
___
Happy Reading...
_________________
Ikhsan turun dari mobil yang dia sewa dengan pelan, setelah dia sampai di salah satu asrama yang ada di Kairo, di mana Aisyah tinggal di sana.
Setelah melalui beberapa pertanyaan akhirnya Ikhsan bisa sampai di salah satu ruang kunjungan. Tempat itu begitu ramai begitu banyak dari anak-anak lain yang juga tengah dijenguk oleh keluarganya, namun tetap saja jarak dari satu ke lainnya cukup jauh jadi tak akan mungkin bisa mendengarkan percakapannya.
Ikhsan duduk menunggu dia juga membawa oleh-oleh dari dalam Negeri untuk Aisyah, sebuah makanan kesukaan Aisyah tentunya.
Tak lama menunggu, satu orang dengan berseragam hitam datang dan di iringi Aisyah di belakangnya.
Orang itu mempersilahkan Aisyah untuk menemui Ikhsan lalu dia kembali pergi.
Aisyah berjalan pelan, menghampiri Ikhsan yang duduk memunggunginya. Kerinduan begitu besar bagi Aisyah hingga kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Sepertinya Rayyan memilih mengirim orang yang tepat, jika saja dia sendiri yang datang mungkin Aisyah tidak akan sebahagia ini. Hati Aisyah masih saja kesal jika dia mengingat apa yang di lakukan Rayyan hingga dia mengirimnya ke sini.
"Bang Ikhsan. " Panggil Aisyah
Begitu lirih, air matanya sudah sangat deras membasahi pipinya.
Suara yang juga sangat Ikhsan rindukan, adik perempuan satu-satunya yang sangat lama tidak bertemu. Ikhsan menoleh dan langsung mendapati Aisyah yang berjalan begitu pelan kearahnya, bahkan sekarang dia berhenti sejenak.
Ikhsan berdiri, rasanya ingin menangis namun juga ingin tersenyum, perasaannya sangat sulit di artikan. "Dek." Ikhsan berjalan menyambut Aisyah yang kini berlari kearahnya.
Ikhsan merentangkan tangannya menyambut Aisyah yang berhamburan ke pelukannya. Haru, senang, sedih campur aduk di antara mereka berdua. Ikhsan begitu erat memeluk Aisyah yang kini sesenggukan di dalam pelukannya dan membasahi baju yang dia kenakan.
"Bang, Aisyah sangat merindukan Abang." Ucap Aisyah dan terus memeluk Ikhsan kuat, rasanya tak ingin dia melepaskan diri dari Ikhsan dia sangat sangat merindukannya.
"Assalamu'alaikum, Dek. " Ikhsan mengucapkan salam yang tertunda dalam sejenak.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Aisyah.
Ikhsan melepaskan Aisyah, mengapit kedua pipinya dengan telapak tangan dan sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dirinya pada Aisyah, dia ingin lebih mudah untuk menatap wajah Aisyah.
Netra hitam yang masih terus berderai itulah yang menjadi pusat utama dari Ikhsan, tangannya merasa gatal melihat air mata itu dengan cepat dia menyapunya dengan jari-jemarinya.
"Jangan menangis, Abang sedih kalau kamu seperti ini." Ucap Ikhsan.
Ikhsan semakin tak tega kepada Aisyah, belum apa-apa dia sudah menangis dan begitu sedih bagaimana kalau nanti dia mendengar berita akan kepergian dari sang opa yang begitu Aisyah sayang.
Mulut Ikhsan terasa sangat kelu, bagaimana dan darimana dia akan memulainya. Apakah dia akan tegar dan menerima semua kenyataannya?.
Ikhsan menarik pergelangan tangan Aisyah dan menuntunnya untuk duduk di tempat yang tadi, Aisyah pun menurut dan duduk di sebelah Ikhsan namun keduanya saling berhadapan.
Rona bahagia Ikhsan keluarkan, meskipun niatnya datang untuk memberi kabar duka namun dia harus tetap tegar karena itu akan berpengaruh kepada Aisyah nantinya.
Ikhsan menyambar 𝘱𝘢𝘱𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘤𝘬 yang tadi dia bawa senyumnya semakin mengembang saat dia perlahan membukanya dan memperlihatkannya pada Aisyah.
"Lihat, apa yang bang Ikhsan bawa. Ini adalah makanan kesukaanmu?" Ucap Ikhsan antusias.
__ADS_1
Aisyah ikutan melihat wadah yang sudah terbuka sedikit itu, dia begitu senang dengan makanan itu, sebuah cemilan kering yang terbuat dari bahan Singkong. Terlihat sangat sederhana namun itu benar-benar kesukaan Aisyah.
Tangan Aisyah mengambilnya dia tersenyum bahagia saat tangannya berhasil mengeluarkan satu bungkus. "Terima kasih, Bang." Aisyah kembali memeluk Ikhsan dengan erat, dia benar-benar bahagia.
Meskipun belum mengatakannya tapi Aisyah tau betul apa yang menjadi tujuan Ikhsan untuk datang, berita yang mereka kira Aisyah belum mengetahuinya namun sebenarnya Aisyah sudah sangat mengetahui dari A sampai Z awal kejadiannya Aisyah sudah mengetahui.
"Bang, bukain." Ucap Aisyah begitu manja.
Ikhsan menggeleng, adik gadisnya itu benar-benar sangat manja. Mungkin karena sudah lama tak bertemu atau mungkin memang sifatnya Aisyah yang seperti itu saat ada di hadapan abangnya.
Ikhsan menurut saja, melakukan apa yang Aisyah minta. Sudah lama juga dia tak memberikan perhatian pada Aisyah rasanya sangat kangen.
"Ini, bakpaonya Abang. " Ikhsan kembali memberikannya pada Aisyah setelah berhasil membukanya, satu tangannya langsung mencubit pipi Aisyah begitu sangat gemas.
Sepertinya Aisyah sangat betah tinggal di sana buktinya Aisyah semakin tembem sekarang, dan juga bertambah gemuk saja.
"Bakpao abang sekarang benar-benar menjadi bakpao jumbo. " Gurau Ikhsan.
Mulut Aisyah monyong pipinya menggembung saat mendengar Ikhsan mengatakan itu, matanya juga menyipit karena dahinya mengkerut, ekspresi yang sangat-sangat menggemaskan bukan? Membuat Ikhsan kembali mencubit kedua pipi gembul itu.
"Sakit, Bang! " Protes Aisyah dengan sedikit teriak.
"Hahaha... Kamu sih? Kalau kamu seperti itu mana tahan tangan Bang Ikhsan untuk tidak mencubitnya. Udah besar semakin besar aja kan? Tambah menggemaskan." Jawab Ikhsan seraya terus tersenyum.
Lagi-lagi pipi Aisyah menggembung dengan mulut tertutup namun giginya terus mengunyah.
"Gimana, enak? " Tanya Ikhsan.
"Tak usah ditanya lagi, Bang! Ini sangat enak. Mungkin karena Aisyah sudah lama tidak memakannya atau mungkin karena emang enak. " Jawab Aisyah.
"Hem." Aisyah mengangguk, dia memang sangat doyan dengan cemilan sederhana ini. Bukan hanya sederhana namun juga murah meriah kalau ada di Indo tapi entah kalau di sana mungkin harganya bisa berkali-kali lipat.
"Gimana keadaan mu di sini, betah? " Mata Ikhsan mengedarkan ke semua penjuru yang bisa terjangkau oleh matanya, tempatnya luas dan sangat nyaman pasti Aisyah betah di sana kalau tidak mungkin Aisyah sudah terus merengek minta pulang atau mungkin dia akan kabur.
"Betah. Lagian betah nggak betah juga harus di betahin kan, Bang?" Jawab Aisyah dengan terus makan.
"Iya." Jawab Ikhsan sekejap.
"Bagaimana kabar rumah, Bang? Semuanya baik kan? Opa, Oma, Mama, Papa, Bang Akhsan dan juga kakak ipar, mereka semua baik kan? " Tanya Aisyah memancing.
Ikhsan terdiam, bagaimana dia akan memulainya. Hatinya seakan tak mampu untuk mengatakan dan akan menanggung kesedihan yang mungkin akan datang pada Aisyah setelah itu.
Ikhsan butuh memantapkan hatinya sejenak, dia tak bisa langsung mengatakan begitu saja. Dia sangat rapih sekarang.
"Mereka baik-baik saja, hanya saja...? " Ucapan Ikhsan terhenti, dia belum siap untuk mengatakan itu pada Aisyah, tapi kalau bukan sekarang terus kapan lagi.
"Tapi, tapi apa, Bang? " Desak Aisyah yang terus memancing, Aisyah ingin tau seberapa kuatnya Ikhsan mengatakan kebenaran itu. Seberapa kekuatan Ikhsan untuk mengatakan kepadanya kepergian sang opa.
Ikhsan masih terdiam.
"Bang, mereka tidak apa-apa kan? Semuanya baik-baik saja kan? " Aisyah menghentikan makannya dan menatap lekat wajah Ikhsan yang seolah menghindarinya.
"Bang! Kenapa, Bang? " Tanya Aisyah.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Syah. Kami semuanya sudah berusaha keras namun Allah berkehendak lain." Ikhsan memberanikan diri menatap Aisyah, kedua tangannya memegang kedua bahu Aisyah.
Meski belum mengatakannya mata Aisyah sudah berkaca-kaca, air mata begitu deras mengalir dari ujung matanya. "Bang." Lirihnya.
Ikhsan semakin bingung, belum juga mulutnya berbicara namun Aisyah sudah menangis kejer. Ikhsan merengkuh tubuh Aisyah membawanya ke dalam pelukannya.
"Opa, Syah. Opa sudah berpulang, Opa sudah meninggalkan kita semuanya." Air mata Ikhsan pun ikut meluncur dengan bebas seiring bibirnya yang terus berucap.
Tangisan Aisyah semakin keras, dia harus kembali berduka setelah dia berusaha dengan keras menguatkan hatinya seorang diri di sana. Dukanya hanya bisa dia sendiri yang menanggungnya dan juga dia sendiri yang bisa mengendalikannya saat dia hanya seorang diri dan tak ada satupun dari keluarga yang menemaninya.
"Kenapa, Bang? Kenapa harus opa yang pergi. Kenapa bukan Aisyah saja. Bukankah Aisyah yang sama sekali tidak di harapkan? Aisyah yang tidak di inginkan, kenapa harus opa yang pergi dan kenapa bukan Aisyah. "Ucap Aisyah.
Begitu dalam duka Aisyah dan begitu dalam juga rasa Aisyah yang seolah diasingkan dari semua keluarganya.
" Sttt..., jangan bicara seperti itu. Semua ini sudah menjadi takdir, Syah. "Jawab Ikhsan yang juga ikutan sedih dan menangis.
" Kenapa bukan Aisyah." Tangis Aisyah semakin pecah.
"Jangan bicara seperti itu, Syah. Kami semua sangat sayang sama Aisyah. Kami semua mengharapkan Aisyah. Aisyah adalah kebahagiaan kami semuanya, jangan pernah bilang seperti itu."
Hati Ikhsan begitu teriris, dia juga ikut merasakan sakit yang sama, seandainya dia bisa mungkin dia akan mencegah papanya mengirim Aisyah ke sana, namun dia juga tak punya kemampuan itu.
Ikhsan tak mengira kalau Aisyah akan seperti ini, dia tidak mengira kalau dia yang di kirim ke sana akan membuat dirinya merasa tidak di harapkan oleh keluarganya.
"Maafkan bang Ikhsan, Dek. Maafkan Abang. " Ikhsan terus memeluk Aisyah, menghujani puncak kepala Aisyah dengan kecupan.
"Kenapa... Kenapa bang. Kenapa harus seperti ini. Beribu-ribu kesalahan abang-abang semua Papa pasti akan selalu memaafkannya, tapi kenapa dengan Aisyah? Hanya satu saja kesalahan Aisyah bisa membuat Aisyah di kirim ke sini. Kenapa bang? Apa Aisyah bukan anak papa? Apa Aisyah bukan keluarga kalian semua? " Tanya Aisyah begitu banyak.
Semua kekesalan semua yang ada di dalam hati Aisyah keluarkan, dia sudah tak sanggup menahan dan menyimpannya seorang diri lagi. Dia sudah tidak sanggup.
Ikhsan menggeleng kasar, semua tidak seperti yang Aisyah katakan. Mereka sangat menyayangi Aisyah bagaimana bisa Aisyah berkata kalau dia bukan anak dari Rayyan dan juga saudara mereka.
"Tidak, Dek. Kamu adalah keluarga kami, kamu adalah kebanggaan kami, itu sebabnya Papa mengirim mu ke sini, itu semua semata-mata karena Papa ingin yang terbaik untuk Aisyah, Papa ingin kamu menjadi lebih dewasa lagi dan menjadi kebanggaan kami semuanya. " Jawab Ikhsan.
Semua unek-unek telah Aisyah keluarkan pada Ikhsan dia sedikit lega, meskipun dia belum bisa memaafkan Rayyan sepenuhnya.
Ikhsan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah amplop kecil berwarna putih namun terdapat gambar bunga berwarna merah muda di sana.
"Ada titipan ini dari seseorang. " Ikhsan menyerahkan amplop itu pada Aisyah.
Aisyah mulai melepaskan pelukannya, mengusap air mata nya dan mengambil amplop itu. Aisyah mengernyit dia bingung siapa yang telah memberikan itu padanya, dan apa isinya.
"Ini... " Aisyah membolak-balikan amplop itu namun tetap saja tak mendapatkan nama pengirimnya.
"Rico yang memberikannya. " Ucap Ikhsan dan menghapus tanya di kepala Aisyah.
"Bang Rico? "
"Iya, bang Rico. Dia memberikannya sebelum bang Ikhsan berangkat."
Aisyah semakin tak sabar untuk membukanya, apa kiranya yang ada di dalamnya, maksudnya tulisan seperti apa yang Rico tulis untuknya?.
____
__ADS_1
Bersambung...
________________