Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
209.Sendiri


__ADS_3

___


Happy Reading...


_________________


"Bagaimana dengan Fatma, apa dia masih sedih sekarang? " tanya Akhsan pada Kairi yang tengah membenahi buku-buku kuliahnya setelah selesai belajar.


Kairi beranjak, dia langsung mendekat kepada Akhsan yang duduk di kasur menyandarkan punggungnya di atas ranjang. Kairi duduk di sebelahnya dan ikut menyandarkan punggungnya seperti yang Akhsan lakukan.


"Sedih sih, Mas. Tapi dia perlahan mulai terhibur juga. " jawab Kairi.


Akhsan mengangguk pelan namun pasti, "Syukurlah kalau dia tidak sedih lagi, Mas tidak tega melihatnya yang terus bersedih."


Kairi meraih tangan Akhsan, menggenggam nya dengan erat. "Aku akan berusaha untuk menghiburnya, Mas. Besok setelah pulang dari kampus aku akan ke sana lagi untuk menemani nya, ngga apa-apa kan? "


"Nggak apa-apa lah, Mas malah seneng kalau kamu bisa menemani nya kasian kalau dia hanya seorang diri. " jawab Akhsan.


"Sekarang tidurlah, ini sudah malam. " ajak Akhsan dan Kairi langsung mengangguk.


Perlahan keduanya mulai merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan menutup tubuh mereka hingga atas dada. Tak lupa doa mereka lantunkan.


"Muach." Satu kecupan mendarat di kening Kairi membuat nya tersenyum bahagia karena selalu mendapatkan perhatian yang besar dari Akhsan.


"Selamat malam, Mas. " ucap Kairi.


"Malam." jawab Akhsan begitu lembut.


_______


Fatma terus berguling-guling di atas ranjang seorang diri, dia merasa kedinginan padahal AC sama sekali tidak di nyalakan, biasanya Ikhsan yang akan memeluknya dan membuatnya mudah untuk tertidur tapi sekarang? Dia hanya seorang diri.


Kesepian itulah yang Fatma rasakan, padahal belum genap dua puluh empat jam dan Fatma sudah kesepian dan sangat merindukan Ikhsan, bagaimana untuk enam hari ke depan.


Berkali-kali Fatma menghubungi Ikhsan namun tidak bisa, Ikhsan belum bisa dihubungi entah apa yang membuatnya tak bisa di hubungi.


Fatma terus berkedut, memandang foto yang menempel di dinding, foto dirinya dan juga Ikhsan saat mereka sedang bergurau di dalam mobil, Fatma menarik senyum manis sekali.


Fatma menyambar satu foto yang terpajang di atas nakas, memandanginya lalu tersenyum, dia mencium beberapa kali foto Ikhsan dia sangat merindukannya, ingin sekali Fatma lompat hingga sampai di tempat Ikhsan sekarang, namun dia tak punya kuasa untuk itu.


"Cepatlah pulang, Mas. Aku sangat merindukanmu. " ucap Fatma.


Fatma memeluk foto tersebut berusaha memejamkan matanya dan membayangkan dia tengah berada dalam pelukan sang suami tercinta.


Dan akhirnya itu berhasil, Fatma tersenyum manis namun sepertinya bukan karena kesadaran nya melainkan dia tersenyum karena ada di dalam mimpinya yang terbawa hingga bibirnya.


Pagi pertama datang untuk Fatma tanpa ada Ikhsan di sisinya, meskipun tak ada Ikhsan tak membuatnya bangun terlambat, dia tetap saja bangun pagi-pagi sekali sebelum waktu sholat subuh.


Fatma masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan segera mengambil wudhu untuk menjalankan sholat sunat terlebih dahulu, tak lama Fatma ada di kamar mandi, dia menyambar mukena beserta sajadahnya, menghamparkan sajadah menghadap kiblat dia pun mulai menghadapkan dirinya kepada sang Pencipta.


Berdo'a, mencari ketenangan kepada Illahi Robbi, memohon kebaikan untuk kehidupannya dan juga kebaikan untuk keluarga kecilnya. Berdoa untuk keselamatan dan kesehatan untuk imamnya yang kini jauh di seberang sana.


Mengadu dari segala keluh dan kesahnya, mengharapkan kasih dan sayang sang Pencipta untuk nya.


Tak sampai di situ saja, Fatma juga membuka kitab suci Al-Quran dan mulai melantunkan ayat demi ayat, meskipun dia tak sepandai Ikhsan namun dia tetap belajar, biasanya Ikhsan yang akan menyimak nya dan membenarkan dari setiap bacaan yang salah tapi sekarang dia harus bisa berusaha meskipun harus pelan-pelan.


Menunggu hingga subuh tiba Fatma dapat membaca satu lembar dari Al-Quran, dia menghentikannya setelah mendengar suara Adzan. Fatma mengecup sampul Al-Quran itu dan menaruhnya di tempat tertinggi.

__ADS_1


Fatma langsung menjalankan sholat seorang diri dengan begitu khusuk, dia begitu senang melakukannya, ya karena itu memang sudah menjadi kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Baru rok mukenanya yang Fatma lipat dan ponselnya berbunyi. Fatma berlari mungkin itu telfon dari suaminya yang dari tadi malam dia harapkan akan menghubunginya.


Senyum Fatma mengambang lebar saat melihat video call masuk dan itu dari Ikhsan. Fatma duduk di atas ranjang dan segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, istriku. " sapa Ikhsan dengan senyum bahagia bisa melihat wajah Istrinya.


"Wa'alaikumsalam, mas. " jawab Fatma yang malah menampilkan mata yang berkaca-kaca.


"Heyy.. Jangan nangis dong. Mas sudah sampai dengan selamat. Ini mas masih ada di penginapan, dan besok baru akan ke asrama Aisyah. Doakan semuanya lancar jadi mas akan segera pulang. " ucap Ikhsan.


"Fatma tidak nangis kok, Fatma hanya seneng saja akhirnya mas menghubungi Fatma. "


"Maaf ya. "


"Mas nggak salah. Cepat selesaikan urusannya mas, dan cepatlah pulang. " rengek Fatma.


"Itu pasti, Sayang ku. Sekarang bersiap-siaplah untuk sekolah, ingat belajar yang benar jangan bikin kekacauan di sekolah. "


"Iya, mas. " Jawab Fatma lirih.


"Mas jangan lupa makan tepat waktu , jangan lupa minum vitamin nya. "


"Iya, sayang. Mas tutup ya, Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikumsalam.. "


"I love you.. "


"To apa? "


"I love you to my husband.. " Jawab Fatma


Dan panggilan pun berakhir setelah itu, wajah Fatma kembali murung. Hari-harinya akan menjadi sangat lama karena tidak ada Ikhsan di sisinya.


___


"Fatma! " teriak Kairi memanggil Fatma yang hendak naik mobil untuk berangkat ke sekolah.


Fatma menoleh, di lihatnya Kairi yang menyembulkan kepalanya keluar dari dalam mobil lewat kaca. Fatma berjalan mendekat mengapa Akhsan dan juga Kairi.


"Assalamu'alaikum, Kak. " sapa nya.


"Wa'alaikumsalam, Fatma bareng yuk! Kita searah kan? Yuk. " Ajak Kairi semangat.


"Iya, Fatma. Bareng saja yuk. " imbuh Akhsan juga mengajak Fatma.


"Nggak usah kak Fatma sudah ada Pak Lukman. " jawab Fatma yang ingin menolak ajakan mereka berdua.


"Ayo lah. Pak Lukman nanti jemput nya saja, yuk. " Kekeuh Kairi.


Fatma menoleh ke arah Lukman yang sudah siap, dia kasihan juga kalau tidak jadi di antar oleh Lukman yang sudah dari tadi menunggunya.


"Tidak usah, kak. Fatma sama pak Lukman saja. " kekeuh juga Fatma.


"Beberan nggak mau bareng? " tanya Kairi dan Fatma menggeleng. "Ya sudah, kakak duluan ya. Assalamu'alaikum. "

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Jawab Fatma.


Lebih baik seperti ini untuk Fatma, dia tidak mau bareng dengan Akhsan dan Kairi karena dia takut akan semakin tak bisa mengendalikan dirinya karena melihat wajah Akhsan yang begitu mirip dengan Ikhsan.


Bagaimanapun Fatma harus Jaga-jaga sendiri, tapi bukan berarti dia akan memeluk Akhsan nantinya jika dia merindukan Ikhsan, dia juga tak segila itu, dia masih sadar seratus persen.


Di antar Lukman Fatma berangkat sekolah, dia terus diam saat berada di dalam mobil, Lukman juga tak berani bertanya atau mengatakan apapun, dia tau kalau kini bos nya itu sedang galau dalam kerinduan.


__


Santi dan Mirna begitu heboh saat melihat kedatangan Fatma, mereka menyambut dengan senang dan langsung menggandeng lengan Fatma.


Namun tidak dengan Fatma, langkahnya kaku wajahnya tertekuk kusut dia dana sekali tak semangat sama sekali.


"Miss, Miss kenapa sih? Loyo amat. " tanya Mirna heboh.


"Iya, nih! Kayak separuh jiwanya pergi. " sambung Santi.


Fatma diam, dia langsung duduk di bangkunya, benar apa kata Santi, separuh jiwanya seakan telah pergi karena di tinggal oleh Ikhsan.


"Oh iya, Miss! Kemarin kenapa tidak masuk? Miss tidak sakit kan?"


Fatma menggeleng, dia sama sekali tidak sakit dia sehat wal'afiat. "Aku baik-baik saja, Mir. Aku hanya? Hem... Kalian bisa nggak temenin aku di rumah? Aku kesepian. " ucap Fatma.


"Emang pak husband kemana? "


"Dia sedang pergi ke Negeri orang, aku di tinggal sendirian, kalian bisa ya menginap beberapa hari, please... " ucap Fatma memohon.


"Bagaimana ya...? Hem... Baiklah. Apa sih yang enggak! Kalau kamu gimana Mir! Kamu bisa kan?" toleh Santi ke arah Mirna.


Mirna mengangguk dia pasti mau lah, dia kan best friend bagaimana mungkin dia akan menolak permintaan miss nya yang sedang kesepian.


"Bisa dong! Apa sih yang enggak untuk mbak miss tersanjung. " ucap Mirna heboh dan langsung memeluk Fatma yang terus kaki.


"Lepas, Mir! " berontak Fatma.


"Iya-iya, maaf. Saking senengnya nih. " Mirna sontak melepaskan pelukannya dari Fatma.


Meskipun mereka berbicara seperti itu yang mendengar pun tetap tak tau apa maksudnya, mereka hanya mengira kalau husband Fatma itu adalah pacar barunya mereka tetap tak mengira kalau itu benar-benar suaminya.


"Assalamu'alaikum.. " Bu Suci masuk.


"Wa'alaikumsalam.. " jawab semuanya serentak.


Mereka bertiga menatap heran pada Suci, dia juga terlibat tak semangat sama sekali apa mungkin karena Ikhsan tidak datang? Ah.. Mana mungkin, dia tidak ada hubungan apapun.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘴 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘪𝘻𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶, 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢? " Batin Suci.


Dan ternyata benar, wajah muram dari Bu Suci karena Ikhsan tak berangkat dan tidak tau pergi kemana. Untung saja Ikhsan tidak menjelaskan mau pergi kemana, kalau dia bilang sedetail-detailnya mungkin falakor ini akan menyusulnya dan mencari kesempatan untuk mendekati, atau mungkin untuk menjebaknya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶 𝘚𝘶𝘤𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘴 𝘐𝘬𝘩𝘴𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯? 𝘏𝘦𝘮... 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘧𝘢𝘭𝘢𝘬𝘰𝘳 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘵. " Rutuk Fatma kesal.


___


Bersambung...


________________

__ADS_1


__ADS_2