
Happy Reading...
Walaupun dengan keadaan yang sangat tidak enak akhirnya Fatma bisa juga menyelesaikan ujiannya di hari pertama. Waktu yang sangat terbatas tetapi alhamdulillah Fatma mampu menyelesaikan meski dengan keadaan yang masih terus mual.
Setelah tadi istirahat di kasih minum teh hangat akhirnya sedikit mendingan.
Ikhsan yang tadi menemuinya juga sangat khawatir, dia juga terus mewanti-wanti untuk Fatma tidak terlalu memaksakan diri. Mungkin semua itu terjadi lantaran Fatma yang sedikit tegang.
"Asyiknya, sebentar lagi aku punya keponakan. Cantik atau tampan ya? Cantik ataupun tampan yang terpenting sehat juga tidak error seperti emaknya," celetuk Mirna.
Ketiga sahabat itu sudah berjalan di Koridor mereka bergegas untuk pulang karena terasa sangat lelah juga. Mereka juga harus belajar karena masih ada hari esok yang akan dia jalani.
"Ck! Kau ini. Aku malah memilih dia sama persis denganku daripada seperti kamu yang kurang se-on's!" jawab Fatma yang kembali nyinyir. Tak rela kan, masak anak sendiri mirip orang lain.
"Bhuahaha..! Bener-bener, jangan sampai kayak Mirna. Lebih baik sama seperti ku saja yang manis dan ngangenin ini. Kalau dia mah bikin nek," Seloroh Santi.
"Ya elah, loh itu teman atau lawan sih! Gitu mamat sama gue," Mirna kesal, mulutnya kian monyong karena tak terima karena ledekan dari Santi.
Santi hanya terkekeh sementara Fatma kesal karena mereka berdua begitu berisik dan mengganggu kenyamanannya.
__ADS_1
Keduanya yang masih asyik bergurau di tinggal begitu saja oleh Fatma yang sudah tidak sabar, Fatma lebih memilih berlalu karena dia masih sedikit pusing dan ingin secepatnya sampai rumah untuk istirahat.
"Lah, kita ditinggal. Miss!" teriak Mirna.
Keduanya juga langsung berlari mengejar Fatma yang selalu pergi begitu saja kalau moodnya lagi terganggu.
Tak menoleh sama sekali si Fatma meskipun mereka berdua terus berteriak memanggil. Fatma tetap acuh karena dia ingin cepat sampai di rumah.
"Kenapa, di tinggal? Kalian memang pantas. Makanya jangan jadi burung beo yang ngoceh tak kenal tempat dan waktu," Sinis Rico yang nyelonong begitu saja dari belakang mereka dan kini mendahului mereka berdua.
"Ealah..., ini anak juga selalu seenaknya sendiri. Benar-benar sangat klop deh kalian berdua. Cocok banget, kalian beneran pasangan kocak yang sama-sama eror!" teriak Santi.
Senyumnya kian sinis, dia tersenyum penuh senang karena beberapa bukti dia dapatkan. Dengan apa yang dia dapatkan dia akan mudah untuk menjatuhkan Fatma di hadapan Ikhsan.
"Kamu tidak akan pernah bisa mengambil Mas Ikhsan dariku, Fatma. Dia hanya akan menjadi milikku," ujung bibirnya terangkat begitu sinis dia sangat senang.
Fatma masuk kedalam rumahnya dengan sangat lemas. Dia sempoyongan tak bisa tegak sama sekali, untung saja ada Ikhsan yang akan selalu setia menjaganya kalau tidak mungkin dia akan terjatuh karena dia yang kurang seimbang.
"Hati-hati, Sayang. Jangan sampai jatuh. Apa mau Mas gendong saja?" ucap Ikhsan menawarkan diri.
Ikhsan benar-benar tidak tega melihat Fatma yang sangat pucat. Ikhsan juga merasa bersalah, seandainya dia tidak kebobolan mungkin dia tidak akan melihat Fatma yang seperti sekarang. Tetapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan itu juga yang di inginkan oleh Fatma juga dirinya jadi tidak ada yang bersalah dalam urusan itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal 'azim, Fatma! Kamu kenapa?" Nesa yang baru keluar dari arah dapur sangat terkejut melihat Fatma yang tak seperti biasanya.
Kali ini Fatma memang sangat berbeda.
"Fatma tidak apa-apa kok, Bu. Fatma hanya mual saja. Bukankah itu hal yang biasa bagi wanita hamil?"
Memang itu adalah hal yang lumrah bagi wanita hamil tetapi Nesa sangat khawatir saja kan karena Fatma tidak pernah mengalami mual dan baru kali ini dia mengalami gejala itu. Apalagi di saat hari-hari ujian.
"Ibu buatin minuman hangat ya?" Nesa sudah mendekat berdiri di hadapan Fatma juga Ikhsan yang terhenti.
"Tidak usah, Bu. Fatma tidak apa-apa. Fatma hanya mau istirahat saja," Jawab Fatma menolak.
"Ya sudah, istirahatlah. Kalau kamu butuh apa-apa panggil Ibu," Nesa benar-benar berubah sekarang dia benar menyayangi Fatma tidak seperti dulu lagi yang sama sekali tidak peduli padanya.
"Hem..." Fatma mengangguk lalu kembali berjalan menuju ke kamar di temani oleh Ikhsan yang setia menggandengnya.
Nesa hanya diam mengamati kepergian Fatma yang semakin menjauh. Hingga beberapa saat dia kembali ke dapur untuk melakukan sesuatu di sana.
Sementara Fatma juga Ikhsan sudah sampai di kamar, belum juga bersih-bersih atau ganti baju dulu Fatma langsung merebahkan diri di kasur, dia juga langsung menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
"Fatma sayang, bersih-bersih dulu. Kamu juga harus mengganti seragam mu," Ikhsan berdiri di samping Fatma setelah beberapa saat dia juga duduk di samping Fatma mengamati istrinya yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Tak terlihat Fatma yang aktif dan selalu usil, kini dia hanya terus diam dengan wajah pucatnya dan sesekali bicara dengan suara tak semangat.
"Nanti, Mas. Fatma sangat pusing," jawab Fatma. Fatma sama sekali tak berkutik dia tidak bergerak dan terus dalam posisinya.
"Baik, tidurlah. Mas bersih-bersih dulu," Ikhsan hendak beranjak.
"Mas, Mas tidak ke kantor kan? Fatma tidak mau Mas pergi," Fatma menahan Ikhsan dengan menangkap pergelangan tangannya.
Fatma tidak mau sendiri dia ingin selalu bersama Ikhsan. Kini terlihat kalau Fatma sangat manja dengan Ikhsan dan suaminya itu malah senang dan tidak merasa direpotkan.
Ikhsan kembali duduk. Tangannya mengelus pipi Fatma dengan sangat lembut.
"Tidak, Mas akan kerja dari rumah saja. Mas akan menemanimu," ucapan Ikhsan begitu lembut dan sangat membuat Fatma merasa sangat tenang.
Fatma tersenyum, dia melepaskan satu tangan Ikhsan dan membiarkan dia melakukan apa yang ingin dia kerjakan.
__ADS_1
Bersambung.....