Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
170.Anak nakal


__ADS_3

______________


Assalamu'alaikum...


Kembali lagi di cerita halu si author yang ecek-ecek ini...


Terima kasih selalu mengikuti.


😘😘😘😘😘


Happy Reading....


_____________


Amarah Bryan dan juga Younes begitu meledak saat mendapati perusahaan mereka benar-benar di ambang kehancuran sekarang. Bertahun-tahun mereka berjuang untuk membuat perusahaan itu besar dan juga berdiri dengan kokoh seperti perusahaan lain, tapi sekarang? semuanya telah dihancurkan dengan sekejap saja.


Mata keduanya memerah, tangannya mengepal sempurna. Bryan yang sudah tak tahan pagi dengan amarah nya terpaksa melayangkan tinju ke dinding hingga keempat jarinya terluka dan mengeluarkan darah.


" Akhsan dan Ikhsan harus hancur! kehancuran ini harus mereka bayar dengan kehancuran yang lebih lagi. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan! di saat pembalasan sudah mulai aku lakukan, aku pastikan kalian akan menyesal, bahkan kalian akan memohon untuk mati! "


" Jangan hanya omong kosong saja yang kau besarkan, Bryan! lihat semua ini! semua ini tidak akan terjadi jika kamu tidak punya mulut besar yang hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah mu itu saja. Coba saja kamu bisa lebih cepat bekerjanya pasti mereka sudah hancur! dan kita tidak akan mengalami hal yang se-menyedihkan ini! " tukas Younes dengan amarah besar.


" Diam!! jangan pernah berani menyalahkan ku! bahkan, apa yang bisa kamu lakukan, hah!! kamu tidak bisa melakukan apapun! selain mengatur saja " bentak Bryan kesal.


" coba sekarang kamu yang bertindak! aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan selain memerintah saja! " imbuh Bryan.


Younes beranjak dengan wajah amarahnya, pergi keluar dari ruangan itu. " baik, lihatlah! apa yang akan bisa saya lakukan. Lihat baik-baik dan saya pastikan saya tidak hanya bisa omong kosong seperti mu!! " tukas Younes seraya melangkah dengan cepat.


" Arghhh!! "


Bugh... Buhg.... Bugh....


Berkali-kali Bryan kembali melayangkan pukulannya ke dinding yang tadi, yang pasti akan semakin memperparah keadaan keempat jari-jarinya.


" Tunggu saja kehancuran kalian! jangan kalian pikir kalian bisa bernafas lega setelah ini, kalian akan selalu di hantui ketakutan yang tak ada akhir!! Arghhh..... " Teriak Bryan yang benar-benar merasa Frustasi akan semua masalah yang terjadi padanya.

__ADS_1


Bryan menurunkan tangannya dari dinding membuat darahnya menetes di lantai begitu saja. Bahkan di dinding itu juga tercetak darahnya sendiri.


Bryan melihat darah itu, itu akan menjadi pengingat untuk nya, sebelum semuanya benar-benar terbalaskan dan tujuannya belum tercapai dia tidak akan berhenti berusaha.


Bryan melangkah pergi dari tempat itu, berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir manis di luar. Dengan tergesa-gesa Bryan masuk ke mobil, menyalakan mesinnya dan langsung melajukan nya dengan kecepatan tinggi.


Pikiran Bryan kini hanya tertuju pada satu orang saja, dan mungkin dia bisa meminta tolong padanya jika dia berhasil bertemu dengan orang itu di rumahnya.


" aku harus ke sana sekarang " gumamnya yang sudah bertekad.


🌾🌾🌾🌾🌾


" Assalamu'alaikum Opa. " Marco mengayunkan kaki nya dengan perlahan namun pasti, mendekati laki-laki tua yang kini tengah duduk di sofa sembari memegangi cangkir berisi kopi buatan dari Nara Istri nya.


Seketika Joe menoleh, Joe yang hampir menyeruput kopinya dia urungkan karena melihat Marco yang datang. " Wa'alaikumsalam, Marco" jawab Joe dengan pelan.


Marco pun menghampiri Joe, meraih tangannya dan langsung mencium punggung tangannya dengan begitu hormat. Membuat Joe terenyuh akan hal itu, sudah lama Marco tak melakukan itu dan sekarang Marco selalu melakukannya dan sekarang Marco menjadi pria yang lebih baik dan juga mulai bertanggung jawab.


Saking terenyuh nya dan berusaha bahagia, tak terasa satu bulir keluar dari sudut mata Joe. Marco yang menyadari langsung berjongkok di hadapan Joe, mengusap buliran itu sebelum terjatuh ke lantai.


" kenapa? apa Opa menyesal cucu seperti Marco? " tanya Marco seketika membuat Joe menggeleng dengan kasar.


Mana mungkin Joe akan menyesal, kini Joe terasa sangat beruntung memiliki cucu seperti Marco, dia terharu karena akhirnya dia bisa melihat Marco yang dulu lagi. Joe senang, di usianya yang sekarang dia bisa mengemban amanah dari kedua orang tua Marco dengan sangat baik. Bahkan untuk sekarang Joe tidak akan keberatan dan akan siap jika sang Pencipta menjemputnya.


" Sekarang Opa bisa tenang. Jika suatu saat Tuhan memanggil Opa, Opa sudah tidak akan keberatan lagi. Bahkan jika sekarang pun Opa sudah siap " ucap Joe yang kembali terharu.


Marco tersentak dengan perkataan Joe, sebahagia itukah Joe sekarang? sampai-sampai Joe begitu rela harus tua dan sekarang.


" jangan mengatakan itu Opa. Jangan pernah meninggalkan ku. Opa harus ada untukku dan juga Farel, kami masih sangat membutuhkan Opa. Kami akan sangat membutuhkan Opa." ucap Marco.


" aku akan selalu bersama kalian " ucap Joe seraya tersenyum kecil.


Di saat keduanya dalam keadaan haru biru, Nara datang dari dalam, dengan membawa nampan yang atasnya ada piring berisikan pisang goreng yang telah berhasil dia buat. Niatnya dia buat untuk Joe untuk menemani meminum kopinya.


" Tuan, tuan sudah pulang? " tanya Nara.

__ADS_1


Nara meletakkan nampan itu di atas meja dan langsung menyambut tangan Marco yang di ulurkan padanya, dan dengan senang hati Nara pun mencium nya dan mendapatkan balasan kecupan di keningnya setelah Marco berdiri.


" bukannya sudah aku bilang jangan melakukan apapun? itu akan membuat mu lelah, Nara " ucap Marco.


" aku nggak ngapa-ngapain kok tuan, hanya bikin kopi dan pisang goreng saja untuk Opa, itu tidak akan melelahkan, Tuan " jawab Nara yang tak mau di larang sama sekali.


" Fuhh... Baiklah. Tapi hati-hati jangan sampai kenapa-napa, Oke " Marco membelai lembut dagu Nara seraya tersenyum ke arah Nara.


" sudah sudah... Sekarang kita nikmati saja pisang goreng nya, kayaknya enak nih " Joe sudah mengambil satu potong pisang goreng dadi piring dan siap memasukkannya ke dalam mulut nya, namun belum juga pisang itu masuk ke mulut nya, Marco sudah lebih dahulu melahap nya.


" hap.. ini sangat enak Opa " ucap Marco dengan sedikit kesusahan karena mulutnya penuh akan pisang goreng yang ia rebut dari tangan Joe.


" dasar anak nakal! " Joe terkekeh dan memukul kepala Marco dengan tangannya yang mengepal, namun dengan sangat pelan.


" apa sih, Opa. Marco bukan anak nakal " protes Marco tak terima.


" iya iya.. kamu bukan anak nakal. Tapi kebanyakan akal " Joe merangkul bahu Marco dan memainkan nya dengan tangannya. Tetaplah seperti ini, ini akan menyehatkan kita semua, apalagi ada kopi dan pisang goreng setiap hari, di balik menyehatkan juga akan mengenyangkan, iya kan? " guraunya.


" apa hubungannya? " bingung Marco.


" nggak ada hubungannya, tapi di hubungkan saja biar saling terhubung, hahaha... " tawa Joe dengan girang.


" Opa ada-ada saja, hahaha " Marco ikutan tertawa mendengar gurauan Joe yang tak dia tau apa maksudnya.


Kehangatan sangat terasa di rumah itu sekarang, tak adalagi bau-bau minuman keras dari yang Marco minum atau obat-obatan yang di konsumsi oleh Marco. Kebahagiaan pun mulai hadir secara perlahan dan akan semakin besar untuk kedepannya.


" Apa!! jadi laki-laki tua itu... laki-laki tua itu Opa nya Marco!? "


🌾🌾🌾🌾🌾


Terima kasih untuk yang selalu mengikuti, semoga suka dan selalu senang.


Yuk budayakan tinggalkan jejak dan komen nya..


😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2