
_____
Happy Reading...
Kebahagiaan juga kenyamanan keluarga adalah yang paling utama untuk Akhsan, meskipun pekerjaannya sangat banyak kini dia tetap mengantarkan Khairi ke rumah sakit untuk imunisasi baby Alvaro.
Setelah selesai meeting Akhsan langsung bergegas pulang, menjemput Khairi juga baby Alvaro di rumah. Akhsan benar-benar menjadi suami juga ayah yang siaga, dia selalu siap dua puluh empat jam jika mengenai keluarga kecilnya.
Akhsan tak masuk ke rumah, karena Khairi sudah menunggu di luar bersama si kecil. Keduanya sudah rapi dan siap untuk berangkat.
𝘛𝘪𝘯𝘯𝘯....
Seperti sudah mengerti kalau di panggil baby Alvaro terus tersenyum, kaki dan tangannya juga terus bergerak seperti ingin cepat lari menghampiri Abi nya yang ada di dalam mobil.
Akhsan juga Khairi yang melihat itu begitu senang. Perkembangan baby Alvaro sangat baik bahkan dia juga sangat aktif dan semakin menggemaskan di tambah dengan pipinya yang semakin gembul.
"Assalamu'alaikum, jagoan Abi.. " ucap Akhsan saat Khairi sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Wa'alaikumsalam, Abi," jawab Khairi mewakili sembari menutup pintu mobil.
"Aaaa... Aaaa...," celoteh baby Alvaro yang tidak jelas. Bibirnya terus mengembangkan senyumnya seperti dia menjawab sapaan dari Akhsan.
"Ihhhh..., gemes deh Abi," tangan Akhsan terangkat mencubit pipi gembul Alvaro dengan gemas. Bukannya menangis tapi Alvaro malah terus tertawa membuat Akhsan juga Khairi ikutan tertawa.
"Hahaha...! " tawa keduanya bersamaan.
__ADS_1
Tingkah Alvaro membuat keduanya begitu gemas, rasanya juga tak ingin pergi lama-lama, apalagi Akhsan dia selalu ingin cepat pulang saat berada di kantor.
Anak adalah kekuatan juga kebahagiaan untuk orang tuanya, setiap lelahnya akan hilang saat melihat anak tersenyum bahagia di hadapannya. Begitu juga dengan Akhsan, setiap lelahnya karena pekerjaan yang menumpuk terasa hilang saat bertemu dengan baby Alvaro.
"Kita berangkat ya, Sayang," ucap Akhsan. Tangannya melepaskan dari pipi Alvaro namun bocah kecil itu malah menangis dengan tangan terangkat ke depan ingin ikut dengannya, "eh.., nangis, nanti ya sayang. Abi lagi nyetir, nanti ikut Abi kalau sudah sampai," imbuhnya.
"Cup cup cup, sayang..," Khairi harus bisa menenangkan Alvaro supaya berhenti menangis kalau tidak mereka tak akan jadi ke rumah sakit.
"Nanti ya, sayang," Akhsan tetap menjalankan mobilnya.
Mobil terus melaju dan setelah beberapa saat Alvaro sudah kembali diam karena Khairi yang menenangkannya.
______
Rico juga Fatma berjalan di lorong sekolah beriringan. Keduanya mendapatkan perintah untuk ke mengambil buku ke perpustakaan oleh Suci.
"Miss, kamu kenapa?" tanya Rico panik, di tambah lagi dengan wajah Fatma yang sedikit pucat.
"Aku tidak apa-apa, Ric! hanya pusing saja." jawab Fatma. Dengan cepat Fatma melepaskan diri dari Rico, tak ingin sampai ada yang melihatnya dan salah paham, "makasih ya, Ric! kalau tidak ada kamu aku pasti sudah jatuh," imbuhnya.
"Sama-sama, Miss. Miss harus jaga kesehatan, ujian tinggal satu bulan lagi kalau sampai sakit bisa nggak lulus nanti," ucap Rico memperingatkan.
"Aku tidak apa-apa, Ric! mungkin hanya kecapean saja," jawab Fatma. Fatma lebih menjauh dari Rico, jarak mereka berdua sangat dekat Fatma harus jaga diri dan tidak dekat-dekat dengan laki-laki yang bukan mahramnya, meskipun itu Rico sahabatnya sendiri.
Takut saja kan kalau ada yang lihat dan memanfaatkan kedekatan mereka untuk menjatuhkan atau memfitnah Fatma demi keuntungan mereka sendiri.
__ADS_1
Dan benar saja, ketakutan Fatma menjadi nyata saat ada Suci yang tiba-tiba datang.
"Kalian ini ya! ini lingkungan sekolah, bukan rumah kalian! kalau mau mesra-mesraan lebih baik kalian pulang! " seru Suci dengan sengit.
Suci pikir Fatma dekat dan pacaran dengan Ikhsan, tapi melihat kedekatannya dengan Rico membuat Suci yakin kalau Fatma berhubungan dengan Rico.
Ada secercah harapan untuk Suci, akhirnya satu saingannya telah hilang dan tinggal dia bisa menyingkirkan istri Ikhsan yang belum dia ketahui siapa orangnya.
"Astaga, Bu! memang siapa sih yang bermesraan, apa Bu Suci tidak melihat Fatma yang pucat seperti itu! saya hanya menolongnya, Bu! karena Fatma mau jatuh! " seru Rico. Yang jelas dia tak akan mengakui apa yang di tuduhkan padanya.
"Sudah deh! jangan banyak alasan! bukankah saya minta tolong kalian untuk ke perpustakaan untuk mengambil buku! kenapa malah berduaan di sini sih! "
Ucapan Bu Suci terdengar sangat marah juga sangat keras, entah itu memang benar-benar marah atau karena dia ingin memancing orang-orang untuk datang ke sana.
"Maaf, Bu! kami akan pergi ke perpustakaan untuk mengambil bukunya. Yuk, Miss! " ajak Rico.
Fatma hanya mengangguk tak menjawab, dia begitu malas untuk meladeni Suci, dia sangat pusing seandainya saja tidak dalam keadaan pusing mungkin dia akan melawannya tapi tidak untuk sekarang.
"Ehh..! kenapa kalian pergi! saya belum selesai bicara! " teriak Suci dengan kesal sepertinya Suci memang berniat untuk mengundang masa, tapi Rico juga Fatma sudah lebih dulu pergi.
"Kalian pikir kalian bisa senang, hem..., kalian tidak akan bisa tenang setelah ini. Saya punya bukti kemesraan kalian berdua, dengan ini pak Ikhsan akan menjauhi mu, Fatma," Suci menyungging sinis, tangan terangkat dan memutar-mutarkan ponsel di tangannya.
Dan ternyata Suci telah berhasil mengambil foto saat Fatma juga Rico berpelukan tadi.
___
__ADS_1
Bersambung...
__________