
____
Happy Reading..
___________________
Keputusan sudah di ambil dengan kesepakatan bersama, meskipun masih dalam keadaan kesal dan tak setuju dalam hatinya Fatma tak bisa menyatakan apapun dan terpaksa mengiyakan saja semua keputusan yang di ambil oleh Rayyan, bahwa besok pagi Ikhsan lah yang akan pergi ke Kairo untuk menemui Aisyah dan juga Faisal untuk mengatakan semuanya yang terjadi pada keluarga mereka.
Semua sudah di persiapkan oleh Rayyan, dari tiket, penginapan yang akan di tempati Ikhsan untuk sementara waktu di sana sudah Rayyan pesan semuanya.
Sepulang dari rumah utama, Fatma terus diam dia sangat sedih karena harus berpisah dengan Ikhsan untuk yang pertama kalinya dan itu dalam waktu kurang lebih satu minggu lamanya.
Jika saja Fatma tidak harus fokus dengan sekolah nya, maka Ikhsan pasti akan dengan senang hati mengajak Fatma juga ke sana, tapi tidak bisa dia lakukan karena Fatma akan menjalani ujian yang tak lama lagi.
Fatma terus cemberut, tak mengatakan apapun bahkan tak melirik Ikhsan sama sekali. Bagaimana bisa dia berlama-lama jauh dari Ikhsan, meskipun dia sedang kesal padanya namun itu tak berarti mereka harus saling jauh kan?.
"Fatma, Mas janji akan pulang cepat. Kami jangan sedih gitu dong. " Ucap Ikhsan seraya melirik sekejap ke arah Fatma yang sama sekali tak bergeming.
Sebenarnya Ikhsan juga tidak mau berjauhan dengan Fatma, tapi mau bagaimana lagi? Dia harus tetap pergi karena tak mungkin Akhsan yang pergi dan meninggalkan Kairi yang tengah hamil.
Ikhsan harus berusaha keras malam ini untuk membuat Fatma mengerti dan memaafkan kesalahannya sebelum dia berangkat besok, kalau tidak mungkin semuanya akan menjadi semakin besar saat dia pulang nantinya.
Mobil terparkir dengan manis di depan rumah Ikhsan dan Fatma, Ikhsan berhenti sejenak sebelum dia benar-benar keluar, dia tatap dengan lekat wajah sang istri yang masih merajuk, dia ingin menggenggam tangannya namun belum juga terjadi Fatma sudah keluar dari mobil.
"Hemm..., ini bagaimana? Bagaimana aku harus memberikan pengertian padanya. " Ucap Ikhsan yang merasa sangat bingung. "Fatma...!" Teriak Ikhsan dengan keras namun Fatma tetap tak mau tau.
Ikhsan keluar dengan cepat, berlari mengejar Fatma yang sudah masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah Fatma terus mengabaikan siapapun yang menyapanya dan terus berjalan naik. Fatma sama sekali tak menjawab pertanyaan bibi dan terus melaju.
"Bapak, apa bapak menginginkan sesuatu? " Tanyanya dan menghadang Ikhsan yang menyusul.
Ikhsan mengangkat tangannya, memberikan isyarat bahwa dia tidak menginginkan sesuatu sekarang. Ikhsan langsung berlari menaiki tangga meninggalkan bibi yang akhirnya juga pergi.
𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬....
Hampir saja Ikhsan terbentur pintu saat sudah ada di depan pintu kamar namun Fatma yang tidak tau menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
"Astaghfirullah..! " Ikhsan terhenyak, dia mundur satu langkah karena begitu terkejut. "Sabar Ikhsan, kamu harus bisa membuat istrimu lebih tenang sekarang. Kalau perlu jangan tidur semalaman yang terpenting bisa mendapatkan maaf dan izin darinya. "
Ikhsan membuka pintu dia cari-cari Fatma yang ternyata sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyelimuti semuanya hingga sampai atas kepalanya.
Ikhsan menggeleng, melepaskan jaket dan juga jam tangan yang dia pakai. Tanpa meminta izin Ikhsan langsung saja merangkak menyusul Fatma dan masuk ke dalam selimutnya dari bawah, meraba dari kaki Fatma hingga semakin naik dan berakhir hingga lehernya.
"Mas! Jangan sentuh sentuh! " Protes Fatma.
Ikhsan tak mendengarkan suara protes dari Fatma, dengan sengaja Ikhsan malah masuk ke dalam hijab Fatma dan mulai menikmati leher Fatma dan mencecap nya hingga terdapat tanda kepemilikannya di sana.
"Mas! " Fatma semakin menggeliat namun sepertinya dia gak bisa bergerak karena tubuhnya di kunci dengan kaki Ikhsan dan tangannya juga di pegangi oleh Ikhsan.
"Mas! Lepasin, geli! " Tubuh Fatma mulai menegang karena sentuhan yang di berikan oleh Ikhsan, dia terus berusaha berontak karena dia tidak ada niatan untuk melakukan apa yang sepertinya di inginkan oleh suaminya.
Seandainya tamunya sudah pergi mungkin Fatma bisa langsung tergoda dan menikmati setiap sentuhan satu suaminya, tapi ini? Tamunya belum juga pergi, dan sepertinya mereka berdua akan semakin lama berpuasa.
"Apa tamunya belum juga pergi? " Tanya Ikhsan dengan suara berat, mungkin dia sudah mulai terbawa kendali akan gairahnya.
"Belum, Mas. Tamunya masih keenakan di aku. Dia belum mau pergi, jadi mas jangan main sentuh-sentuh nanti kalau mas menginginkannya Fatma tidak bisa memberikannya dan nanti mas sendiri yang menderita. " Jelas Fatma.
"Kenapa lama sekali. " Ucap Ikhsan.
"Kamu ada-ada saja. Kalau begitu seharusnya kamu usir dong tamunya, bilang saja suamimu juga membutuhkanmu jadi dia harus cepat pergi. " Jawab Ikhsan.
"Aku nggak punya kuasa untuk itu, Pak Bambang... " Fatma tersenyum namun dia sembunyikan karena dia tidur memunggungi Ikhsan.
"Apa! " Pekik Ikhsan.
"Pak Bambang, hehehe... " Fatma semakin terkekeh tak kuat juga berlama-lama mendiamkan suaminya.
"Panggil sekali lagi yang benar. " Minta Ikhsan.
"Apa... Pak Bambang... Hahaha! " Akhirnya Fatma tertawa terbahak-bahak karena Ikhsan menggelitikinya. "Mas.. Lepas... Hahaha... " Fatma tak tahan dan terus tertawa terbahak-bahak tiada henti.
Sedangkan Ikhsan begitu gencar dan terus membuat Fatma geli dan mengeluarkan tawanya. "Rasakan ini, siapa suruh salah panggil. "
__ADS_1
"Hahaha.. Kan memang pak Bambang nya Fatma.. Hahaha... Lepas Mas, lepas... " Teriak Fatma berkali-kali memohon untuk di lepaskan oleh Ikhsan.
Namun tak semudah itu untuk Ikhsan melepaskan, Fatma tak mau kalah dengan sekuat tenaga membalas Ikhsan dan akhirnya keduanya tertawa bersama.
𝘎𝘳𝘦𝘬𝘬𝘬𝘬....
Ikhsan menarik tangan Fatma merengkuh tubuh kecil sang istri dan memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan pernah diamkan Mas lagi, Fatma. Mas tidak akan pernah sanggup. " Ucap Fatma dan langsung membuat Fatma terdiam dalam tawanya.
"Mas hanya akan pergi sebentar, izinkan Mas pergi dan doakan Mas supaya urusannya cepat selesai dan kita bisa bersama-sama lagi. "
"Mas janji akan usahakan secepatnya, dan setelah kamu lulus nanti Mas janji akan membawamu kemana pun kamu mau, Mas janji. " Ucap Ikhsan dan kali ini dia berharap bisa mendapatkan izin dari Fatma.
"Tapi Mas beneran tidak akan lama kan? Mas juga tidak akan genit-genit sana bule kan? Bemarkan? "
"Iya, Fatma. Tidak akan, Mas tidak akan melakukan itu, Mas hanya milik Fatma saja dan akan selamanya menjadi milik Fatma. " Jawab Ikhsan.
Fatma melepaskan pelukannya dari Ikhsan, dia mulai beranjak dari kasur meninggalkan Ikhsan yang terdiam karena bingung.
Fatma mengambil koper di almari dan membawanya ke sofa, membukanya dan mulai memberesi semua perlengkapan Ikhsan.
Ikhsan terpaku melihat itu, dia kira Fatma akan pergi keluar dan tak mengizinkannya namun ternyata dia salah, Fatma mulai menyiapkan semua keperluannya.
Ikhsan ikut beranjak dan mendekati Fatma, memeluknya dari belakang. "Terimakasih Sayang. " Ikhsan mengecup pipi sebelah Fatma dia sangat senang.
"Hem..., ingat! Mas harus cepat pulang. Dan jangan lupa hubungi Fatma dua puluh empat jam full. Mas harus jaga kesehatan dan harus makan minum vitamin tepat waktu, tidak boleh telat. " Ucap Fatma begitu banyak.
"Siap bu, Bos. " Ikhsan mengangkat satu tangannya dan hormat kepada Fatma dan kembali lagi memeluknya.
"Mas kalau tidak lepas kapan semuanya akan selesai. Ini sudah sangat malam, Mas bisa bangun kesiangan besok. " Protes Fatma.
"Hehe.. Maaf keenakan sih. " Jawab Ikhsan terkekeh. "Ya sudah, biar Mas bantu. " Ikhsan pun bergerak cepat membantu Fatma membenahi semua perlengkapannya sendiri.
____
__ADS_1
Bersambung..
______________