Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
244. Positif


__ADS_3

Happy Reading..


______


Alvaro begitu menggemaskan berada di gendongan Akhsan. Bocah kecil itu bahkan terus tersenyum senang saat di ajak melihat ikan-ikan yang ada di dalam aquarium besar di rumah Ikhsan.


Ikan yang berwarna-warni dengan berbagai jenis itu begitu mengundang perhatian Alvaro, dia tak sedikitpun mengalihkan matanya dari aquarium itu.


"Apa Alvaro suka? besok di rumah Alvaro di kasih ikan juga, mau? " tanya Akhsan. Meskipun bocah itu belum menjawab tapi Akhsan tetap semangat untuk mengajaknya bicara.


Saat Akhsan ingin pergi dan pindah ke tempat lain, Alvaro sepertinya tidak mau dia menangis saat matanya berpaling dari ikan-ikan yang mungkin belum menakjubkan untuk nya.


"Alvaro suka ya, mau lihat terus ya? " tanya Akhsan. Memang ya, mengajak seorang anak yang belum bisa bicara itu kita seperti orang kehilangan kewarasannya, bicara sendiri kadang juga di jawab sendiri.


Tapi itu tak menjadi masalah besar untuk setiap orang tua, karena itu adalah cara mereka memperkenalkan anak bagaimana dia berbicara.


"Assalamu'alaikum... " Ikhsan masuk dengan nafas yang tersengal-sengal dia seperti berlari dari parkiran, mungkin dia sudah tidak sabar untuk mengantarkan apa yang dia beli untuk Fatma.


"Wa'alaikumsalam...," jawab Akhsan seraya menoleh, memutar badannya dan berjalan menghampiri Ikhsan, "cepet banget, sudah tidak sabar ya? "


"Dek, kamu benar-benar pernah melakukannya tanpa pengaman?" tanya Akhsan.


"Kalau aku belum pernah nggak mungkin kan Bang, Ikhsan sampai seperti ini. Lagian saat itu aku benar-benar semangat sampai-sampai kelupaan, tapi setelah merasa lebih enak aku tak lagi pernah pakai pengaman lagi sampai sekarang," jawab Ikhsan.


"Dasar anak bandel, dah di bilangin juga. Untung hanya tinggal satu bulan lagi Fatma ujiannya, jadi kalian masih bisa menyembunyikannya kalau masih lima bulan lagi? Kan repot," ucap Akhsan.


"Ya ini saja belum di pastikan kan, Bang! tapi semoga memang benar sesuai perkiraan. Jadi Ikhsan lega karena ini hanya pengaruh pergantian hormonnya bukan karena dia benar-benar sedang sakit."


"Sudah ya, Bang! Ikhsan masuk dulu," imbuh Ikhsan dan ingin cepat bergegas.


Baru juga satu langkah Akhsan menghentikannya lagi.


"Dek, kalau lebih cepat terlihatnya itu kalau pagi. Jadi besok pagi saja Fatma suruh tes nya." ucap Akhsan memberikan saran.

__ADS_1


"Tenang aku beli dua. Satu untuk sekarang dua untuk besok." Ikhsan terkekeh sendiri, dia juga langsung berlari meninggalkan Akhsan di sana.


"Dasar sableng tuh anak," Akhsan di buat tak percaya dengan Ikhsan yang begitu antusiasnya, dia begitu semangat mungkin dia juga sangat ingin memiliki baby seperti Akhsan juga.


______


Ikhsan masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, dia sudah tak sabar ingin melihat hasilnya. Saat dia masuk bukan hanya Khairi saja yang ada di sana tapi juga ada Nesa juga Jio yang sama-sama mengkhawatirkan keadaan Fatma.


"Assalamu'alaikum..! " seru Ikhsan tak sabaran.


Semua orang menoleh ke arah Ikhsan yang kini sudah semakin dekat. Ada kresek putih yang Ikhsan bawa sepertinya isinya juga tak hanya satu kotak saja.


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab semuanya bersamaan.


Semua mata tertuju pada Ikhsan dengan semua kegiatannya. Mulai dari dia berjalan dengan cepat, memberikan kresek itu kepada Fatma juga dia yang langsung duduk di sebelah Fatma.


Ikhsan cepat membuka kresek itu dan ternyata benar, tidak hanya satu kotak saja obat yang dia beli, ada hampir delapan kotak obat yang ada di dalam itu dengan berbagai rasa.


Semua di buat ternganga dengan apa yang di beli oleh Ikhsan, padahal Fatma hanya butuh satu saja dan rasanya diantara tiga rasa yang tadi dia katakan tapi Ikhsan malah membelikan komplit semua rasa, bahkan ada juga yang herbal.


"Mas, Mas..., kenapa harus banyak sekali obatnya? apa harus sebanyak ini juga?" tanya Fatma tak percaya.


"Ya, ya karena aku bingung mau pilih yang mana dan rasa apa, jadi aku belum sekalian semua ini," jawab Ikhsan begitu enteng.


"Dan..., dan aku juga membeli ini," ragu-ragu Ikhsan mengeluarkan dua testpack yang dia beli juga. Bahkan dia juga mengeluarkan tak semuanya dia malu saja karena ada Khairi juga mertuanya.


Fatma melongo, kenapa juga harus membeli satu barang itu. Lagian siapa juga yang akan menggunakannya?


"Siapa yang akan menggunakannya? " Fatma mengernyit, namun beberapa detik kemudian dia mengangkat tangannya dan jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri, "Fatma? " ucapnya. Ikhsan mengangguk cepat siapa lagu kalau bukan Fatma nggak mungkin orang lain atau Ikhsan kan?


_______


Tinggallah Ikhsan juga Fatma di dalam kamar, keduanya begitu antusias untuk memeriksa apa yang menjadi perkiraan mereka. Keduanya begitu was-was, saat Fatma masuk ke dalam kamar mandi Ikhsan terus mondar-mandir di depan pintu.

__ADS_1


Ikhsan sungguh tak sabar menunggu, semoga apa yang dia harapkan benar-benar terjadi. Semoga Allah memberikan kepercayaan kepada mereka berdua.


"Fatma sayang! Sudah belum! " Tangan terus mengetuk pintu tak sabar.


Tak ada jawaban dari Fatma, membuat Ikhsan semakin tak karuan perasaannya. Apakah mungkin...?


Pintu terbuka dengan sangat lebar, mata Ikhsan begitu tajam menatap Fatma yang wajahnya seolah datar dan biasa-biasa saja.


"Bagaimana?" Tanya Ikhsan.


"Hemm...," bibir Fatma berkedut. Ikhsan sudah kecewa karena itu. Berarti memang belum saatnya mereka mendapatkan kepercayaan. Masih harus bersabar lagi, dan memantaskan diri untuk menjadi orang tua yang baik.


Tiba-tiba Fatma tersenyum, dia memeluk Ikhsan dengan sangat erat.


"Hasilnya positif, Fatma benar-benar hamil.. " ucap Fatma.


Ikhsan terdiam, dia belum juga membalas pelukan dari Fatma sepertinya Ikhsan masih mencerna apa yang Fatma katakan padanya.


Fatma melepaskan pelukan, memandangi Ikhsan yang masih terdiam tanpa kata-kata.


"Kenapa Mas seperti itu, apa Mas tidak bahagia?" tanya Fatma yang kembali berkedut.


Bukan tidak bahagia tapi Ikhsan masih tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata. Dia begitu bahagia sampai dia tak mampu mengatakan apapun dengan bibirnya dan malam air mata haru yang keluar dari matanya.


"Tuh kan, Mas Ikhsan malah menangis," Fatma memalingkan wajah dia ingin pergi karena kecewa dengan tingkah Ikhsan sekarang.


Baru saja satu langkah Ikhsan langsung menarik lengan Fatma dan bergantian dia yang memeluknya.


"Terima kasih, Fatma. Terima kasih. Kamu telah membuat ku sempurna. Terima kasih," ucapnya di iringi dengan air mata bahagia.


"Mas, mas tidak sedih kan? Mas bahagia kan? " ucap Fatma. dia juga menitihkan air matanya.


_____

__ADS_1


Bersambung...


_____


__ADS_2