Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
198.Keram


__ADS_3

______


Happy Reading...


__________________


" Aww..! " Kairi membungkuk, tangannya memegangi perutnya saat dia merasa sedikit keram. Dia sedikit meringis, meskipun tidak terlalu sakit namun sangat terasa.


Akhsan yang berjalan di sebelahnya langsung terkejut dan merangkul Kairi, dia terkejut sekaligus langsung panik. Ini adalah hal yang pertama ki untuk Kairi, dia belum pernah merasakan keram pada perutnya, bahkan selama kehamilannya dia belum pernah mengalami masalah.


" Kairi, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?. " Tanya Akhsan panik.


Kairi belum menjawab dia masih terus meringis menahan sakit sembari tangannya tak terlepas dari perutnya.


Karena sangat khawatir Akhsan langsung mengangkat tubuh Kairi dan berjalan cepat untuk pergi dimana mobilnya berada.


" Kita hanya ke rumah sakit. " Ucapnya.


Akhsan begitu takut, dia khawatir sesuatu terjadi pada kehamilan Kairi, dengan cepat dia harus membawanya ke rumah sakit dan mengetahui hasilnya.


" Semoga semuanya baik-baik saja. " Gumam nya lagi.


Dengan pelan Akhsan menurunkan Kairi di kursi mobil, menutup pintanya dan berlari memutar.


Akhsan begitu buru-buru masuk ke dalam mobil dia menyalakan mesin dengan sangat gugup, bahkan tangannya sedikit gemetar.


" Kamu yang sabar, Sayang. Semua pasti akan baik-baik saja. " Pelan-pelan mobil mulai berjalan meninggalkan kampus dimana mereka berada saat ini.


_____


Akhsan terus menggendong Kairi untuk masuk ke rumah sakit dan menemui dokter yang biasa menangani Kairi, untung di bagian poli ibu hamil tidak ada yang antri jadi Akhsan bisa langsung masuk.


Suster yang melihat Akhsan pun ikutan panik, dia mengarahkan Akhsan untuk menidurkan Kairi di brangkar.


" Ke sini, Pak. " Ucapannya.


Akhsan langsung mengikutinya.


" Dok.. Dok.. Tolong periksa istri saya. " Akhsan menurunkan Kairi di brangkar dan dokter pun langsung berlari dan segera memeriksa Kairi.


" Apa yang terjadi, Pak!. " Tanya Dokter wanita itu.


Tangannya mulai memeriksa Kairi yang sepertinya sudah tidak terlalu merasakan sakit seperti tadi.

__ADS_1


" Tadi, tiba-tiba dia merasakan sakit, Dok. " Jawab Akhsan yang setia menemani Kairi saat pemeriksaan berlangsung.


Beberapa saat keheningan terjadi, namun Akhsan terus khawatir dan terus memohon semua kebaikan pada sang penguasa, sementara dokter masih fokus.


Semua pemeriksaan di lakukan bahkan USG pun juga tak ketinggalan. Dokter itu tersenyum, sepertinya itu bukanlah masalah besar.


" Istri anda tidak apa-apa pak, dan janinnya pun juga sehat. Mungkin Ibu hanya kelelahan saja. " Ucapnya.


" Beneran tidak apa-apa, Dok." Tanya Akhsan yang masih tak percaya, secara dia melihat sendiri saat Kairi begitu kesakitan.


" Tidak apa-apa, Pak. Yang terpenting Ibu jangan terlalu banyak beraktivitas yang berat-berat dan harus banyak istirahat. Saya akan berikan anda resep dan harus di minum tepat waktu. " Ucapnya.


Akhsan dan Kairi duduk di hadapan sang dokter, menunggu resep yang masih di tulis oleh nya. Akhsan merasa sangat lega karena tidak terjadi apa-apa pada Kairi dan janinnya.


" Ini resepnya, Pak. Anda bisa menebusnya di apotik depan." Ucapnya.


" Terima kasih, Dok. " Selembar kertas bercoretkan resep sudah Ada di tangan Akhsan sedikit dia melihat coretan itu sebelum dia pamit.


____


" Assalamu'alaikum... "


" Wa'alaikumsalam.. " Teriak seorang dari dalam rumah.


Orang yang datang itu adalah Keisha, dia ingin melihat-lihat rumah baru Akhsan dan juga dia merasa rindu dengan anak dan menantu nya.


" Silahkan masuk, Nyonya. " Ucap asisten itu.


Keisha tersenyum dia juta mengangguk sebagai jawaban dan langsung mengikuti langsung asisten itu.


" Akhsan dan Kairi belum pulang, Bik?. " Tanya Keisha.


" Belum, Nya. Mungkin sebentar lagi. " Jawab nya dengan penuh hormat. " Silahkan duduk, Nya. Biar saya ambilkan minum. "


Keisha langsung duduk dengan tenang, sembari mengamati setiap titik ruangan. Cukup indah dan elegan, tidak terlalu wow tapi sangat nyaman.


Bukan hanya ke tempat Akhsan saja tujuan Keisha hari ini, tapi juga tempat Ikhsan yang ada di sebelahnya. Kalau tidak mungkin nanti Ikhsan akan menggerutu kesal.


" Assalamu'alaikum.. " Akhsan masuk dalam tiba-tiba sembari menggendong Kairi, meskipun Kairi masih kuat jalan namun dia sama sekali tak membiarkan Kairi berjalan sendiri.


Keisha yang melihat langsung terkejut sekaligus panik, kenapa Kairi harus di gendong oleh Akhsan. Keisha berlari menyambut anak dan menantunya itu dengan wajah gelisah, dia takut ada sesuatu yang terjadi pada Kairi.


" Akhsan, ada apa ini?. " Tanya Keisha yang akhirnya membuntuti Akhsan ke ruang tengah, dimana Keisha duduk tadi.

__ADS_1


Akhsan masih diam dan langsung menurunkan Kairi di sofa. " Tidak ada apa-apa, Ma. " Jawab Akhsan yang akhirnya angkat bicara.


" Tidak apa-apa bagaimana? Kalau tidak ada apa-apa pasti Kairi akan jalan sendiri!, " Seru Keisha, " Kamu kenapa, Sayang. " Tanya Keisha kali ini di peruntukkan pada Kairi.


" Tidak ada apa-apa, Ma. Tadi perut Kairi sedikit keram, dan sekarang sudah tidak apa-apa. Hanya Mas Akhsan saja yang terlalu berlebihan, Ma."


" Kok bisa!. " Keisha tersentak," Tapi sekarang nggak apa-apa kan?. "


" Nggak apa-apa, Ma. Tadi juga udah di periksakan ke dokter dan semuanya baik-baik, Kairi hanya kelelahan saja, Ma. " Jawab Akhsan.


" Astaghfirullah, Sayang. Mama kan udah peringatkan kamu untuk tidak terlalu capek, jangan banyak melakukan pekerjaan apapun dan harus banyak istirahat. " Ucap Keisha menasehati.


" Iya, Ma. Maaf. " Jawab Kairi menyesal.


Tak berapa lama bibi datang sembari membawa nampan, ada dua cangkir di atasnya dan juga satu piring berisikan cemilan hangat yang baru saja matang.


" Silahkan minumnya, Nya. " Ucapnya sembari tangannya menaruh pelan dua cangkir dan satu piring tersebut.


" Bapak, mau kopi atau teh juga?. " Tanya Bibi itu.


" Teh saja, Bi. Dan jangan terlalu manis. " Jawab Akhsan.


Setelah mendapatkan jawaban dari Akhsan Bibi kembali berdiri dan bergegas pergi lagi ke dapur untuk mengambilkan teh yang di minta Akhsan.


Akhsan mengambil cangkir itu dan memberikannya pada Kairi, membantunya untuk Kairi minum, Akhsan tidak mau Kairi terlalu banyak bergerak dulu, dia harus istirahat total.


" Di minum, biar kamu lebih tenang. " Ucap Keisha pelan sembari mengelus bahu Kairi.


" Iya, Ma. " Kairi mengangguk dan langsung menerima perlakuan manis itu dari Akhsan. Begitu manis perlakuan Akhsan pada Kairi, dia sangat sayang dan sangat menghargai Kairi. Baginya, tugas Kairi lebih berat dari pada dirinya.


Seorang suami harus bisa memastikan istrinya nyaman dan bahagia di sisinya dalam semua hal, suami tidak bisa melalui apa yang di menjadi kodrat seorang istri, dalam mengandung dan melahirkan, maka dari itu Akhsan begitu siap menjaga dan memastikan semua kebutuha dan juga keselamatan Kairi san juga calon bayinya.


" Kamu harus banyak istirahat, Sayang. Untuk semua pekerjaan kan ada Bibi. " Ucap Akhsan.


" Iya, Kai. Kamu harus jaga dirimu baik-baik


Jangan sampai kamu kelelahan dan semua akan berimbas pada anakmu. " Imbuh Keisha menasehati.


" Iya, Mas, Ma. " Jawab Kairi.


_____


Bersambung..

__ADS_1


_______________


__ADS_2