
Tubuh yang kian menua, keriput karena termakan usia membuat seorang Tasya tak lagi bisa melakukan apapun seperti dulu saat masih muda.
Tasya kini hanya duduk seorang diri di ruang tengah di Pendopo miliknya, tangannya terus membolak-balik benda kecil yang berbentuk ular berkepala tiga. Ingatannya kembali di saat tragedi besar menimpanya dan mengakibatkan meninggalnya Riska dan juga Arka.
Di saat itu orang yang melakukan penyekapan kepadanya nya juga memiliki benda seperti itu. Dan Dia juga memiliki anggota sebanyak tiga dan orang yang terakhirlah yang melakukannya karena kedua telah binasa di tangan Tasya dan juga Joe yang dibantu oleh Rayyan.
" Mungkinkah kelompok itu memiliki keturunan, atau mungkin seorang penerus yang kini melanjutkan organisasi itu,?" tanya Tasya pada dirinya sendiri" mereka sangatlah berbahaya, darimana Akhsan mendapatkan benda seperti ini,?apa mungkin dia juga berurusan dengan penerus Geng Ular kepala tiga.? Imbuh nya dalam kebingungan.
Bahu Tasya disentuh oleh seseorang yang baru datang dan orang itu langsung duduk disebelahnya, seketikaTasya menoleh melihat siapa yang datang." Abi,? ucap Tasya terkejut.
Fahmi mengerutkan dahi dia begitu heran melihat Tasya yang terkejut karena kedatangan " itu apa Bunda,? " tanya Fahmi yang matanya melihat dengan jelas benda yang berada di tangan Tasya.
Tasya bingung untuk menjawab bagaimana dia akan menceritakan semuanya kepada Fahmi karena kejadian itu sudah sangat lama sekali dan Fahmi mungkin sudah melupakannya" I- ini..?
" Hm,,, Iya itu apa? " tanya Fahmi mendesak.
" apakah aku harus menceritakan semuanya pada Abi lagi. bagaimana kalau Abi menjadi khawatir? " Batin Tasya bingung.
" Bunda,, hey... " Tangan Fahmi terangkat memegang dagu Tasya dan menarik wajah nya untuk menatap nya. "'Bunda kenapa? , apa itu adalah benda yang sangat menakutkan hingga Bunda begitu panik seperti itu? dan lihatlah wajah Bunda, wajah Bunda begitu syok " imbuh nya.
" Bunda,, kita sudah hidup bersama sejak lama bahkan kita sudah sampai kakek nenek begitu, apa Bunda masih ragu untuk bercerita pada Abi. " imbuh Fahmi.
" Bukan begitu Abi, Tapi.?
" Hm,, tapi apa? " jawab Fahmi yang terus mendesak supaya Tasya mau menceritakan semuanya kepada Fahmi. " Ayolah, cerita sama Abi "
Tasya mengangguk pelan, Fahmi benar dia tak boleh menyembunyikan apapun lagi dan dia juga harus menceritakan semuanya pada suaminya meskipun itu akan membuat nya ikut khawatir juga seperti dirinya.
" Ini,,,, "'Tasya memperlihatkan benda itu kepada Fahmi, dan seketika Tasya Fahmi mengambil nya dari tangan Tasya. " itu adalah benda yang di miliki oleh orang yang melakukan penyekapan kepada Bunda dan Kak Joe waktu itu, yang akhirnya merenggut nyawa Riska dan juga Arka. " ucap Tasya mulai menjelaskan.
" terus,,? dari mana Bunda dapat benda ini.?
" Benda itu terjatuh dari saku Akhsan, Bunda takut kalau orang yang dulu itu mempunyai penerus dan mereka kembali mengincar keluarga kita termasuk Akhsan dan Ikhsan, karena Abi kan tau sendiri mereka berdua seperti apa kan "
__ADS_1
" Bunda takut kalau keluarga kita kembali terancam lagi seperti dulu, bubda sangat takut kalau kejadian yang seperti dulu akan kembali terulang. " ucap Tasya dengan raut wajah yang benar-benar khawatir.
Fahmi merangkul Tasya berusaha membuat Istri nya itu menghilangkan kekhawatiran yang berlebihan kepada keluarga nya.
" Bunda tenang saja, kita berdoa bersama-sama semoga hal itu tidak akan pernah terjadi lagi kepada keluarga kita. bukankah kita sendiri yang mengajarkan kepada anak cucu kita untuk tidak membuat masalah kepada orang lain kan."
" Dan Abi juga percaya bahwa mereka semua sangat lah tangguh seperti Bunda dulu, mereka tak akan mungkin terkalahkan dengan mudah seperti Bunda " tutur Fahmi.
" Semoga saja, Abi. Bunda berharap semua yang Abi katakan adalah benar " jawab Tasya.
Tasya terus bersandar di dada Fahmi melakukan hal yang membuat dirinya senyaman mungkin, dan itu hanyalah ketika doa bersama dengan Fahmi seorang.
" Bunda jangan terlalu banyak pikiran " ucap Fahmi sembari mengelus bahu Tasya.
" Hm, " jawab Tasya singkat.
🌾🌾🌾🌾🌾
" Bedebah,!!! kenapa rencana ku selalu saja gagal. sebenarnya mereka berdua itu terbuat dari apa, setiap aku mengirim orang untuk menghabisi mereka selalu saja gagal, bahkan orang yang aku suruh bisa hilang begitu saja,, Arghhh,,,!!! teriak Bryan dengan emosi yang yang begitu meluap.
Younes melangkah pelan dan duduk begitu saja di sofa tanpa mengabaikan Bryan yang tengah berada dalam kendali yang buruk.
" Kan sudah aku bilang, mereka itu bukan anak bau kencur yang mudah di lumpuhkan. memang mereka terlihat sangat lemah, tapi aku yakin mereka tak selemah seperti yang kita lihat. ada sesuatu yang ada pada mereka berdua "' Ucap Younes dengan datar.
Mata Bryan menatap Younes dengan begitu bengis, siapa Younes berani mengatakan dan menasehati dirinya. Younes bukan lah orang penting untuk nya, hanya saja Bryan begitu membutuhkan Younes karena dia tak mau menjalankan misi seorang diri, seenggaknya dia punya sekutu meski sama sekali tak bisa di andalkan.
" diam kamu,,!! jangan pernah menasehati ku, apalagi kau berani mengatur ku, " ujar Bryan dengan suara yang meninggi.
Younes menggelengkan kepalanya bahkan bibir pun mengembangkan senyum remeh yang di peruntukkan untuk Bryan.
" kenapa kamu tersenyum,!!
Bryan semakin kesal melihat Younes yang lagi-lagi menertawakan kegagalannya. dia sudah kesal karena harus kehilangan anak buah nya yang ia percaya dan sekarang dia harus menerima rasa pahitnya di tertawakan oleh sekutunya sendiri.
__ADS_1
" lagian siapa yang menertawakan mu, aku hanya merasa puas saja. seenggaknya kesombongan mu itu masih bisa di ragukan " jawab Younes miris.
" bedebah,,!!!
Bryan berjalan dengan cepat menghampiri Younes yang setia duduk di sofa. Bryan mencengkram kerah baju Younes menariknya hingga Younes terpaksa harus berdiri karena leher nya yang terasa tercekik.
" beraninya kamu,!! ucap Bryan dengan amarah, dan begitu terlihat dengan jelas dari matanya yang melotot dan berubah warna menjadi merah.
" Sakit Bryan,, kau jangan gila,!!
Younes meringis kesakitan, Bryan begitu kuat mencekik Younes dan seperti berniat untuk membunuh nya.
" bukannya kamu sudah tau kalau aku memang gila,, bahkan aku tak segan-segan membunuh orang meskipun itu sekutu ku sendiri, " ucap Bryan.
" lepas Bryan,, lepas,,!!
Younes memegangi kedua tangan Bryan berjuang penuh untuk bisa melepaskan tangan Bryan dari lehernya. atau kalau tidak Younes pasti akan benar-benar mati di tangan Bryan hari ini juga.
"'Bryan,, apa kamu memang tak lagi membutuhkan ku, kalau begitu maka bunuh saja aku sekarang juga. aku rela seenggaknya aku akan terbebas dari iblis yang seperti kamu" ucap Younes.
Mendengarkan itu Bryan melonggarkan tangan nya perlahan dari leher Younes dan perlahan pun dia melepaskan nya namun emosi nya masih menguasainya membuatnya mendorong Younes hingga dia kembali duduk di sofa dengan kasar.
Younes menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa sakit karena perbuatan Bryan. Dan tangan nya pun tetap berada di sana.
Bryan membalikkan badan setelah mendorong Younes dengan sangat keras. tangan satunya berada di pinggang dan satunya mengepal namun dia pergunakan untuk menutup mulutnya dan terus berfikir dengan sangat keras.
" bagaimana keadaannya,,, kita memang membutuhkan Marco, karena dia lah yang memiliki ide cemerlang untuk menjatuhkan mereka berdua " ucap Bryan.
" bukannya aku sudah selalu bilang seperti itu. Kita sangat membutuhkan Marco, tapi masalah nya kita tak tau dimana Marco berada sekarang, bahkan nomor nya sama sekali tak bisa di hubungi. Sebenarnya dia dimana,? " jawab Younes bingung.
" Argghhh,,, Marco kurang ajar,!!! beraninya dia lari dari ku seperti ini, Arghhh,,!! teriak Bryan kesal, dan beberapa kali melayangkan pukulan ke tembok hingga tangan nya terluka dan mengeluarkan darah.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾