Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
238. Maaf


__ADS_3

Happy Reading..


_____


Suara adzan menggema begitu keras membangunkan semua makhluk yang bernafas. Namun Akhsan juga Khairi belum juga membuka matanya sepertinya mereka terlalu lelah karena begadang semalam karena Alvaro yang belum mau tidur.


𝘗𝘶𝘬... 𝘗𝘶𝘬...


Pergerakan tangan Alvaro yang sudah terlebih dahulu bangun telah mendarat di pipi Akhsan hingga akhirnya membuat Akhsan mulai terbangun.


"Assalamu'alaikum, Alvaro Sayang. Selamat pagi," ucapnya dengan tangan sembari mengucek-ucek matanya sendiri.


"aaaa.. aaaa.... " hanya suara itu lah yang keluar dari mulut Alvaro, sepertinya anak itu sudah mulai mengajak berkomunikasi.


Akhsan bangun lalu membangunkan Khairi juga untuk shalat subuh.


"Khairi sayang, bangun yuk sudah subuh," ucap Akhsan dengan begitu lembut sembari tangan mentoel-toel pipi Khairi dengan pelan.


"ehmm...," Khairi mulai menggeliat sepertinya Akhsan berhasil membangunkannya.


Khairi benar-benar bangun matanya langsung terbuka, dia tersenyum melihat Akhsan juga Alvaro yang sudah lebih dulu bangun. Biasanya Khairi yang akan bangun lebih dulu, tapi mungkin karena dia sangat lelah jadinya dia bangun terlambat.


"Assalamu'alaikum, Mas, Alvaro sayang," sapa Khairi dengan senyuman yang langsung muncul begitu manis.


"Wa'alaikumsalam, Umi," jawab Akhsan mewakili, "Cepat bersiaplah untuk shalat, biar Mas tungguin Alvaro dulu," pintanya.


Khairi mengangguk tanpa mengatakan apapun, Khairi turun dari ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih juga mengambil wudhu.


"Alvaro sayang, mau shalat juga kan," tanya Akhsan.


"aa... aa..., " dan hanya kata itulah yang menjadi jawaban dari Alvaro. Bayi itu terus mengatakan itu saat ada yang mengajaknya bicara.


"Anak tampan," Akhsan mengelus pipi gembul Alvaro. Semakin lama semakin gemas saja melihat Alvaro yang semakin gemuk, bahkan kedua pipinya begitu gembul dan dagunya seakan tersusun dua, "ihhh... menggemaskan sekali sih kamu, sayangnya Abi.".


Tak lama di kamar mandi Khairi sudah keluar, wajahnya sudah segar bahkan bajunya juga sudah ganti menjadi daster rumahan yang terdapat tiga kancing di depan, sepertinya Khairi juga sudah mandi sekarang.


"sudah, Mas. Sekarang Mas ambil wudhu sana biar Alvaro sama Umi," ucap Khairi.


Astaga, kenapa Akhsan selalu saja menginginkan sesuatu saat melihat Khairi hanya menggunakan daster rumahan sepertinya itu. Membayangkan kalau itu akan mudah di buka dan dia bisa mudah menjamah tubuh di dalamnya.


"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘈𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘪𝘧𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘶𝘯𝘺𝘢," batin Akhsan.


"Mas, ada apa? " tanya Khairi mengejutkan.

__ADS_1


"Eh.., tidak! tidak ada apa-apa. Mas ke kamar mandi dulu," jawab Akhsan yang gugup.


"Oh, kirain,"


"Mas ke kamar mandi dulu," Akhsan cepat beranjak dari kasur lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu sekaligus bersih-bersih juga.


Khairi sadar, ada yang aneh pada suaminya, tapi dia tak tau kalau suaminya tengah menahan sesuatu yang dia inginkan, yaitu ingin sekali menyentuh Khairi. Apalagi melihat Khairi yang lebih berisi karena dalam masa menyusui, depan belakang sangat menonjol pasti sangat enak jika di nikmati.


"aa... aa... "


"Eh, Alvaro ngajakin ngobrol ya? uluh uluh gemesnya," Khairi duduk di tempat nya tadi sembari menunggu Akhsan keluar dari kamar mandi dan mereka bisa menjalankan shalat berjamaah.


_____


"Alhamdulillah hirrobbil 'alamin.. " seru Ikhsan setelah selesai menjalankan shalat berjamaah dengan Fatma di kamar mereka.


Ikhsan berbalik badan menghadap Fatma mengulurkan tangannya dan akan mendapatkan kecupan dari Fatma dan setelah itu dia juga akan menggantinya mengecup kening Fatma.


"Fatma, hem... " Ikhsan begitu bingung untuk memulai mengatakan sesuatu pada Fatma soal semalam. Ikhsan takut kalau Fatma sampai tersinggung dan salah paham, "Fatma, bagaimana kalau pagi ini kamu... hem..., bagaimana kalau pagi ini kamu beli pil dulu," ucap Ikhsan dengan lirih.


"Kenapa harus beli pil? apa Mas memang tidak mau kalau Fatma hamil ya? atau jangan-jangan Mas memang tak mau Fatma mengandung anak Mas! " jawab Fatma.


Tuh kan benar-benar salah paham, Ikhsan sangat ingin, tapi bagaimana kalau nantinya Fatma benar-benar hamil dan saat ujian tiba pasti Fatma akan kesusahan meskipun dia bisa menyembunyikannya.


"Kalau Mas memang tidak mau Fatma hamil tak apa-apa, Fatma akan menuruti apa yang Mas katakan! Fatma akan membelinya dan Fatma akan meminum tiga puluh pil nya sekaligus, kan itu benar-benar bisa mencegah kehamilan yang lebih pasti daripada hanya minum satu saja," jawab Fatma.


Pusing sekarang si Ikhsan, apa yang harus dia lakukan? kalau sampai Fatma melakukan apa yang dia katakan barusan berarti dia bukan hanya ingin mencegah kehamilan tapi dia juga akan bunuh diri.


Fatma beranjak dia sangat kesal, entah mengapa juga emosinya selalu saja tak baik jika membicarakan tentang kehamilan, apalagi Ikhsan yang masih melarangnya itu tak sesuai dengan keinginannya.


Fatma tak melipat mukena dan sajadahnya dia hanya menggulungnya lalu melemparkan nya di sofa. Keluar dari kamar adalah keputusan Fatma, dia tak mau berdebat lagi lebih baik dia pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan mungkin dengan itu moodnya akan membaik.


"Fatma, bukan seperti itu maksud Mas, Fatma! " panggil Ikhsan.


Panggilan yang di abaikan membuat Ikhsan tak sabar dia langsung melipat sajadahnya menaruhnya di atas meja lalu melepaskan kopyahnya juga. Ikhsan keluar mengejar Fatma masih menggunakan baju koko juga masih memakai sarung, dia harus meluruskan masalah ini.


Sampai di dapur ternyata Fatma tak sendiri di sana, ada dua pembantu yang membantunya. Kedatangan Ikhsan di sadari oleh kedua pembantu, mereka menoleh ke arah Ikhsan lalu mendapatkan kode untuk mereka pergi.


Hanya tinggal mereka berdua di sana, semua sudah pergi. Ikhsan memeluk Fatma dari belakang menumpu dagunya di atas bahu Fatma, namun itu malah membuat Fatma kesal.


"Lepas, Mas! Fatma ingin masak! " ucapnya dengan kesal.


"Fatma sayang, maksudnya Mas bukan...

__ADS_1


" Bukan apa, Mas! Mas memang tak mau Fatma hamil kan? ya sudah nanti Fatma akan beli obat dan akan aku turuti keinginan Mas! "


Ikhsan menutup mata sejenak menata hati dan berusaha untuk lebih sabar, "Mas minta maaf. Oke, Mas tidak akan meminta Fatma mengonsumsi pil itu. Biarkan saja kamu hamil, Mas tidak masalah lagi. Mas akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun. Jika suatu saat kamu benar-benar hamil dalam waktu ujian dan semua orang memojokkan mu Mas akan pasang badan, Mas akan mengatakan semuanya kalau kamu adalah istri Mas." jelas Ikhsan dengan pelan.


Fatma masih terdiam, dia belum percaya dengan apa yang Ikhsan katakan.


"Sayang, please. Jangan diamkan Mas seperti ini. Mas mengaku salah, Mas minta maaf. Jika kamu memang mau hamil secepatnya oke kita mulai merencanakan sekarang. Kita bekerja keras setiap malam supaya kita cepat punya momongan, tapi jangan diamkan Mas seperti ini."


"Mas hanya terpaksa kan!"


"Tidak sayang, Mas sungguh-sungguh. Mas izinkan kamu kalau kamu mau hamil. Dan Mas akan menyiapkan semuanya," jawab Ikhsan.


"Beneran ya, Awas kalau minta Fatma untuk minum pil lagi," ancam Fatma dengan mengacungkan pisau yang dia bawa.


"tidak, Mas janji. Mas tidak akan memintamu untuk itu lagi, tapi sekarang kamu jangan marah dong. Kalau kamu marah Mas malah ingin memakan mu."


"Oh iya, ngomong-ngomong beneran enak loh kalau nggak pakai pengaman kita mulai lagi yuk! kita ulangi satu atau dua kali lagi. Masih cukup lah waktunya, yuk," bisik Ikhsan.


Mulut Fatma menganga, "Astaga, Mas.. " ucap Fatma.


"Cius enak loh, yuk sekali atau dua kali lagi," Ikhsan menarik Fatma begitu saja, dia benar-benar ketagihan sekarang.


"Tapi Mas! siapa yang mau masak! "


"Sudah jangan protes, ada bibi kan yang akan melakukannya," jawab Ikhsan," Bi, tolong selesaikan masakan Fatma ya! " pinta Ikhsan saat sampai di ruang tengah dan melihat asistennya tengah ngepel di sana.


"Baik, Pak! " jawabnya patuh. "𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶 𝘍𝘢𝘵𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪? 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪? 𝘢𝘩𝘩..., 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯...? " asisten itu tersenyum geli sendiri memikirkan yang mungkin akan di lakukan kedua majikannya itu, yang pasti mereka akan melakukan yang seharusnya di lakukan oleh sepasang suami-istri.


__


Bersambung...


______


Hay hay semua reader's tersayang... Jangan lupa mampir ke karya author yang masih anget yuk.. Di jamin menguras emosi, yang pasti banyak pelajarannya juga..



Jangan lupa masukan favorit, kasih like, komen panjangnya, juga vote dan gift nya ya...


Selamat menikmati karya baru, semoga kalian juga suka.


😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2