
Happy Reading...
"Assalamu'alaikum, Pak. Ini, ini pesanan Anda," Ardi masuk kedalam ruangan Akhsan, dia sangat hati-hati dia tidak mau menyinggung dengan apa yang menjadi pesanan Akhsan yang sangat aneh menurutnya.
Sebenarnya apa yang terjadi kepada Akhsan, dia sering mual dan sekarang dia memang tidak mual tetapi apa yang dia minta sangat aneh. Akhsan memesan rujak juga jajanan pasar yang berupa snack ringan yang harganya lima ratusan itupun harus satu renceng.
"Terimakasih. Sekarang pergilah," ucap Akhsan mengusir.
"Baik, Pak," Ardi langsung undur diri setelah mendapat pengusiran dari Akhsan. Dengan perlahan dia pergi menutup pintu pun juga dengan sangat pelan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan pak Akhsan? Dia seperti wanita hamil saja yang permintaannya aneh-aneh," gumam Ardi bingung.
Sementara Akhsan yang ada di dalam ruangan langsung berwajah ceria setelah melihat apa yang tadi dia minta. Snack satu renceng yang sesuai dengan permintaannya juga rujak yang terlihat sangat enak.
Akhsan menghampiri jajanan yang tak wajar itu. Duduk dengan tenang menikmatinya seorang diri. Benar-benar sangat nikmat. Rasanya juga sangat lega setelah apa yang dia ingin makan bisa dengan mudah dia dapatkan.
Permintaannya memang tidak apapun yang mahal tetapi yang dia minta adalah makanan anak-anak yang biasanya mereka perebutkan di warung atau mungkin di sekolah.
Akhsan pun sebenarnya juga sangat bingung, kenapa semua itu terjadi kepadanya. Tidak mungkin dia memiliki penyakit yang serius karena itu bukanlah tanda-tanda akan sebuah penyakit.
"Ternyata enak juga makanan seperti ini. Aku pikir dulu ini makanan yang akan membuat nek tetapi ternyata lumayan," ucapnya di selang suapan snack dari tangannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum... "
Akhsan langsung menoleh setelah mendengar ucapan salam dari seseorang dan ternyata itu adalah Khairi istrinya sekaligus Alvaro yang datang.
"Wa'alaikumsalam, eh... ada anak Abi. Sini sayang! Lihatlah apa yang Abi beli," Akhsan tampak antusias ingin menunjukkan apa yang dia makan.
Khairi yang menggendong Alvaro juga langsung menghampiri.
Terkejut lah itu pasti melihat apa yang sedang di nikmati oleh suaminya. Makanan ringan yang dulu selalu Akhsan larang saat Khairi mau memakannya tetapi sekarang malah dia sendiri yang memakannya. Apalagi sampai segitu banyaknya lagi.
"Astaghfirullah hal 'azim, Abi..., apa yang Abi makan?" Khairi melongo melihat snack yang ada di hadapan Akhsan, bahkan sama persis seperti anak kecil cara Akhsan memakannya, satu renceng tidak dia potong satu-satu tetapi tetap di biarkan satu renceng dan dia buka satu persatu setelah habis baru dia ganti buka lagi.
"Umi mau juga?" tangan Akhsan menyodorkan tepat di hadapan Khairi bahkan hampir saja di comot oleh Alvaro tetapi Khairi langsung mencegah tangan mungil itu.
"Umi nggak mau juga?" Akhsan masih saja menyodorkannya.
Khairi menggeleng, mana mungkin dia akan memakannya. Mungkin dulu saat dia hamil memang pernah pengen makan seperti itu tetapi tidak untuk sekarang.
Semakin hari Akhsan semakin aneh-aneh saja. Apa yang dia makan yang dia inginkan benar-benar seperti wanita yang sedang ngidam.
"Abi, Abi nggak salah makan kayak beginian? Katanya ini tidak sehat, tetapi?" Khairi mengernyit bingung. Apakah suaminya itu sudah mulai melupakan apa yang selalu dia katakan dulu.
__ADS_1
Apa yang dia larang kenapa kini selalu dia yang memakannya sendiri. Aneh bukan?
"Enggak salah lah, Umi. Ini sangat enak loh. Ternyata juga sangat asyik makan makanan yang seperti ini."
"Abi sehat kan?" Tangan Khairi terangkat menyentuh kening Akhsan dengan perlahan. Mengecek suhunya siapa tau ada yang salah, bisa jadikan Akhsan sedang demam sekarang.
"Apa sih, Umi. Abi sehat, Abi juga sangat baik-baik saja. Abi hanya lagi pengen saja makan yang kayak begini."
"Tapi, Abi? Bukankah itu...?"
"Sudah, tidak apa-apa. Lagian hanya sesekali saja kan tidak setiap hari. Kalau setiap hari baru tidak boleh. Coba Umi cicip ini sangat enak."
Akhsan mulai menyodorkan sedikit yang ada di tangannya sementara Khairi sedikit ragu untuk menerima suapannya.
"Ayo di coba," Akhsan tetap kekeh. Dia harus bisa membuat Khairi menerimanya, "ayo dong Umi,"
"Tetapi...?"
"Akk... Pinter." Akhsan begitu senang saat Khairi menerimanya. Akhsan lalu mengambil lagi dan dia makan sendiri.
"Astaghfirullah, ini ada apa dengan suamiku?" batin Khairi merasa sangat bingung.
__ADS_1
Bersambung....