Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
258. End


__ADS_3

Happy Reading....


"""""""""


Kebahagiaan begitu sempurna untuk keluarga besar Saputra. Terlebih lagi untuk oma Tasya yang akhirnya bisa di beri umur panjang dan bisa bertemu dengan kedua cicitnya yang sama-sama tampan Alvaro juga Alvino.


Kedua cicit yang di beri nama hampir sama meski memiliki orang tua yang berbeda. Jika besar nanti pastilah mereka akan seperti anak kembar karena umur mereka juga tidak terlalu jauh.


Alvino sudah bisa pulang dari rumah sakit karena memang semua dalam keadaan baik-baik saja, begitu juga dengan Fatma yang juga baik-baik saja dan tak ada keluhan apapun.


Semua keluarga tampak sedang bersatu di rumah Ikhsan. Menyambut kedatangan Alvino yang sama-sama mengemaskan seperti Alvaro ya sudah mulai berbicara.


Berbagai acara juga sudah di siapkan, termasuk dengan pemberian nama yang sebenarnya juga dengan acara pengajian aqiqah yang juga melibatkan para santri dari tempat Rayyan sang papa.


Gema sholawat juga bersahut-sahutan dengan begitu merdu. Semua berdiri dan menyambut kedatangan sang pangeran kecil Alvino yang ada di gendongan Ikhsan.


Ternyata acara malam ini adalah acara aqiqah juga acara potong rambut yang di lakukan oleh Rayyan sendiri selaku sang kakek. Tapi juga ada beberapa Kyai yang ikut melakukan potong rambut untuk Alvino.


Air mata haru terus mengalir dari Fatma, semua masih seperti mimpi baginya. Seperti kemarin dia masih keliling menjual cang ci men ke semua jalan juga taman. Tinggal di gubuk yang seperti kandangnya kambing dan sekarang? Dunianya benar-benar berubah semenjak dia kenal dengan Ikhsan dan menikah dengannya.


Fatma seperti seorang putri yang di perlakuan dengan baik oleh Ikhsan. Di sayang, di cintai juga di manjakan sepenuh hatinya. Dan sekarang kebahagiaannya lengkap dengan bersatunya seluruh keluarga juga dengan hadirnya Alvino di tengah-tengah rumah tangga mereka.


"Jangan menangis, Kak." Aira menyentuh bahu Fatma, membuatnya seketika menoleh dan tersenyum dengan begitu berat.


"Ini adalah tangis kebahagiaan, Dek." Jawab Fatma. Senyumnya perlahan benar-benar ringan, tak terlihat terpaksa saat mata melihat anaknya tengah di potong rambutnya oleh Rayyan.


"Selamat ya, Kak." Fatma langsung memeluk Aira. Adiknya itu juga terlihat bahagia juga haru.


"Selamat ya, Sayang." Nesa duduk menghampiri Fatma juga Aira. Memeluk Fatma memberikan ucapan selamat juga memberikan senyum juga kehangatan selayaknya seorang ibu.


"Terima kasih, Bu." Fatma pun membalas pelukan dari Nesa. Fatma juga memeluk adik laki-lakinya Jio.


Kebahagiaan benar-benar terasa untuk Fatma juga semua keluarga besarnya juga keluarga Ikhsan. Sempurna sudah hidupnya sekarang.


Tak memikirkan apapun lagi kecuali kebahagiaan keluarga kecilnya dan mengurus perkembangan anaknya. Mengurus suaminya yang begitu menyayanginya.


Oe oe oe...


Suara tangis dari Alvano mengejutkan semuanya. Semua ingin rasanya maju secara bersamaan, bahkan Fatma juga sudah beranjak dari tempat duduk dari tempatnya.

__ADS_1


Tangis seorang anak akan menjadi sebuah sirine untuk Ibunya, sedang apa atau mengerjakan apapun tetapi kalau anak sudah menangis maka semua akan di tinggalkan.


"Nak," Seketika tangan Fatma di tarik oleh Nesa karena Alvino jiga sudah diam. Entah apa yang membuatnya menangis barusan.


Bukan hanya Fatma yang langsung sigap tapi Ikhsan juga sama. Dia langsung mengelus punggung Alvino hingga akhirnya bocah kecil itu diam di dekapan papanya.


Ikhsan tersenyum, seraya menoleh ke arah Fatma yang terus menatapnya. Akhirnya Ikhsan bisa membuat Alvino diam.


Semua menatap haru, bahkan anak kecil yang juga mulai bicara itu terus bergerak ingin menghampiri Alvino saat menangis, dia adalah Alvaro.


"Sayang, jangan ke sana dulu ya." Akhsan menahan anaknya yang ingin sudah mulai berjalan. Alvaro begitu getol ingin menemui adiknya tetapi Akhsan tak memperbolehkan karena acara belum juga usai.


Mungkin Alvaro sadar, yang nangis tadi adalah adiknya juga jadi dia ingin menenangkan, atau mungkin karena dia tau hanya ada dirinya juga Alvino yang masih kecil di sana.


Hueeee....


Semua menoleh ke arah Alvaro saat si kecil itu menangis karena gak mau di halangi oleh Abi-nya. Alvaro terus kekeh ingin datang ke tempat Alvino.


"Abi, ada apa?" Tanya Khairi yang sontak panik melihat anaknya yang menangis.


"Ini, Umi. Dia mau ke tempat Alvino. Tetapi Abi larang dianya malah nangis." Jawab Akhsan yang masih terus memegangi Alvaro.


"Sayang, jangan ke sana dulu ya. Nanti kalau acara adek Alvino sudah selesai baru kamu boleh bermain dengannya," Ucap Khairi memberikan pengertian kepada Alvaro.


Hingga akhirnya Alvaro bisa terlepas dari genggaman Akhsan dan berlari ke tempat Alvino dengan gembira. Dan pas Alvaro sampai acara pun juga sudah selesai. Semua orang sudah duduk dengan tenang.


Alvaro mengejar Ikhsan yang membawa Alvino kembali ke pada Fatma, dan di saat itu juga Akhsan juga Khairi mengikutinya.


"De_dek.." Suara cadel Alvaro begitu menggemaskan untuk semuanya. Dia seketika berhenti di samping Alvino saat Adiknya itu sudah berpindah tangan ke Fatma.


Akhsan Khairi Alvaro, Ikhsan Fatma juga Alvino berkumpul menjadi satu saling ke empat orang tua dari dua bocah itu saling melihat dengan gemas kepada dua bocah yang seperti tengah berbicara dengan bahasa isyarat mereka.


Cukup menggemaskan memang, dua anak dari orang tua yang berbeda tetapi bentuk wajah mereka begitu mirip, bahkan hampir sama.


Sempurna sudah rumah tangga Akhsan dan Ikhsan mereka memiliki istri yang sholehah juga anak laki-laki yang sangat tampan juga sangat menggemaskan.


Oe oe oe....


Hueeee....

__ADS_1


Senyum mereka semua langsung pudar, mereka semua terkejut saat tiba-tiba Alvino menangis karena Alvaro mencubit pipinya. Sementara Alvaro sendiri menangis karena dia terkejut dengan tangis Alvino yang tiba-tiba.


Para orang tua langsung menenangkan anak mereka masing-masing, dan akhirnya mereka berempat tertawa secara bersamaan setelah tiba-tiba keduanya juga diam secara bersamaan.


"Hahaha... Wah, mewarisi kelakuan bapaknya ini. Selalu menindas adiknya." Celetuk Ikhsan.


"Halah, mana bisa. Biasanya abang juga selalu ngalah. Adiknya saja yang emoh kalau lh dan selalu ingin menguasai segalanya." Timpal Akhsan tak terima.


"Enak aja, nggak gitu juga kali, Bang!" Ikhsan tak terima.


"Iya, nggak salah!" Sungut Akhsan.


"Hahaha! Anak-anaknya diem gantian bapaknya yang berkelahi," Tawa Fatma keras.


"Hahaha..., iya, sepertinya bukan anak-anak yang akan terus berdebat. Tetapi para bapaknya." Saut Khairi.


Hahahaha....


Tawa semua keluarga menggelegar karena kelakuan dari Akhsan Ikhsan yang keduanya tak mau ada yang mengalah.


"Sudah, Bang. Ayo lanjutkan. Biar anak-anak kalian yang menjadi wasitnya." Rayyan menimpali.


"Apa sih, Pa!" Kedua merengut kesal.


"Hahaha..." Tawa semuanya lagi.


END...


◦•●◉✿""✿◉●•◦


Terima kasih untuk semua para reader's yang selalu setia dengan cerita abang kembar Akhsan dan Ikhsan.


Maafkan Author jika ada salah dan juga jarang Up dan sekalinya Up langsung End. Maaf ya jika akhirnya tidak sesuai ekspektasi. Maaf 🙏🙏🙏.


Salam manis dari Author Nurusysyifa.


Salam sayang, salam terimakasih, salam satu iket buat masak besok ya 🤭🤭🤭...


Jangan pernah bosan ya dengan cerita-cerita Author, dan tunggu cerita-cerita selanjutnya.

__ADS_1


😘😘😘😘😘


Wassalamu'alaikum...


__ADS_2