Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
91.Curahan Hati


__ADS_3

Pertemuan yang tak di ingin kan namun ternyata malah berjalan begitu mudah, Kemarin saat di gadang- gadang akan bisa menemuinya ternyata malah terjadi hal yang membuat Akhsan harus mengurungkan niat nya untuk menemuinya.


" ngapain kamu kesini.! begitu angkuh Marco menyambut kedatangan Akhsan yang tiba-tiba datang, dan sudah berdiri tepat di depan meja nya di sebuah restoran di mana yang menjadi tempat Marco makan siang kali ini.


Marco membanting garpu dan sendok yang berada di tangan nya, acara makan siang nya menjadi tak selera karena kedatangan Akhsan


" prang....


" katakan apa mau mu.?. Marco menyandarkan bahunya di kursi menatap kesal Akhsan yang masih berdiri di hadapan nya.


" Faris, aku ingin bicara" Akhsan memberanikan diri duduk di depan Marco dan mereka saling berhadapan.


Tangan Marco terkepal, matanya menatap tak suka Akhsan yang memanggilnya Faris. Mungkin dia dulu akan kegirangan karena di panggil Faris tapi sekarang itu adalah nama yang paling Marco benci dan Marco sesalkan pernah mendapatkan julukan itu dari keluarga Akhsan " Saya bukan Faris, saya Mar - co camkan itu baik-baik . Faris itu seorang pembunuh saya tak sudi lagi mendengar nya " ucap Marco dengan suara berat dan jelas, bahkan Marco harus memajukan tubuh nya supaya Akhsan lebih jelas.


" maaf, Marco. " Akhsan benar-benar menyesali itu, dia salah dan dia tak berfikir terlebih dahulu saat bicara Marco yang sekarang bukanlah yang dulu yang begitu memuja nama itu, Marco yang sekarang sudah berbeda.


Marco beranjak, dengan cepat Akhsan pun mencegah nya, Akhsan menggenggam erat pergelangan tangan Marco, mencegah Marco yang ingin pergi dari sana meninggalkan Akhsan " Marco, please. izinkan aku bicara sebentar " Akhsan memohon dengan tulus.


Marco mengibaskan tangan Akhsan begitu kasar hingga tangan Akhsan terbentur dengan meja dan sedikit memerah. " lepaskan tangan saya, saya tak sudi di sentuh oleh orang yang darah nya mengalir darah orang yang membunuh kedua orang tua saya " sinis Marco. Tak iba sedikit pun Akhsan yang sedikit mengadu sakit.


" Marco, papa bukanlah pembunuh,! dia tidak sengaja melakukan itu,! bukankah kamu sendiri yang melihat kejadian itu kenapa kamu tidak bisa melihat kebenarannya " seorang anak mana yang rela dan membiarkan orang tuanya di cap sebagai seorang pembunuh begitu saja. Meskipun tak akan mudah Akhsan tak akan pernah berhenti untuk membuat Marco mengerti.


Marco diam sejenak pola pikirnya seakan mulai menerima yang Akhsan katakan, namun sedetik kemudian " Memang mudah mengatakan itu karena kamu tak ada di posisi saya,! apakah kamu akan mengatakan ini kalau kamu ada di posisi saya,? tidak.!! kamu tidak akan mengatakan itu semua.!! " Mata Marco semakin tajam, menatap bengis Akhsan dan mendorong bahu Akhsan dengan satu jarinya di sambung dengan kekehan kecil namun terasa sangat menyakitkan. " Hmm"


" kalian semua tak akan pernah mengerti apapun yang saya alami sekarang, kesedihan ini penderitaan ini kalian tak akan pernah bisa memahami nya, tak akan pernah bisa,,!! Hm.. " senyum sinis lagi-lagi Marco keluarkan.


Akhsan mengambil nafas yang panjang mengeluarkan nya perlahan sebelum dia mengatakan sesuatu pada Marco, hatinya benar-benar harus di tata sesabar mungkin supaya tak menumbuhkan amarah yang akan semakin memperburuk suasana.


" Kami memang tak pernah merasakan itu semua Marco, tapi kami semua juga sama-sama kehilangan seperti yang kamu rasakan. Om Arka dan juga tante Riska sudah seperti orang tua kedua bagi kami bagaimana kami tidak kehilangan karena kepergian mereka" Akhsan terduduk lemas menatap kosong jauh di depan.


" Cuihh,,, omong kosong.!!


" kamu percaya atau pun tidak itu urusan mu, Marco. Tapi itulah kenyataannya, kamu kira kamu sedih dan menderita seorang diri,? tidak! kita semua juga menderita. Terlebih lagi Oma Tasya dan juga Opa Joe, mereka sangat menderita lebih dari kamu, apa lagi sekarang kamu memisahkan mereka hanya karena dendam yang kamu pupuk sehingga meluas menutup hatimu. "


" apa kamu tidak kasian dengan mereka, Marco. seenggaknya buanglah ego mu demi mereka, di usia tua mereka, seharusnya mereka sudah berbahagia dengan semua keluarga nya, membuat mereka bahagia di hari-hari tuanya dan mereka.? mereka harus menanggung semua penderitaan karena keegoisan mu. "


" egois, kamu bilang.? siapa yang lebih egois, hahhh,,!! kalian pisahkan aku dengan orang tua ku, hingga jarak yang begitu jauh sampai aku hanya akan bisa bertemu jika aku mati saja, sekarang siapa yang lebih egois, hahhh,,, !! siapa,,!!!


Amarah Marco begitu menguasai dirinya, semua unek-unek yang selama ini dia pendam keluar begitu saja di hadapan Akhsan, mereka selayaknya tengah curhat satu sama lain namun dengan amarah yang berada di tengah-tengah mereka berdua.


" kalian enak karena kalian masih bisa bersama, berkumpul bahagia dengan keluarga yang lengkap, sementara aku, hmm.... aku hanya punya Opa Joe saja dan kalian juga mau mengambil nya dari ku. Apa kalian masih kurang dengan semua yang kalian miliki, hahh,, !! masih kurang, iya,,!!

__ADS_1


" siapa yang mau mengambil Opa Joe dari kamu, tak ada yang mau mengambil nya.! tidak ada sedikit pun niat di hati kami untuk menguasai Opa Joe dari kamu , tidak ada. !! Saya mohon Marco, buang jauh pikiran kamu itu dan kemudian kembalilah seperti dulu lagi, kebahagiaan mu ada di tangan mu sendiri Marco, "


Marco terduduk lemas, bulir-bulir bening tak terasa keluar begitu saja tatapan nya kosong menatap meja yang masih penuh dengan makanan yang dia pesan.


" Apa kamu tau Akhsan,? " lirih Marco " Kehidupan ku telah hancur, kebahagiaan ku telah pergi bersama Mama dan Papa. jangan kan untuk bahagia seperti kalian, untuk kembali tersenyum saja terasa sangat menyakitkan " Marco mengusap wajahnya kasar mencoba menghilangkan jejak penderitaan nya yang terlihat dari kelopak matanya dan juga aliran yang terus merembes dari keduanya.


Akhsan merasa lega seenggaknya Marco mau bicara padanya mengeluarkan semua penderitaan nya pada nya, berbagi duka dengan sahabat nya yang telah goyah.


" Tak mudah melupakan kejadian itu, Akhsan. Aku tak bisa melupakan itu semua, aku tak bisa. " Marco tertunduk lemah, hatinya hancur Seiring dengan kata-kata yang keluar dari mulut nya yang mewakili semua isi hati nya yang telah lama berduka.


Akhsan menggeser kursinya mendekati Marco yang terus dalam duka nya, mengusap bahu Marco perlahan-lahan membuat nya tenang.


" keluar kan semuanya Marco, keluar kan. dengan itu hatimu akan lega, dan semua pasti akan semakin membaik. "


" Akhsan, seandainya aku pulang apakah kalian masih mau menerima nya.? apa kalian mau melupakan semua yang telah aku perbuat, ? apa aku masih pantas di maafkan. "


" kamu adalah keluarga kami semua Marco, dan akan selalu seperti itu " jawab Akhsan lembut.


Hening...


Dengan angkuh Marco mengenakan kaca mata hitam nya menyingkirkan tangan Akhsan yang ada di bahu dan bergegas pergi entah itu karena perasaan penyesalan yang tak mau Akhsan ketahui atau memang masih enggan untuk kembali berubah menjadi Marco yang di kenal semua keluarga Akhsan.


Akhsan terus menatap punggung Marco. ada rasa bahagia yang sekian lama dia dambakan. kebahagiaan yang sudah sejak lama dia impikan dan sekarang kembali dia rasakan.


" cepatlah kembali Marco, kami semua menunggu mu. kami semua sayang padamu sangat sayang. " gumam Akhsan. Senyum leganya keluar dari Akhsan.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


" Bang, bagi duit dong " todong Aisyah menengadah kan satu tangan nya pas di depan wajah Ikhsan.


Ikhsan melotot tak percaya, semakin hari tingkah Aisyah semakin membuat siapapun geleng-geleng kepala. entah apa yang mau Aisyah lakukan sekarang, tapi selalu saja itu membuat orang bingung jika tak menurutinya karena Aisyah pasti akan selalu kesal dan juga ngambeknya tak mudah di untuk di padamkan.


" apa sih dek,? emang uang yang kemarin udah habis.? emangnya kamu buat apa.? tanya Ikhsan begitu lembut tak mau membuat Aisyah kembali marah lagi seperti kemarin lagi.


" kepo,,!! ketus Aisyah. " please ya Bang, bagi uang, please,, tampan deh, baik deh, lope lope gitu mah pokoknya. " rayu Aisyah dengan tangan menyatu lurus di depan tubuhnya menggoyahkan tubuh nya kanan kiri dengan wajah imut nya.


Ikhsan geleng-geleng kepala adek bontot nya ini benar-benar selalu membuat dia kehabisan akal. " iya iya. Tapi ingat ini yang terakhir kalinya, jangan minta-minta lagi di bulan ini. uang jajan kamu dalam satu bulan ke depan udah habis " Ikhsan mengeluarkan dompet nya mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dan memberikan nya pada Aisyah, " nih.. "


" makasih abang, lope lope poll.. Muach... " Aisyah berjinjit dan mencium pipi Ikhsan dengan cepat, " dada abang,,!! teriak nya dengan tangan melambai dengan tubuh yang sudah memunggungi Ikhsan dan berlari dengan cepat.


Ikhsan mengusap pipinya yang basah, menggeleng tak percaya adik nya melakukan itu padanya setelah sekian lama. " benar-benar ikutan nggak waras juga aku lama-lama " Ikhsan melangkah dengan cepat meeting nya sempat tertunda gara-gara Aisyah yang datang tanpa di undang.

__ADS_1


" Dasar Aisyah, selalu saja mengacaukan segalanya. awas kalau gara-gara kamu abang nggak jadi dapatkan kerja sama ini. abang pithes kamu, abang jadiin ayam Betutu. " gumam Ikhsan.


Dengan menahan kesal Ikhsan harus secepatnya menghadiri meeting, dia tak boleh kehilangan uang miliaran yang akan dia dapatkan dari kerja sama kali ini.


Setengah jam semua menunggu Ikhsan datang dan mereka harus extra sabar menunggu kedatangan Ikhsan. Semuanya sudah beranjak dan ingin pergi, kesabaran mereka kini telah habis hanya karena Ikhsan saja.


" Assalamu'alaikum, maaf saya terlambat ada sedikit masalah tadi, maaf. " Ikhsan masuk dan menghentikan mereka yang sudah mau berjalan.


" bapak bisa menghargai waktu nggak sih. kami sudah menunggu Anda sedari tadi. jika memang Anda tak membutuhkan kerja sama ini maka tidak usah sok mau maju. " ucap orang itu sinis.


" Saya maaf Pak, saya benar-benar minta maaf. tadi benar-benar ada masalah " jawab Ikhsan begitu menyesal. " berilah saya satu saja kesempatan, pak. Saya akan benar-benar berusaha dengan baik. "


Brakkk...


Koleganya itu menaruh berkas nya dengan kasar dan kembali duduk dengan amarah yang ia berhasil redakan. " kami harap Anda tidak mengecewakan kami, pak Ikhsan. "


" saya berjanji akan berusaha dengan baik, saya akan pastikan itu. " Ikhsan ikut duduk di kursi yang khusus untuk nya dan merutuki adik bontot nya dalam hati. "lihatlah apa yang berhasil kamu lakukan Aisyah. kamu hampir saja menghilangkan semua rezeki Abang "


Dua jam berlalu dan meeting berhasil selesai dengan baik dan juga mendapatkan kesepakatan yang baik juga. Emang kalau rezeki tak akan lari kemana, seandainya tak rezeki meskipun Ikhsan datang lebih awal tetap tak akan dia dapatkan, dan sekarang semuanya berbuah manis.


Ikhsan tersenyum kecil mengeluarkan nafas lega setelah semua kolega nya pergi. " Alhamdulilah,, " ucapnya penuh syukur. " Anton salin ini dengan baik, dan jangan biarkan ada kesalahan sedikit pun, saya mau yang sempurna " Ikhsan memberikan hasil akhir dari meeting tadi pada Anton Asisten nya.


" baik Pak. " jawab Anton menerima berkas itu dari Ikhsan dan segera pamit undur diri. " saya permisi pak. " Anton beranjak dan menunduk sejenak sebagai pamit yang sopan.


" Hm.. " jawab Ikhsan singkat.


Ikhsan kembali tersenyum bahagia, uang miliaran ada di depan mata dan keberhasilan lagi-lagi dia dapatkan. " Terima kasih ya Allah, " ucap Ikhsan menatap atas dan penuh syukur pada sang Tuhan.


Kring... kring... kring..


ponsel Ikhsan berbunyi membuyarkan semua syukur yang baru ia panjatkan pada sang Pencipta. " siapa sih.?


" Assalamu'alaikum,, halo.!!


" *Bos, gawat. !! Nona Aisyah,, Nona Aisyah..


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Waduhh apa yang terjadi dengan Aisyah*,?

__ADS_1


__ADS_2