
Happy reading....
Setelah kehamilan Fatma, Ikhsan semakin posesif dia selalu memperhatikan hal kecil yang selalu Fatma lakukan. Mulai dari makanan yang dia makan sampai setiap pergerakan juga kerjakan yang Fatma lakukan.
Bukan hal itu saja tapi di sekolah juga Ikhsan selalu memperhatikan meski dari jauh. Bukan itu saja tapi Ikhsan juga minta tolong kepada komplotan dari istrinya untuk menjaga Fatma meski mereka juga belum mengetahuinya.
Sebenarnya mereka semua juga heran karena gurunya terlihat selalu khawatir kepada Fatma, tapi mereka juga tidak bisa menebak begitu saja apalagi Fatma sama sekali tidak mengalami hal yang biasanya di alami setiap para perempuan hamil pada umumnya.
Hanya satu orang saja yang sangat tau yaitu Rico. Pria itu selalu mengetahui apapun bahkan sebelum orang yang mengalaminya tau. Itulah kelebihan yang Rico miliki yang tidak sembarang orang tau.
‘’Miss, kita makan yuk. Kata pak Ikhsan kamu harus banyak makan, katanya itu akan membuat miss jadi semakin sehat.’’
Mirna sudah tak sabar ingin mengajak temannya untuk makan karena dia sendiri juga sudah sangat lapar.
‘’Bukannya baru saja makan? Kok sekarang udah lapar lagi sih! Perutmu itu perut apa sih, perut karet?’’ Fatma sangat heran dengan satu temannya yang taunya hanya soal makanan saja, pantesan apa yang selalu di ajarkan oleh guru tidak pernah nyangkut sama sekali di dalam otaknya.
Fatma terus memandangi temannya itu yang kini terlihat meringis saat dirinya mengatakan hal itu, tapi mau bagaimana lagi? Itu kan memang kebiasaannya, tak akan mudah untuk di hilangkan begitu saja.
‘’Ini memang sangat lapar, Miss. Apa Miss tidak kasihan sama semua ternakku yang sudah sangat kelaparan ini?’’ tanya Mirna dengan sangat menahan rasa lapar yang sudah sangat menyiksa.
__ADS_1
‘’Heleh... dasar perut karet!’’ sungut Fatma. Meskipun menjawab dengan sedikit tidak enak di dengar tapi tetap saja di terima oleh Mirna yang sudah sangat biasa.
Fatma beranjak dari tempat duduknya, dia juga langsung mulai berjalan menuju kantin untuk menuruti apa yang Mirna inginkan. Lagian yang di minta juga tidak susah sangat mudah.
Bukan Mirna saja yang mengikuti missnya yang moodnya sering berubah-ubah tak menentu itu. Tapi ada Santi juga yang ikut dia juga sangat lapar meskipun dari tadi Santi diam dari tadi.
Tak akan mudah begitu saja untuk mereka bertiga pergi ke kantin, seperti biasa akan ada Bu guru yang selalu menjadi saingan Fatma meski dia tidak sadar kalau ternyata Fatma lah yang menjadi saingan terberatnya.
Dengan sengaja Suci menghadang mereka bertiga, tak jelas dia menghalangi mereka bertiga, tapi ada alasan yang akan menguatkannya.
Dengan malas mereka bertiga menghampiri Bu guru yang selalu saja sensi itu.
‘’Ada apa, Bu?’’ jawab Fatma dengan sangat malas. Meskipun seperti biasa menjawab hanya sekedar basa-basi saja tak ada hal yang berarti.
‘’Kalian, tolong ambil buku-buku ke perpustakaan sekarang juga.’’ Suaranya terdengar sangat mengharuskan tak ada kata dengan santai atau gurauan.
‘’Oh iya, Bu. Kemarin saya menemukan ini di ruangan ibu. Apa ini punya ibu?’’ tangan Fatma masukan ke dalam saku dan kembali mengeluarkannya setelah mendapatkannya satu botol obat yang berwarna putih.
__ADS_1
Suci tersentak, tangannya juga langsung merebut apa yang Fatma bawa itu. Bukannya berterima kasih tapi Suci terlihat sangat marah, entah itu sebenarnya obat apa.
‘’Dari mana kamu mendapatkan ini?’’ tanya Suci dengan mata yang sangat tajam kepada Fatma yang terlihat sangat santai.
Jelas mereka bertiga tersentak sangat bingung, kenapa hanya karena sebuah obat saja Bu Suci bisa sangat marah. Apakah itu adalah obat rahasia? Entahlah.
“Kenapa Ibu marah? Bukannya seharusnya berterima kasih ya?” tanya Fatma dengan begitu tenang.
“Jangan ikut campur dengan urusanku. Lebih baik sekarang kamu pergi ke perpustakaan dan bawa apa yang saya minta. Sekarang!” ucapan Suci semakin menekankan dia sama sekali tak mau mendengarkan apapun lagi dari Fatma CS.
Tak mau mendengar apapun lagi Suci memilih pergi dari sana, membawa kekesalannya pergi.
“Bu Suci kenapa ya? Sebenarnya itu juga obat apaan dah?” celetuk Santi.
“Mana aku tau?” jawab Mirna dengan acuh.
“Sudah yuk, kita ke kantin dulu. Setelah itu baru kita ke perpustakaan, lagian istirahat juga baru keluar saja. Yuk!” ajak Fatma dan kedua temannya mengangguk menyetujui.
__ADS_1
Bersambung....