Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
204.Tak lekang waktu


__ADS_3

___


Happy Reading...


_________________


Ketampanan dari abang kembar memang tak pernah lekang oleh waktu sama sekali, dulu sebelum menikah mereka menjadi idaman para kaum hawa sedangkan sekarang sesudah menikah pun tetap menjadi laki-laki idaman.


Siapa yang tak kenal dengan mereka, seorang pewaris yang saling mendapatkan sebuah perusahaan besar bukan itu saja, tapi mereka yang juga sukses dalam menjadi seorang guru.


Bedanya kalau Akhsan semuanya sudah tau kalau dirinya sudah menikah namun kalau Ikhsan hanya orang-orang terdekat dan keluarga saja yang tau. Sedangkan kalau di sekolah belum ada yang tau kalau dia sudah menikah, kecuali tiga sahabatnya Fatma.


Akhsan tengah berjalan bersama dengan Kairi saat mereka ada di kampus, setiap harinya tak ada yang hal melenceng yang terjadi di antara mereka, rumah tangga mereka juga adem ayem saja tak ada penggoda atau mungkin belum, karena dalam waktu dekat ini ada seseorang yang selalu mencari perhatian dari Akhsan.


Kemarin Kamila menghadang Akhsan dengan alasan untuk memberikan kotak bekal untuk nya dan sekarang dia juga menghadang lagi dengan alasan kenapa Akhsan membalas pesannya kemarin.


" Assalamu'alaikum, Pak. " Sapanya begitu sumringah, tak ada rasa takut atau canggung meskipun di samping Akhsan ada Kairi.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Akhsan dan juga Kairi bersamaan.


Meskipun selalu diam dan tak berkomentar namun Kairi sudah mulai merasa terganggu sekarang. Seorang istri mana yang akan adem ayem saja saat suaminya mulai di goda oleh seorang wanita lain.


"Pak, kenapa pesan ku tidak di jawab? Padahal kemarin saya benar-benar bingung. " Ujarnya dengan wajah manisnya yang dia buat seimut mungkin.


"Saya sedang sibuk, maaf. " Jawab Akhsan datar.


"Oh, begitu ya." Kamila manggut-manggut.


" Oh iya, Pak. Kalau nanti sibuk nggak? Kayaknya masih banyak materi yang belum saya tau, boleh kan kalau saya chat Bapak. " Tanya Kamila yang masih berharap.


Se-sabarsabarnya Akhsan pasti akan ada masa jengah nya juga, mungkin Akhsan kini baru mulai merasa jengah dan mulai terganggu dengan kedatangan Kamila m, dia yang selalu cari perhatian dirinya itu terlihat sekali kalau dia ingin bisa dekat dengan Akhsan.


Akhsan takut jika ini berlanjut suatu saat akan terjadi masalah yang akan menggangu rumah tangganya, namun dia sendiri juga bingung bagaimana mau menghindar dari Kamila padahal dia sudah berupaya untuk tidak dekat dengan wanita lain selain Istrinya sendiri.


"Sepertinya tidak bisa, Mila. Saya banyak pekerjaan. " Jawab Akhsan yang pasti akan langsung membuat Kamila kecewa.


Entah apa maksud dari Kamila selalu ingin mencari perhatian dari Akhsan, jika sekedar untuk berterima kasih karena Akhsan telah menyelamatkannya kemarin seharusnya ini sudah selesai, apa mungkin Kamila punya maksud lain?.


"Yah.. Padahal aku beneran nggak ngerti." Semburat kecewa langsung terpancar jelas di wajah Kamila, ini adalah penolakan namanya tapi dia harus bagaimana sekarang.


"Maaf Mila, saya nggak bisa cari aja yang lain mungkin mereka bisa membantumu. " Ucap Akhsan.


Akhsan menoleh ke arah Kairi yang sadari tadi diam, menunduk dan mendengarkan. Akhsan tau pasti Kairi berfikir yang tidak-tidak, Akhsan pun memutuskan untuk pergi dari sana saja dan menggandeng lengan Kairi di hadapan Kamila.


"Kairi, yuk. " Ajak Akhsan yang mulai menarik dan akan segera pergi dari sana.


"Hem... " Kairi mengangguk dan langsung mengikuti Akhsan tanpa kata-kata lagi.


"Permisi Mila. " Ujar Akhsan.


"I- iya Pak. " Jawab Kamila yang benar-benar sangat kecewa.

__ADS_1


Kamila diam menatap kepergian Akhsan yang terus menggandeng lengan Kairi. "Kenapa aku tidak bisa seperti mbak Kairi, aku juga ingin bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar sayang padaku. " Ucap Kamila penuh harap.


___________


Di sebuah kamar yang sangat luas, kasur sangat lebar namun hanya ada satu orang saja yang ada di sana. Seorang laki-laki tua yang kini tengah sakit, tubuhnya terus menggigil, dia juga demam dan terus batuk.


Joe ada di sana seorang diri, terbaring lemah dengan batuk yang terus keluar dari mulutnya. Tubuh yang tua itu semakin lemah hanya sakit biasa saja akan sangat terasa untuk nya.


𝘜𝘩𝘢𝘬... 𝘜𝘩𝘢𝘬... 𝘜𝘩𝘢𝘬...


Nara masuk ke dalam kamar itu dengan nampan di tangannya yang berisi satu mangkuk bubur satu gelas air putih dan juga wadah kecil yang berisi obat untuk Joe.


Nara melangkah semakin dalam mendekati Joe yang terbaring lemah, duduk di sebelah Joe dan tersenyum kecil padanya. "Makan dulu Opa, setelah itu Opa harus minum obat biar cepat sembuh. Kalau Opa nggak mau makan lagi Mas Marco pasti akan memaksa Opa ke rumah sakit nantinya, dan meskipun Opa nggak mau pasti Mas Marco akan tetap membawa Opa. " Ucap Nara begitu lembut.


"Aku nggak lapar, Nak. Aku juga baik-baik saja ini hanya demam biasa saja, buat istirahat juga pasti akan sembuh. " Jawab Joe yang bersikeras tak mau makan.


"Apa Nara harus telfon Mas Marco sekarang, Opa?. " Tanya Nara sekaligus ingin menakuti Joe supaya mau makan.


"Opa beneran nggak lapar, Nara. Opa hanya mau istirahat." Ucap nya kekeuh.


"Makan dulu Opa, lapar atau tidak Opa harus tetap makan lalu minum obat, dari kemarin Opa tidak makan dengan benar bagaimana Opa bisa cepat sembuh? Ayolah Opa, Nara suapin Opa ya. " Bujuk Nara.


"Tapi Nara. "


"Please.. " Nara begitu memohon, bukan hanya karena ini kewajibannya saja namun dia juga ingin belajar merawat semua anggota Marco dengan baik.


Joe bangun dengan pelan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Baiklah tapi sedikit saja. " Ucaonya dan langsung di angguki oleh Nara.


Melihat antusias Nara untuk menyuapinya Joe pun langsung menyambutnya dengan menganga lebar sehingga sendok beserta bubur itu bisa masuk kedalam mulutnya dengan mudah.


"Terima kasih, Nara. " Ucapnya penuh haru. Berapa bahagia nya Joe sekarang, di sisa-sisa hari tuanya Marco sudah berubah menjadi orang yang bertanggung jawab, menjadi orang, cucu, kakak, dan juga suami terbaik.


Rasa syukur tak pernah lupa selalu tercurah lewat lisan maupun hanya di dalam hati Joe saja. Sekarang dia lebih tenang, dan pikiran nya pun adem tak seperti dulu lagi yang terlalu banyak beban karena sifat Marco yang melenceng jauh dari jalur yang benar.


"Ak lagi Opa. " Ucap Nara.


Lima kali Joe menerima suapan dari Nara dan kini dia sudah tidak mau lagi, perutnya terasa sudah penuh meskipun baru lima sendok saja. "Sudah Nara, Opa sudah kenyang. " Ucapnya seraya menolak.


"Tapi Opa, Opa baru makan sedikit. Ak lagi ya?" Bujuk Nara.


Joe menggeleng, dia sudah tidak sanggup lagi untuk menerima suapan itu, "tidak, Ra. " Jawabnya sekilas.


"Ya sudah sekarang Opa minum obatnya. " Nara begitu telaten merawat Joe.


Joe senang Marco mendapatkan pendamping yang begitu pandai merawat keluarganya, dan begitu tulus. Suatu saat jika Joe harus pergi dia sudah ikhlas sepenuhnya, meninggalkan cucunya yang sudah mendapatkan pendamping yang sudah tepat.


Joe membelai lembut rambut Nara, dia begitu senang ada Nara di sini.


"Ra, terima kasih. " Ucapnya.


"Untuk?. "

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini, Opa titip Marco padamu, pastikan dia selalu bahagia, dan gantikan Opa sebagai orang tua Farel setelah Opa tiada nanti. " Ucapnya sendu.


"Kenapa Opa bicara seperti itu? Opa pasti akan baik-baik saja, Opa pasti akan sembuh. Bukankah Opa mau menggendong buyut Opa?" Ucap Nara.


"Opa berharap bisa menimang buyut Opa, tapi tentang umur siapa yang tau? Opa tidak akan tau kan?" Jawab Joe.


"Nara akan selalu berdoa semoga Opa selalu sehat dan di beri umur panjang. Dan kita bisa membesarkan buyut Opa bersama. " Berbagai kata-kata kekuatan Nara ucapkan, mungkin hanya mengenai buyut Joe y masih ada di dalam kandungannya saja lah yang bisa membuat Joe semangat.


"Terima kasih, Ra. Doamu pasti akan di ijabah oleh Allah dan Opa pasti akan di beri umur yang panjang. "


"Opa harus semangat.


"Iya." Jawab Joe.


Sepasang mata menatap sendu keduanya, percakapan itu membuat air matanya menetes perlahan satu persatu, dia adalah Marco yang berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.


Marco bahagia bisa melihat Joe juga bahagia, sekarang hal yang dulunya benar-benar Joe inginkan sudah Marco lakukan dengan seiring perubahannya yang semakin baik.


Marco juga sangat bahagia bisa memiliki Nara sebagai pendampingnya, meskipun awal hubungan mereka diq awali dengan cara yang tidak baik namun sekarang keduanya sudah saling menerima, dan Nara juga sudah bisa melalui masa terburuknya akibat kesalahan yang Marco lakukan.


Marco mengusap air mata nya mendorong pintu dan masuk. Marco langsung tersenyum karena kedatangannya juga di sambut dengan senyum oleh, Joe dan juga Nara.


Marco duduk di sebelah Joe di depan Nara, menatap Joe dengan senyum. "Opa sudah makan? " Tanya Marco dan Joe mengangguk "udah minum obat obat?. " Tanya Marco lagi.


"Sudah, Marco. " Jawab Joe.


"Alhamdulillah."


"Marco, sepertinya Opa mau protes padamu. " Ucap Joe.


Marco dan Nara mengernyit secara bersamaan, protes karena apa? Mereka berdua sangat bingung.


"Protes? Kenapa?" Tanya Marco.


"Opa mau protes padamu, kenapa istrimu cerewet sekali, dia terus memaksa Opa untuk makan, lama-lama perut Opa jadi buncit. " Keluhnya.


Nara dan Marco tersenyum karena keluhan dari Joe barusan, mereka kira Joe akan protes dalam hal lain, ternyata....


"Bahkan bukan hanya istri ku yang akan membuat perut Opa buncit, tapi aku juga akan membuat perut Opa buncit nantinya. " Jawab Marco sembari terkekeh kecil.


"Kalian berdua memang sudah cocok menjadi suami istri, sama-sama menindas Opa. "Ucap Joe.


" Hahaha.. Opa bisa saja. "


Senyum dan tawa pun ada pada mereka bertiga, kebahagiaan begitu kental menyelimuti suasana kamar itu.


____


Bersambung...


_________________

__ADS_1


__ADS_2