Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
199. Terlambat Pulang


__ADS_3

Jejak jejak.. Jangan lupa ya gaes.. Aku berharap like yang semula putih menjadi biru setelah kalian toel dengan jempol kalian...


Dan jangan lupa komen nya dong. Aku butuh banget tau.. 🙈🙈🙈


____


Happy Reading...


_________________


Berkali kali Fatma menatap jam dinding yang terpasang manis di atas sana, semua menu makan siang yang di minta Ikhsan semuanya sudah tertata dengan rapi.


Waktu juga sudah hampir datang, tinggal lima menit lagi jarum merah ada di angka dua sedangkan jarum hitam ada di angka 12. Ya, waktu hampir jam 2 siang.


Santi dan juga Mirna sudah tak tahan, perutnya sudah keroncongan sedari tadi, meskipun sudah di isi dengan beberapa kue tetap saja cacingnya terus berdemo saat melihat makanan enak.


" Fatma, makan dulu yuk. Aku sudah sangat lapar. " Rintihan Mirna yang terdengar sangat menusuk sakit di telinga Fatma dan juga Santi.


" Bentar Mir, lima menit lagi Mas Ikhsan pulang dan kita bisa makan bersama, kita puas-puasin tuh habisin makanan. " Jawab Fatma.


" Tapi, Miss. Sebentar lagi aku pingsan deh layaknya. " Celetuk Mirna. " Akhhh.. " Mirna menjatuhkan wajahnya di atas meja dan malah memunculkan gelak tawa dari Fatma dan Santi.


" Hahaha... Mana ada orang mau pingsan pamit dulu! Kayak mau ke pasar aja. " Ujar Fatma yang tak mampu menahan tawanya.


" Miss kayak nggak kenal ama tuh bocah saja. Dia kan gitu kalau lihat makanan enak, hahaha... " Santi pun tak mau ketinggalan.


Waktu terus berjalan, tinggal satu menit lagi namun Ikhsan belum juga nongol. Entah dimana tuh orang sekarang.


Berkali-kali Fatma melihat jam, mulutnya mulai merengut kesal, dan kian monyong karena sang suami tak kunjung terlihat batang hidungnya.


" 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘥𝘦𝘭 𝘴𝘶𝘱𝘦𝘳 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘴. " Batin Fatma yang sudah mulai hilang kesabaran.


" Miss, kayaknya pak Ikhsan telat pulang deh. Kenapa nggak miss coba lihat dia sendiri di mana? Siapa tau dia lagi main sering lagi sama tuh pelakor. " Ucap Santi mulai menyalahkan kompor yang sumbunya sudah penuh dengan minyak tanah.


" Huss!.. Ngawur kalau ngomong! Nggak pernah di sedekahin tuh mulut. " Bentak Mirna.


" Besok kalau udah kerja dan udah sukses, Mir. Aku bayar double sedekahnya, hehehe.." Santi terkekeh.


𝘛𝘦𝘯𝘨.....


" Wah.. Beneran akan terjadi perang Dunia ke sembilan puluh nih. " Celetuk Santi saat mendengar bunyi jam yang menandakan pukul 2 tepat.


Fatma langsung menyambar ponselnya, menyalahkan GPS seperti yang pernah di ajarkan oleh Ikhsan. Dia mulai mengutak-atik ponselnya untuk melihat keberadaan Ikhsan sekarang.


Beberapa saat belum muncul tanda-tanda keberadaan Ikhsan namun setelah di tunggu munculah tempat di mana Ikhsan berada.


" I- ini? Kenapa Mas Ikhsan ada di sini? Ada yang tidak beres ini. Mir, San! Ikut aku sekarang! Sepertinya ada yang mau main-main dengan mantan preman jalanan. " Seru Fatma.


" Tapi Miss, aku lapar. Beraksi pun membutuhkan tenaga ekstra. " Lagi-lagi Mirna merintih kelaparan.


𝘗𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬...

__ADS_1


" Makan mulu yang ada di otak mu.. " Kesal Santi.


" Ya udah, bungkus bungkus! Kita harus bergerak cepat!. " Perintah Fatma.


Mirna pun langsung berbinar, berlari kembali ke dapur untuk mencari kotak makan, bisa lah dia makan di dalam mobil nanti. Yang pasti dia harus dalam keadaan kenyang, kalau tidak bagaimana dengan nasib para cacing-cacing nya.


Mirna berlari lagi dari dapur membawa dua kotak makan, semua lauk yang enak-enak dia masukan di satu wadah yang satu sedangkan yang satunya penuh dengan nasi.


" Astaga, perutmu muat dengan makanan sebanyak itu, Mir?. " Santi terperangah gak percaya dengan semua yang dia lihat.


Mirna terkekeh, dia teman yang baik hati. Ana mungkin dia hanya memikirkan perutnya saja, masih ada dua perut yang juga kelaparan. " Emang kalian nggak laper kuga? Aku masukin banyak karena untuk kalian juga. " Ucapnya.


" Hadeuh.. " Santi dan Fatma menggeleng bersama. Ini keadaan yang genting bagaimana mungkin Fatma akan bisa makan.


Fatma berjalan terlebih dahulu menuju tempat parkir dan meminta sopir yang di kerjakan oleh Ikhsan untuk mengantarnya.


" Mirna! Santi! Buruan!. " Teriaknya tak sabar.


" Iya, Miss!. " Keduanya tergopoh-gopoh lari setelah mendengar teriakan dari Fatma.


Mereka bertiga sudah siap siaga di dalam mobil, Fatma di kursi penumpang di samping pengemudi sedangkan Mirna dan juga Santi ada di belakang.


" Jalan, Pak. " Pinta Fatma.


" Baik, Nya. " Jawab nya dengan patuh.


Mobil pun perlahan berjalan dan langsung melesat setelah keluar dari garasi.


_____


Keduanya jalan beriringan, dengan langka yang semakin cepat. Sebelum Ikhsan pulang dia akan mengantarkan Suci terlebih dahulu lagian rumah mereka juga satu arah dan juga tidak terlalu jauh dari rumah Ikhsan.


" Mari, Pak. " Suci menjulurkan tangannya dan meminta Ikhsan untuk jalan lebih dahulu.


Ikhsan dan juga Suci masuk ke mobil yang tadi, dengan cepat Ikhsan pun langsung menyalakan mesin dan cepat menjalankannya, dia sudah sangat lapar dan hanya masakan Fatma lah yang selalu ada di depan matanya. Meskipun di acara rapat dia mendapatkan snack, tapi itu tidak bisa memenuhi asupan para cacing-cacing nya yang sedang masa pertumbuhan. ( wkwkwk.... Iya kali cacing masa pertumbuhan..)


" Mas, eh.. Pak Ikhsan, bener-bener lupa dengan ku?." Tanya Suci yang mulai pembicaraan.


Ikhsan melirik dia mengernyit bingung, dia melihat sekilas wajah Suci tak ada ingatan bersamanya. " Lupa? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?. " Tanya Ikhsan bingung.


" Hehehe.. Ternyata Mas Ikhsan memang lupa. " Terkekeh Suci namun dengan raut wajah yang kecewa.


" Emangnya kamu siapa? Dan di mana kita pernah bertemu?. " Tanya Ikhsan sembari terus fokus dengan menyetir nya.


" Mas Ikhsan pernah melakukan kesalahan dengan ku, gara-gara Mas Ikhsan pesan makanan yang salah aku jadi terkena alergi waktu itu, apa sekarang masih belum ingat juga?. " Suci menoleh dan berharap Ikhsan akan ingat kali ini.


" Alergi?.. " Ikhsan tampak berfikir dengan keras, siapa yang di buat alergi karena kesalahannya. " Dewi!. Ya Dewi! Jadi kamu Dewi?. " Sepertinya Ikhsan ingat sekarang, tapi kenapa Dewi? Bukannya namanya Suci?.


" Iya, Dewi. Suciana Dewi. " Jawab Suci.


" Astaga, kenapa aku benar-benar lupa. " Ikhsan terkekeh geli sendiri saat dia telah melupakan Suci yang pernah dia buat alergi dan masuk rumah sakit karena Ikhsan memesan makanan yang berbahan kepiting.

__ADS_1


Suci senang akhirnya Ikhsan bisa mengingatnya. Ikhsan yang telah ada di hatinya sejak dia kuliah di kampus yang sama dan dengan tahun kelulusan yang sama namun dengan jurusan yang berbeda.


" Mas, bukanya Mas mengambil jurusan bisnis? Kenapa jatuhnya menjadi guru. " Tanya Suci bingung.


" Hehe.. Itu panjang ceritanya, ada sesuatu yang membuat ku semangat untuk menjadi guru. " Jawab Ikhsan yang tak ingin menjelaskan secara terperinci siapa yang membuat itu.


Padahal emang awalnya dia ingin jadi guru tapi dia sempat mau menyerah karena kelas yang dia dapatkan adalah kelas yang luar biasa. Tapi setelah ada seseorang yang membuat dia tertarik maka dia kali semangat.


" Apa itu seorang gadis?. " Tanya Suci.


Ikhsan tidak menjawab namun dia hanya tersenyum kecil, di tambah lagi dengan ingatan awal pertama dia bertemu dengan Fatma dulu. "𝘗𝘢𝘬 𝘉𝘢𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨!!. " Itulah yang selalu membuat Ikhsan tersenyum sendiri.


Asyik berbincang-bincang tak terasa mereka sudah sampai di rumah Suci. Rumah yang tak terlalu besar namun terlihat simpel.


" Mampir dulu yuk, Mas. Ngeteh- ngeteh dulu mungkin?. " Ajak Suci.


" Kapan-kapan saja, aku sedang buru-buru. Aku harus cepat pulang sebelum jam dua. " Jawab Ikhsan.


" Ayo lah, Mas. Masih banyak waktu. Masih dua puluh menit lagi kan. Ya, ya itung-itung sebagai tanda terima kasih saya karena sudah di antar sampai rumah. " Kekeuh Suci.


" Tapi?. "


" Lima menit juga nggak masalah. "


" Lima menit. " Jawab Ikhsan menyepakati.


Keduanya pun turun dari dalam mobil berjalan beriringan menuju rumah Suci. Karena terlihat sangat sepi Ikhsan memutuskan untuk duduk di depan rumah saja, karena di sana juga tersedia dua kursi dan satu meja di tengah-tengahnya.


" Nggak masuk saja, Mas?. "


" Tidak usah, disini saja lebih adem. " Jawab Ikhsan, yang sebenarnya tak mau hanya berdua saja di dalam satu ruangan dengan wanita yang bukan mahramnya.


" Oh, baiklah. Sebentar aku bikinin minum dulu. " Suci bergegas masuk. Untuk membuatkan minum untuk Ikhsan.


Suci begitu bahagia karena Ikhsan tak sedingin dulu lagi, dulu dia begitu dingin dan tak pernah bergaul dengan para wanita, tapi sekarang? Ikhsan lebih hangat.


Tak butuh waktu lama Suci keluar dengan membawa dua cangkir di atas nampan, dia letakan di atas meja dan dia juga duduk di sana.


" Di minum Mas. " Pinta Suci.


" Hem.. Terima kasih. " Ikhsan tersenyum kecil sebagai tanda terima kasih dia langsung mengambil cangkir itu dan perlahan meneguknya supaya cepat habis dan dia bisa pulang.


Bukan hanya makanannya saja yang Ikhsan rindukan tapi istrinya juga terus berkeliaran di depan matanya.


Terlihat Suci tersenyum kecil saat melihat Ikhsan berhasil menghabiskan minuman buatannya. Entah apa yang dia rencanakan.


Pandangan Ikhsan mulai kabur, kepalanya juga terasa sangat berat hingga akhirnya Ikhsan tak sadarkan diri dengan bersandar kursi itu.


Suci menaruh gelas yang sana sekali dia minum airnya, dia senang akhirnya dia berhasil membuat Ikhsan tertidur pulas karena pengaruh obat pemberiannya yang dia masukkan ke dalam gelas.


_______

__ADS_1


__ADS_2