
____
Happy Reading...
_________________
Fatma begitu semangat pergi ke supermarket seorang diri, oh salah, lebih tepatnya di antar oleh pak Lukman supir pribadinya.
Satu persatu Fatma mulai mengambil bahan makanan yang sudah ada di daftar belanjaannya yang tercatat dengan samar-samar di dalam kepalanya. Tangannya tampak menimang-nimang apa saja yang akan dia beli. Satu persatu Fatma ambil namun tak sedikit yang dia kembalikan lagi ke tempat semula.
Pelan-pelan Fatma melangkah dengan satu tangan mendorong troli dan satunya lagi mengambil barang yang akan dia beli.
Tak butuh lama untuk Fatma memenuhi troli itu, semua pilihannya sudah ada di dalamnya dan siap untuk dia bawa ke kasir untuk dia melakukan transaksi dengan kartu limit nya.
Begitu banyak kantong kresek yang sudah penuh. Tanpa mendapatkan panggilan Lukman sudah lebih peka dan masuk untuk mengambil semua belanjaan Fatma yang begitu banyak.
"Terima kasih pak Lukman. " Ucap Fatma penuh terima kasih.
"Sama-sama, Bu. Ini sudah menjadi tugas saya." Jawab Lukman seraya tersenyum kecil kepada Fatma.
Bolak-balik Lukman mengambil belanjaan dari Fatma, sedangkan Fatma hanya membawa dua kantong kresek saja yang lebih ringan yang isinya hanya cemilan khusus untuknya saja.
Fatma keluar dari supermarket itu, berjalan menuju mobilnya berada. Namun, belum juga Fatma sampai dia sudah berhenti karena ada anak laki-laki yang menghentikannya dan terpaksa membuat Fatma berhenti.
"Kak, beri saya sedikit uang kak, tolong kasihanilah saya, saya tidak punya uang dan harus cepat membeli obat untuk Ayah yang sedang sakit . " Ucap anak itu.
Kaos oblong yang sudah terlihat kusam, celana pendek yang sudah sobek bagian lututnya tak bisa lepas dari mata Fatma, keadaan dari anak itu mengingatkan nya pada dirinya dulu. Dulu Fatma pernah menjalani masa-masa tersulit nya seperti yang di jalani anak itu sekarang, meminta-minta dari belas kasih orang lain untuk bertahan hidup.
Fatma menunduk mensejajarkan tingginya pada anak itu yang tak lain adalah Jio adiknya yang tak dia ketahui.
"Ayah kamu sakit apa? " Tanya Fatma begitu lembut.
"Kaki ayah sakit, dia tak bisa berjalan normal. Dan sepertinya ada infeksi yang membuat nya menjadi demam hingga sekarang. Aku sangat kasihan sama ayah, Kak. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku tak punya uang sama sekali. " Ucapnya pilu.
Fatma langsung terenyuh mendengar penjelasan dari Jio, bahaya bisa anak sekecil dia harus memikirkan ayahnya yang sedang sakit.
"Apa yang bisa kakak lakukan untuk membantumu?" Tanya Fatma.
"Jio butuh uang untuk membeli obat untuk ayah, Kak. Ayah harus segera mendapatkan pertolongan kalau tidak kakinya akan semakin parah. " Jawabnya lagi.
Hati yang begitu lembut pastilah akan mudah tersentuh, dan itu hati Fatma langsung saja kasihan mendengarkan penuturan dari Jio.
Fatma mengeluarkan dompetnya, ada beberapa lembaran uang ratusan ribu dia langsung mengambil semuanya dan memberikannya pada Jio.
"Ini ada sedikit uang dari kakak, cepatlah bawa ayahmu untuk berobat. Semoga saja cukup, maaf kakak tak bisa membantu lebih banyak lagi. " Ucap Fatma.
"Terima kasih, Kak. " Bukannya tersenyum senang tapi Jio malah sebaliknya, dia menangis tersedu di hadapan Fatma.
Fatma begitu bingung, bukankah seharusnya Jio bahagia karena bisa mendapatkan uang untuk berobat ayahnya? Tapi kenapa dia masih tetap bersedih.
__ADS_1
"Kamu kenapa? " Tanya Fatma penasaran.
"Aku merindukan kakak kakak Jio. "
" Emang Kakak Jio kemana? " Tanya Fatma mulai kepo.
Jio menggeleng, dia tidak tau dimana keberadaan kedua kakaknya sekarang. "Jio tidak tau kak. " Ucapnya.
"Apakah aku boleh memeluk Kakak? Kata ibu, Kakak Jio sudah besar mungkin sebesar kakak, apakah boleh. " Pinta Jio yang terisak.
Melihat wajah itu Fatma tak akan mungkin tega dan menolak permintaan Jio, meskipun dia tidak mengenalnya tapi kenapa dia seakan begitu perhatian padanya, seakan dia begitu kasihan dan seperti ada ikatan yang Fatma sendiri tidak tau ada ikatan apa antara mereka berdua.
"Baiklah, sini kakak peluk. Anggap saja kamu sedang memeluk kakakmu. " Ucap Fatma dengan merengkuh tubuh kurus Jio yang terlihat begitu kering, mungkin karena kekurangan makan dan juga kurang gizi.
Jio menurut saja di peluk oleh Fatma, hingga pelukan mereka cukup lama.
Ada perasaan hangat di antara mereka berdua. Benar-benar membuat Fatma bingung. "ππ’π΄π’ πͺπ―πͺ? ππ¦π―π’π±π’ π£π¦π¨πͺπ΅πΆ π΄π’π―π¨π’π΅ π©π’π―π¨π’π΅? " Batin Fatma.
"Makasih Kak. " Merasa cukup Jio melepaskan pelukannya dari pelukan Fatma da segera pamit untuk pulang dan segera membawa ayahnya berobat. "Terima kasih ya, Kak. Jio pamit, Jio harus bawa Ayah berobat." Ucapnya dengan wajah yang langsung berbinar saat ini.
"Iya, semoga cepet sembuh untuk ayahmu ya. Salam buat ayahmu ya. " Jawab Fatma.
"Iya kak. Kak, apa Jio boleh panggil kakak, kakak cantik. " Ucapnya meminta izin.
"Boleh dong. " Jawab Fatma.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Fatma.
Setelah kepergian dari Jio, Fatma juga langsung pergi dari sana. Tak ada rasa curiga atau apapun, dia langsung mengabaikan perasaannya begitu saja.
_____
Malam begitu larut, namun mata Fatma belum bisa tertutup sempurna. Dia masih terus bolak-balik tak tentu di atas kasurnya.
"Kenapa aku susah banget tidur sih malam ini?" Gerutunya kesal.
Belum berhenti juga kekesalannya tiba-tiba lampu padam membuat Fatma terkejut.
"Nih kenapa harus mati lampu sih? " Bingung Fatma.
Fatma turun perlahan dari kasur, menggagahi ponselnya yang entah dimana. "Nih ponsel di mana sih? " Tangan Fatma terus bergelantungan di udara mencari-cari ponselnya dan sebagai alat untuk membantunya dari bahaya. Kalau tak ada kedua tangannya bisa jadi kan dia anak menabrak apapun yang ada di hadapannya.
"Nih pak Lukman sama bibi udah tidur pa ya? Kok udah sepi aja lagi. " Ucapnya.
Fatma bergegas keluar saja untuk mengambil lampu emergency yang ada di depan kamarnya. Belum juga menemukan lampu itu ada dua tangan kekar yang melingkar di perutnya dan menarik tubuh Fatma udah menempel dengan tubuh orang itu.
"Akk... Lepaskan..! Kamu siapa? Jangan macam-macam ya, lepaskan! " Fatma berontak meminta untuk di lepaskan, tapi malah sebaliknya orang itu begitu mengeratkan kedua tangannya.
"Lepaskan, lepas! " Tangan Fatma mencoba untuk melepaskan diri dari orang itu namun dia tak sekuat itu.
__ADS_1
Berontak, berteriak, minta tolong itulah yang bisa Fatma lakukan sekarang ini. "Tolong! Bibi! Pak Lukman! " Teriak Fatma berulang-ulang.
Bukannya melepaskan Orang itu malah mengangkat tubuh Fatma, membawa kembali masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan kaki.
"Lepas! Lepas! Aku mohon! Kamu siapa! Lepas!" Teriak Fatma sembari terus berontak. Orang itu terus diam acuh tak perduli.
Orang itu melemparkan Fatma ke atas kasur, dan mengurung tubuh Fatma. Kedua tangan Fatma dia pegang begitu kuat hingga Fatma tak bisa melakukan apapun dengan tangannya.
Tangan nya mulai melepaskan hijab yang Fatma kenakan, meskipun di dalam kegelapan namun dia tetap sasaran dalam melakukan apapun yang dia inginkan.
Tangannya membelai lembut pipi Fatma dan mulai menjamah tubuh Fatma yang masih tertutup kain satin yang begitu lembut.
"Jangan, jangan menyentuhku! Lepaskan." Teriak Fatma.
Fatma terus berontak tubuhnya terus bergerak menolak apa yang di lakukan oleh orang itu. Orang itu menyingkap kain di bagian bawah Fatma hingga dia dapat menyentuh kulit sensitif Fatma di bawah.
"Jangan! Tolong! Tolong! " Teriak nya namun sepertinya tak akan ada yang datang.
Apakah orang ini telah membuat semua isi rumah pingsan supaya tidak bisa menyelamatkannya? Apakah orang ini adalah penjahat yang akan merenggut kehormatan Fatma yang selalu dia jaga khusus untuk suaminya.
Bagaimana dia bisa melepaskan diri dari orang yang sangat kuat ini, di dalam kegelapan seperti itu apa yang bisa di lakukan wanita sepertinya?.
Fatma hanya bisa menangis bukan? Berontak pun dia tak bisa apalagi melawan orang kuat itu. Dia tak akan bisa.
Tapi dia juga tak bisa pasrah begitu saja kan? Dia harus bisa mempertahankan kehormatannya kan? Apa yang akan dia katakan nantinya pada Ikhsan jika kehormatannya telah direnggut paksa oleh orang yang tidak dia kenal, bahkan dia tak bisa melihat bagaimana wajahnya.
"Mas Ikhsan, tolong Fatma! " Teriak nya, berharap Ikhsan akan datang menjadi superhero yang tiba-tiba datang dan menyelamatkannya.
"Mas Ikhsan! " Fatma terus teriak namun orang itu juga semakin ganas menggerayahi tubuhnya.
Fatma menangis, usahanya tak akan mudah untuk dia melepaskan diri dari orang itu.
ππΆπ¨π©π©....
Kaki Fatma berhasil melumpuhkan Angry bird milik orang itu membuatnya langsung melepaskan Fatma dan mundur karena kesakitan.
"Astaghfirullah, masa depan ku. " Celetuk nya.
ππ΅π’π¬π¬π¬....
Lampu menyala setelah orang itu menjentikkan tangannya. Lihatlah wajahnya sekarang, tampangnya hilang karena meringis kesakitan dan terlihat berwarna merah.
"Angry bird ku.. "
___
Bersambung....
________________
__ADS_1