
Dua pria yang bersekutu tengah berunding di salah satu ruang pribadi mereka. membicarakan tentang langkah apa yang akan mereka ambil untuk menghancurkan Si kembar Akhsan dan juga Ikhsan.
Kedua pria itu begitu jeli memikirkan cara yang benar-benar jitu dan semua harus benar-benar hancur dalam satu pergerakan saja.
laki-laki itu adalah Younes dan juga Bryan. biasanya mereka akan selalu bertiga dengan Marco dalam semua rencana, tapi sudah berhari-hari ini Marco tak pernah muncul di markas itu. entah apa yang terjadi dengan Marco mereka berdua tidak tau pasti.
" semua ini gara-gara Marco. coba dia datang, kita tidak akan sepusing ini memikirkan cara untuk menghancurkan mereka berdua " seru Younes begitu kesal.
Meskipun Marco orang nya emosian tapi nyatanya dia dapat di andalkan dalam sebuah ide. otaknya benar-benar encer dan akan mudah untuk menemukan ide yang cemerlang untuk langkah mereka.
" yakin lah. kita pasti bisa merencanakan semuanya tanpa Marco. lagian kita akan untung besar kan tanpa dia, seandainya ada dia hasil pasti di bagi tiga, tapi sekarang? hasil itu hanya untuk kita berdua saja " jawab Bryan.
Bryan begitu yakin akan berhasil dengan apa yang dia rencanakan. contohnya kemarin , dia membuat masalah dengan mudah dengan mengecoh Akhsan untuk tidak ke kampus dan dia bisa lebih leluasa untuk mendekati Kairi saat itu.
" Kamu yakin? " tanya younes tak percaya.
Bryan menyeringai sinis, bagaimana mungkin dia tak yakin dengan kemampuannya sendiri. bahkan kemarin-kemarin dia bisa sukses meskipun tanpa bantuan dari siapapun, kenapa sekarang harus ragu.
Bryan menatap Younes tak suka bagaimana dia bisa meragukannya, apa hebatnya Marco baginya hingga dia begitu Yakin hanya Marco yang bisa membuat usaha mereka berhasil.
" apa kamu meragukan ku, Younes.? " tanya Bryan dengan tak suka.
Younes menggeleng, bukan maksudnya seperti itu tapi semakin banyak orang bukanya usaha mereka akan dapat di pastikan.
" Terus? " tanya Bryan mendesak.
" ya, maksud ku semakin banyak orang pasti kita akan cepat berhasil kan, lagian Marco selalu bisa di andalkan dalam hal apapun, dia cerdas, kuat dan juga selalu gesit ya hitung-hitung kita bisa memanfaatkan dia, iya kan? " ucap Younes.
" kamu benar! " jawab Bryan menyetujui. " tapi bagaimana kita akan membuat Marco datang kesini? bahkan ponselnya saja tak bisa di hubungi sama sekali " imbuh Bryan bingung.
Entah apa yang terjadi dengan Marco mereka tidak tau pasti, tapi yang pasti mereka tak pernah bisa menghubungi Marco sudah berhari-hari hingga sekarang.
Younes menjentikkan bahunya tinggi, otaknya tak seperti milik Marco yang akan bekerja dengan cepat tapi otak nya benar-benar tumpul dari dulu dan selalu memangfaatkan Marco.
" entahlah " jawab Younes.
Bryan menatap Younes yang nampak bingung dengan menumpu dagunya dengan kedua telapak tangan. " dasar otak bodoh " seru Bryan tak berkemanusiaan.
Younes terperanjat, meskipun dia sadar dia sangat bodoh tapi tetap saja akan kesal jika di katain seperti itukan.
" apa kamu sudah tak membutuhkan ku lagi? " kesal Younes menatap bengis ke arah Bryan.
Bryan masa bodoh. dia sudah hafal betul dengan Younes, itu tak akan mungkin nyata karena Younes hanya suka menggertak saja seperti biasa.
" jangan marah bro, mana mungkin aku tak membutuhkan mu. kita inginkan partner. " jawab Bryan santai.
Tatapan Younes masih tetap tak bersahabat, Bryan bisa memangfaatkan Marco tak menutup kemungkinan dia juga akan memangfaatkan nya juga.
__ADS_1
" Hhh.. "' Younes menyungging dengan sinis menatap Bryan dan akhirnya kembali diri setelah tadi sempat berdiri karena terbawa emosi.
" kamu nggak akan mungkin memangfaatkan ku kan? " tanya Younes.
Bryan menggeleng.
" tidak akan mungkin " jawab dengan datar sembari tangan nya merangkul bahu Younes dengan hangat sebagai tanda persahabatan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Marco duduk di ruang tengah dengan begitu fokus matanya menatap laptopnya yang sedari tadi di otak-atik olehnya, begitu banyak file yang terkirim dari asisten nya dan harus Marco cek saat itu juga.
Marco terus meneliti satu persatu dan tak ada setitik kesalahan dari file yang terkirim membuat Marco senang dan bangga pada asisten nya.
" benar-benar bisa diandalkan " gumamnya.
Semua sudah berhasil Marco cek semua, rasanya lelah juga sedari tadi dia terus fokus dengan laptopnya.
Marco merenggangkan otot-otot nya tangannya hampir menutup laptop itu namun sekelebat otaknya mengingat flashdisk yang di berikan oleh Aisyah beberapa hari yang lalu.
" sebenarnya apa isi di dalam flashdisk itu? " bingung Marco.
Marco mencari-cari flashdisk itu di dalam tas kerja nya, karena seingat nya dia menaruh nya di sana " di mana Flashdisk itu? " lirih nya dengan tangan terus mencari dan merogoh tasnya.
" dapat,! "
Tangan satunya mulai beraksi dengan laptopnya sementara yang satu dia pergunakan untuk menutup mulutnya sembari terus menunggu.
Mata Marco melotot tak percaya, bagaimana dia tidak terkejut saat melihat kejadian dimana dia memaksa Nara untuk masuk ke dalam mobilnya dalam keadaan Marco yang sedikit mabuk.
Marco mengepalkan kedua tangan nya menatap rincian kejadian saat itu hingga akhirnya mobilnya berjalan dan berhenti di tempat yang sangat sepi dan berakhir Marco yang melecehkan Nara di dalam mobil, dan tanpa ada rasa kemanusiaan Marco mengeluarkan Nara setelah berhasil merenggut apa yang menjadi harta yang paling berharga.
" Sial,!! darimana bocah itu mendapatkan rekaman ini.! "
Marco menutup laptopnya dengan kasar. tujuan nya sekarang adalah memanggil Aisyah dan juga Shelvia, dan mereka harus menjelaskan semuanya.
Marco berdiri tangan satunya berkacak pinggang dan terus gusar terlihat dari berdirinya yang tidak bisa diam.
" Putri,,,!!! Via,,,!!!
Teriak Marco begitu sangat keras. namun kedua bocah itu belum juga mau memperlihatkan batang hidungnya.
Emosi Marco semakin memuncak amarah benar-benar sudah tak tertahan lagi dia kira dua bocah itu hanyalah bocah yang biasa tapi nyatanya semenjak mereka tinggal di rumahnya mereka telah menghancurkan satu persatu dari apa yang menjadi tujuan Marco.
" Putri,,!! Via,,,!!!
Teriak nya lagi. namun tetap saja keduanya tidak datang.
__ADS_1
Di saat Marco teriak Joe lah yang datang dengan berjalan pelan di bantu oleh Farel.
" kenapa kamu teriak-teriak Marco, apa kamu tidak bisa memanggilnya dengan lembut sedikit? mereka itu hanya anak kecil " ucap Joe yang semakin dekat.
Marco semakin kesal. bukan mereka berdua yang dia panggil tapi kenapa malah jadi Joe dan Farel yang datang saat itu.
" Di mana mereka berdua, Opa?" tanya Marco.
Joe yang sudah duduk di sofa dengan bantuan Farel pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, cucu nya yang satu itu memang tak pernah bisa bersikap baik pada siapapun, termasuk dengan anak kecil.
Joe menatap Marco yang terlihat gusar, Joe dan juga Farel pun sama-sama bingung dengan tingkah Marco saat ini.
" sebenarnya ada masalah apa Marco? " tanya Joe penasaran.
Farel mengangguk. " iya Bang, sebenarnya ada masalah apa? " imbuh Farel yang juga ingin tahu.
" bukan urusan kalian.!! sekarang katakan, dimana dua bocah yang selalu berbuat onar itu" jawab Marco yang di sambung dengan pertanyaan.
" mereka sedang ke pasar, Bang " jawab Farel.
Marco semakin kesal keinginan nya untuk bertanya dan mengetahui dari mana mereka mendapatkan rekaman itu harus tertunda karena mereka tengah pergi ke pasar.
" Sial.. "
Farel semakin heran, memberanikan diri untuk bertanya pada abang nya itu " sebenarnya ada apa sih, Bang,? mereka nggak membuat masalah kan?" tanya Farel.
Belum juga Marco menjawab, pintu sudah di ketuk sari luar.
" itu pasti mereka " ujar Marco sembari melangkah dengan cepat.
Farel beranjak dari duduk nya dan mengikuti Abang nya dari belakang, Farel tak akan membiarkan abangnya berbuat kesalahan dan menyakiti Aisyah dan Shelvia saat itu juga.
" Bang!! " panggil Farel.
Marco tetap berjalan, tak menggubris panggilan dari Farel apalagi menjawabnya tidak sama sekali.
Pintu terbuka dengan cepat, Marco benar-benar tak sabar ingin mengetahui semuanya.
Namun keinginan Marco kembali pupus karena yang datang bukanlah kedua bocah yang dia tunggu.
Dengan melihat dua orang yang datang itu langsung membuat Marco mengeluarkan aura membunuh nya dengan sekejap saja, dendam nya belum juga berujung, kesalahpahaman itu belum juga berakhir di hati Marco.
" kalian,,!! ngapain kalian kesini,!!
🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1