Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
237. Gara-gara Sup Anget


__ADS_3

Happy Reading..


______


Ujian yang semakin dekat hanya tinggal dua bulan lagi membuat Fatma lebih tekun dalam belajar, dia sama sekali tak mau mengabaikan tugas-tugasnya dari sekolah tapi dia juga tidak mau mengabaikan tugasnya di rumah sebagai istri.


Dengan semua kesibukan tugas-tugas dari sekolah Fatma tetap menjalankan tugasnya sebagai istri, melayani Ikhsan dengan baik dan juga sesekali dia akan membantu asisten rumah nya di dapur untuk menyiapkan makanan untuk semuanya.


Malam sudah semakin larut, tapi tiba-tiba saja perut Fatma merasa lapar. Sepertinya energinya telah terkuras habis dengan tugas dari sekolah yang sangat menumpuk.


Dengan diam dan tak mengatakan apapun pada Ikhsan yang sedang di kamar mandi Fatma bergegas ke dapur. Gelap dan sunyi, sepertinya penghuni lain sudah tertidur karena saat Fatma keluar dari kamar lampu-lampu sudah mati.


Beberapa lampu kecil Fatma nyalakan untuk menerangi kegiatannya di dapur. Dia tidak memasak masakan yang baru hanya menghangatkan saja makanan sisa makan malam tadi.


"Mata udah ngantuk juga, kenapa cacing-cacing malah berdemo?" ucap Fatma tak habis pikir dengan perutnya sendiri.


Hanya sup lah yang menjadi pilihan Fatma, memang begitu banyak menu makanan yang ada namun Fatma memilih sup saja karena udara juga sangat dingin, akan lebih enak kalau dingin-dingin menikmati makanan berkuah yang hangat dengan sambal yang sangat pedas.


Selesai menghangatkan Fatma mengambil nasi yang tak seberapa, namun sup dan kuahnya yang banyak membuat piring itu penuh.


"Tinggal tambahin sambel sudah deh," ucapnya dengan sumringah.


Fatma duduk di ruang makan, mulai menikmati makanannya dengan begitu lahap. Benar-benar sangat ampuh untuk menghangatkan tubuhnya yang merinding karena kedinginan, keringat mulai keluar dari pori-pori Fatma begitu saja.


Hangat dan pedas, memang sangat nikmat untuk Fatma. Dia yang biasa dengan pedas pasti tak masalah dengan sedikit sambal kan.


Selesai makan Fatma kembali ke dapur mencuci piring sebentar lalu kembali lagi ke kamar.


"Astaga, gerah banget sih," gumamnya.


Setelah menutup pintu Fatma langsung melepaskan hijabnya melemparkan ke sofa lalu dirinya juga duduk di sana.


Fatma mengambil buku mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa sangat panas.


"Ini juga, AC kenapa seperti tak berfungsi sih?" gumamnya lagi dengan kesal.


Sejak masuk Fatma belum juga melihat Ikhsan, entah di mana suaminya itu berada sekarang, karena pintu kamar mandi juga sedikit terbuka tak mungkin dia ada di dalam.


Fatma beranjak, melangkah menuju lemari lalu membukanya. Fatma memilih-milih baju yang terasa adem jika dia pakai, hingga akhirnya dia dapatkan baju tidur kimono lengan pendek juga tingginya hanya akan sebatas lutut jika di pakai.

__ADS_1


"Tidak akan apa-apa kan jika aku pakai ini. Tidak lah ya, ini kan di kamar jika ada yang lihat palingan juga mas Ikhsan, dia kan suami Fatma jadi tidak akan berdosa lah," ucapnya.


Fatma langsung menggantinya di ruang ganti, baju kimono yang berbahan satin itu akan sangat jatuh jika di pakai dan pasti akan sangat menggoda jika ada pria yang melihatnya.


Saat keluar dari ruang ganti di saat bersamaan Ikhsan juga pas masuk dari luar, yang jelas mata keduanya juga saling bertemu.


Haduh..., sepertinya Ikhsan benar-benar di uji sekarang. Padahal niatnya dia akan libur dulu untuk tidak menyentuh Fatma sampai ujian selesai tapi dengan apa yang dia lihat sekarang mana mungkin dia akan bisa menahannya.


Ikhsan melangkah menghampiri Fatma setelah tepat di hadapannya Ikhsan berhenti dan memandangi Fatma dari atas sampai bawah dan naik lagi ke atas. Begitu sempurna sih, apalagi rambut Fatma yang di kuncir tinggi di belakang sehingga terlihat jelas leher jenjangnya. Ah.., sangat menggoda, membuat jiwa keperjakaan Ikhsan meronta-ronta.


"Kenapa kamu pakai baju seperti ini? apa kamu memang berniat untuk membangun sesuatu yang tertidur," ucap Ikhsan.


"Tidak, Fatma hanya gerah, Mas. Tadi Fatma lapar terus makan sama sup sama sambel, eh tubuh Fatma terasa ngebul jadi ganti pakai baju ini. Kenapa, aneh ya?" tanya Fatma yang malah mengamati dirinya sendiri.


"Tidak, hanya saja kau akan membangunkan junior. Apa kamu mau tanggung jawab?"


"Lah, bukan salah Fatma lah. Siapa suruh juniornya bangun," jawab Fatma.


Fatma hendak berjalan melewati Ikhsan, namun sepertinya sang junior di bawah sana memang sudah bangun sejak pertama Ikhsan melihat Fatma.


Ikhsan langsung menarik Fatma mendorongnya hingga Fatma terjatuh di atas kasur, "kamu harus bertanggung jawab, sang junior sudah meronta-ronta untuk minta di tidurkan," ucap Ikhsan.


"Apa sih, Mas. Katanya Mas tidak akan menyentuh Fatma sampai ujian selesai,"


"Tapi, Mas! Fatma ge..." ucapan Fatma terhenti karena Ikhsan sudah langsung menyambar dengan bibirnya.


Pasrah lah Fatma sekarang, dia tak bisa melakukan apapun lagi kalau suaminya sudah menginginkannya.


____


Sementara di dalam kamar di rumah yang lain, Akhsan masih belum tidur juga. Dari tadi Alvaro yang sudah beberapa bulan itu tidak mau tidur namun juga tidak menangis.


Sepertinya Alvaro ingin terus bermain dengan Akhsan juga Khairi.


"Tumben sekali sih Alvaro belum mau bobok? bobok ya sayang, ini sudah malam. Mainnya di lanjut besok lagi," ucap Akhsan, namun bayi yang di ajak bicara itu malah tersenyum sebagai responnya.


"Eh, malah tersenyum! bobok sayang, bobok. Sudah malem," Akhsan mengelus-elus kening Alvaro berharap akan membuatnya mengantuk setelah itu. Tapi sepertinya tidak, karena Alvaro malah semakin Aktif bergerak.


"Mungkin Alvaro belum mau bobok, Mas. Kalau Mas sudah ngantuk tidur saja dulu. Besok kan harus bangun pagi, katanya ada meeting kan?" ucap Khairi.

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Mas tidak mungkin membiarkan kamu begadang sendiri. Kamu juga lelah seharian ngurus Alvaro, nggak adil dong kalau Mas tidur sendiri," jawab Akhsan.


"Tapi besok Mas ada meeting kan? kalau Mas ngantuk dan nggak bisa fokus bagaimana?"


"Tidak, Mas akan kuat. Iya kan Alvaro sayang, Abi kuat kan?" tanyanya dengan anaknya itu dengan senyum manis yang di balas hal yang sama oleh Alvaro.


"Senyumnya sama-sama manis," puji Khairi.


"Senyum Umi juga manis, iya kan Sayang," ucap Akhsan seketika melirik ke arah Khairi lalu kembali lagi ke arah Alvaro.


"Biasa saja,"


Keduanya terus menemani Alvaro yang belum mau tidur, sampai akhirnya mereka berdua ikut merebahkan tubuh mereka menengahi Alvaro sampai mata mereka tidak kuat dan akhirnya tidur meninggalkan Alvaro sendirian terjaga.


_____


"Terima kasih, Fatma. Maaf karena Mas tak bisa menahannya," ucap Ikhsan setelah selesai dalam pergulatan mereka berdua.


Selimut tebal menyelimuti keduanya yang masih polos, Ikhsan mengecup kening Fatma sebagai tanda terima kasih tentunya.


"Nggak apa-apa, Mas. Tidak masalah juga. Tapi Mas, kenapa tadi Fatma merasakan ada sesuatu yang masuk di perut Fatma ya, apa...,"


"Astaghfirullah hal 'azim..., mati aku... " pekik Ikhsan dan langsung menepuk jidatnya sendiri, yang pasti langsung membuat Fatma bingung.


"Kenapa Mas? apa ada masalah?" tanya Fatma penasaran.


"Mas.., Mas lupa pakai pengaman dan Mas juga memasukkannya di dalam. Bagaimana ini? bagaimana kalau kamu..., "


"Alhamdulillah dong, semoga saja beneran tokcer, sudahlah Fatma ngantuk mau tidur."


"Eh..., jangan dulu! Ini bagaimana urusannya! kamu lagi mau ujian kalau kamu hamil bisa habis juga juniorku di kuliti sama bang Akhsan. Fatma, tunggu dulu! hey... hey..., beneran udah tidur lagi nih anak, Fatma.., Fatma.. " yang pasti sudah tak mendapatkan jawaban dari Fatma.


Ikhsan terdiam memikirkan bagaimana jika semua itu benar. Tapi beberapa menit kemudian, "ternyata memang lebih enak kalau tanpa pengamanan yang ketat."


____


Bersambung...


_______

__ADS_1


Numpang ketawa juga ya..


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2