Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
255.Jangan Menyalahkan Diri Sendiri


__ADS_3

Happy Reading..


Suci begitu uring-uringan di kamarnya sendiri. Niatnya ingin menjatuhkan Fatma tapi ternyata dia malah mendapatkan kenyataan pahit kalau ternyata Fatma lah yang menjadi istri Ikhsan.



Berbagai usaha dia lakukan, dan dia pikir ini akan menjadi akhir dari usahanya tapi ternyata dia salah. Apakah mungkin memang harus berakhir tampa mendapatkan Ikhsan? apakah dia harus bisa mengikhlaskannya dan berusaha membuka hati untuk orang lain?



"Tidak, aku tidak mau kalah. Aku harus tetap mendapatkan Ikhsan, Hhhh.." senyum menyeringai di bibirnya, dia sangat ingin mendapatkan Ikhsan obsesinya begitu besar.



"Arghhh...!" teriaknya.



"Hahaha..., aku akan mendapatkan Ikhsan, aku harus mendapatkannya hahaha..." tawanya terus menerus.



Selayaknya orang gila Suci terus tertawa dengan tangan yang sudah mengambil foto Ikhsan yang tertempel di dinding. Bukan hanya satu Suci menempelkannya tapi begitu banyak, bahkan warna tembok tak terlihat karena tertutup oleh semua foto Ikhsan.


__ADS_1


"Aku sudah berusaha untuk sembuh, aku ingin bisa bahagia dengan mu Ikhsan, tapi kenapa! tapi kenapa kamu malah menikahi orang lain! hahaha," ucapnya.



Sepertinya memang kejiwaan Suci yang telah bermasalah. Dia terus tertawa dan juga ingin menangis karena harus mengalami yang namanya patah hati lagi.



"*Hiks hiks hiks*..., kenapa kamu begitu kejam padaku, Ikhsan. Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu tidak bisa menerima ku. Sudah lama aku mengharapkan mu, aku terus berharap akan menjadi milikmu tapi kenapa kamu sama sekali tidak menoleh ke arah ku, *hiks hiks hiks*.."



Sesekali Suci menangis histeris tapi kembali tertawa, dan seperti itu terus hingga cukup lama. Tak banyak yang tau kalau ternyata Suci memang memiliki masalah pada kejiwaannya, makanya dia selalu membawa obat kemanapun dia pergi. Bahkan pernah obat itu di temukan oleh Fatma tapi dia tidak tau itu obat apa.




Hingga malam Fatma masih terus bersedih, membayangkan karena kehamilannya membuat Ikhsan harus diberhentikan menjadi guru. Cita-cita Ikhsan harus terhenti di situ dan membuatnya merasa sangat bersalah.


Fatma duduk terdiam di pojok sofa dengan memeluk kedua kakinya bahkan dia juga melamun dengan wajah yang sedih.


"Sayang, kenapa?" Ikhsan datang menghampiri dan langsung duduk di hadapannya menyentuh tangannya untuk menyadarkan Fatma dari lamunan.


"Mas, apakah Mas tidak menyesal?" tanya Fatma dengan tatapannya yang kosong.

__ADS_1


"Buat apa aku menyesal, bahkan aku merasa sangat lega karena sekarang kita tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk bisa bertemu. aku bisa mengantarkan mu dengan bebas kemanapun kamu mau tanpa takut ada perkataan miring tentang Kita," jawab Ikhsan seraya tersenyum manis kepada istrinya yang perlahan mulai memandanginya.


"Tapi Mas?" Fatma memandangi suaminya dengan sangat dekat, memandang netra hitamnya mencari kebenaran bahwa suaminya sama sekali tidak pernah menyesal akan semua yang telah terjadi dan semuanya itu dia mendapatkan jawaban bahwa suaminya tidak menyesal sama sekali.


"Janji, mas tidak akan menyesal untuk selama-lamanya. Dan tidak akan pernah menyalahkan Fatma karena terputusnya cita-cita mas?" Fatma memandangi suaminya dengan serius.


"Tidak akan, Mas tidak akan pernah menyesal. Yang terpenting sekarang adalah kamu yang menjadi prioritas. aku mau kamu tidak sedih lagi apa lagi sampai menyalahkan dirimu sendiri karena ini bukan salahmu," ucap Ikhsan menenangkan istrinya.


Fatma langsung memeluk suaminya dengan sangat erat dan rasanya juga tak ingin pernah melepaskan meski hanya sebentar saja. Fatma merasa bahagia tapi dia juga sedih, entahlah seperti apa isi hatinya sekarang.


Ikhsan membalas pelukan itu dengan sangat erat pula dia ingin membuat istrinya lebih tenang dari sebelumnya.


"Sekarang istirahatlah ini sudah sangat malam jangan sampai karena masalah ini akan mempengaruhi kesehatanmu juga calon anak kita, hem?" perlahan Ikhsan melepaskan pelukan dari Fatma. Menuntunnya untuk bangun dan berpindah ke kasur, tapi Fatma masih sangat enggan dia tidak semangat hingga akhirnya membuat Ikhsan langsung mengangkat tubuh kecilnya.


"Istriku manja sekali ya," ucap Ikhsan yang sudah berhasil menggendong Fatma. Cepat Ikhsan melangkah dan membawanya ke kasur dan merebahkan Fatma di sana. Ikhsan juga langsung menyelimuti istrinya setelah dia juga ikut menyusul merebahkan tubuhnya sendiri di sebelah Fatma.


Ikhsan langsung memeluk Fatma dengan erat bahkan menjadikan lengannya menjadi bantal untuk Fatma.


"Selamat malam istriku. Tidurlah yang nyenyak dan mimpilah yang indah," ucapnya yang di sambung dengan mengecup puncak kepala Fatma.


"Selamat malam Mas," jawab Fatma dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Ikhsan.


******


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2