
Happy Reading...
Ujian kelulusan telah tiba, semua begitu fokus dan berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Semua tampak serius dengan soal soal yang sudah ada di depan mata, kepala terus berpikir dan tangan terus bergerak mencoret-coret kertas putih yang ada di depan mata. Apalagi saat ini adalah soal matematika yang begitu sangat rumit.
Kecuali dengan Fatma, dikala semua teman-teman begitu fokus kini dia malah terlihat tak semangat. Rasanya juga sangat tidak enak karena kali ini hal yang tak biasa malah terjadi kepadanya.
Biasanya dia tidak mengalami mual sama sekali tetapi sekarang dia mengalami mual juga pusing dan sangat lemah.
Padahal tadi sebelum berangkat dia sangat baik-baik saja tapi sekarang sangat berbeda berbelok seratus derajat dari sebelumnya.
Sesekali tangannya masih bisa bergerak untuk menghitung dan mengerjakan beberapa soal tetapi sesekali juga dia menempelkan keningnya di atas meja, Fatma begitu sangat pusing.
''Astaghfirullah hal 'azim... kalau begini bagaimana aku bisa menyelesaikan semua soalnya. Aku harus bisa ini adalah hari-hari terakhir yang akan sangat menentukan kelulusanku. Sayang, kamu baik-baik saja ya, Mama mohon jangan seperti ini.''
Fatma hanya bisa bergumam dengan wajah yang menunduk, suaranya sangat lirih dan tak akan mungkin bisa di dengar oleh siapapun.
''Fatma, kamu kenapa, kamu sakit?'' tanya guru pengawas. Guru itu melangkah menghampiri dan Fatma juga langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar teguran dari guru pengawas.
''Hemm... saya tidak apa-apa kok ,Bu. Hanya sedikit pusing saja,'' jawab Fatma berbohong.
Fatma kembali mengerjakan soalnya lagi, meski harus berusaha keras untuk menahan rasa mual juga pusing. Fatma hanya bisa pasrah mengenai hasil akhirnya.
__ADS_1
Jika nilainya buruk dia tak peduli lagi, meskipun Ikhsan akan kecewa padanya tak masalah baginya karena kali ini dia benar-benar merasa sangat tidak enak.
Walaupun dia mendapatkan nilai buruk dan mungkin tidak akan lulus maka biarkan saja.
Hingga usainya jam pertama Fatma masih terus menahannya, hingga kini dia benar-benar tidak tahan lagi. Fatma berlari keluar lebih dulu padahal guru pengawas juga masih ada di sana dan baru saja akan mengucapkan salam sebagai akhir dari jam pertama.
Semua yang ada di sana juga sangat terkejut dengan Fatma yang tiba-tiba berlari keluar tanpa pamit terlebih dahulu. Sepertinya dia juga sangat mual karena tangannya terus memegangi perutnya dan menutupi mulutnya.
"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh.." ucap guru pengawas sembari mata melirik Fatma.
"Wa'alaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh...!" Jawab para murid dengan serentak.
"Cepat, Mir!" ajak Santi yang sudah sangat mengkhawatirkan Fatma yang entah apa yang terjadi kepada satu sahabatnya itu.
"Iya, ini juga sudah berlari!" kaki Mirna mengayun dengan sangat cepat untuk mengejar Santi yang sudah ada di depannya.
Tujuan mereka berdua adalah toilet wanita yang ada di paling ujung.
"Astaga, kenapa terasa jauh sekali sih!" gerutu Mirna.
"Ya Allah, semoga Miss Fatma tidak kenapa-napa," ucap Santi.
__ADS_1
Sementara di dalam toilet Fatma sudah mengeluarkan semua cairan yang ada di dalam perutnya. Fatma semakin lemas tak ada daya setelah semuanya berhasil keluar.
Baru kali ini dia merasakan mual yang luar biasa selama dia hamil karena biasanya dia tak mengalami apapun, tetapi kali ini? Kenapa sangat berbeda.
Fatma hanya merasa sangat bingung saja, kenapa harus sekarang kenapa tidak mulai dari kemarin saja? Kenapa juga dia merasakannya pas di hari ujian yang seharusnya dia fokus.
Karena rasanya yang sangat tidak nyaman membuat Fatma tak bisa fokus juga tidak bisa berpikir dengan benar. Bahkan Fatma menjawab semuanya juga dengan asal-asalan, entah lah! Mau benar atau salah itu urusan belakangan.
"Ini kah yang di rasakan oleh wanita hamil?" gumamnya.
"Hamilll!!" Pekik Mirna juga Santi secara bersamaan.
Setelah jam istirahat Ikhsan yang juga datang ke sekolah bergegas untuk mencari keberadaan Fatma. Tidak seperti biasanya yang tak merasakan apapun tetapi saat ini Ikhsan sangat merasa tidak enak, dia khawatir dan pikirannya sangat tidak tenang.
Baru juga keluar dari ruangan kantor dan melangkah beberapa langkah saja dia kembali berhenti karena di panggil oleh Suci.
"Pak Ikhsan!" Suci berlari kecil untuk menghampiri Ikhsan yang kini sudah berhenti dan menoleh.
Ikhsan sangat malas menanggapi, tetapi dia merasa tidak enak juga sih apalagi semua guru juga melihatnya. Takut di kira sombong saja kan.
"Pak Ikhsan mau ke kantin?" Suci berhenti tepat di samping Ikhsan. Senyuman manis selalu saja dia keluarkan saat berhadapan dengan Ikhsan tapi tetao saja tidak akan membuat Ikhsan merasa kepincut, Ikhsan malah merasa ilfil saja sih.
"Tidak, saya ada urusan sebentar. Permisi Bu Suci," Menghindarinya lebih baik daripada dia tetap ada di sana apalagi kalau sampai Fatma melihatnya bisa-bisa akan ada masalah kan?
"Tapi, Pak?!" Suci hendak menghalangi tetapi Ikhsan sudah tidak peduli dia tetap melangkah dengan cepat pergi dari hadapan Suci.
"Aku harus tau, kemana sebenarnya mau kemana pak Ikhsan."
Suci pun mengikuti Ikhsan dengan jarak jauh. Dia sangat penasaran sebenarnya apa yang akan Ikhsan lakukan atau mungkin siapa orang yang akan dia temui.
__ADS_1
Bersambung....