Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
81. Harapan


__ADS_3

Ketakutan Ikhsan akan kejadian yang menimpa Fatma kemarin benar-benar telah menguras segala emosinya. Melakukan apapun Ikhsan tak bisa fokus apa lagi disaat itu dia tak melihat Fatma ada di depannya rasanya dunia nya telah hilang.


" Ck.., semua ini gara-gara Marco. kau harus mendapatkan hukuman karena ini Marco " gerutu Ikhsan tak ada akhir.


Ikhsan terus berdecak kesal penuh emosi. Apalagi sekarang Fatma belum juga datang ke hadapan nya. pamitnya hanya untuk mengambilkan kopi untuk Ikhsan di pantry kantor tapi sudah setengah jam Fatma belum juga datang membuat Kepala Ikhsan terasa cenat-cenut.


Ujung jari-jari Ikhsan tak henti-hentinya menjentikkan ke atas meja dengan mata terus menatap pintu yang masih setia tertutup rapat dan belum juga terbuka dari luar " mana sih Fatma,? sebenarnya dia ngambil kopi di pantry atau di rumah sih. " Ikhsan beranjak berjalan mondar-mandir tak jelas dengan tatapan mata ke lantai dan dua tangan masuk ke dalam saku celananya.


Sesekali Ikhsan menoleh ke arah pintu namun belum juga terbuka. Ikhsan semakin tak sabar karena Fatma terlalu lama. Ikhsan terus berfikir hukuman apa yang pantas untuk dia berikan pada Fatma yang membuat nya sangat khawatir seperti sekarang. " Fatma,, "" geram Ikhsan.


" Fatma tidak mungkin pergi keluar tanpa izin dari ku kan? dan Fatma juga tak mungkin mendapatkan masalah lagi kan di sini.? Ikhsan harus memastikan nya sendiri apakah Fatma dalam keadaan baik-baik saja atau malah sebaliknya.


Ikhsan berjalan mendekati pintu. tangan nya sudah menempel sempurna di handle pintu dan siap untuk menariknya supaya terbuka. Namun seperti nya tenaganya tak dibutuhkan untuk membuka pintu karena pintu sudah di dorong dari luar.


" Assalamu'alaikum,, " wajah Fatma muncul dari luar. dengan tangan membawa secangkir kopi dan juga kue coklat di tangan yang satunya.


" pak suami mau kemana.? mau pergi ya, kok nggak bilang dulu sama Fatma "'ucapnya enteng.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Ikhsan.


Fatma berjalan menuju meja menaruh kopi dan kue nya di sana " nih Mas kopinya dan kuenya mumpung masih hangat. " ucap Fatma matanya melirik sekejap Ikhsan yang tengah berjalan mendekat padanya.


Fatma berdiri dengan tegak. menatap wajah Ikhsan yang terlihat penuh dengan kekhawatiran. " pak suami kenapa.? sakit.? tanya Fatma sedikit melenceng dari wajah Ikhsan. Sebenarnya bisa dikatakan seperti itu karena Wajah Ikhsan terlihat sangat pucat dan tak semangat sama sekali.


Ikhsan menubruk Fatma memeluk Fatma dengan sangat kuat membuat Fatma bingung dan terdiam menerima pelukan Ikhsan begitu saja. " Jangan pernah lama-lama pergi dari ku Fatma, aku sangat takut. " ucap Ikhsan.


Semua tragedi yang mengalami adalah Fatma tapi sampai sekarang Ikhsan lah yang sangat ketakutan, begitu sangat besarnya cinta Ikhsan untuk seorang Fatma hingga dia sangat takut jauh-jauh dari Fatma apalagi sampai kehilangan Fatma,.


Fatma membalas pelukan Ikhsan mengusap punggung Ikhsan perlahan membuat suaminya tenang adalah jalan yang harus dia ambil sekarang. " maaf Pak suami. tadi Fatma bikin kue dulu. " jawab Fatma sedikit menyesal telah membuat Ikhsan sangat ketakutan.


" besok-besok kemanapun dan apapun alasannya kamu harus bilang dulu padaku oke." Ikhsan melepaskan pelukan nya dari Fatma. menarik pergelangan tangan Fatma dan menarik nya untuk duduk di sofa dekat dengan Kopi dan kue yang Fatma bawa tadi.


" Iya Pak suami. maaf, Fatma tadi tak sempet bilang soalnya ponsel Fatma ada disini.? jawab Fatma dan mengikuti langkah Ikhsan duduk di sebelah Ikhsan berada.


Tangan Fatma mengambilkan kue yang tadi dia buat menyodorkan pada Ikhsan dan menawarkan nya untuk dimakan. " pak suami, ini di coba. " ucapnya dihiasi dengan senyuman kecil , kedipan mata sejenak dan juga anggukan kecil.


Ikhsan menyeringai senang. ditambah dengan senyuman jaim dengan mata terus berkedip pada Fatma. " suapin, " ucapnya dengan pelan dan penuh dengan wajah memelas. " siapin, sepertinya akan lebih sempurna rasanya kalau makan dari tangan mu. tangan mu seperti pembawa madu dan membuat ku sangat ketagihan akan hal itu. ayo suapin.! " perintah Ikhsan.


Entah sejak kapan Ikhsan menjadi manja seperti ini. apa mungkin ini adalah salah satu hukuman yang ia berikan pada Fatma karena membuat nya tak bisa konsentrasi sama sekali, atau mungkin karena Fatma terlambat datang.?


" pak suami kan sudah besar, kenapa minta di suapin.? bukankah tangan Pak suami juga tidak apa-apa kan.? tanya Fatma heran.


Wajah Ikhsan berubah masam. Fatma benar-benar tak bisa di ajak romantis layaknya film film drakor. " Huff, sabar sabar. " ucapnya dan menggelengkan wajah dengan malas.


Ikhsan mengambil sepotong kue dengan terpaksa, dan langsung memakan nya, tapi sebelum itu terjadi Fatma langsung mengambil nya dari tangan Ikhsan. " lah kenapa di ambil, aku baru mau makan loh" mata Ikhsan menatap lebar Fatma yang meringis di hadapan nya, tangan nya masih setia menggantung di depan bibir nya karena memang kue itu tinggal masuk saja di goa yang tak pernah ada bosannya untuk di masuki semua makanan enak, mulut.

__ADS_1


Fatma mengambil kue dari tangan Ikhsan dengan sangat senang. Fatma membuka mulut ya sendiri dengan gurauan mengerjai Ikhsan yang terus menatap nya dengan lesu. " pak suami mau,? tanya Fatma polos.


" Hmm,, "


" Akk,,!! Fatma hendak memasukkan kue ke dalam mulut Ikhsan di saat Ikhsan membuka mulut nya, akhirnya Fatma peka juga akan keinginan nya. Ikhsan berteriak penuh kemenangan di dalam hati, namun sedetik kemudian dia kembali di buat kecewa karena Fatma melahap kue itu sendiri "'hahaha,,!! tawa Fatma melihat betapa lucunya wajah Ikhsan yang tertekuk malas karena di kerjain oleh Fatma.


Ikhsan menyandarkan punggung nya di sandaran sofa merentangkan tangan nya di atas sofa, kecewa dan kehilangan mod nya itu lah yang di alami Ikhsan saat ini. sedangkan Fatma terus tertawa bahagia lalu kembali mengambil sepotong kue lagi. " Hmm ternyata kue buatan Fatma sangat enak. Hmm,, " puji Fatma pada diri nya sendiri.


Lagi-lagi Ikhsan hanya mampu mendengus kesal membiarkan Fatma menikmati semua kue nya seorang diri tanpa dirinya. " Huff..


Fatma memegang satu potong kue di tangan nya menyandarkan Kepala nya di dada bidang Ikhsan, wajah nya mendongak keatas melihat Wajah Ikhsan yang masih tertekuk kusut karena ulahnya sendiri. " Pak suami, ayo akk,,!! kalau tidak maka kue nya akan habis masuk ke brangkas Fatma. " ucap Fatma tangan nya menyodorkan kue ke depan mulut Ikhsan.


Mungkin kah kali ini Fatma beneran mau menyuapinya.? Ikhsan membuka mulut nya dengan keadaan mata tertutup dia sengaja melakukan itu karena dia yakin Fatma hanya mengerjai nya lagi. "Akk,, "


Fatma kembali lagi iseng menjauhkan kue nya dari mulut Ikhsan. namun kali ini Ikhsan tak mau kalah begitu saja. Ikhsan mengetahui gerak-gerik tangan Fatma di saat Ikhsan memicingkan mata nya sebelah untuk melihat tangan Fatma. Ikhsan menangkap tangan Fatma dengan cepat memasukkan kue ke dalam mulut nya dan berakhir dengan tawa penuh kemenangan.


Mata Fatma melebar, mulut nya kian menganga dengan kelakuan Ikhsan barusan. Fatma menarik kepala nya dari dada Ikhsan namun tak akan bisa karena Ikhsan sudah lebih cepat mengunci tubuh Fatma dengan kedua tangan nya. " mau lari kemana lagi.? kau sudah membuat ku menunggu hingga setengah jam, dan sekarang kamu mau pergi lagi, tidak tidak. kamu harus tetap seperti ini.


" pak suami, lepasin Fatma. bukankah Pak suami datang ke sini untuk bekerja.? ayolah. "


" terserah aku mau ngapain kesini, ini perusahaan ku sendiri tak akan ada yang berani menegurku. " jawab Ikhsan enteng.


" kalau begitu mulai sekarang aku yang akan menegur pak suami, sekarang sana kerja kalau tidak kerja bagaimana pak suami bisa memanjakan Fatma besok. "


" memanjakan Fatma, maksudnya.?


" Hmm,, sejak kapan istri ku jadi matre begini.? Ikhsan begitu heran benar-benar heran. ini bukan lah Fatma nya tapi ini adalah sifat yang berbanding terbalik dengan Fatma yang ia kenal.


" sejak sekarang.! Fatma terus menikmati kebersamaan itu. menyandarkan kepala nya di dada Ikhsan kukunya masuk ke sela-sela kemeja Ikhsan, menggaruki dada Ikhsan sebelah kiri. " karena mulai sekarang Fatma tak mau Pak suami hanya meremehkan pekerjaan, Pak suami harus semangat bekerja. bukankah kalau Fatma selalu minta ini dan itu berarti pak suami semangat untuk mewujudkan nya kan. " ucap Fatma dengan segala ambigu nya.


" baiklah kalau begitu, tapi ada syaratnya dong."


" apa.?


Tanpa ba bi bu Ikhsan mengangkat tubuh Fatma dan membawa nya masuk ke kamar khusus miliknya dan tentunya syarat yang harus di lakukan oleh Fatma berada di sana kan. "jika aku puas dengan pelayanan mu maka akan aku izinkan kamu jadi matre. tapi kalau kau tak bisa ya sudah, kamu harus terus berjuang hingga aku puas. "


" Hahh,,,!! syarat apaan ini.?


" ini syarat yang adil Fatma sayang. jadi antara aku dan kamu saling di untungkan. sekarang mulai lah membuat aku puas " Ikhsan menurunkan Fatma di kasur. Ikhsan duduk dengan anteng di sana membiarkan Fatma yang melakukan nya sendiri sesuai dengan apa yang ada di otaknya.


" Pak suami, Fatma malu. Fatma tak bisa " pipi Fatma begitu merah karena tak sanggup melakukan itu seorang diri. bagaimana bisa Fatma bermain sendiri padahal ada Ikhsan di sana seakan-akan Fatma seperti wanita penggoda bukan.


" Pak,,!!


" ayo Fatma,, "

__ADS_1


" Fatma nggak bisa. "


" ya sudah, kalau begitu jangan pernah berfikir untuk jadi wanita matre, sini. " Ikhsan menarik Fatma menjatuhkan tubuh Fatma di kasur dan memulai nya dengan gerakan cepat.


"Pak suami, ingat pakai pengaman dulu. "


"ahhh sungguh merepotkan kan. nggak usah ya langsung aja ok. "


" tidak tidak,,!! kalau nggak mau ya sudah nggak jadi. " ancam Fatma.


" Hufff iya iya... sabar sabar belum waktunya bebas Ikhsan, kecebong kecebong mu belum saatnya bergerak bebas dan berkembang di sana. " ucapnya malas.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Wajah sedih dari Tasya menarik perhatian dari Akhsan di saat dia tengah berjalan melewati pendopo Tasya. Tasya nampak sedang melamun menatap lapangan yang tengah ramai akan para santri.


Akhsan mendekati Tasya duduk di sebelah nya meraih tangan sang Oma dan berhasil mengejutkan nya. " Assalamu'alaikum, Oma " salam hangat dari Akhsan.


Tasya terhenyak menatap Akhsan yang sudah tersenyum manis setelah mengucapkan salam " Wa'alaikumsalam,, kamu di sini Akhsan? tanya Tasya dan membalas senyuman dari Akhsan.


" iya Oma, Oma ngapain disini, melamun lagi.? Sampai-sampai tak sadar akan kedatangan Akhsan. Oma memikirkan sesuatu.? ceritakan dengan Akhsan Oma, mungkin Akhsan bisa membantu Oma "


" tidak ada apapun, Akhsan. Oma hanya sedang menikmati angin sore saja. kenapa kamu seorang diri, dimana Kairi.? tanya Tasya mengalihkan.


" Oma,, jangan mengalihkan pembicaraan. coba Oma cerita sama Akhsan, apa Oma tak percaya lagi dengan Akhsan , Hmm..


" Oma,,,? Oma, hanya tiba-tiba merindukan Opa Joe, Akhsan. Sudah cukup lama Oma tidak bertemu dengan Opa Joe. entah seperti apa dia sekarang.? Oma benar-benar ingin bertemu dengan nya " terang Tasya yang penuh gundah gulana karena merindukan Joe.


Akhsan terdiam, Mulut nya kelu. Akhsan benar-benar bingung untuk menjawab kata-kata Tasya barusan. seandainya saja dia sudah berhasil membawa Joe untuk datang dan bersatu lagi dengan mereka mungkin Tasya Oma nya tak akan sesedih itu. "maafkan Akhsan Oma, tapi Akhsan janji Opa Joe akan berkumpul lagi dengan kita semua secepatnya. Akhsan janji "


" Akhsan, apa kamu bisa membantu Oma bertemu dengan Opa Joe.? Oma sudah sangat tua. Oma hanya takut jika sewaktu-waktu Oma di panggil sama yang kuasa Oma belum sempat bertemu dan meminta maaf pada Opa Joe. kamu bisa kan bantu Oma " Tasya benar-benar berharap akan hal itu. Dia sangat merindukan Joe kakak nya yang dulu selalu melindungi dan menemani nya.


" Akhsan,, Akhsan akan berusaha Oma, akan Akhsan bawa Opa Joe secepatnya untuk bertemu Oma. tapi Oma harus tetap sehat dan jangan pernah mengatakan hal-hal yang seperti tadi lagi ya, Oma. " Hati Akhsan begitu teriris mendengarkan pernyataan Tasya yang mengatakan dirinya sudah tua. Akhsan benar-benar takut jika yang di katakan oleh Tasya benar mungkin Akhsan adalah orang pertama yang sangat menderita.


"'pertemukan Oma dengan Opa Joe ya, Akhsan. Oma benar-benar merindukan Opa Joe " lirih Tasya dengan suara serak nya yang khas.


" iya Oma Akhsan janji. secepatnya akan Akhsan bawa Opa Joe untuk datang. " jawab Akhsan meyakinkan.


Tasya tersenyum sumringah meskipun terbesit keraguan dalam hatinya. tak akan mungkin mudah membawa Joe untuk datang karena penjagaan Marco yang sangat ketat itu menjadikan nya sangat mustahil tapi tetap saja Tasya harus berharap dan terus berdoa.


Tasya mengelus pundak Akhsan sebelum beranjak dan pergi dari hadapan Akhsan " istirahat lah. temani istri mu dia pasti tengah menunggu mu"


" iya Oma " jawab Akhsan.


Akhsan terus menatap kepergian Tasya dia sangat bingung memikirkan cara untuk mewujudkan keinginan Tasya barusan " Akhsan akan berusaha Oma. demi Oma, Akhsan akan melakukan apapun " gumam Akhsan.

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


__ADS_2