Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
225. Pasti ada jalan


__ADS_3

Happy Reading...


__________________


Khairi terus mondar-mandir di ruang tengah, sudah sangat larut namun suaminya belum juga pulang. Sesekali Khairi duduk lalu doa bangun lagi dan seperti itu seterusnya.


Siapa yang tidak khawatir jika suaminya tak kunjung pulang dan juga tak ada kabar apapun, bahkan ponselnya berkali-kali di hubungi tetap saja tidak nyambung.


"Mas di mana sih? Angkat dong, jangan bikin aku khawatir seperti ini, " Gumam Khairi yang masih terus menghubungi Akhsan dengan ponselnya.


Beberapa kali Khairi terus menghubungi suaminya namun tetap saja tidak bisa membuatnya bertambah khawatir dan cemas.


Tak seperti biasa yang selalu ada kabar kali ini Akhsan sama sekali tidak mengabarinya. Berkali-kali Khairi memandangi pintu yang tertutup berharap pintu itu akan bersuara dari luar atau terbuka.


"Kapan Mas pulang." Khairi kembali duduk di sofa.


Lelah menunggu Khairi mengangkat kakinya dia lipat di atas lalu dia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


Lelah dan juga kantuk yang menguasai membuat mata Khairi terpejam, dia tertidur di sofa dengan posisi duduk.


Sama seperti Khairi yang menunggu suaminya, Fatma pun juga sama, meskipun sudah sangat larut namun Fatma tak merasakan kantuk ataupun lelah, karena ada buku-buku yang ada di hadapannya.


Ya, fatma menunggu suaminya sembari belajar, tugas dari Suci begitu banyak alasannya karena semua muridnya harus terus belajar karena sebentar lagi akan ujian, tapi entahlah.


"Ni bu Suci itu kurang satu ons atau bagaimana sih? Setiap hari tugasnya segini banyak. Bisa-bisa pas waktu ujian semua muridnya pada stres lagi." Gerutu Fatma.


Meskipun tengah fokus belajar namun Fatma sesekali tetap melihat ponselnya berharap akan ada pesan dari suaminya atau mungkin di hubungi namun dia tidak mendengarnya.


Biasanya akan ada Ikhsan yang menemaninya belajar namun entah di mana dia sekarang. "Ini lagi, sebenarnya mas Ikhsan itu di mana sih? Apa dia lupa dengan rumahnya sendiri? Apa dia tersesat? Iya kali tersesat! " Gerutunya.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Ikhsan sama-sama kali belum menampakan batang hidungnya. Hal ini sungguh membuat Fatma merasa curiga, dan penuh tanda tanya di dalam kepalanya.


"Semoga saja mas Ikhsan tidak terjebak lagi ama tuh ulet bulu. Oh iya, aku kan bisa melihat di mana keberadaan mas Ikhsan kenapa aku blo'on sekali sih! " Omelnya lagi memarahi dirinya sendiri.


Ponsel yang semula ada di meja di samping bukunya, kali ini dia raih, dia ambil dengan cepat. Tangan Fatma mulai sibuk dengan ponselnya, dia mulai mencari di mana suaminya berada sekarang.


Fatma mengernyit bingung, namun dia juga langsung khawatir saat mendapati sebuah titik merah berada di salah satu rumah sakit.

__ADS_1


"Kok di rumah sakit sih? Siapa yang sakit? Nggak nggak! Nggak mungkin kan mas Ikhsan...? Ahhh.., tidak tidak! Pasti ada temannya atau karyawannya yang sedang sakit." ucapnya.


Meskipun berusaha untuk percaya tapi Fatma tetap khawatir. Fatma beranjak dari duduknya mencoba untuk menghubungi Ikhsan.


π˜›π˜Άπ˜΅... π˜›π˜Άπ˜΅... π˜›π˜Άπ˜΅...


"Ayo di angkat, Mas. Mas di mana sih sebenarnya? " Fatma semakin gelisah.


Fatma mondar-mandir menunggu Ikhsan mengangkat telfonnya namun tetap saja belum di angkat juga.


Dua kali...


Tiga kali..


Empat kali...


Namun telfon Fatma belum juga tersambung, membuat Fatma semakin tak karuan bahkan dia sudah merengut antara kesal dan khawatir.


"Sekali lagi nggak angkat aku akan pergi ke rumah sakit." Gerutunya.


Sekali lagi Fatma menghubungi Ikhsan namun tetap saja tidak di angkat oleh Ikhsan.


Fatma berlari menaiki anak tangga, masuk ke kamarnya dan menaruh semua buku-bukunya. Fatma menyambar tas selempang nya yang berwarna hitam. Fatma kembali berlari dia keluar dan bergegas pergi untuk ke rumah sakit di mana Ikhsan berada.


Sampai di depan rumah selalu ada pak Lukman yang setia di sana, menunggu perintah dari Ikhsan ataupun Fatma untuk mengantarkan ke mana akan pergi.


"Pak Lukman! Tolong antar kan saya ke rumah sakit ya!" Pinta Fatma yang sudah ada di samping mobil.


"Baik, Bu! " Jawab Lukman. Lukman langsung berlari, membukakan pintu mobil untuk Fatma lalu Lukman masuk ke tempat pengemudi setelah menutup pintu di sisi Fatma.


Mobil perlahan mulai berjalan meninggalkan kediaman Ikhsan dan Fatma. Fatma sudah sangat tidak sabar ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan Ikhsan.


"Cepat sedikit ya, Pak."


_______


Sesampainya di rumah sakit, Fans langsung di tangani oleh dokter. Luka Fans yang sudah sangat parah bahkan sudah sedikit membusuk membuat kaki Fans harus segera di amputasi.

__ADS_1


Mungkin itulah yang membuat keadaan Fans semakin memburuk. Dan satu-satunya jalan kaki Fans harus di amputasi sebatas mata kaki untuk bisa membuat nya bisa sembuh kembali. Fans harus merelakan satu kakinya jika dia ingin tetap hidup.


Jio dan juga Nesa terus menangis di depan Ruang operasi, keputusan ini sungguh sangat mendadak tak pernah meraka berfikir kalau Fans harus kehilangan satu kakinya. Mungkin inilah karma yang harus di terima oleh Fans.


"Maafin Nesa, Mas. Nesa nggak bisa kehilangan mas, Nesa..., hiks.. hiks... hiks..." tangisan Nesa pecah saat dia mengingat kalau Fans akan kehilangan satu kakinya karena keputusannya.


Fans sama sekali tak tahu akan hal ini, karena Fans tak sadarkan diri, dan operasinya juga harus segera di lakukan sebelum keadaan Fans semakin memburuk.


"Ibu yang sabar, ibu juga harus bisa ikhlas. Meskipun bapak Fans harus kehilangan kakinya tapi seenggaknya dia masih bisa di selamatkan," Ucap Ikhsan.


Meskipun Ikhsan tau dengan semua yang sudah di lakukan Nesa dan juga Fans, namun dia tetap tak bisa menutup mata kalau mereka tetaplah orang tuanya Fatma, yang berarti mereka adalah mertuanya yang harus tetap dia hormati selayaknya orang tuanya sendiri.


Akhsan dan Ikhsan masih setia berada di sana. Keduanya terus berada di luar ruang operasi menunggu operasinya selesai dan mendengar sendiri bagaimana keadaan Fans setelahnya.


"Iya, Bu. Ikhsan benar, ibu harus bisa ikhlas." Imbuh Akhsan.


"Nak, terima kasih sudah mau menolong kami setelah semua yang kami lakukan. Setelah ini saya janji tidak akan menggangu kalian lagi.


Saya akan pergi sejauh-jauhnya dari kalian." Ucap Nesa.


Nesa hanya tidak sanggup untuk melihat Fatma lagi, Nesa tidak sanggup melihat mata kebencian dari Fatma ataupun Aira akibat perlakuannya sendiri.


"Kenapa Ibu harus pergi? " Tanya Ikhsan.


Nesa tersenyum pilu, semua ingatan akan kejahatannya tak akan mungkin bisa mendapatkan kata maaf dari kedua putrinya, apalagi kelakuan dari Fans?.


"Tidak apa-apa, saya hanya tidak mau menjadi beban untuk siapapun." Ucap Nesa.


Ikhsan juga Akhsan sangat tau akan duka dari seorang ibu yang di benci oleh anak kandungnya sendiri, namun mengingat apa yang telah terjadi dia juga tidak bisa mengalahkan sang anak kenapa sampai dia membenci orang tuanya.


"Ibu yang sabar juga harus tetap ikhlas , yakin lah bahwa suatu saat pasti akan ada jalan yang terbaik untuk kita semuanya. " Ucap Ikhsan yakin.


"Mas Ikhsan... "


__


Bersambung...

__ADS_1


________________


__ADS_2