
Happy Reading...
**********
Demi kesehatan anak yang masih ada di dalam kandungannya Fatma tak lagi berfikir tentang semua yang sudah terbongkar. Dia juga tak pernah pergi keluar rumah lagi sekarang, dia hanya fokus dengan keadaannya.
Merasa sangat bosan dia mengundang kedua sahabatnya yang selalu bisa di ajak eror, mereka adalah Mirna juga Santi. Bahkan keduanya juga langsung datang memenuhi panggilan dari miss mereka yang kadang benar-benar tidak genap.
"Miss, bagaimana dengan keponakanku, dia sehat kan?" tanya Mirna, dia yang paling antusias saat mendengar Fatma hamil.
"Alhamdulillah, dia sehat. Dia bilang, katanya pengen di beliin es doger oleh tante Mirna," tangan Fatma mengelus perutnya yang semakin hari mulai terlihat itu.
Jelas apa yang di katakan Fatma membuat bibir Mirna monyong lima senti. Mana ada janin yang masih dalam kandungan bisa ngomong seperti itu?
"Halah, itu mah hanya akal-akalan Miss saja supaya dapat yang gretongan. Mana teman datang suguhannya cuma air putih doang situ malah minta es doger, nggak kebalik!" terdengar nada kesal dalam ucapan Mirna.
"Lah kan kata mas Ikhsan ya, kalau tamu itu datang bawa rezeki masing-masing. Jadi aku pikir kalian akan bawa bekal sendiri dari rumah. Ya, itung-itung kasih lah buat bumil yang lagi ngidam," begitu enteng Fatma mengatakan itu, bahkan dia juga menggoda Mirna dengan matanya berkedip genit.
"Ya elah, nggak gitu juga dong Miss! Miss mah kalau berpikir pasti melenceng dari logika," Santi tak mau kalah. Dia yang baru membalas chat dari seseorang terpaksa menghentikan pekerjaan itu setelah mendengar kata-kata Fatma.
"Mana ada melenceng. Nggak lah ya. Sekarang gini saja, tuh di depan ada tukang es doger, please... satu saja buat aku ya. Nanti keponakan kalian ileran loh kalau nggak di kasih," Fatma begitu memohon.
"Hilih, paling emaknya yang ileran. Ponakan gue kan baik, dia mana bisa minta-minta ama tantenya yang ada dia akan ngasih bukan di kasih! emang dasar emaknya aja yang pelit," sinis Mirna.
"Bukan pelit Imir-Imir! gue pengen! dan ini dia yang minta. Cepat, kamu satu Santi satu. Biar ponakan kalian kenyang," ucap Fatma menekankan.
"Hadeuh, suruh datang hanya mau di plorotin. Dasar bumil!"
Meski dengan kesal tapi Mirna bersedia memberi apa yang Fatma minta, dia sudah beranjak dan langsung menarik tangan Santi yang begitu lambat bergerak.
__ADS_1
"Ayo San! kalau tidak cepat bisa-bisa kita yang di jadikan makanan oleh bumil ini," ucap Mirna kesal sementara yang di omelin terus terkekeh geli.
"Jangan tarik-tarik dong! aku bisa jalan sendiri," protes Santi karena Mirna terus menariknya dengan kasar hingga sampai pintu keluar.
Begitu senang rasa hati Fatma, sejenak dia bisa melupakan masalahnya dan membuat dirinya begitu pusing.
"Assalamu'alaikum," Ikhsan langsung masuk setelah pulang dari kantor. Matanya terlihat memicing melihat istri yang tak berhenti tersenyum karena mengerjai kedua sahabatnya.
"Wa'alaikumsalam. Sudah pulang, Mas?" jawab Fatma. Fatma berdiri menyambut suaminya juga langsung mengecup punggung tangan juga mengambil alih tas juga jas Ikhsan.
"Kamu terlihat seneng banget, ada apa? dan itu Santi juga Mirna kenapa wajahnya di tekuk begitu?" tanya Ikhsan tepat di hadapan Fatma yang sudah bekerja melepaskan dasi Ikhsan dari lehernya.
"Nggak apa-apa, Fatma hanya senang saja mereka datang. Jadi Fatma tidak kesepian lagi," jawabnya.
"Terus mereka kenapa? jangan bilang kamu usulin mereka?"
"Ih, jangan suka su'udzon, Mas. Nggak baik tau," ucapnya manja dengan jari telunjuk yang menoel hidung Ikhsan gemas. Entah kenapa Fatma begitu senang melakukan itu setelah hamil ini, Kadang-kadang dia juga akan mencari lubang hidung Ikhsan saat mau tidur.
"Mas mandi dulu sana. Bau acem banget. Mas abis makan apa sih!" cepat Fatma menutup hidungnya sendiri.
Ikhsan mengendus-endus dirinya sendiri, dia bingung padahal dia tidak makan apapun dari luar. Karena dia makan juga dari bekal yang di beri oleh Fatma sendiri. Jadi?
"Ih! Mas bau jengkol!"
Mata Ikhsan terbelalak, bagaimana mungkin bau jengkol Ikhsan saja tidak makan makanan itu hari ini, bahkan sudah sangat lama dia tidak makan.
"Tidak, Fatma sayang. Mas tidak makan jengkol. Pasti hidung kamu itu yang bermasalah."
"Jadi Mas nyalahin hidungku!" Fatma terlihat kesal.
__ADS_1
Wah, benar-benar labil nih bumil muda. Benar-benar tidak mau tersinggung sedikitpun.
"Bukan begitu sayang. Tapi Mas beneran nggak makan jengkol."
"Pokoknya Mas makan!"
"Hah!" Ikhsan melongo di buatnya. Orang nggak makan di suruh ngaku makan. Tepok jidat deh.
"Mas pokoknya makan! kalau tidak, Aku marah! nanti Mas tidur di luar!" ancamnya.
"Ya sudah, Mas makan. Sekarang Mas pergi lagi."
"Mau kemana?" Fatma ternganga melihat Ikhsan yang sudah beranjak.
"Mau makan jengkol!"
"Kok jadi mau makan jengkol sih!" aduh salah lagi si Ikhsan.
"Katanya tadi makan jengkol, ya sudah Mas beli dulu."
"Ih! Mas nggak paham-paham! udah ah! puyeng ngomong sama Mas, nggak ngerti-ngerti!" Fatma beranjak, dia berjalan keluar.
Ikhsan hanya bisa garuk-garuk kepala dengan tingkah Fatma yang sering berubah-ubah seperti ini. Dia harus ekstra sabar menghadapinya.
"Sayang, kamu mau kemana!"
"Mau beli es doger, bukan beli jengkol!" jawabnya enteng.
"Hadeuh, istriku labil sekali,"
__ADS_1
""""""""
Bersambung....