
________
Happy Reading...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, kalau berkenan kasih hadiah atau vote juga untuk karya yang tak jelas ini...
Terima kasih
ππππππ
____________
" Tuan Fahmi! Tuan Fahmi kenapa di sini. Terus anda sama siapa? " tanya Rico. Matanya terus celingukan mencari-cari orang yang mungkin bersama dengan Fahmi atau mungkin tuk menemani nya.
Fahmi membalas senyum dari semua pertanyaan Rico.
Ada yang aneh dari mata memandang Rico, wajah pucat, bibir sedikit membiru dan juga baju yang serba putih, namun terdapat sinar yang keluar dari tubuh Fahmi. Di balik semua itu Fahmi terlihat lebih muda dari biasanya.
" Tuan, Tuan kesini sama siapa? atau tuan mau kemana? " tanya Rico yang terus bingung, dan mengabaikan semua keanehan yang ia lihat.
Lagi-lagi Fahmi hanya tersenyum namun kali ini dia menjawab apa yang Rico tanyakan, meskipun dengan jawaban yang sangat singkat.
" bisa antar saya pulang ? " jawab Fahmi yang juga sebagai pertanyaan.
Rico mengangguk dengan cepat. "bisa, mari saya antar " dengan cepat Rico naik ke atas motornya dan ingin secepatnya mengantarkan Fahmi yang katanya ingin pulang.
Di tengah perjalanan Rico terus merasa aneh, ada hal yang Rico tidak ketahui, bahwa sebenarnya Fahmi sudah tiada. Rico hanya merasa dingin meskipun cuaca sangat panas, karena hari hampir menjelang dhuhur dan juga sholat jum'at mungkin sebentar lagi. Dengan mengantarkan Fahmi pulang berarti Rico bisa sholat jum'at di pesantren.
Sepuluh menit di perjalanan kini motor Rico sudah ada di depan gerbang pesantren. Rico tersentak karena dia melihat bendera putih yang berkibar di sana, pertanyaannya." Siapa yang meninggal? Tuan, emang ada keluarga tuan yang meninggal? " tanyanya sembari menoleh.
Namun di saat Rico menoleh dan melihat mata Fahmi seakan Fahmi masuk begitu saja ke dalam tubuh nya, Ya! Fahmi telah merasuki Rico.
Sekejap Rico menutup matanya, dan kembali membuka nya namun dia sudah tak lagi sadar kalau itu adalah dirinya.
Rico tetap menunggangi motornya dan masuk ke pesantren, menghentikannya di depan pendopo tempat Fahmi dan Tasya tinggal.
Rico turun dari motornya, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. " jam Setengah dua belas " gumam nya.
Rico langsung melaju ke masjid berniat untuk ikut menjalankan sholat jum'at di sana. Hanya dengan mengenakan hem abu-abu dan juga celana jins nya Rico mengambil tempat duduk paling depan, dia begitu percaya diri dan tak menghiraukan semua tatapan mata yang aneh ke arah nya.
Yang tidak mengenal Rico mereka hanya bisa geleng-geleng Kepala karena kelakuan Rico namun ada Rayyan, Akhsan dan juga Ikhsan yang langsung mengernyit bingung dengan polah dan kedatangan Rico di sana.
Beduk telah di tabuh, pertanda sholat jum'at akan segera naik. Tanpa pikir panjang Rico berdiri mendahului Fikri yang hampir saja berdiri. Rico berdiri di depan pengeras suara namun sebelum dia benar-benar mengumandangkan adzan Rico menoleh dan tersenyum ke arah Fikri.
__ADS_1
" izinkan aku mengumandangkan adzan untuk yang terakhir kalinya, Fikri. " ucap Rico.
Semua yang mendengar hanya bisa mengerutkan dahi mereka dan menghujat Rico yang begitu beraninya memanggil ustadz Fikri dengan namanya saja.
Karena tak mau ada masalah Fikri pun duduk mengizinkan Rico mengumandangkan adzan sholat jum'at untuk yang terakhir kalinya, katanya.
" apa-apaan nih bocah! dengan pakaian yang seperti itu dia percaya diri sekali untuk adzan di depan ratusan orang. " gumam Rayyan.
Sementara Ikhsan terus menatap Rico depan aneh, dia tak tau jelas apa yang terjadi pada Rico namun sepertinya ada yang tidak beres padanya.
Suara adzan yang sangat merdu Rico kumandangkan, adzan versi Fahmi ketika dia masih muda dulu.
Semua langsung terdiam, dan mendengarkan suara adzan yang begitu menyentuh hati mereka.
" Kenapa suara ini tidak asing? " gumam salah satu dari santri.
" suara yang sama seperti ustadz Fahmi saat masih muda dulu " gumam sesepuh yang ada di situ juga.
Semua begitu menikmati alunan merdu suara Rico. bahkan Ikhsan sendiri tak menyangka kalau Rico yang di sekolah saja selalu sholat dengan terlambat , dia ternyata memiliki suara yang begitu merdu saat adzan.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Tasya terhenyak dari tidurnya saat dia mendengar suara adzan yang terdengar dari masjid. Cepat-cepat Tasya beranjak dan ingin berlari untuk memastikan bahwa yang dia dengar adalah benar.
" Abi, abi kembali. Abi kembali " ucapnya dengan senyum sumringah.
" Oma, Oma mau kemana? " Fatma yang melihat nya langsung menghadang Tasya dan memegangi Tasya yang buru-buru ingin keluar.
Jari telunjuk Tasya terus menunjuk arah masjid, kata-katanya terputus-putus karena saking senangnya dia akan melihat Fahmi lagi.
" Opa mu kembali, Fatma. Opa kembali " ucap Tasya dengan girang.
Fatma terlihat bingung, mana mungkin itu adalah Opa Fahmi, karena Opa Fahmi sudah tiada dan sudah di kuburkan beberapa jam lalu.
" istighfar Oma, Istighfar. Dia bukan Opa! Opa sudah pergi, Oma. " jawab Fatma memberikan pengertian pada Tasya.
Tasya menggeleng tak percaya, dia yakin benar bahwa itu adalah Fahmi. " tidak tidak! itu adalah Opa kamu, Opa Fahmi! " kekeuh Tasya.
Tasya berjalan dengan cepat, menyingkirkan tangan Fatma yang ingin membantunya.
Namun Fatma pun tak tinggal diam, dia terus mengikuti Tasya dan akhirnya dia mengalah dan mengantarkan Tasya ke masjid. Mungkin setelah melihat siapa yang adzan di masjid Tasya baru bisa percaya kalau itu bukanlah Fahmi.
Dengan di gandeng oleh Fatma, Tasya terus berjalan. Dia sangat semangat untuk cepat sampai ke masjid. Rasa lemah tak berdaya tadi hilang begitu saja sekarang, dan semua itu di karenakan dengan suara adzan yang di lantunkan oleh Rico.
__ADS_1
Tasya berdiri di tengah-tengah pintu masjid, dia terus mengamati seseorang yang masih mengumandangkan adzan dengan memunggunginya.
" tuh kan, Oma! dia bukan Opa!" seru Fatma.
Tasya masih terus mengamati Rico, Tasya berharap Rico yang iya kira adalah Fahmi akan membalikkan badannya dan menatap nya
Tasya sangat kecewa saat orang yang dia harap adalah Fahmi ternyata bukan, dia adalah orang lain.
" Rico.! " pekik Fatma tak percaya.
Fatma sangat paham betul dengan Rico, bahkan Rico yang tak bisa adzan pun dia juga mengetahuinya. " sejak kapan Rico bisa adzan? dan juga adzan nya bagus banget. " gumam Tasya.
" dia bukan Abi, tapi suara ini, ini benar-benar suara Abi " gumam Tasya yang kecewa dan tak terasa bulir air mata kembali keluar.
" sudah Oma, Oma jangan sedih lagi. Yuk Oma kita kembali ke kamar Oma, biar Fatma antar " ucap Fatma sembari menuntun lengan Tasya.
"' kau hutang penjelasan, Rico. kau tiba-tiba datang kesini, dan tiba-tiba kau juga bisa adzan hingga begitu merdu. " batin Fatma.
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Pukul 14:00
Entah bagaimana caranya Rico sudah berada di dalam kamar Tasya, Rico terus mengamati Tasya yang tidur dengan lelap seorang diri.
Rico mendekat duduk di samping Tasya dengan tersenyum bahagia. " maaf, Bunda. Maaf jika Abi harus benar-benar pergi. Abi tidak ingin namun inilah takdir. Setiap ada kehidupan suatu saat pasti akan ada kematian, takdir Abi hidup sudah usai, Bunda. Maaf.. " ucap Rico dengan raut wajah yang sangat menyedihkan.
Entah apa yang membuat Fahmi belum benar-benar pergi, namun ada satu di benak Fahmi yang membuat nya tertahan hingga sekarang. Dan hanya Rico seorang yang bisa membantu memecahkan nya.
Rico membelai lembut pipi Tasya pelan, hingga membuat Tasya sedikit menggeliat akan hal itu.
" jangan terus bersedih Bunda. Cepat atau lambat kita akan bersama lagi " ucapnya.
Rico beranjak, dia ingin pergi dari kamar itu. Sebelum Rico benar-benar pergi Rico ingin sekali mencium kening Tasya dan itu pun akan dia lakukan.
Namun hal yang tidak di inginkan terjadi, di saat Rico berhasil mencium kening Tasya pintu terbuka dan seseorang masuk ke sana.
Mata orang itu langsung memerah, dia sangat marah melihat Rico yang telah mencium Tasya.
" BERANINYA KAU LAKUKAN ITU!! "'
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Waduh ketahuan, bisa jadi masalah besar tuh untuk Rico...
__ADS_1
Bagaimana menurut kalian..????
ππππ