
Happy Reading...
Bu Suci bener-bener melaporkan kepada semua guru-guru kalau Fatma kini tengah hamil. Bahkan kini semua guru juga ada di satu ruangan begitu juga dengan Ikhsan.
Semua tidak percaya, tetapi ucapan bu Suci sangat meyakinkan mereka. Dan membuat Fatma harus di panggil.
Sementara Ikhsan masih diam, dia belum juga memberikan komentar apapun. Ikhsan sudah siap untuk mengakuinya kalau Fatma hamil anaknya. Ikhsan juga sudah siap jika dia juga harus di keluarkan dari sekolah itu bila di anggap sebagai guru yang tidak benar. Lagian Ikhsan bertahan juga karena ada Fatma kalau tidak dia pasti sudah keluar sejak dulu.
Fatma berjalan dengan pelan, memang perut Fatma sama sekali belum terlihat buncit tetapi sudah ada bagian-bagian tertentu yang sudah terlihat.
"Fatma, apakah kamu benar-benar hamil?" Tanya Kepala Sekolah.
Tak Fatma percaya kalau ternyata Suci benar-benar berani mengatakan itu kepada semua orang. Dan sekarang dia harus lebih hati-hati untuk menjawab, Fatma tidak mau mencoreng nama baik Ikhsan.
"Katakan, Fatma. Apakah kamu hamil?" Kepala Sekolah terlihat begitu ngotot dia mendesak supaya Fatma cepat mengatakannya.
Ikhsan sudah siap untuk berbicara tetapi Fatma menggeleng. Tidak di ketahui maksud Fatma yang menggeleng itu untuk Ikhsan mereka pikir dia menggeleng sebagai jawaban kalau Fatma tidak hamil.
"Tapi kenapa kata bu Suci kamu tengah hamil! Apakah kamu berbohong?" kepala sekolah begitu mendesak Fatma supaya mau berbicara. Tapi sepertinya tak semudah itu.
"Apakah hanya dengan omongan bu Suci saja semua percaya. Apakah jika ada seorang perempuan merasa mual-mual berarti dia sedang hamil, tidak kan? Bisa jadi lambungnya bermasalah atau mungkin sedang masuk angin," jawaban Fatma terdengar begitu santai, tak ada rasa takut atau was-was sama sekali.
Semua guru mengangguk, apa yang di katakan Fatma memang benar. Semua wanita bisa mengalami mual jika kesehatannya sedang bermasalah.
__ADS_1
"Itu tidak benar, Pak. Saya lihat sendiri kalau Fatma muntah-muntah di toilet. Dan itu tidak hanya sekali saja, tapi sudah beberapa hari ini dia mengalami hal yang seperti itu," Bu Suci tak mau terima begitu saja. Dia tetap kekeh supaya apa yang menjadi tujuannya bisa berhasil.
"Kalau kalian semua tidak percaya buktikan saja dengan test! Atau mungkin periksa saja dia di UKS, bukankah ada dokter di sana?"
Semua guru juga kembali mengangguk, jika semua itu bisa membuktikan Fatma hamil atau tidak kenapa tidak kan? Pemeriksaan bisa di lakukan kan?
"Benar juga, Pak. Untuk mencari kebenarannya kita coba test saja dia. Dia hamil atau tidak akan kelihatan kan?" ucap salah satu guru kepada kepala sekolah.
Ikhsan membulatkan matanya, semua akan terbongkar jika tes itu benar-benar di lakukan. Tapi apapun yang terjadi terbongkar sekarang juga tidak masalah kan. Ikhsan akan tetap mengakuinya.
"Ya, ya! Di periksa saja, Pak!" Seru yang lain mengompori.
"Ya! Periksa saja!"
"Bagaimana, Fatma. Apakah kamu bersedia untuk di periksa? Kalau kamu memang tidak hamil pasti kamu tidak akan keberatan kan?" tanya Kepada Sekolah.
"Sa-saya...?"
"Mamp\*s sekarang kamu tak bisa berkutik lagi, Fatma. Setelah terbongkar kalau kamu hamil maka pak Ikhsan akan menjauh darimu. Dia tidak akan lagi kenal denganmu," batin Suci yang begitu percaya diri.
Senyum kemenangan keluar jelas dari Suci, sebentar lagi dia berhasil menyingkirkan satu perempuan yang mendekati Ikhsan dan setelah itu dia akan menjauhkan istrinya yang tidak tau dia siapa.
__ADS_1
"Tujuanku semakin dekat. Sebentar lagi, sebentar lagi," gumamnya begitu lirih hingga tak dapat di dengar oleh siapapun.
"Bagaimana, Fatma. Apakah kamu bersedia?" Kepala sekolah semakin mendesak.
"Fatma...?"
"Tidak perlu di di tes lagi, tak perlu di buktikan dengan apapun lagi, karena Fatma memang tengah hamil!"
Semua guru menoleh ke arah Ikhsan yang telah berseru bahkan dia juga berdiri.
Ikhsan berjalan setelah dia berhasil berdiri. Mendekati Fatma lalu merangkulnya dengan sangat bangga.
"Ya, Fatma tengah hamil. Dan dua tengah hamil anak ku. Aku ayah dari anak yang dia kandung dan melakukannya dengan dasar sama-sama cinta, dan tentunya dengan ikatan pernikahan. Dan bukan zina."
Semua terbelalak mendengar penjelasan Ikhsan semua berdiri dengan tak percaya. Apalagi Suci, dua begitu syok tak di percaya kalau rencananya gagal lagi dan kini dia mengetahui kebenarannya kalau ternyata Fatma lah istri Ikhsan, dan dia sedang mengandung anaknya sekarang.
"Sial," tangan Suci mengepal di sangat marah.
"Pak Ikhsan, apakah anda sadar dengan apa yang Anda katakan barusan?" Kepada sekolah masih tak percaya.
"Ya, saya mengatakan yang sebenarnya. Fatma adalah istri saya, dan anak yang dia kandung adalah anak saya."
\_\_\_\_\_\_\_\_
Bersambung...
__ADS_1