Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
215.Mode Pesawat


__ADS_3

______


Happy Reading...


__________________


Kairi terdiam, dia sama sekali tak melihat kedatangan Akhsan bahkan dia juga tidak mendengar Akhsan yang menyerukan salam saat dirinya pulang dari kantor.


Kairi terus diam menumpu dagunya di atas telapak tangannya sendiri. Dia terus berfikir dan terbayang-bayang dengan pengemis yang tadi datang di rumahnya, dia benar-benar ingat kalau dia pernah bertemu tapi dia lupa di mana dia bertemu dengan pengemis itu.


"Assalamu'alaikum.. " Seru Akhsan lagi namun Kairi masih tak mendengarnya.


Akhsan begitu heran, tak biasanya Kairi mengabaikannya seperti ini. Biasanya, sebelum Akhsan mengucapkan salam dia sudah lebih dahulu menyambut kedatangannya, tapi sekarang? Ada apa dengan Kairi? Akhsan mengernyit bingung.


Akhsan duduk di sebelah Kairi menatap lekat wajah istrinya yang tengah asyik melamun, entah melamun apa Akhsan sama sekali tak tau. "Assalamu'alaikum, istriku. " Ucapnya lagi dengan begitu lembut dan tepat di sebelah telinga Kairi.


Kairi terhenyak, dia cepat menoleh dan saat dia menoleh Akhsan masih berada di tempat semula hingga akhirnya bibir dan bibir saling bertemu. Kairi melotot sementara Akhsan wajahnya langsung berbinar karena mendapatkan kiss yang tidak di sangka-sangka.


"Mas." Kairi segera melepaskannya, pipinya langsung merona dia malu, sangat malu. "Wa'alaikumsalam.. " Jawabnya dengan wajah menunduk.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪. " Batin Kairi.


Akhsan tersenyum melihat polah istrinya itu, buat apa dia masih malu-malu padahal setiap hari mereka melakukannya, bahkan setiap bertemu mereka akan melakukan itu tapi kenapa Kairi masih malu-malu meong? Oh..., mungkin karena, biasanya Akhsan yang berinisiatif melakukan itu, bukan Kairi.


"Kenapa Mas diam saja kalau masuk rumah? Mas memang sengaja mau buat aku terkejut? " Tanya Kairi yang mengira Akhsan memang sengaja tidak mengucapakan salam, padahal dirinya sendiri yang tidak mendengarnya, Kairi... Kairi...


Akhsan terkekeh kecil, Kairi sendiri yang tidak mendengarnya kini malah menyalahkan Akhsan, " Mana mungkin Mas akan diam saja saat masuk rumah, Sayang. Kan kamu sendiri tau, bagi Mas kan wajib sekali saat kita masuk rumah mengucapkan salam." Jawab Akhsan.


"Lalu..?" Kairi masih bingung.


"Lalu..., lalu kenapa kamu tadi melamun, sampai-sampai tak mendengarkan saat Mas berkali-kali mengucapkan salam. " Jawab Akhsan.


"Benarkah? "


"Iya, coba sekarang kamu cerita, apa yang membuat kamu melamun dan tak melihat kedatangan Mas. Sok cerita. " Akhsan membenarkan duduknya menunggu dengan hikmat untuk Kairi menjelaskan apa alasan yang sebenarnya.


"Tadi... "


"Ya."


"Tadi ada pengemis datang ke rumah, Mas. Dia minta makanan, katanya dia sudah berhari-hari tidak makan. " Kairi terdiam.


"Terus? "


"Ya karena Kairi kasihan, ya Kairi kasih makanan dan beberapa uang..., " Mata Kairi terbelalak menatap Akhsan.


"Kenapa? " Sela Akhsan yang bingung melihat Kairi.


"Maaf, aku nggak izin dulu sama Mas. " Sesal Kairi.


Akhsan mengeluarkan nafas panjang, dia kira ad apa-apa kenapa mata Kairi terbelalak ke arahnya ternyata karena di belum sempat minta izin padanya. "Nggak apa-apa, terus terus! " Akhsan masih penasaran.


"Ya, ya itu, Kairi kasih makanan matang siap makan dan beberapa bahan makanan mentah dan juga beberapa uang. Dia begitu senang lalu dia pergi. " Terang Kairi.


Nggak ada yang aneh dalam cerita Kairi, tapi kenapa sampai membuat Kairi melamun? Akhsan masih bingung.

__ADS_1


"Terus, apa yang membuat kamu melamun seperti tadi? " Tanya Akhsan.


"Hem..., itu karena...? Sepertinya Kairi pernah melihat orang itu sepertinya kami pernah bertemu tapi dimana ya? Karena Kairi lupa dan terus mencoba mengingatnya jadi Kairi melamun deh." Jawab Kairi dengan nada yang manja.


"Beneran kamu pernah bertemu dengannya?"


"Iya Mas, sebenarnya tadi Kairi mau bertanya langsung pada ibu itu, tapi tiba-tiba Fatma datang dan ibu itu langsung pergi setelah melihat Fatma. " Jelas Kairi.


"Aneh." Gumam Akhsan. "𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢, 𝘒𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢. "


"Apa Fatma melihat orang itu? "


"Melihat."


"Maksudnya, apakah Fatma melihat wajahnya?" Tanya Akhsan.


"Kairi rasa tidak, Fatma lebih serius dengan kue yang dia bawa. " Jawab Kairi.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯...? " Akhsan termenung.


"Ada apa Mas? Apa Mas mengenalnya? " Tanya Kairi.


"Mana mungkin, Sayang. Kan Mas tidak melihatnya. " Jawab Akhsan. "Sudah lah jangan terlalu di pikirkan. Mas mau mandi dulu lengket banget nih. " Akhsan beranjak, dengan cepat Kairi pun mengikutinya.


Keduanya naik tangga secara bersamaan menuju kamar mereka berdua tentunya. Sesampainya di kamar Akhsan langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, sedangkan Kairi mengambilkan baju ganti untuk Akhsan.


____


Suntuk, kesepian, tak semangat, itulah yang saat ini terjadi pada Fatma. Dia terus mondar-mandir tak jelas. Berpindah ke dari satu tempat ke tempat lain dan seperti itu seterusnya.


Fatma terus menerus memandangi layar ponselnya, berharap sang suami akan lebih peka dan menghubungi lebih dulu daripada dirinya. Gengsi, itulah yang Fatma pikirkan, dia tidak mau sampai di bilang tak bisa sabaran.


"Apakah salah kalau seorang istri menghubungi suaminya terlebih dahulu? Tapi, bagaimana kalau nanti Mas Ikhsan malah bilang begini ' udah nggak sabar ya pengen ketemu' kalau begitu gimana? " Ucapnya sembari menirukan nada Ikhsan saat bicara.


"Ya Allah..., lama-lama aku bisa bisa gila kalau ini berlangsung hingga waktu lama. Baru tiga hati saja aku sudah seperti ini, bagaimana kalau sampai lebih dari satu minggu, satu bulan, satu tahun..., akk... Ibu...! Aku bisa gila! " Teriak Fatma begitu menggema.


"Hubungi enggak ya, hubungi enggak ya.. " Fatma terus bingung.


Sementara di daratan yang berbeda dan waktu yang hampir bersamaan, Ikhsan tengah kalang kabut, dia juga terus mondar-mandir tak jelas. Dia sangat merindukan wajah istrinya dan semuanya yang ada padanya, namun nyatanya sedari tadi dia menghubungi Fatma sama sekali tidak bisa.


"Astaghfirullahalazim, Fatma. Sebenar apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi." Ikhsan begitu frustasi dengan keadaan ini.


Kerinduannya sangat besar, dia tak sabar ingin melihat wajah istrinya yang berhiaskan senyum malu-malu dan pipinya yang merah merona. Tapi kenyataan, itu tak bisa dia lakukan karena ponsel Fatma tak bisa di hubungi.


"Aku harus hubungi siapa? " Pikirnya, dan wajah pembantunya lah yang nongol di ingatannya. "Ya, bibi. Aku harus menghubungi bibi. " Akhirnya wajah Ikhsan berbinar terang.


Bukan hanya menghubungi lewat panggilan saja, namun Ikhsan langsung Video call di ponsel pembantunya.


"Akhirnya, bisa juga menghubungi orang rumah. " Ucapnya setelah di layar muncul wajah dari pembantunya.


"𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘗𝘢𝘬. "


"Wa'alaikumsalam, Bi.Bi, apa Ibu ada di rumah? Apa dia baik-baik saja? " Tanya Ikhsan.


" 𝘐𝘣𝘶, 𝘪𝘣𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘰𝘬, 𝘗𝘢𝘬! 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬. "

__ADS_1


"Bagaimana mungkin? Dari tadi saya menghubunginya tapi tidak bisa. " Pekik Ikhsan.


".... " Bingung.


"Sekarang Ibu dimana? "


"𝘈𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘶, 𝘗𝘢𝘬. "


"Baik, bawa ponsel bibi ke sana namun jangan langsung di berikan ke Ibu. Hanya arahkan saja kameranya ke Ibu. " Titah Ikhsan.


"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘗𝘢𝘬. "


Beberapa saat terdiam, Ikhsan menunggu hingga pembantunya sampai di ruang tamu dan berdiri dengan diam di belakang Fatma. Sesuai anjuran Ikhsan, pembantunya mengarahkan kamera ke arah Fatma jadi Ikhsan bisa melihat polah istrinya yang terus berasa dalam kebimbangan.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘬𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶? "


"𝘠𝘢, 𝘺𝘢..., 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘒𝘶 𝘬𝘢𝘯?" 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢.


Ikhsan terus tersenyum, dia menahan tawa melihat istrinya yang berucap dengan menirukan suaranya. Begitu juga dengan pembantunya, dia seakan menjadi nyamuk di sana. "Memalukan " Gumamnya.


"𝘈𝘩𝘩... 𝘎𝘪𝘭𝘢 𝘨𝘪𝘭𝘢! 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘭𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘬...! "


"Jangan gila, kalau kamu gila aku sama siapa dong? Masak tampan tampan gini jalan sama orang gila. " Celetuk Ikhsan yang sudah tak sabar.


"𝘏𝘢𝘩𝘩!! " 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘵𝘢𝘬, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘱𝘰𝘯𝘴𝘦𝘭 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢. "𝘔𝘢𝘴, 𝘔𝘢𝘴 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯... 𝘒𝘢-𝘬𝘢𝘮𝘶..! "


"Iya, istriku. " Jawab Ikhsan.


Benar saja, pipi merah merona yang Ikhsan rindukan langsung dia dapatkan dari Fatma. Bukan hanya malu dengan Ikhsan saja namun Fatma juga malu pada Pembantunya yang masih ada di sana. Dengan cepat Fatma menyambar ponsel itu dan menyuruh pembantunya pergi.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘪𝘣𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢. " 𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢.


"Jangan galak-galak, Fatma. Kasian bibik. "


Ikhsan duduk di tempat yang tadi setelah pembantunya pergi. "Kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi? " Tanya Ikhsan.


"𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢? " 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.


"Coba kamu periksa. " Pinta Ikhsan.


Fatma langsung membuka ponselnya memeriksa kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi oleh Ikhsan. Sejenak hening namun setelah beberapa saat, Fatma menepuk jidatnya sendiri dengan kasar.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘦𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪, 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘰𝘥𝘦 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘸𝘢𝘵, 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘔𝘪𝘳𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘯𝘵𝘪. 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘺𝘢.. " Gerutunya.


Tentunya Ikhsan mengernyit namun dia menahan tawa bagaimana busa Fatma menyalahkan Kedua sahabatnya.


"𝘏𝘦𝘩𝘦𝘩𝘦... , 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘔𝘢𝘴. 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘔𝘪𝘳𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘶, 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘪𝘴𝘤𝘢𝘭𝘭 𝘮𝘶𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘰𝘥𝘦 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘸𝘢𝘵. " Fatma meringis malu.


"Astaga Fatma, Fatma. Mas kira kamu ada apa-apa. "


_______


Bersambung..


_________________

__ADS_1


__ADS_2