Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
248. Penyakit Tak Jelas


__ADS_3

Happy reading....



Sejak pagi Akhsan sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dia terus mengalami mual yang tiada henti. Akhsan juga sudah pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya tapi dokter bilang tak ada yang serius, lalu?


Sudah beberapa kali dia terus keluar masuk ke kamar mandi dan sampai sekarang dia juga masih terus mual.


‘’Astaghfirullah hal ‘azim... ini sebenarnya ada apa sih! Ke dokter tidak ada masalah tapi kenapa setiap pagi aku mengalami hal yang sangat tidak mengenakan seperti ini?’’


Akhsan begitu bingung, daripada seperti sekarang dan tak bisa melakukan apapun di kantor lebih baik pulang. Mungkin dengan itu dia akan lebih baik setelah melihat istri juga anaknya yang ada di rumah.


Meninggalkan semua pekerjaan di kantor kini Akhsan pulang mengendarai mobilnya setelah dia juga menyerahkan semua pekerjaannya kepada Ardi.


‘’Baru dua jam saja pergi tapi rasanya aku sudah sangat merindukan Alvaro, sedang apa ya dia sekarang?’’ tanya Akhsan pada dirinya sendiri.


Laju mobil semakin cepat dia sangat tak sabar ingin bertemu dengan Alvaro malaikat kecilnya yang selalu dia rindukan saat dia pergi meski hanya sebentar saja.


Mobil sudah terparkir rapi di depan rumahnya setelah melewati perjalanan panjang. Baru saja sampai dan dia turun dari mobil perutnya seperti di kocok-kocok tidak karuan, ‘’Astaghfirullah hal ‘azim...’’ Akhsan berlari masuk dengan sangat buru-buru.

__ADS_1


‘’Assalamu’alaikum...!’’ teriak Akhsan, dia mengucapkan salam sembari berlari karena sudah tak tahan lagi dengan apa yang berontak di dalam perutnya dan memaksa untuk keluar.


‘’Wa’alaikum salam..., loh! Abi ada apa?’’ tanya Khairi dengan sangat terkejut, Khairi baru saja turun dan baru sampai di anak tangga yang terakhir dan dia berpapasan dengan suaminya yang berlari sembari memegangi perutnya.


‘’Sebentar!’’ jawab Akhsan setengah berteriak.


Khairi yang sudah ada di bawah kembali naik lagi mengejar Akhsan yang sudah lebih dulu naik.


Masuk Khairi ke kamar mereka bersama dengan Alvaro yang ada di gendongannya. Khairi juga sudah langsung panik dia sudah sangat hafal dengan apa yang di alami Akhsan akhir-akhir ini.


Di kejarnya Akhsan hingga di depan pintu kamar mandi dan benar saja, Khairi mendengar Akhsan yang terus memuntahkan isi di perutnya.


Baru beberapa ketukan dan Akhsan sudah keluar dengan wajah yang sangat pucat juga terlihat sangat lemas.


“Mual lagi?” tanya Khairi.


Akhsan mengangguk kali ini lebih parah daripada biasanya. Dia sangat tak kuat lagi dan ini, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa melakukan apapun.


‘’Sekarang Mas istirahat biar aku buatkan teh hangat, siapa tau dengan itu akan membuat Mas lebih baik,’’

__ADS_1


Khairi menurunkan Alvaro ke box, untung saja anaknya itu tengah tidur sekarang jadi Khairi bisa membuat sesuatu yang bisa membuat Akhsan lebih tenang. Khairi kembali keluar dia bergegas ke dapur untuk membuatkan minum untuk Akhsan.


Dengan sangat hati-hati Akhsan merebahkan diri ke kasur, dia sangat lemas saat ini semua yang dia maka kembali keluar, sungguh merepotkan.


Tak lama Khairi sudah kembali masuk dengan membawa sebuah cangkir di tangannya, langkahnya di percepat karena sudah sangat tidak tega melihat suaminya yang sangat menderita karena penyakit yang tidak jelas.


‘’Minumlah, Mas. Setelah ini istirahatlah.’’


Cangkir Khairi sodorkan kepada Akhsan dan dengan cepat juga langsung di terima olehnya.


Di terimanya cangkir itu lalu di teguk juga dengan cepat. Memang lebih baik dari pada yang tadi. Akhsan kembali memberikannya kepada Khairi.


‘’Terimakasih, Umi.’’ Ucap Akhsan.


‘’Istirahatlah,’’ pinta Khairi dan Akhsan juga langsung mengangguk.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2