
Happy Reading...
______
"Hem.., Mas! Alvaro tampan banget ya? Jadi pengen gendong dia terus. Hemm,.. Kapan ya, kita bisa punya baby juga kayak baby Alvaro?" Fatma berhenti saat dia ingin masuk ke rumahnya, dia menoleh sebentar ke arah Ikhsan yang ada di belakangnya.
"Kayaknya sudah tidak sabar banget pengen punya baby? tapi tunggulah sebentar lagi setelah kamu lulus. Kita bisa rencanakan memiliki baby juga," Ikhsan merangkul Fatma, menuntunnya untuk masuk.
"Assalamu'alaikum! " Seru keduanya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam! " Jawab asisten rumah tangga yang ada di dapur.
Fatma kembali menoleh ke arah Ikhsan, suaminya itu terlihat sangat santai dan biasa-biasa saja tapi entah kalau di hatinya. Tapi kalau Fatma, dia benar-benar sudah mendambakan seorang bayi kecil yang akan melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.
"Hem.., masih lama dong, Mas! Hem, bagaimana kalau mulai sekarang saja kita rencanakan, kalau bisa kita program anak kembar, kayaknya asyik kalau punya anak kembar, rumah pasti tambah ramai," Ucapan Fatma berhasil membuat Ikhsan menganga. Bagaimana mungkin mereka akan memulai program sekarang di saat Fatma masih sekolah.
"Kita bisa rencanakan, Fatma. Tapi tidak dengan memulai program. Mas nggak mau kalau sampai kamu hamil sebelum kamu lulus. Itu akan berdampak buruk dengan sekolahmu, bisa-bisa kamu di kira anak nakal nantinya kalau kamu hamil," Jawab Ikhsan.
Keduanya sudah duduk di sofa, Fatma tidak mau jauh-jauh dari Ikhsan hingga akhirnya dia memilih untuk duduk di pangkuannya sembari memeluk leher suaminya.
"Kan ada Mas, kalau Fatma hamil tinggal bilang saja kalau Fatma istri Mas," Jawab Fatma gak kehabisan akal.
"Atau jangan-jangan, Mas malu ya punya istri yang masih sekolah, Iya? "
Seketika Ikhsan menggeleng bukan itu yang membuat Ikhsan mencegah Fatma untuk hamil, tapi Ikhsan tidak mau kalau sampai Fatma putus sekolah nantinya.
"Bukan seperti itu maksudnya, Fatma. Mas hanya tidak mau kalau sampai ada kata-kata buruk yang kamu dapatkan nantinya," jawab Ikhsan.
"Heh..., bilang saja kalau Mas memang tidak mau Fatma hamil! " Wajah Fatma seketika berubah, dia langsung beranjak dan berjalan meninggalkan Ikhsan menuju kamar.
"Fatma sayang, bukan seperti itu," Ikhsan juga Ikutan beranjak lalu mengejar Fatma yang tengah merajuk karena keinginannya yang belum bisa Ikhsan penuhi.
"Sayang.. " Ikhsan terus berlari dengan cepat dia harus bisa membuat Fatma mengerti.
Fatma duduk di sofa yang ada di kamar, tepatnya di paling ujung sofa. Fatma menaikan kakinya dan memeluknya dengan erat, dan jangan lupakan wajahnya yang benar-benar tak bersahabat.
__ADS_1
Ikhsan duduk menyusul Fatma di sebelahnya tentunya dengan menghadap Fatma dan mencoba memberikan pengertian lagi, "Fatma sayang, Mas tidak malu sama siapapun karena memiliki istri yang masih sekolah, Mas hanya ingin menjaga nama baik kamu saja."
"Mas tidak mau kamu di olok-olok di sekolah apalagi kalau sampai kamu di keluarkan kalau kamu hamil nantinya. Meskipun Mas mengatakan kalau Mas adalah suamimu tapi apa mereka akan percaya. Dan ya, seandainya mereka percaya apa mereka tidak akan mengatakan hal-hal yang buruk kepadamu."
"Bukan itu saja, Fatma. Kalau kamu hamil sekarang, apa kamu yakin kandungan mu akan kuat, Mas hanya tidak mau menanggung resiko itu, Fatma. Tolong mengertilah. Kalau kamu sudah lulus, oke kita program sesuai kemauan mu, mau program anak kembar sesuai keinginanmu mas akan setuju tapi tidak untuk sekarang," terang Ikhsan panjang lebar.
"Tapi Fatma sudah pengen punya baby." jawab Fatma dengan wajah memelas.
"Sabar sebentar lagi, Fatma. Bukankah hanya tinggal beberapa bulan saja?" Ikhsan mengelus kepala Fatma dan membuatnya berangsur-angsur mengerti dengan apa yang Ikhsan jelaskan.
Bukan hanya Fatma yang sudah menginginkan seorang anak, tapi Ikhsan pun juga sama. Tapi Ikhsan tidak mau menanggung resiko terberat jika Fatma harus hamil di usia muda.
"Kamu yang sabar ya," Ucapan Ikhsan membuat Fatma langsung menubruk dan memeluknya, mungkin dia terlalu tak sabaran dan terlalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan akibatnya.
"Maafkan Fatma ya, Mas. Maafkan Fatma yang belum dewasa ini," ucap Fatma menyesal.
"Iya iya, Mas maafin. Tapi jangan kayak gini lagi ya? Bukan hanya Fatma yang menginginkan baby tapi Mas juga sangat menginginkannya, tapi kita harus bisa bersabar sebentar lagi, oke."
Fatma mengangguk ternyata dia salah, Ikhsan ternyata juga sama seperti dirinya menginginkan seorang baby juga.
"Stts..., sudah sudah. Tidak usah di bahas lagi. Sekarang bersih-bersih dan istirahatlah, ini sudah malam. Besok kamu harus sekolah," Pinta Ikhsan.
"Hem.. " Fatma melepaskan pelukannya dari Ikhsan dan bergegas pergi ke kamar mandi.
"Cepat atau lambat kita pasti akan memiliki baby juga Fatma. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat," gumam Ikhsan.
_____
Kebahagiaan terlihat begitu jelas pada Khairi saat melihat putranya, Alvaro. Keadaan yang sudah stabil membuat Alvaro di perbolehkan untuk tidur di box yang sudah di sediakan rumah sakit, hingga sekarang Alvaro sedang tidur di box dan Khairi juga Akhsan terus memandangi putranya yang terlelap.
"Alvaro tampan ya, Mas? dia benar-benar sama persis dengan mas," Ucap Khairi seraya tersenyum.
"Alhamdulillah. Meskipun dia sama seperti mas, mas harap dia tidak alergi cewek seperti mas dulu sebelum bertemu kamu," Akhsan suka geli setiap mengingat masa-masa itu, di mana dia selalu bersin saat ada cewek yang mendekatinya.
"Tapi kenapa saat bertemu dengan Khairi mas tidak bersin?" heran Khairi.
__ADS_1
"Ya, ya mungkin karena kamu memang jodoh mas, nyatanya sampai sekarang mas tidak pernah bersin-bersin lagi setiap dekat dengan cewek."
"Tapi kenapa Khairi lebih senang kalau mas bersin setiap dekat dengan cewek ya? "
"Emang kenapa?"
"Ya, kalau Mas selalu bersin saat berhadapan dengan cewek lain kan berarti mas nggak bisa lirik-lirik yang bening gitu, hehehe... " Meringis Khairi.
"Kamu ada-ada saja, meskipun Mas tidak bersin lagi tapi Mas tidak akan pernah lirik-lirik. Kan Mas sudah punya yang bukan sekedar di lirik saja, bahkan bisa di apa-apain jadi buat apa nyari yang hanya bisa di lirik," jawab Akhsan.
"Apa sih, Mas! " Khairi malu sendiri sekarang.
Oe... Oe... Oe...
Akhsan langsung sigap dan mengangkat Alvaro dari box, menimang-nimangnya supaya kembali tertidur, tapi sepertinya usahanya gagal karena Alvaro terus menangis.
"Kayaknya Alvaro haus deh, coba kamu kasih asi dulu,"
Khairi langsung duduk memposisikan diri untuk menyusui Alvaro. Benar saja setelah nyusu Alvaro langsung diam sepertinya dia benar-benar lapar.
"Hemm, jadi pengen juga deh. Alvaro,, papa minta yang satunya boleh?" tanya Akhsan membuat mata Khairi langsung membulat.
"Apa sih, Mas? tuh punya mas banyak! dua botol malah."
"Tapi aku mau yang kayak Alvaro, boleh ya Umi, boleh ya,, " Akhsan mengedipkan matanya berkali-kali juga memasang wajah imut seperti bayi.
"Tidak boleh, Abi. Ini khusus untuk Alvaro," Jawab Khairi menirukan suara anak kecil.
"Umi pelit..., "
"Hahaha.. Apa sih, Mas!" Khairi tertawa melihat gurauan Akhsan. Karena tak mungkin Akhsan akan memintanya dengan sungguh-sungguh.
__
Bersambung..
__ADS_1
______