
Aisyah dan juga Shelvia masuk ke rumah Marco terus menuntun menara yang terlihat sangat bingung dengan matanya yang tak pernah lepas dari sekeliling rumah yang begitu indah di hadapannya.
" maaf, Ini rumah siapa ya.? dan kenapa kamu membawaku kesini, Apakah aku harus ke sini juga.?" tanya Nara dan menahan tangan Aisyah terus menariknya.
" Kak, Sudahlah jangan banyak tanya sebentar lagi Kakak juga akan tahu Ini rumah siapa, Lagian sebentar lagi rumah ini juga akan menjadi rumah kakak." jawab Aisyah yakin.
Nara terdiam, mencerna semua kata-kata yang keluar dari mulut Aisyah.
" maksudmu.?"
" Sudahlah Yuk masuk Kak.!" Shelvia angkat bicara dan mendorong tubuh Nara untuk mempercepat masuk ke dalam rumah itu.
kedatangan mereka bertiga sudah disambut dengan senyum dari Joe yang seketika berdiri dari duduknya di sofa ruang tengah.
Joe melangkah perlahan menyambut kedatangan Nara dan mengelus rambut Nara dengan lembut. Perlakuan yang dilakukan oleh Joe yang pasti akan membuat Nara semakin bingung.
" siapa apa sebenarnya orang tua ini, Apakah dia yang mempunyai rumah ini Terus apa hubungannya denganku.?" batin Nara.
Joe kembali tersenyum melihat kebingungan dari Nara. Joe menarik tangan Nara dan menuntunnya untuk duduk di sofa yang tadi Joe duduki sebelumnya.
" Kamu sangat cantik, pantesan cucu Opa tergila-gila padamu." puji Joe. lagi lagi Nara hanya bisa tersenyum kecil mendengar itu dari Joe.
" begini nak, cucu Saya sekarang sedang sakit dan dia tidak mau ada dokter atau perawat yang memeriksa dan merawatnya. karena saya tahu cucu saya mengagumimu maka dari itu saya meminta mereka berdua untuk menjemputmu mu, dan saya benar-benar meminta bahwa kamu mau merawat cucu saya." ucap Joe.
" tapi,,??"
" saya mohon.. " pinta Joe memelas dengan menangkupkan kedua tangan nya di depan dadanya.
" Tapi saya,?? Lagi-lagi Nara mau menolak nya
" Saya benar-benar minta tolong, Nak. "
Nara mengangguk, dia benar-benar tidak tega melihat Joe taslim terus memohon kepadanya. " baik, kek. " jawab Nara lirih.
" Jangan panggil kek, panggil Opa. " ucap Joe dan Nara kembali mengangguk.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Dengan terus di temani Farel akhirnya Marco bisa juga memejamkan matanya dan bisa istirahat.
Farel benar-benar tidak tega melihat keadaan Abang nya yang seperti sekarang, bahkan untuk bisa bernafas saja sang susah.
" semoga Abang cepat sembuh. karena satu minggu lagi Farel harus kembali ke pesantren, libur ku sudah hampir selesai " lirih Farel dengan penuh harap.
Farel beranjak dari duduknya berniat untuk keluar meninggalkan Marco yang sedang tertidur dengan pulas, namun belum juga Farel sampai ke pintu Marco kembali terbangun karena batuk sontak Farel kembali berlari mendekati Marco.
Uhuk uhuk uhuk....
Farel hendak memberikan minum kepada Marco namun ternyata air di sana telah habis,." sebentar Bang, Farel ambil air dulu untuk Abang." Farel pun Kembali keluar dengan berlari.
Pas di depan pintu kamar Marco, Farel berpapasan dengan Nara yang tengah memegang nampan berisikan bubur, air putih dan juga obat yang pasti ada Aisyah dan juga Shelvia dibelakang Nara.
" kamu siapa.?" tanya Farel pada Nara. Nara menoleh ke arah Aisyah membuat Farel mengikuti tatapan dari Nara yang tertuju kepada Aisyah." Putri..!! Panggil Farel Seraya meminta penjelasan kepada Aisyah.
__ADS_1
" hehehe,,, dia adalah Kak Nara, Dan Dia yang akan merawat Abang jelek,Aisyah" jawab Aisyah." Sudahlah Kak biarkan Kak Nara masuk Saya janji akan menjelaskan semuanya pada Farel."
Mendengar semua itu dari Aisyah Farel langsung minggir dari tengah-tengah pintu dan mempersilahkan cara untuk masuk dan merawat Marco.
Baru saja Nara masuk ke dalam kamar Marco dengan cekatan Aisyah langsung menutup pintu dan juga menguncinya dari luar.
" Ehh,,, apa yang kamu lakukan,,!! " terkejut Farel.
" diam Kak Farel, mereka harus bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri Kita tidak boleh ikut campur." jawab Aisyah.
" Apa maksudmu.?" tanya Farel bingung.
" Apakah Kak Farel mau tahu siapa Kakak itu.? dia adalah wanita yang kehormatannya telah direnggut oleh abang jelek. dan sepertinya dia juga Tengah mengandung mana Abang jelek." terang Aisyah.
Seketika Farel tersentak dia sangat tidak percaya kalau apa yang dilakukan Abangnya akan menumbuhkan janin di luar hubungan yang resmi yaitu hubungan pernikahan.
" Kamu jangan bohong, semua itu tidak benar kan.?" ucap Farel tidak percaya.
" tidak percaya ya sudah" Aisyah dan juga Shelvia melenggang pergi begitu saja dari hadapan Farel.
" Benarkah apa yang dikatakan oleh Aisyah barusan.?" sekali lagi Farel menoleh ke arah pintu sebelum dia pergi dari sana lagian dia juga tidak bisa masuk karena kunci pintu itu telah diambil oleh Aisyah.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Uhuk uhuk....
Marco terus terbatuk bahkan Marco sudah duduk dengan telapak tangan yang menutup mulutnya sendiri.
Prank...
" Ka-kamu,,,!!! tersentak Marco.
Nara berjalan mundur dengan pelan matanya tidak pernah terlepas dari Marco dan kepalanya terus menggeleng tidak percaya. Nara sangat ketakutan melihat Marco sekarang, traumanya belum juga hilang dan sekarang dia berada tepat di hadapan orang yang telah membuat trauma itu ada dalam dirinya.
Dengan perlahan Marco turun dari ranjangnya, dia terus menatap wajah Nara yang sangat ketakutan padanya.
Ada rasa bersalah si hati kecil Marco, tapi rasa itu masih tertutup dengan dinding yang keangkuhan yang sangat tebal.
" siapa yang membawa mu kesini,,!! tanya Marco berusaha dengan suara keras meskipun tetap serak.
Nara semakin gemetar, apalagi melihat Marco yang terus berjalan mendekati nya.
" Jangan,, jangan mendekat,,!! teriak Nara sembari terus menggelengkan kepadanya.
Marco sama sekali tak mengindahkan kata-kata dari Nara dan juga mengabaikan ketakutan Nara akan dirinya.
" Jawab,,!!! siapa yang membawa mu kesini. dan siapa yang mengizinkan mu masuk ke dalam kamar ku,,!! " Sarkas Marco.
Nara berhenti melangkah mundur setelah punggung nya tertahan di pintu masuk tadi. wajahnya semakin pucat, kakinya pun seperti sudah tak tahan lagi untuk berdiri.
Marco memegangi kedua lengan Nara membuat nya semakin ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar semakin hebat dan jangan lupakan air mata nya yang sudah keluar dengan sangat deras membasahi pipi nya.
" Jangan sentuh aku,, pergi,,!!! ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya namun Suara Nara seakan tertahan di lehernya dan hanya suara yang begitu lirih yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
" Katakan,,,!!! " bentak Marco.
" Lepaskan,, lepaskan,, " Nara terus tersedu ingin berontak tapi tenaganya seakan hilang terserap akan mata Marco yang mengintimidasinya.
" Katakan padaku, siapa yang membawa mu kesini, dan apa tujuan mu sebenarnya.!! "
Nara sudah tak mampu lagi menahan ketakutan nya, kepalanya begitu pusing matanya perlahan-lahan tertutup dan akhirnya Nara hilang kesadaran dan ambruk di tubuh Marco.
Marco yang juga sama lemahnya tak dapat menahan beban tubuh Nara dan akhirnya dia juga ambruk di lantai dengan duduk dan Nara masih setia di dekapan nya.
Tangan Marco langsung menangkap Nara yang sudah tak sadarkan diri. satu tangan nya terus menepuk pipi Nara untuk mencoba membangunkan nya tapi semua itu tak bisa membuat Nara tersadar.
" Dasar wanita merepotkan,,!!
" Farel,,,!!!
" penjaga,,!!!!
" Siapapun yang ada di luar , tolong,,!!!
" Tolong tolong,,!!!
Berkali-kali Marco berteriak tapi satu orang saja tak ada yang masuk untuk membantu nya mengangkat Nara.
" Heyy,,, bangun. Bangun..!! " Marco terus berusaha membangunkan Nara namun lagi-lagi dia gagal.
Marco melepaskan tubuh Nara perlahan, membaringkan nya di lantai dan berdiri untuk keluar meminta bantuan, tapi sayang pintu nya tak bisa di buka.
" Sial... mereka pasti sengaja melakukan ini,, " sungut Marco.
Marco mencari-cari kunci cadangan membuka semua laci tapi sama sekali tak mendapatkan satu kunci saja.
" awas kalian,,, aku akan balas semua perbuatan kalian. dasar bocah tak tau diri.!! " ucap Marco dongkol.
" Harus aku apakan dia. Arghh... " teriak Marco.
Dengan kekuatan yang tersisa Marco membopong tubuh Nara dan membaringkan nya di kasur miliknya. dia benar-benar bingung mau berbuat apa. dia juga tak setega itu menyiksa orang yang tak sadarkan diri, apalagi dia juga dalam keadaan sadar.
Apa yang dulu dia lakukan pada Nara adalah sebuah kesalahan. Dalam pengaruh minuman keras Marco, Marco hanya melihat Nara sebagai Aira, gadis kecil yang telah dia inginkan.
Marco terduduk di samping Nara, dia akhirnya menyesali perbuatannya dan sadar akan apa yang dia perbuat kepada gadis yang ada di hadapan nya sekarang, hingga membuat nya memiliki trauma akan dirinya.
" Maafkan aku, aku mengaku salah, " ucapnya lirih.
Tangan Marco menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Nara, tanpa sadar bibir Marco terangkat dan mengeluarkan senyum.
" Tidak.. aku tidak bersalah.!! semua kejadian itu adalah salah dia sendiri, dia yang telah merayuku.!! " ucap Marco yang kembali lagi ke lingkaran hitam nya, dan tetap kekeuh tak mau mengakui perbuatan nya.
" setelah dia sadar aku harus bisa mengusirnya dari sini. aku tak mau dia menjadi masalah baru untuk ku sudah cukup masalah ku dengan kedua bocah itu, aku tak mau menambahkannya lagi " ucap Marco, dan beranjak dengan cepat dan beralih membaringkan tubuh nya di sofa.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
__ADS_1
Ayolah Marco, Terima Nara...
apalagi setelah apa yang kamu lakukan padanya.. π€¦ββοΈπ€¦ββοΈπ€¦ββοΈπ€¦ββοΈ