Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
213. Kedatangan pengemis


__ADS_3

_____


Happy Reading....


__________________


"Permisi, permisi... " Ucap seorang perempuan yang sudah berusia lanjut di depan rumah Akhsan dan juga Kairi. Bajunya tampak kusam, bahkan sudah ada yang robek di beberapa tempat.


Perempuan itu tampak memegangi perutnya yang mungkin dia sedang kelaparan. Wajahnya tampak pucat dan juga begitu kucel. "Permisi..., berikan saya makan, Tuan, Nyonya. Saya sudah beberapa hari tidak makan. " Ucapnya dengan suara yang begitu lemah dan juga gemetar.


Tubuhnya terlihat gemetar dan juga menunduk, keadaannya sangat kasihan dan begitu memprihatinkan. Perempuan itu terus berteriak namun tetap dengan suara yang terbatas.


"Heehhh...! Ngapain kamu ke sini? Pergi pergi! " Usir penjaga yang ada di depan rumah Akhsan.


"Beri saya makan Tuan, saya sudah sangat lapar, anak dan suami saya juga belum makan beberapa hari ini. Tolong beri kami makan Tuan. " Ucapnya dengan terus merintih.


"Ahh..., tidak! tidak! Lebih baik kamu pergi dari sini, pergi sana! " Usir nya lagi.


Perempuan itu terus memohon, menyatukan kedua tangan di depan dadanya dan meminta bekas kasih pada penjaga. Demi bisa mendapatkan sesuap nasi, dia tak akan malu lagi untuk merendahkan harga diri nya di depan siapapun orang yang dia temui.


"Saya mohon, Tuan. Beri saya makan. " Suaranya semakin lemah.


Penjaga begitu bingung, dia juga kasihan sebenarnya tapi dia tak punya hak untuk memberikan makanan pada gelandangan itu.


Suara rintihan yang berasa begitu menusuk hati sampai juga di telinga Kairi yang tengah keluar, Kairi memandang perempuan itu dan juga penjaga, karena penasaran Kairi langsung mendatanginya.


"Ada apa, Pak? " Tanya Kairi pelan.


Keduanya langsung menoleh, perempuan itu kini beralih memohon pada Kairi, meminta bekas kasih padanya.


"Nyonya, tolong beri saya makan. Saya, suami dan anak saya sudah beberapa hari tidak makan, tolong kami, Nyonya." Ucapnya memohon di hadapan Kairi.


Kairi menatap wajah perempuan itu, rasanya tidak asing untuknya kayaknya dia pernah melihat perempuan ini tapi di mana? Kairi sangat bingung, terus berfikir namun belum bisa memecahkan teka-tekinya.


Kairi sama sama sekali tak merasa risih, dia menyentuh bahu pertempuran itu dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Mari ikut saya, Bu. Saya akan beri ibu makan di dalam. " Ajak Kairi begitu sopan.


Kairi merangkul perempuan itu namun otaknya terus berkelana jauh kemana dia pernah bertemu dengan nya. Sampai di depan teras perempuan itu berhenti dia sangat sungkan untuk masuk, lantai yang bersih pasti akan kotor nantinya saat kakinya mulai menapakinya.

__ADS_1


"Tidak, Nyonya. Saya tidak bisa masuk." Ucapnya seraya menghentikan langkah.


"Tidak apa-apa, Bu. Ayo masuk. " Ajak Kairi terus.


Kairi terus mengajak perempuan itu namun dia tetap kekeuh tak mau masuk, jangankan untuk masuk sekedar naik ke teras saja dia tidak mau.


"Tidak, Nya. Saya tunggu di sini saja." Ucapnya menatap Kairi dengan sangat memohon.


Karena tak mau terus membujuk dan menjadikan semakin lama, Kairi akhirnya mengalah dan membiarkan perempuan itu menunggu di depan rumahnya.


"Ya sudah, ibu tunggu di sini dulu ya, biar saya ambilkan makanannya. " Jawab Kairi.


Perempuan itu mengangguk patuh, dia menurut apa yang di minta oleh Kairi. Perempuan itu duduk di lantai namun kakinya tetap berada di bawah. Matanya terus mengedar melihat semua penjuru rumah yang begitu indah dan mewah.


"Dia orang kaya, semoga mau memberikan makanan lebih untuk ku. Jadi aku bisa bawa pulang untuk makan Mas Fans dan juga Jio. " Gumamnya yang begitu sangat berharap akan mendapatkan lebih.


Tak butuh waktu lama Kairi keluar dengan dua kantong kresek besar, satu makanan matang dan satunya masih berupa bahan makanan, berupa sembako.


"Ini Bu. Di terima ya." Ucap Kairi begitu pelan dan halus.


Perempuan itu berdiri dengan cepat, senyumnya begitu berbinar terang saat melihat kedua tangan Kairi yang membawa dua kantong kresek besar.


"Ini untuk saya, Nya." Tanyanya dengan antusias.


"Iya, bu. Di terima ya. Ini hanya sedikit makanan dari saya. Dan ini, ada sedikit rezeki untuk ibu. " Satu amplop coklat Kairi berikan untuk perempuan itu.


Kebahagiaan yang berlipat ganda untuk perempuan itu, dia mendapatkan makanan matang, makanan mentah dan juga mendapat uang yang seperti tidak sedikit jumlahnya.


"Terima kasih, Nya. Terima kasih... " Ucapnya dengan bahagia, berkali-kali perempuan itu mencium tangan Kairi dia benar-benar berterima kasih.


"Sama-sama Bu, " Jawab Kairi. "Atau mungkin ibu mau makan dulu di sini? Kalau iya biar saya ambilkan di dalam. " Ucap Kairi.


Perempuan itu menggeleng. "Tidak usah, Nya. Ini sudah sangat cukup. Terima kasih, Nya. Semoga Allah yang membalas semua kebahagiaan, Nyonya. Terima kasih sekali lagi, terima kasih. " Tak ada habisnya kata terimakasih dari mulut perempuan itu yang keluar.


"Terima kasih, Bu." Jawab Kairi.


Di saat keduanya masih berbicara Fatma datang dengan membawa piring yang berisi kue percobaan yang dia bikin sendiri niatnya mau minta komentar dari Kairi karena kue yang dia bikin itu resepnya Kairi yang memberikannya.


"Kak Kairi, lihatlah! Sepertinya aku berhasil membuat nya! " Teriak Fatma begitu antusias.

__ADS_1


Fatma berjalan cepat ke arah Kairi, dia sedikit mengernyit karena melihat ada perempuan yang seperti seorang pengemis itu di depan Kairi. "Kak, dia siapa? Tanya Fatma.


" Dia.. Dia.. " Ragu Kairi mau mengatakannya.


Perempuan itu melirik ke arah Fatma namun tidak sepenuhnya wajahnya terus menunduk karena takut.


Melihat wajah Fatma perempuan itu semakin gemetar, dia benar-benar menyembunyikan dari Fatma.


"Terima kasih, Nya. Maaf, saya harus pergi sekarang. " Ucapnya dengan buru-buru.


Kairi dan juga Fatma langsung menoleh secara bersamaan ke arah orang itu tadi.


"Ibu nggak jadi makan dulu! " Ucap Kairi sedikit berteriak namun orang itu sudah berjalan pergi dengan begitu cepat.


"Ada keperluan apa sih kak, tuh orang? " Tanya Fatma.


"Ya, seperti yang kamu lihat Fatma. Dia belum makan dari kemarin katanya, anak dan suaminya juga sama belum makan tapi entah kemana dia kesini seorang diri.


"Oh..., kak lihatlah! Ini hasil karya ku. Ini kue yang resepnya dari kakak. " Ucap Fatma heboh


"Wah, sepertinya kamu sudah bisa ya. Kamu pinter ya, dalam sekali di ajarin langsung bisa, good banget deh pokoknya. " puji Kairi.


Tak sepandai itu juga sih sebenarnya, Fatma membuat itu juga ada campur tangan dari para pembantunya juga, bukan hanya dirinya saja.


"Sekarang kakak coba dan bilang sama Fatma bagaimana rasanya. Entah anak atau tidak. Tapi semoga anak ya, seperti yang sebelum-sebelumnya. " Ucap Fatma.


"Boleh, tapi tidak di sini, lebih baik kita masuk dan kita nikmati kuenya di dalam, yuk. " Ajak Kairi.


Kairi menarik tangan Fatma keduanya benar-benar seperti saudara kandung yang sama sekali tak ada rasa canggung. Apa lagi dengan Fatma, dia lah yang utama begitu senang dengan setiap perlakuan dari Kairi untuk nya. Perhatikan nya benar-benar membutuhkan Fatma terkena dan selalu bisa melupakan setiap keluh dan kesahnya.


Kairi dan juga Fatma benar-benar masuk dan kini duduk di ruang tamu bersama.


Sementara perempuan yang tadi kini keluar dari semak-semak mengamati mereka berdua yang duduk masuk.


"Maafkan aku, Nak. Maafkan aku dan bapakmu. " Ucapnya.


____


Bersambung....

__ADS_1


_________________


__ADS_2