Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
70. Kenangan masa lalu


__ADS_3

Seorang laki-laki tua tengah terduduk seorang diri di sebuah sofa di rumah yang begitu sangat besar dan sangat mewah. Rumah yang hampir keseluruhan berwarna kuning keemasan itu nampak begitu sepi hanya ada laki-laki tua dan juga beberapa asisten rumah tangga yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Dengan sesekali meneguk teh yang di sediakan oleh salah satu asisten rumah tangga laki-laki itu merasa begitu ngilu. hidup nya terasa begitu kesepian dia tinggal dengan kedua cucu laki-laki nya yang sangat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Istri nya sudah tiada meninggalkan nya lima tahun yang lalu sedangkan anak dan menantunya juga telah pergi lebih dahulu karena sebuah tragedi yang merenggut nyawa mereka dan akhirnya mereka harus terpisah di alam yang berbeda.


Laki-laki itu duduk menyenderkan punggung nya setelah menaruh tongkat yang sempat dia bawa tadi untuk membantunya berjalan. Kekuatan dan juga ke kecerdikan nya dulu ternyata sudah sangat tak berguna sekarang semua itu hanya menjadi sebuah kenangan yang membuat nya tersenyum hambar saat mengingat nya.


Meskipun begitu dia begitu bangga dan bahagia bisa berada di posisi itu. Dia bisa berguna untuk orang yang lemah dan bisa membantu orang yang sangat membutuhkan dan juga menjadi asisten beserta partner yang terbaik untuk seorang perempuan yang sangat luar biasa.


Senyum kecil mengembang saat mengingat seorang gadis kecil yang selalu bersamanya. Gadis kecil yang dia temukan di jalan dan sudah menjadi seperti adiknya sendiri


"Kak. putri minta gendong, putri sangat lelah. lihat lah kaki putri melepuh semuanya karena jalan nya begitu panas, " rengek seorang gadis kecil itu.


" coba kakak lihat " laki-laki itu membungkuk di hadapan putri, mengelus lalu meniup kaki putri yang memerah. " apa masih panas.?


" ini begitu panas kak, nanti putri harus bekerja lebih keras lagi supaya putri bisa beli sendal untuk putri dan untuk kakak. kakak juga harus memakai sendal kalau tidak kaki kakak juga akan melepuh seperti punya putri. " ucap putri begitu polos nya.


laki-laki itu tak lain adalah Joe. seorang laki-laki yang pertama kali melihat putri itu begitu sangat menyayangi gadis kecil yang selalu memanggilnya kak Joe. keadaan mereka yang sama sebatang kara dan hanya hidup di jalanan membuat keduanya langsung bisa saling melengkapi dan memberikan kasih sayang.


Joe berbalik badan dan masih setia dengan berjongkok di hadapan putri " yuk Naik lah di punggung kak Joe. kaki mu harus terhindar dari panas nya jalan ini kalau tidak nanti kaki mu akan terbakar " ucap Joe begitu tulus.


" mana ada kaki terbakar, kak Joe jangan bohongi putri. di sini tidak ada api mana bisa kaki putri akan terbakar. " oceh gadis itu.


" bukan seperti itu maksudnya putri sayang, nanti kalau kamu terus berjalan nanti kakimu akan semakin bengkak dan sangat panas seperti terbakar " terang Joe begitu lembut dengan kepala menengok ke belakang dan mata yang melirik.


" tidak usah Kak, putri bisa jalan sendiri putri kan kuat. kalau hanya begini saja putri menyerah bagaimana putri akan menghadapi orang-orang jahat seperti kemarin. putri harus menjadi orang yang paling kuat dan tak terkalahkan setelah besar nanti. dan putri berjanji akan selalu melindungi Kak Joe. dan pokoknya Kak Joe harus selalu ada untuk putri." ucap putri begitu polos.

__ADS_1


" baiklah. adik Kak Joe akan jadi gadis yang sangat kuat dan akan melindungi semua orang dan akan menolong semua yang membutuhkan, " jawab Joe.


" sekarang Kak Joe berdiri dan jangan pergi membungguk di hadapan putri, Kak Joe adalah Kakak putri tak pantas kalau seperti ini, seperti putri yang tidak sopan pada kak Joe "'


Putri memutar berdiri di hadapan Joe menarik tangan Joe membantu nya berdiri meskipun dia merasa begitu sangat berat namun dia terus berusaha kuat hingga bibir nya mengerucut ke depan dengan mata yang menahan beban dan wajah yang mengeluarkan expresi yang begitu menggemaskan. " ayo Kak," .


" Terima kasih putri " ucap Joe setelah berhasil berdiri di hadapan putri.


" Kak lihat lah di sana banyak botol dan kardus kita bisa mengambil nya dan menjual nya untuk mendapatkan uang dan membeli sendal " ucap putri antusias, tangan nya menunjuk tempat pembuangan sampah. " ayo Kak kita ke sana sebelum kedahuluan yang lain " tangan satu putri menarik Joe dan mereka berdua berlari bersama dalam kaki yang sangat kepanasan.


Ya. laki-laki tua yang tengah tersenyum seorang diri itu adalah Joe, kakak, asisten, sekaligus partner kerja dari Anastasya Wilona Putri. Usia nya sudah sangat tua dan semua itu hanya menjadi kenangan yang bisa menjadi bahan cerita untuk kedua cucunya.


Joe tersenyum miris. dia begitu sangat merindukan senyum gadis kecilnya merindukan wajah lucunya yang selalu merayunya dan memberikan semangat padanya merindukan suara indah itu lagi untuk memanggilnya , Kak Joe.


"'Kak Joe,,,!!!


panggilan itu begitu sangat dia rindukan dan semua itu sekarang hanya bisa menjadi sebuah harapan saja yang tak mungkin akan terwujud hingga akhir hidup nya nanti. satu keinginan nya sekarang dia hanya ingin bisa melihat senyum itu lagi mendengar panggilan itu lagi sebelum dia pergi untuk selamanya karena usianya yang tak lagi muda dan tak tau entah kapan Tuhan akan memanggilnya.


Joe tersentak. Senyum nya hilang mendengar suara yang begitu menyakiti telinganya. mata Joe tertutup sekejap bagaimana dia akan memberikan pengertian pada satu cucunya kalau semua itu tidak lah benar semua yang terjadi adalah kecelakaan bukan salah dari keluarga gadis kecilnya yang sekarang juga sudah tua seperti nya.


" Sampai kapan kau akan mengerti, Marco. semua itu adalah kecelakaan bukan kesalahan mereka. " ucap Joe begitu bersikeras memberikan pengertian pada Marco yang seperti nya memang tak mudah mengerti.


" Bedebah dengan perkataan Opa, sampai kapan pun mereka akan tetap menjadi pembunuh dan Marco akan membalas semua yang mereka lakukan pada Mama dan Papa. mereka semua juga harus merasakan penderitaan yang sama seperti yang Marco rasakan. " Marco begitu tersulut dalam emosi dendam nya begitu sangat memenuhi isi hatinya dan menghapus semua kasih sayang yang dulu pernah ada


" Marco,,!!! sampai kapan kamu akan seperti ini, mereka tidak bersalah mereka keluarga mu dan akan tetap menjadi keluarga mu.,,!!


Prangg,,,,

__ADS_1


Marco membanting Vas yang ada di hadapan nya hingga hancur berkeping-keping semua itu sama seperti hancur nya hati Marco saat menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan kedua orang tuanya di waktu yang bersamaan.


" keluarga,? cuihh,, keluarga yang seperti apa maksud Opa,? keluarga yang membunuh keluarga nya sendiri keluarga yang tega memisahkan anak dari orang tuanya. mereka bukan keluarga kita mereka hanya seorang yang Opa pungut dari jalan dan Opa jadikan keluarga. dan sekarang apa yang Opa dapatkan,? Opa harus kehilangan semua keluarga Opa karena mereka,,!!


" Marco,,!! sentak Joe keras dengan suara yang tak sekeras dulu lagi.


" ingat ini baik-baik Opa. sampai kapan pun Marco tidak akan puas sebelum mereka hancur. Marco akan pastikan mereka semua menderita,," Marco berjalan pergi dan kembali menoleh pada Joe, " satu lagi. jangan pernah bermimpi untuk Opa menemui mereka, karena sampai kapan pun Marco tak akan pernah mengizinkan Opa melihat mereka lagi sebelum mereka benar-benar telah hancur. jadi berdoa saja supaya mereka cepat hancur dan saat itu Opa akan bisa melihat wajah wajah mengenaskan dari mereka semua. " Marco pergi dengan cepat setelah mengatakan itu pada Joe.


" Marco,,,!! Opa mohon hentikan kegilaan kamu,,!! atau kamu sendiri yang akan hancur,,!! teriak Joe namun sudah tidak di gubris oleh Marco yang sudah lebih dahulu pergi.


Bulir-bulir bening keluar dari mata tua Joe, tubuh nya melemas di sofa. hatinya sangat hancur mendengarkan kebencian cucunya pada gadis kecil nya. " kenapa semua ini harus terjadi " lirih Joe dan membiarkan air mata itu turun begitu saja.


" Arka, Riska. kenapa kalian pergi meninggalkan dendam di hati anakmu. bagaimana Papa akan membuat nya mengerti. Papa sudah sangat tua, tolong bantu Papa menjelaskan semua ini bahwa keluarga putri tidak bersalah. " ucap Joe yang semakin terisak.


Joe beranjak dari sofa berjalan perlahan menuju kamar nya dengan bantuan tongkat yang selalu menemani nya. hatinya yang lemah tak ingin di lihat oleh penghuni lain di rumah itu. meskipun sedari tadi para asisten mendengarkan perdebatan antara cucu dan kakek nya sembari dan ikut merasakan kesedihan yang Joe rasakan.


" Sampai kapan tuan besar akan menanggung penderitaan ini. kenapa tuan Marco begitu keras kepala dan tak bisa menerima kenyataan." ucap salah satu dari asisten.


" kasian tuan besar. di usianya sekarang seharusnya dia merasakan kebahagiaan mendapatkan semua kasih sayang dari orang-orang yang dia sayang, tapi seperti nya dia tak akan bisa mendapatkan itu, coba saja tuan Farel pulang, pasti tuan besar akan mendapatkan perhatian itu darinya. " ucap yang lain nya.


"'tuan Farel mana mungkin akan pulang secepat ini, meskipun dia berada di kota ini tetap saja dia tak bisa pulang seenaknya sendiri. pesantren tempatnya menimba ilmu tak akan mungkin mengizinkannya sering-sering pulang. "


" semoga saja tuan Farel cepat selesai dari pesantren. aku sudah tak tega melihat tuan besar seperti ini terus "


" amin,, semoga saja. "


" sudah yuk selesai kan pekerjaan kita kalau tidak kita akan kehilangan pekerjaan hari ini juga " .

__ADS_1


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


__ADS_2