Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
236. Pemakaman


__ADS_3

Happy Reading..


______


Duka begitu menyelimuti kelurga Marco, kebahagiaan yang sebentar lagi akan datang dari kelahiran anak Marco kini sudah berubah kesedihan sebelum anaknya lahir.


Mimpi dari Joe yang ingin menimbang buyutnya ternyata tak kesampaian karena dia sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan dunia.


Para pelayat sudah berdatangan dan memenuhi kediaman Marco. Semua berantusias untuk mengantarkan Joe hingga ke peristirahatan yang terakhir.


Farel yang di kabari juga langsung pulang dari pesantren, tak menyangka dia akan kehilangan sang opa yang sudah menjadi orang tua untuknya, yang merawatnya dan menggantikan kedua orang tuanya yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkannya.


"Kak, kenapa opa pergi begitu cepat. Kenapa opa meninggalkan kita," meskipun berusaha tegar namun Farel tetap tak bisa menahan dukanya. Kepergian Joe membuatnya sangat terpukul.


"Sabar, dek. Ikhlaskan kepergian opa, biarkan dia tenang di sana. Opa sudah bahagia dan sudah berkumpul dengan mama dan juga papa di alam sana," Marco merengkuh pundak Farel sang duduk di samping jenazah Joe yang sudah terbujur kaku.


Terlihat wajah Joe tersenyum dalam kepergiannya ini, mungkin Joe memang bahagia karena dia bisa pergi setelah semuanya baik-baik saja. Lunas sudah hutangnya pada kedua orang tua Marco yang ingin membuat Marco menjadi lebih baik.


"Jangan menangis, kalau kamu menangis opa akan sedih. Dia tidak akan tenang di sana," ucap Marco lagi yang masih berusaha menenangkan hati Farel.


"Iya, Kak." Farel mengangguk, dia tau kalau air matanya itu tidak akan membuatnya menjadi baik, Farel harus ikhlas dan sabar supaya Opa Joe benar-benar bisa tenang di alam sana.


"Kak Joe...," Tasya berjalan pelan memasuki rumah itu, langkahnya semakin dekat dengan keberadaan Joe yang sudah terbujur tak bernyawa.


Dengan di gandeng Rayyan akhirnya Tasya berhasil sampai di tempat itu, tangisnya kembali pecah saat melihat tubuh Joe yang tertutup kain batik dengan hidung yang sudah di tutup dengan kapas.


"Kak," Tasya terus sesenggukan meskipun dia tak menyentuh Joe.


Kehilangan seorang kakak membuat Tasya begitu terpukul, meski Joe bukan kakak kandung dan hanya kakak yang bertemu di jalan saja, namun Tasya sudah menganggap Joe lebih dari seorang kakak kandung.

__ADS_1


"Oma," Farel melepaskan diri dari Marco beralih mendekati Tasya dan langsung di peluk oleh Tasya, "Opa sudah pergi, Oma."


Cucu-cucu Joe sudah sama seperti cucu sendiri bagi Tasya, begitu juga sebaliknya dan itulah yang membuat persaudaraan itu tetap dekat.


"Kamu yang sabar ya, masih ada oma di sini," Ucap Tasya yang dia sendiri tidak sekuat itu sebenarnya tapi dia tak mau menambah kesedihan untuk Farel juga kakaknya.


"Makasih oma," jawab Farel.


Bukan hanya Tasya saja yang datang, tapi semua keluarganya kecuali Khairi dan Fatma. Kedua iparan itu harus ada di rumah tentunya untuk menjaga Alvaro.


"Om berbelasungkawa atas kepergian paman Joe. Kalian yang sabar ya, Rel, Marco. Masih ada kami semua yang akan tetap menjadi saudara kalian. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bicara dengan kami," ucap Rayyan.


"Terima kasih, Om," jawab Marco juga Farel bersamaan.


____


Satu persatu pelayat pulang dan menyisakan keluarga Marco juga keluarga si kembar yang ada di sana. Semuanya seolah tak mau meninggalkan Joe sendiri meskipun makan Joe berada dekat dengan anak dan menantunya juga di samping Istrinya. Itu adalah sesuai permintaan dari Joe sendiri yang ingin ada dekat dengan mereka semua.


"Sudah, kalian harus ikhlas dan sabar. Opa kalian sudah tenang di sana," ucap Tasya yang masih terus menenangkan mereka berdua.


"Terima kasih, Oma," jawab Marco.


Sementara Farel masih terus diam dia menyesal dan terpukul karena dia tak berada di detik-detik nafas terakhir opanya. Di bilang menyesal, tentu Farel menyesal. Tapi kepergiannya bukan hanya untuk bersenang-senang saja namun menimba ilmu sesuai keinginannya sendiri yang mendapatkan dukungan penuh dari Joe.


"Sudah, Dek. Jangan sedih lagi," Marco tau apa yang Farel pikirkan saat ini, tapi mau apa dan bagaimana lagi? semuanya sudah terjadi dan Joe sudah pergi dengan tenang.


"Tidak, Kak. Farel hanya...,"


"Sudah sudah. Jangan di sesali, opa sangat bangga padamu dan jadilah seperti yang opa inginkan," ucap Marco memutus kata dari Farel.

__ADS_1


"Hem," Farel mengangguk.


"Sekarang kita pulang, besok kita bisa ke sini lagi," ajak Marco dan Farel langsung setuju.


Tak mau meninggalkan Nara yang sudah hamil besar membuat Marco harus cepat pulang, dia tidak mau kalau sampai ada apa-apa dan dia tidak ada di rumah.


Mereka semua memutuskan untuk pulang, sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil masing-masing Marco menghampiri Akhsan yang jelas dia ingin mengucapkan selamat padanya.


"Selamat ya, Akhsan. Sekarang kamu sudah menjadi ayah," ucap Marco dengan senyuman kecil yang mulai mengembang.


"Terima kasih, Marco," jawab Akhsan.


"Maaf ya, aku juga Nara belum bisa ke rumahmu untuk bertemu dengan...? "


"Alvaro.. "


"Ya Alvaro. Dia pasti sangat tampan sepertimu kan? kalau keadaan sudah memungkinkan saya pasti akan datang untuk berkunjung,"


"Aku tau itu, lagian Nara juga sudah hamil besar, sewaktu-waktu bisa melahirkan juga. Dan kamu harus menemaninya demi keamanannya," jawab Akhsan.


"Terima kasih pengertiannya, Akhsan. Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamualaikum.." pamit Marco.


"Wa'alaikumsalam," bukan hanya Marco yang langsung menuju mobilnya dan masuk tapi Akhsan juga sama, dia sudah tak sabar ingin bisa sampai rumah lagi dan bertemu dengan si tampan.


__


Bersambung...


______

__ADS_1


__ADS_2