Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
87.Air mata haru


__ADS_3

Jalanan di sore hari begitu sangat ramai hingga mengakibatkan kemacetan yang begitu membuat semua orang merasa bosan dan juga jenuh harus menunggu hingga jarak beberapa meter untuk bisa kembali berjalan dengan normal.


Dengan penuh kesabaran yang extra Akhsan menunggu di tengah-tengah jalan di dalam mobilnya bersama Kairi. Mungkin mereka akan sedikit terlambat sampai rumah karena kemacetan yang menimpa mereka berdua.


Berkali-kali Akhsan mengeluarkan nafas berat demi kesabaran nya dengan keadaan kota yang terjadi setiap harinya. Namun hanya kali ini saja yang paling parah. " Huff, "


Kairi menoleh ke arah Akhsan tersenyum manis melihat Akhsan yang terus mengeluarkan nafas yang begitu berat. Dan juga keringat yang tiada henti keluar dari pori-pori Akhsan ya meskipun ada AC di mobilnya namun tetap saja terasa sangat gerah.


Kairi mengambil tisu dari dalam tas nya mengusap keringat Akhsan dengan pelan. " kasian kamu Mas. pasti sangat gerah ya. " ucap Kairi sembari tangan terus mengusap wajah Akhsan dengan tisu.


Akhsan menoleh, membalas senyuman dari Kairi dengan senyum yang manis pula. " bukan masalah yang berat. Sebentar lagi juga bisa jalan, dan kita akan sampai di rumah dan bisa istirahat. makasih ya. " Akhsan meriah tangan Kairi dan mengecup punggung tangan Kairi dengan begitu lembut.


" itu sudah kewajiban ku, Mas. " jawab Kairi.


Mata keduanya kembali menatap depan. Mobil perlahan-lahan bisa berjalan namun masih saja tetap berada dalam kemacetan.


Terasa ada sebuah bisikan, Akhsan menoleh ke samping. Dia pun terkejut dan tak percaya, melihat laki-laki tua yang dia dan Ikhsan gadang-gadang untuk dia bawa pulang menemui Oma nya dia adalah Joe.


" Opa Joe. " pekik Akhsan tak percaya.


Semakin jelas Akhsan menatap nya dan tetap saja dia adalah orang yang sama. Laki-laki yang rambutnya sudah berubah memutih, terdapat jenggot tipis yang berwarna sama dengan rambut nya, Kulit yang sudah berkeriput dan tubuh yang terlihat begitu kurus karena sepertinya tak begitu terurus.


Kairi mengikuti arah pandang Akhsan dan laki-laki tua itulah yang tertangkap pada mata Kairi, " dia siapa Mas? tanya Kairi bingung.


" Dia adalah Opa Joe. Opa dari Marco sekaligus kakak dari Oma " terang Akhsan. " Kairi apa kamu tidak keberatan jika kita mengikuti nya. Mas benar-benar ingin bertemu dengan nya. "


" tidak usah sungkan begitu Mas, kalau memang Mas mau ketemu kenapa tidak " jawab Kairi mengerti.


Akhirnya mobil kembali bisa berjalan. Akhsan pun bersikeras untuk mengejar mobil yang dinaiki Joe. Kemanapun dia harus bisa mengejar mobil itu dan bisa bertemu dengan Joe. Bahkan bukan hanya Oma nya saja yang merindukan nya tapi dia pun juga.


" inikan jalan menuju pemakaman, jadi.? Kesimpulan Akhsan sudah pasti bahwa Joe pasti akan ke makam.


Setelah setengah jam mobil terparkir di depan pemakaman umum. Terlihat Joe keluar dari sana dengan perlahan dengan tangan yang memegangi tongkat sebagai bantuan untuk berjalan.


Bukan hanya Joe saja yang terlihat keluar melainkan beberapa orang juga ikut keluar orang yang bertubuh kekar dan juga berseragam hitam , sepertinya mereka adalah anak buah dari Marco yang di tugaskan untuk menjaga Joe saat berada dimakan.


Orang itu memastikan tak ada orang di dalam pemakaman dan setelah itu Joe baru di perbolehkan untuk masuk sementara mereka menunggu di pintu masuk.


" ini pasti akan sangat sulit " gumam Akhsan.


Untung saja Akhsan selalu menyiapkan sesuatu di mobil dan itu pasti akan membantu dia bisa lolos dari anak buah Marco.


Akhsan mencari-cari semua barang-barang itu dan memakai nya dengan cepat di depan Kairi. " Kairi kamu juga harus ikut serta dalam permainan ini ok. " ucap Akhsan.


" Tapi Mas, Kairi takut " jawab Kairi yang benar-benar telah ketakutan.


" yakin lah semua akan baik-baik saja, ada aku kan yang bersamamu "


Kairi mengangguk patuh. menurut semua yang Akhsan minta. " baiklah "


Akhsan keluar dengan wajah baru. Wajah seperti orang tua dan juga sama dengan tongkat yang ada di tangan nya. Sementara Kairi hanya mengubah sedikit penampilan nya.


Kairi menggandeng lengan Akhsan menuntun nya selayaknya tengah menuntun kakek nya


" Yuk Mas, " ucap Kairi.


Langkah mereka tentu tak akan semudah yang mereka inginkan. Mereka harus melalui berbagai pertanyaan dari anak buah Marco. Dengan alasan ingin ke makam istrinya mereka bisa juga masuk dan tak lagi mendapatkan pertanyaan yang lebih panjang lagi.


" Alhamdulillah.. " keduanya bernafas lega akhirnya bisa masuk juga.


Dengan sekali menoleh ke belakang namun mereka sudah tak lagi di lihat Akhsan dan Kairi berlari dengan cepat tak mau sampai Joe selesai dan mereka tak bisa bertemu


🌾🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


" Riska, kenapa kau berikan beban yang berat ini pada Papa. Papa benar-benar sudah tak sanggup lagi, semakin lama Marco semakin berulah di luar batas. Papa sangat bingung, Papa juga takut kalau sampai Papa pergi sebelum membuat Marco mengerti, " Joe begitu lemah. Dengan ucapan yang sangat lemah pula Joe tak mampu menahan diri dan keluar lah air mata nya di depan makam anak dan menantunya.


" Arka, maafkan Papa ya. Papa belum bisa menjadikan Marco menjadi lebih baik. seandainya saja kalian tak pergi secepat ini mungkin Marco akan tumbuh menjadi pria yang penuh kasih sayang seperti kalian " Tangan Joe beralih ke Nisan Arka yang tepat di sebelah Riska.


" Kalian tau,? Marco sudah tumbuh menjadi seorang pria tampan sekarang, dia juga sangat sukses, perusahaan besar, dan semua usahanya pun berkembang pesat. Tapi hanya satu yang Papa sesalkan, Marco sekarang begitu kejam, dia selalu bertingkah buruk, dan yang paling Papa sesalkan hingga saat ini, Marco masih menyalahkan keluarga Tasya karena kepergian kalian "'


" Opa Joe, " lirih Akhsan menatap penuh sendu Joe yang masih memunggunginya.


Joe berbalik menatap dengan teliti siapa yang datang. pria muda yang sangat tampan, namun Joe ternyata melupakan itu karena dulu Akhsan masih sangat kecil saat mereka masih selalu bersama " kamu siapa.? tanya Joe bingung.


Akhsan berjalan mendekat dengan sesekali air mata yang turun begitu saja membuat Joe semakin bingung dan berdiri dengan pelan, sontak Akhsan membantunya dan langsung berhamburan memeluk Joe yang sangat kurus " Opa, ini Akhsan " ucap Akhsan tersedu-sedu.


" Akhsan.?


Akhsan melepaskan pelukan nya, mengangguk pelan dan juga mengusap air mata nya " iya Opa, ini Akhsan. Akhsan sangat merindukan Opa " Akhsan kembali memeluk Joe yang masih begitu terkejut dan tak percaya bisa bertemu lagi dengan salah satu keluarga dari adiknya kecilnya.


Joe melepaskan pelukan nya menangkup kedua pipi Akhsan menciumi nya hingga gak tersisa. Kerinduan begitu membuat Joe begitu bahagia saat bisa bertemu Akhsan. Air mata pun tak bisa tertahan dan luruh juga. " Akhsan, cucuku,? ucap Joe sendu dengan senyum tak percaya.


Akhsan mengangguk. " Ya Opa, Akhsan cucu Opa " jawab Akhsan.


" Cucu Opa sudah besar sekarang, cucu Opa juga sangat tampan. Maafkan Opa yang melupakan mu " Joe kembali memeluk Akhsan pertemuan ini begitu sangat menguras semua air mata nya. bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.


" Opa. " lirih Akhsan yang juga ikut menangis.


Kairi begitu terharu dengan pertemuan mereka berdua meskipun bukan Opa dan cucu kandung tapi kasih sayang mereka begitu besar.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Mata Ikhsan melihat Tasya di yang kembali termenung di emperan Pendopo. Dengan langkah tanpa ragu Ikhsan dan Juga Fatma mendekati Tasya dan duduk di sebelah nya.


" Oma kenapa? tanya Ikhsan perlahan.


Tasya menoleh. melihat Ikhsan yang sudah duduk di samping nya dan Fatma yang berada di belakang Ikhsan " Oma tidak apa-apa,kalian baru pulang,? kalian pasti sangat lelah bersih-bersih lah lalu istirahat, jaga kesehatan kalian " ucap Tasya.


Ikhsan menggenggam tangan Tasya, mencium punggung tangan nya dengan begitu lembut dan penuh hormat. " Oma kenapa,? cerita lah dengan Ikhsan. Mungkin Ikhsan bisa bantu "


" terus kenapa Oma sendiri di sini.? Opa dimana? tanya Ikhsan.


" Opa sedang istirahat,"


Ikhsan mengangguk.


Kring.. kring... kring...


Ponsel Ikhsan berbunyi, dengan cepat Ikhsan merogoh nya dari dalam saku jas nya dan melihat siapa yang menghubungi nya yang tak lain adalah Akhsan namun ternyata bukan hanya panggilan saja melainkan video call. Mata Ikhsan mengernyit tak biasa nya Akhsan akan melakukan video call seperti sekarang " tumben abang video call." gumam Ikhsan lirih namun masih tetap di dengar oleh Tasya dan juga Fatma.


" Assalamu'alaikum Bang. " ucap Ikhsan setelah mengangkat nya dan wajah mereka pun saling bertemu meskipun hanya lewat benda pipih itu.


"Wa'alaikumsalam... "


Mata yang sembab terlihat begitu jelas pada Ikhsan. apakah Abang nya tengah menangis,? kenapa, dan apa alasannya.? Ikhsan semakin bingung


"Abang kenapa.? bingung Ikhsan.


" kamu dimana sekarang. bisakah abang bicara dengan Oma "


" Oma.? abang nggak kenapa-napa kan.?


"tidak Ikhsan, cepatlah ada yang merindukan Oma. "


ponsel Ikhsan berikan pada Tasya. Tasya begitu terkejut tak percaya bisa melihat wajah yang selama ini dia rindukan. Wajah yang sudah bertahun-tahun tak pernah dia lihat.


" Kak Joe. " ucap Tasya terbata-bata.

__ADS_1


Mata Tasya terus mengeluarkan air mata namun bibir nya terus tersenyum. Meskipun hanya lewat video call saja seenggaknya Tasya bisa melihat dan Berbicara dengan kakak nya.


"Assalamu'alaikum, putri. "


" Wa'alaikumsalam, Kak Joe,. "


" putri,, apa kabar.? kamu sehat kan. Kak Joe sangat merindukan mu " Ucap Joe dari seberang sana dengan air mata yang ia tahan dan mencoba untuk terus tersenyum.


" putri baik-baik saja kak, gimana kabar Kak Joe, sehat kan. " Tasya mencoba tegar menghapus air mata nya dan menampilkan senyum yang mungkin ingin dilihat oleh Joe.


Percakapan yang penuh haru. Keempat pemuda-pemudi yang ada di sebelah mereka pun tak lepas dari air mata mereka. mereka senang sekaligus terharu dan penuh bahagia. Rasa yang tak bisa diungkapkan.


"maafkan Kak Joe ya. Kak Joe belum bisa membuat Marco mengerti. tapi kak Joe akan terus berusaha, kita harus yakin suatu saat nanti kita pasti bisa kembali berkumpul lagi seperti dulu lagi. kak Joe sangat merindukan mu, put. kak Joe merindukan kalian semua. Kak Joe rindu "


" putri juga sangat merindukan Kak Joe. putri sangat merindukan kakak. " sekeras apapun Tasya menahan air mata nya namun dia tak bisa. hingga dia terisak di hadapan wajah Joe yang terus menatap nya.


"kamu yang sabarnya. Dan jangan lupa doakan Kak Joe supaya berhasil. "


Tasya mengangguk pelan dengan tangan yang menghapus air mata nya. " putri akan selalu berdoa Kak, doa putri tak pernah berhenti untuk keberhasilan Kak Joe " Tasya semakin terisak.


"sudah jangan menangis kamu jelek karena itu. tersenyum lah Kak Joe merindukan senyum mu daripada air mata mu"


Tasya tersenyum mengusap air mata dengan kasar. " hehehe,, putri sudah tersenyum kan. "


Entah sejak kapan Fahmi datang dan sekarang sudah berdiri di belakang Tasya dan menaruh kedua tangan nya di kedua bahu Tasya. Tasya menoleh sekejap melihat wajah suaminya yang tersenyum melihat nya. " Abi lihat, siapa yang tengah bicara dengan bunda " ucap Tasya memperlihatkan wajah Joe pada Fahmi. dan Fahmi pun tersenyum.


" Assalamu'alaikum Kak Joe " sapa Fahmi.


"Wa'alaikumsalam, Fahmi. gimana kabar mu sehat kan?


" Alhamdulillah selalu dalam lindungan-Nya. bagaimana dengan Kak Joe.?


"Alhamdulillah, aku juga sehat Fahmi. Fahmi, aku titip adikku ya, jangan biarkan dia menangis terus karena aku. bilang padanya untuk selalu jaga kesehatan sampai aku datang dan kembali melindunginya. "


" itu pasti Kak Joe. aku akan selalu melindungi adik mu. dia akan selalu sehat bersamaku. cepatlah datang Kak. kami semua sangat merindukan Kak Joe "


" secepatnya, aku pasti akan segera datang. dan kita akan kembali bersama seperti dulu lagi. aku janji, aku tak akan pernah pergi sebelum aku datang pada kalian "


" Kak Joe, jangan ngomong gitu. kita akan bahagia bersama lagi seperti dulu kan. Bukankah Kak Joe berjanji akan selalu bersama putri dan selalu menjaga putri. jangan pernah berfikir akan pergi meninggalkan putri, biarkan putri yang lebih dulu pergi. karena putri tak akan sanggup, Kak. " ucap Tasya terisak.


" Sstt.. jangan bicara begitu, putri. Kak Joe janji akan datang. kita akan kembali bahagia bersama-sama. jaga kesehatan mu, Kak Joe sudahi telfon nya takut Kak Joe ketahuan "


Tasya mengangguk pelan. " ya. jaga kesehatan Kak Joe juga. Assalamu'alaikum..


"Wa'alaikumsalam...


Video Call berakhir. Masih dalam suasana haru Ikhsan memeluk Tasya dengan erat. sementara Fahmi merangkul kedua pundak Tasya dan juga Ikhsan dari belakang.


" Oma, yang sabar ya. Ikhsan dan Abang akan berusaha membantu Opa untuk membuat Marco mengerti, Oma jangan sedih lagi. " ucap Ikhsan.


Tasya mengangguk dan tersenyum. mengelus pipi Ikhsan dengan pelan " iya sayang. Oma akan bersabar. cepatlah bawa Opa Joe datang kesini. kita harus kembali bahagia seperti dulu lagi. "


" sudah sudah, jangan bersedih lagi. kita berdoa bersama-sama semoga waktu itu akan segera datang. dan kita bisa bersatu lagi. " ucap Fahmi.


Sementara Fatma yang berdiri di belakang Ikhsan pun tak lepas dengan keharuan yang sama. Fatma pun juga mengeluarkan air mata nya tadi.


Ternyata masalah nya sungguh lah rumit. semuanya merasa tersiksa hanya karena keegoisan dan dendam sari satu orang saja, Marco.


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


**Haduh mewek aku. 😭😭😭😭😭

__ADS_1


Astaga πŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈ


Siapa dari kalian yang ikut mewek saat baca ayo tunjuk jari.. ☝☝☝☝☝**


__ADS_2