Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
231. Drakor


__ADS_3

Happy Reading..


__________


Setelah kepergian Ikhsan dan semua pekerjaan sudah selesai Fatma benar-benar pergi ke rumah Khairi. Dia menepati janjinya untuk menemaninya selama Akhsan masih ada di kantor.


Fatma begitu semangat keluar dari rumahnya untuk menuju rumah sebelah, untung saja rumah mereka hanya bersebelahan jadi dia akan sangat mudah datang setiap saat tanpa kendaraan apapun, cukup dengan kaki yang sehat saja kan.


"Pagi pak," Sapa nya pada penjaga yang ada di rumah Akhsan.


"Pagi, Bu Fatma." Jawabnya dengan sopan.


Fatma langsung masuk dan setelah dia masuk terlihat pintu gerbang perlahan-lahan di tutup kembali oleh penjaga.


Tak membawa apapun Fatma saat datang, hanya ponselnya saja yang ada di tangan, karena itu adalah barang terpenting saat dia pergi kemanapun.


Pintu rumah Khairi terbuka lebar membuat Fatma langsung masuk begitu saja tanpa mengetuknya, namun dia tetap menyerukan salam untuk tuan rumah, "Assalamu'alaikum... Kak! Kak Khairi! " Teriaknya.


"Wa'alaikumsalam..., eh Bu Fatma sudah datang." Jawab asisten yang datang dari arah dapur untuk menyambutnya.


"Kak Khairi di mana, Bik?" tanya Fatma.


"Oh ibu, ibu ada di kamar, katanya mau sholat dhuha sebentar. Apa perlu saya panggilkan?" Fatma menggeleng, tak perlu kan memanggil Khairi yang sedang menjalankan sholat, nanti bisa-bisa mengganggu fokusnya.


"Tidak usah, Bik. Biar Fatma tunggu saja di sini. Kalau sudah selesai Kak Khairi pasti juga akan turun," Fatma duduk di sofa begitu saja, dia memilih untuk menunggu di sana saja sembari sibuk dengan ponselnya.


"Bu Fatma mau minum apa? Jus, susu seperti biasanya atau Teh?" tanya Bibi.


"Teh saja, Bik. Saya sudah minum susu tadi di rumah. Bosan lama-lama kalau harus minum susu terus," jawab Fatma, Bibi itu langsung mengangguk dan pergi ke dapur untuk membuat apa yang Fatma minta, "Nanti aku harus protes dengan Mas Ikhsan sepertinya, aku bukan anak kecil lagi, masak iya harus minum susu terus. Tambah bulat nanti tubuhku," Keluhnya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Ikhsan meminta Fatma untuk mengonsumsi susu, itu karena tubuh Fatma yang terlalu kecil. Dengan makan-makanan yang bergizi Ikhsan berharap bisa menambah berat badan Fatma dan membuatnya sedikit berisi.


Fatma langsung sibuk dengan ponselnya, bukan untuk chat siapapun ataupun main game, biasalah anak mudah jaman sekarang mereka akan berlomba-lomba untuk melihat drakor kesukaan mereka,itulah yang Fatma lakukan sekarang, melihat drakor.


"Ya Allah, romantis sekali. Seandainya Mas Ikhsan bisa seperti ini. Uh... Astaga..., kenapa aku merinding begini?" Celoteh nya. Entah drakor yang mana yang dia lihat sampai-sampai dia harus komentar seperti itu.


"CEO CEO dalam novel atau drakor sifatnya awal pasti pada dingin, galak, judes, angkuh, juga nyebelin, tapi setelah bucin? Hadeuh...," Fatma geleng-geleng kepala sendiri gara-gara melihat apa yang di tonton.


"Astaghfirullah hal 'azim..." Fatma menutup matanya dengan telapak tangan, apa yang dia lakukan itu tentu bukan tanpa alasan. Matanya harus ternoda dengan adegan panas dari dalam ponselnya saat berciuman dengan penuh gairah.


"Kenapa juga aku lihat seperti ini? Membuat mataku ternoda saja." Lagi-lagi Fatma hanya bisa berkomentar, namun tetap saja dia tak menyudahinya dan terus melihat drakor yang membuatnya penasaran.


Begitu Fokus Fatma melihat drakor di ponselnya sampai-sampai dia tak menyadari sudah ada teh dan juga cemilan hangat di hadapannya, bahkan Fatma juga tak menyadari kalau Khairi juga sudah datang dan kini duduk di sebelahnya.


Khairi menggeleng geli melihat kelakuan dari iparnya itu, buat apa dia melihat kalau akhirnya dia menutup mata, dan buat apa juga dia menutup mata kalau akhirnya dia sesekali memberi celah di antara jari-jari untuk bisa melihatnya, sungguh membingungkan.


Seketika Fatma mengalihkan tangannya dan membuka mata, meringis hanya itu yang bisa Fatma keluarkan. Malu? Itu pastilah dia rasakan, dia tengah ketahuan melihat adegan panas dalam drakor meskipun itu hanya sebatas ciuman.


"Hehehe..., sejak kapan Kak Khairi datang?" tanya Fatma mengalihkan pembicaraan, Fatma juga langsung menyudahi menontonnya dan langsung menyembunyikan ponsel di sebelahnya.


"Sejak kamu senyum-senyum sendiri... Dari pada kamu melihat saja, lebih baik kamu lakukan tuh dengan Ikhsan, kan kamu langsung bisa merasakan bagaimana rasanya. Lagian menonton begitu hanya bikin gerah saja," ucap Khairi memberi saran.


"Apa sih, Kak!" Pipi Fatma merona merah, dia sangat malu. Ternyata bukan hanya Akhsan yang suka menggoda Ikhsan tapi Khairi pun sepertinya sudah ketularan dan seneng banget menggoda Fatma.


"Hahaha... , tuh lihat pipimu! Kalau kamu sedang bersama Ikhsan pasti langsung di terkam karena terlihat manis," Tawa Khairi pecah melihat Fatma yang sangat malu di buatnya.


"Ihh.. Kakak nyebelin deh! " Merajuk Fatma sedikit kesal. Namun benar juga kan, daripada hanya menonton lebih baik praktek sekalian.


"Sudah sudah! Nih di minum teh nya, nanti keburu dingin! " Khairi mengambil cangkir yang ada di meja lalu dia memberikannya pada Fatma, yang pasti langsung di terima olehnya.

__ADS_1


"Makasih, Kak," Perlahan-lahan Fatma langsung meneguknya. Teh hangat sangat enak di nikmati di pagi hari di temani dengan cemilan, mantap.


"Kakak nggak minum juga?" tanya Fatma setelah melepaskan cangkir dari bibirnya dan Khairi hanya menggeleng tidak. Fatma kembali meletakkan cangkir di meja lalu matanya terfokus pada perut Khairi.


Fatma begitu gemas setiap melihat perut buncit milik Khairi, dia pasti akan selalu mengelus nya, "Apa kabar dedek sayang? Baik kan ya? Harus baik ya, jangan sampai kenapa-napa dan selalu jaga Umi juga ya, jangan merepotkan nya. "


"Iya Aunty,, " jawab Khairi mewakili dan ikut mengelus juga perutnya.


"Hem.., sebentar ya, Fatma. Kakak mau ke toilet sebentar," Pamit Khairi dan langsung di angguki oleh Fatma.


"Seandainya saja Fatma sudah lulus, Fatma juga pengen sekali bisa secepatnya hamil juga seperti kak Khairi," Ucapnya sedih, tangannya langsung mengelus perutnya sendiri yang belum ada kehidupan di sana.


"Tinggal beberapa bulan lagi, Fatma. Dan kamu bisa menyusul kak Khairi juga."


𝘈𝘬𝘬𝘬...


Baru juga berhenti bicara Fatma di kejutkan dengan teriakan dari Khairi. Sontak Fatma langsung berlari menghampiri Khairi.


"Kak! Kak Khairi, kenapa?! " Teriak Fatma sembari berlari.


Begitu terkejut setelah sampai di tempat Khairi, mata Fatma melihat Khairi yang tergeletak tak sadarkan diri dan juga mengeluarkan darah, sepertinya ada pendarahan padanya.


"Kak Khairi!" Teriak Fatma histeris.


__


Bersambung...


______________

__ADS_1


__ADS_2