-benar seperti orang tidak waras, dia tersenyum terus seorang diri, menutup wajah dengan bantal. Untung saja kali ini dia berada di kamarnya sendiri kalau di luar kamar entah apa yang akan di bicarakan oleh para penghuni lainnya.


Video call dengan Ikhsan membuat dirinya seperti sekarang ini, meskipun tidak ada di rumah dan berada di tempat yang berbeda namun suaminya itu sungguh pinter sekali membuat dirinya tersipu malu.


Fatma menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya yang begitu empuk. Biasanya dia akan tersenyum dan tertawa bahagia di sana bersama dengan Ikhsan, tapi kali ini? Tanpa keberadaan Ikhsan pun dia terus tersenyum, sungguh hari yang membahagiakan untuknya.


"Ahhh...! Mas Ikhsan, bisa-bisanya kamu membuat aku menjadi seperti ini. " Gumamnya.


"Besok pas liburan sekolah Mas Ikhsan akan mengajakku ke sana juga, aku harus selalu mengingatkan nya, kalau tidak Mas Ikhsan pasti akan lupa dan akan berdalih ' kenapa kamu tidak mengingatkanku?' begitu " Ucapnya seorang diri.


Fatma terus berguling-guling di sana seorang diri, dirinya begitu bahagia dengan janji yang Ikhsan berikan padanya, karena jika itu terjadi itu adalah pertama kalinya dia akan pergi ke luar negeri.


"Uhhh..., senangnya aku. " Gumamnya tiada henti.


Kebahagiaan Fatma membuat dirinya tak bisa melepaskan bantal yang selalu Ikhsan pakai saat tidur, dia memeluknya, menghirup aromanya bahkan Fatma juga tak henti-hentinya mencium bantal itu dan membayangkan suaminya lah yang dia cium hingga pipinya merona karena perbuatannya sendiri.


"Aku merindukan mu, Mas. Cepatlah pulang . " Harapnya.


Pelan-pelan mata Fatma mulai terpejam rasa kantuk telah menguasai dirinya, hingga tak terasa dia benar-benar tidur dengan memeluk bantal milik Ikhsan dan masih menempelkannya di bibirnya.


______


"Semoga saja Ikhsan berhasil mengatakan semuanya pas Aisyah dan juga Faisal nya, Pa. Dan semoga mereka bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan juga lapang dada. " Ucap Keisha yang penuh harap.

__ADS_1


Rayyan yang sedang berdiri kini menghampiri Keisha dan duduk di sebelahnya. Harapannya juga sama, bahwa Aisyah dan Faisal akan menerima semua dengan ikhlas. Dan Rayyan pun berharap Ikhsan bisa membuat Aisyah mengerti bahwa semua yang Rayyan lakukan pada Aisyah semata-mata karena kasih sayangnya.


"Mereka pasti akan menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada, Ma. Papa percaya hal itu, semua anak-anak kita semuanya kuat jadi tidak mungkin mereka akan berlama-lama larut dalam suka. " Jawab Rayyan yang begitu meyakinkan Keisha, membesarkan hati Keisha yang begitu takut akan apa yang mungkin di alami oleh kedua anaknya.


"Tapi, Pa. Mama sangat takut. " Keisha benar-benar ketakutan, dia adalah seorang ibu dia tau benar bagaimana anak-anaknya. Mungkin mereka semua tak pernah memperlihatkan kelemahan yang mereka miliki namun di setiap kekuatan pasti akan ada titik lemah bagi mereka.


Rayyan mengusap baju Keisha menenangkannya dengan senyum yang penuh dengan kesabaran.


"Mama tenang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Percayalah, Ma. Hati anak-anak kita begitu besar. " Rayyan merengkuh bahu Keisha menenggelamkan kepala istrinya di dalam dada bidangnya.


"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘔𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘰𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢. 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘢. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦-𝘣𝘭𝘰𝘬 𝘯𝘰𝘮𝘦𝘳 𝘱𝘢𝘱𝘢. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘢. 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘢, 𝘕𝘢𝘬. 𝘚𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. " Batin Rayyan pilu.


Semua orang tua akan lebih sakit jika dia di benci oleh anaknya sendiri, sakit karena di hina semua orang tidak akan pernah sesakit dengan apa jika anak-anaknya sendiri yang membencinya. "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘬𝘶. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶. " Batin Rayyan penuh harap.


_____


Pagi begitu cerah semua insan mulai beraktivitas seperti biasanya. Akhsan dan juga Kairi sudah bersiap untuk pergi ke kampus, keduanya sudah rapi dan menenteng tas mereka masing-masing.


Keduanya masih berdiam belum ada percakapan apapun saat berada di perjalanan, hingga akhirnya Kairi mengatakan sesuatu karena ingatannya telah dia dapatkan seutuhnya.


"Astaghfirullah, Mas! " Seru Kairi dengan terkejut juga saat dia mengingat sesuatu.


Kairi menoleh dengan cepat, memandang Akhsan yang juga terkejut karena Kairi tiba-tiba berbicara dengan keras.


"Ada apa, Kairi. " Tanya Akhsan begitu sabar.


"Mas, aku mengingat sesuatu tentang ibu-ibu yang meminta makanan kemarin, ya aku sekarang sangat ingat aku pernah bertemu dimana. " Ucap Kairi heboh.


"Ibu-ibu yang kamu ceritain kemarin? " Akhsan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Iya, Mas. Kalau tidak salah saat itu aku bertemu dengan nya di depan supermarket saat berbelanja dengan Fatma. Sepertinya... " Kairi nampak ragu untuk menyatakannya dan kembali mengingat-ingat dengan benar siapa tau ingatannya salah mengenai ibu-ibu kemarin.


"Sepertinya apa, hemm..?"


"Sepertinya, sepertinya dia adalah ibu kandung Fatma, Mas. " Ucapan Kairi melirih.


𝘊𝘬𝘪𝘵𝘵𝘵....


Karena terkejut tiba-tiba Akhsan menginjak pedal rem nya dengan tiba-tiba, hingga Kairi terhuyung ke depan dan keningnya hampir terbentur 𝘥𝘢𝘴𝘣𝘰𝘳 di depannya.


"Kamu tidak salah, Kairi? Dia benar-benar ibunya Fatma? " Pekik Akhsan setengah tak percaya.


"Seingat ku seperti itu, Mas. Tapi masak iya sih? Mungkin hanya mirip saja kali ya? Tapi mana mungkin, mereka begitu mirip. " Kairi terlihat bingung sendiri karena itu.


"Coba kamu ingat-ingat yang benar, siapa tau kamu salah kan? Dan semoga itu bukan Ibunya Fatma. Meskipun aku juga tidak menyukai apa yang dia lakukan pada Fatma dan Aira namun aku juga tidak akan tega jika mereka harus mendapatkan karma yang seperti itu. " Ucap Akhsan.


"Aku juga sih, Mas. Aku juga tidak tega. Yah, semoga apapun dan di manapun orang tua Fatma selalu mendapatkan nasib yang baik, dan mereka selalu di beri kesehatan. " Ujar Kairi begitu tulus dalam harapannya.


"Kamu benar. " Akhsan kembali menjalankan mobilnya, meskipun dia masih terus berpikir dan tidak percaya, tapi? Mana mungkin Kairi salah ingat.


Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka berdua sampai di kampus tepat waktu dan seperti biasanya. Akhsan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan keduanya turun dengan bersamaan.


Pasangan yang begitu menjadi panutan, tak pernah terdengar ada ribut-ribut atau ada masalah meskipun banyak cobaan yang datang.


Bahkan tak pernah terdengar Kairi yang marah saat ada seorang wanita yang mendekati Akhsan. Kairi ada adalah perempuan yang terkenal sangat penyabar. Tak pernah terdengar desas-desus mengenai sifat mereka yang buruk.


Makannya rumah tangga mereka sangat aman dan damai, begitu tentram karena keduanya saling menerima dan saling menghargai. Setiap ada masalah mereka berdua tidak pernah emosi, dan menyelesaikan dengan kelak dingin.


__

__ADS_1


Bersambung...


___________


__ADS_2