Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
245.Semoga Salah


__ADS_3

Happy Reading....


Semua bahagia mendengar kabar tentang kehamilan Fatma, tapi mereka juga sangat cemas dan khawatir. Fatma masih harus sekolah, bagaimana jika sampai ada teman-temannya yang menyadari akan kehamilannya? bagaimana jika ada orang yang berbuat iseng juga padanya tampa sengaja, pasti akan menyebabkan hal yang tidak di inginkan.


Bukan hanya Ikhsan yang terus mewanti-wanti untuk Fatma berhati-hati tapi semua keluarganya.


Ya meski semuanya belum jelas karena Ikhsan juga Fatma belum datang ke dokter untuk memeriksakan dengan kejelasan yang pasti tapi semua sudah sangat jelas, hasil dari testpack sudah menjelaskan semuanya.


"Fatma, nanti setelah pulang sekolah kita ke rumah sakit, kita harus memastikan semuanya. kita juga harus meminta saran kepada dokter bagaimana baiknya," ucap Ikhsan.


Fatma masih terus memakaikan dasi untuk Ikhsan suaminya dia juga mengangguk sebagai jawaban.


"kamu juga harus berhati-hati saat di sekolah, jangan lari-lari jangan jajan sembarangan juga jangan sampai kamu keceplosan," ucap Ikhsan lagi.


"Iya, Mas. Fatma pasti akan hati-hati. Fatma juga tidak akan keceplosan kok, tapi...?" Fatma terdiam.


"hemm..., tapi apa? " tanya Ikhsan penasaran.


"bagaimana kalau Fatma tiba-tiba mual. Ya memang sekarang belum ada rasa mual-mual begitu sih tapi biasanya kalau orang hamil kan selalu mual-mual begitu," itulah yang menjadi kekhawatiran Fatma.


Memang benar banyak wanita yang sedang hamil muda akan mengalami hal yang seperti itu tapi tidak juga. Ada juga suaminya yang mengalami masa-masa mual, ada juga saudaranya, orang terdekatnya atau bisa jadi salah satu dari keluarganya.


Bahkan waktu Khairi hamil Fatma lah yang merasakan mual-mual hingga beberapa bulan. Apa saat Fatma hamil tidak bisa orang lain gitu yang mengalami ngidamnya Fatma. Semoga saja ada.


"Makanya nanti kita ke rumah sakit, siapa tua asa obat yang bisa mengurangi rasa mual-mual mu jika itu benar terjadi," jawab Ikhsan.


Selesai memakaikan dasi Fatma juga membantu Ikhsan memakaikan jasnya yang berwarna navy, itu terlihat sangat cocok dengan Ikhsan.


Seperti biasa Ikhsan akan ada meeting sebentar di perusahaannya jadi dia hanya akan mengantar Fatma sampai ke gerbang lalu dia akan pergi.


Keduanya sudah sangat rapi, Ikhsan dengan setelan jasnya Fatma dengan seragam putih abu-abunya di tambah dengan hijab putih juga dasi yang berwarna senada dengan roknya yang abu-abu.

__ADS_1


Mereka bergegas untuk turun, sebelum berangkat mereka harus sarapan lebih dulu. Kali ini Fatma tidak ikut serta dalam kegiatan di dapur karena Ikhsan yang melarangnya. Ikhsan tidak mau sampai Fatma kecapean jadi semua tanggung jawab Ikhsan serahkan kepada asisten rumah tangganya yang kebetulan di bantu oleh Nesa.


Semua sudah menunggu mereka di meja makan, bahkan sekarang Jio juga sudah mulai sekolah, namun dia pergi dengan naik ontel karena jaraknya sangat dekat, Jio juga tidak mau merepotkan kakak iparnya karena semua keperluan bahkan sudah terpenuhi.


_______


Berbeda dengan di rumah sebelahnya. Khairi terlihat bingung dengan Akhsan yang berkali-kali keluar masuk ke kamar mandi karena mual. Padahal Akhsan juga dalam keadaan baik-baik saja tidak ada meriang atau demam atau semacamnya, tapi kenapa dia harus begitu mual?


"Abi, sebenarnya Abi kenapa sih? " Khairi masih setia menunggu di depan pintu kamar mandi, menunggu Akhsan keluar dan menceritakan semua kepadanya.


Padahal tak ada makanan yang tak biasa yang Akhsan makan masakannya bahkan semua kesukaannya tapi entah kenapa semuanya itu bisa terjadi.


Begitu pucat wajah Akhsan, dia seperti orang yang sedang sakit. Bibirnya juga begitu pucat pasi. Langkahnya sempoyongan tangannya terus memegangi perutnya sendiri yang terus saja bergejolak selalu ingin mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.


Khairi begitu terkejut melihat keadaan suaminya yang seperti sekarang, sebenarnya ada apa? dan Akhsan sakit apa?


"Abi, sebenarnya ada, Bi? apa Abi makan sesuatu? " tanya Khairi, ya g jelas Akhsan langsung menggeleng. Akhsan hanya makan makanan yang sama seperti Khairi makanan yang di masak sendiri oleh Khairi.


Akhsan melangkah menuju kasurnya sendiri tentunya Khairi langsung menuntunnya. Padahal Akhsan sudah sangat rapi dan tinggal berangkat saja tapi ternyata? semua itu harus terjadi padanya.


Akhsan hanya terus diam, seakan tak mempunyai tenaga untuk menjawab pertanyaan Khairi meski hanya sepatah kata.


"Umi buatin teh hangat dulu ya, Bi," Akhsan hanya mengangguk pelan. Setelah menyelimuti Akhsan, Khairi cepat beranjak, dia pergi keluar dari kamar untuk membuat apa yang tadi dia katakan. Mungkin dengan minum teh hangat akan membuat Akhsan lebih mendingan.


Tidak demam juga tidak pusing. Perut Akhsan juga baik-baik saja sama sekali tidak merasa melilit, tapi selalu saja mengeluarkan semua isinya. Ini sungguh tidak biasa.


Khairi masuk setelah beberapa saat, tangannya sudah membawa cangkir berwarna putih yang terlihat masih mengepul asapnya, benar-benar masih panas dan bukan hanya hangat lagi.


"Assalamu'alaikum... " ucapnya. Tangannya kembali menutup pintu.


"Wa'alaikumsalam,. " jawab Akhsan dengan sangat pelan seperti tak punya daya juga kekuatan sama sekali.

__ADS_1


Khairi duduk di depan Akhsan menyodorkan gelas itu pada suaminya.


"Minun dulu, Bi. Semoga setelah ini tidak mual lagi," pinta Khairi.


Akhsan menerimanya, dia juga langsung menyeruputnya pelan-pelan. Memang sedikit membuat lebih baik sih, tapi entahlah nanti setelahnya.


Khairi terdiam sejenak, dia seolah berfikir. Semoga saja yang ada di pikirannya salah kalau benar maka Akhsan akan selalu mengalami ini setiap hari dalam waktu yang lama.


"Kenapa Umi diam saja, apa yang Umi pikirkan? " tanya Akhsan.


"Abi, apa...? apa Abi yang mengalami ngidamnya Fatma ya? kan dulu waktu Umi hamil Fatma yang mengalaminya, apa sekarang Abi...? " Khairi menoleh ke arah Akhsan.


Mana mungkin bisa seperti itu, tidak mungkin kan Akhsan yang mengalaminya. Kenapa bukan Ikhsan bapaknya, kenapa harus dia pamannya? aneh.


"Masak sih, Umi. Kayaknya tidak deh? tapi...? " ada keraguan setelah Akhsan mengatakannya dia juga mengingat dulu saat Khairi hamil semuanya Fatma yang mengalaminya, muka dari mual, ingin makan ini itu semuanya Fatma yang mengalaminya atau mungkin sekarang Akhsan yang menggantikan Fatma ngidamnya?


Benar-benar harus protes dengan Ikhsan kalau memang benar. Akhsan bisa-bisa tidak konsentrasi dalam semua pekerjaannya, dia juga akan terus seperti ini selama berbulan-bulan.


"Seharusnya bapaknya kan yang ngidam, kenapa harus Abi? " Akhsan mengernyit bingung.


"Ya mana Umi tau. Dulu Fatma juga tidak minta, sudah langsung begitu saja secara alami. Sepertinya Abi juga gitu deh." jawab Khairi.


"Semoga saja tidak."


"Amin..., semoga hanya karena Mas salah makan saja," jawab Khairi.


______


Bersambung..


_______

__ADS_1


__ADS_2