Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
210. Kesal


__ADS_3

____


Hello hello...


Kembali lagi ke dunia halu ku, jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya, dan juga jangan lupakan komen nya.. Panjang atau pendek akan sangat membantu.. Yuk capcus, budayakan like dan komen...


Happy Reading....


_________________


Baru saja Akhsan dan Kairi turun dari mobil ada seorang belari ke arahnya, dan beteriak setelah hampir sampai membuat Akhsan dan Kairi menoleh dengan cepat dan melihat Kamila di sana.


"Pak Akhsan...! " Teriak nya di dalam suasana yang terlihat masih sangat sepi karena ini masih terlalu pagi sebenarnya.


Akhsan menatap datar Kamila sementara Kairi menatap malas, apalagi yang dia inginkan sekarang, lebih tepatnya perlakuan apa lagi yang akan dia perlihatkan pada mereka berdua untuk bisa mendekati Akhsan.


Kamila membungkukkan tubuhnya dan mengambil nafas banyak-banyak, detak jantungnya berpacu dengan cepat bukan karena adanya Akhsan di sana melainkan dirinya yang lelah dan kehilangan beberapa persen tenaganya karena berlari.


"Gimana, pak Akhsan sudah sembuh? " tanya nya begitu antusias.


Kairi geser pas di samping Akhsan, merangkul lengannya dan mengusapnya beberapa kali. Senyum hambar keluar dari Kairi, dia sadar mulai sekarang dia harus benar-benar bisa menjaga suaminya dari para fans-fans beratnya yang mungkin akan semakin terobsesi padanya. Z


"Alhamdulillah, Mas Akhsan sudah sembuh. Terima kasih karena sudah menjenguknya, tapi sebaiknya tidak usah terlalu repot dan juga jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan suami saya, Mila. Saya pasti bisa menjaga dan merawatnya dengan sangat baik. " Jawab Kairi mendahului Akhsan.


"Syukurlah kalau begitu. " Kamila tersenyum kecut, dia kecewa itu pasti dia hanya bisa berharap tanpa bisa memiliki.


Kamila sendiri tidak tau dengan dirinya sendiri, dia tak bisa memahami hatinya, kenapa dia begitu senang dan begitu semangat saat melihat Akhsan, jangankan melihat mendengar namanya saja dia sudah seperti orang gila yang terus tersenyum tanpa sebab.


Kamila selalu ingin bisa dekat dengan Akhsan, melihatnya dan mencari perhatiannya itulah yang pasti yang terjadi pada dirinya. Dia sendiri tidak tau itu cinta atau mungkin hanya sebatas obsesi semata, atau mungkin karena sebuah budi yang ingin dia balas dengan cara yang berbeda.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya, Mila. Assalamu'alaikum. " Kairi menarik lengan Akhsan yang terdiam, dia lebih puas melihat sikap waspada dari Kairi daripada dia ikut serta dalam pertarungan secara halus itu.


"Assalamu'alaikum." Sambung Akhsan dengan menarik ujung bibirnya sedikit saja.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Kamila dengan kecewa.


Kamila terus memandangi kepergian sepasang suami-istri itu, dia iri kapan dia bisa seperti itu? Dia ingin bisa seperti mereka namun dia tidak mencari orang lain yang dia rasa pantas dan tulus dengannya namun dia malah terus mencari perhatian dari Akhsan yang tak mungkin bisa dia gapai.

__ADS_1


"Kenapa aku menjadi seperti ini, jelas-jelas pak Akhsan sudah menikah dan begitu mencintai istrinya mbak Kairi, kenapa aku terus mencari perhatiannya? Sadar Mila, sadar! Itu perbuatan yang tidak baik. " gumamnya menasehati dirinya sendiri.


Dia bisa bilang seperti itu namun nyatanya hatinya berkata lain, hatinya tak perduli akan status dari Akhsan sekarang, hatinya benar-benar berharap bisa mendapatkannya dan sepenuhnya bisa memilikinya.


Punggung yang sudah tak terlihat membuat Kami bergegas pergi juga dadi sana, tak mungkin juga dia akan terus ada di sana dan terus menatap tempat yang di lalu Akhsan.


_____


Kairi terduduk dengan wajah cemberut di kursi di ruangan Akhsan, dia begitu kesal saat ini. Kemarin dia tak apa-apa saat Kamila selalu mencari perhatian dari Akhsan tapi sekarang? Dia begitu terganggu dan begitu kesal.


Akhsan yang melihat itu langsung mendekat dan duduk di sebelahnya.


"Kamu kenapa? " tanya Akhsan menatap Kairi yang terlihat sangat kesal.


"Aku takut, Mas. Aku takut kalau lama-lama Mas akan jatuh cinta sama Mila. Dia cantik lebih berisi dan juga terlihat sangat sempurna sedangkan aku? " Ucap Kairi dengan manja.


Akhsan tersenyum melihat tingkah Kairi sekarang, tumben sekali Kairi merajuk manja seperti ini, biasanya dia akan diam dan tanah dengan berbagai macam ujian bahkan tak pernah Akhsan dengar kalau Kairi mengeluh, tapi saat ini? Ini benar-benar tidak seperti Kairi biasanya.


Akhsan maklum sih, istri mana yang tidak akan cemburu kalau suaminya terus menerus di dekati oleh wanita lain. Meskipun mereka bodoh tapi kalau masalah melindungi suami kepandaian itu akan hadir dengan sendirinya.


"Mana mungkin Mas akan seperti itu, Mas udah kebal dengan yang kayak gituan. " Jawab Akhsan percaya diri.


"Astaghfirullah... Amit-amit Kairi, Mas akan berusaha untuk tidak seperti itu. Bagi Mas menikah itu sekali, jatuh cinta sekali, hidup dan mati juga sekali. Jadi kamu tidak usah merasa takut seperti itu, percaya sama Mas. " Jawab Akhsan meyakinkan.


"Beneran ya? "


"Iya, Mas janji. "


Kairi bersandar di tubuh Akhsan dengan begitu manja, Akhsan pun juga langsung merengkuhnya begitu hangat.


"Aww! " Tiba-tiba Kairi memegangi perutnya dan membuat Akhsan panik sekaligus panik.


"Kairi, kamu kenapa? " Tanyanya dengan wajah panik.


"Dedek sepertinya menendang, Mas. Rasanya geli, tapi karena terkejut jadi Kairi teriak. " Jawab Kairi.


Akhsan bernafas lega, dia kira Kairi mengalami hal yang seperti kemarin lagi namun ternyata dedek dalam kandungan Kairi mulai bergerak aktif. "Coba Mas lihat. " Akhsan menempelkan tangannya di perut Kairi dan Kairi pun menuntunnya di tempat yang sama di mana pergerakan itu terjadi.

__ADS_1


"Nggak gerak sama sekali. " Akhsan melirik ke arah Kairi dengan tatapan meragukan.


"Benar, Mas! Tadi dedeknya bergerak. "


"Masak sih. " Akhsan membungkuk menempelkan wajahnya di perut buncit Kairi. "Dedek, bergerak yuk. Abi pengen ngerasain juga apa yang di rasain sama Umi. " Pinta Akhsan seraya membisikkannya di depan perut Kairi.


Hening...


Beberapa saat hening menunggu pergerakan dari dedek yang ada di dalam perut Kairi namun, sepertinya Akhsan di buat kecewa karena penantian tak kunjung terjadi.


Akhsan cemberut, mulutnya berkali-kali monyong membuat Kairi tertawa, " Hahaha..., ada apa dengan mulutnya, Mas. Kenapa monyong-monyong seperti itu? " Kairi begitu bahagia seketika kekesalan hilang melihat wajah Akhsan yang kecewa namun malah terlihat lucu di mata Kairi.


"Kok malah di ketawain, tuh dek! Gara-gara kamu Abi di ketawain kan? Yuk lah bergerak kalau tidak Umi akan terus tertawa. " ujar Akhsan.


"Bobok yang manis aja ya, Dek. Hemm... " Kairi semakin senang menggoda Akhsan.


Namun nasib baik berpihak pada Akhsan, belum juga Kairi berhenti tertawa dedeknya kembali bergerak, Akhsan begitu senang, matanya berbinar terang dan membulat begitu lebar.


"Alhamdulillah... Anak baik, nurut ya sama Abi." Ucap Akhsan.


Sekarang giliran Kairi yang cemberut," Kalian berdua sekongkol ya? " Kesal Kairi.


"Bukan sekongkol, Umi. Tapi kita sehati . " Jawab Akhsan girang.


"Huffff... Dasar. Udahlah aku mau ke kelas. " Kairi segera beranjak, mood nya benar-benar tak bisa di ragukan lagi, Kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Kadang naik dan kadang-kadang juga turun secara drastis.


"Loh! Kok pergi begitu saja, Yank. Mas masih mau main sama dedeknya! " Teriak Akhsan dengan tangan menggantung di udara dan melambai-lambai.


Kairi tak perduli itu, dia sangat kesal karena merasa Akhsan dan dedeknya sekongkol.


Akhsan menggeleng geli, dia tersenyum karena tingkah Kairi yang kesal padanya hanya karena tiba-tiba dedeknya bergerak saat Akhsan yang memintanya.


"Kairi Kairi... Kamu begitu manus sekali. " gumam Akhsan.


___


Bersambung..

__ADS_1


_____________


__ADS_2