
Akhsan dan Ikhsan berjalan dengan cepat.
masuk ke markas tersembunyi milik mereka berdua. Tekat mereka berdua begitu kuat, mereka harus segera mencari tau siapa dalang di balik ledakan di kediamannya yang mengakibatkan kebakaran.
" Assalamu'alaikum " ucap salam mereka berdua bersamaan setelah masuk ke ruangan yang begitu banyak monitor besar besar yang menunjukkan semua lokasi yang mereka pasang kamera tersembunyi.
Arlan yang sudah di beri tau akan kedatangan mereka berdua sudah stay di tempat, menunggu kedatangan kedua ketuanya.
" Wa'alaikumsalam, Bos" Jawab Arlan senbari menunduk hormat.
Akhsan dan Ikhsan berhenti tepat di depan Arlan, dimana terdapat monitor yang menunjukkan tempat kejadian tadi malam.
" bagaimana, apa kamu sudah mencari tau? apakah semua itu terjadi karena ulah tangan manusia? " tanya Ikhsan tak sabaran.
Akhsan memilih diam membiarkan Ikhsan yang bertanya, sedangkan dia langsung memutar rekaman yang terjadi tadi malam.
" benar bos, semua itu terjadi bukan karena alami karena kesalahan teknis tapi semua itu karena ada campur tangan dari manusia. saya sudah berhasil melacak nya dan saya juga sudah mengirim orang untuk menangkap nya " Jawab Arlan.
" Bagus" salut Ikhsan akan kerja Arlan yang selalu bisa di andalkan. Ikhsan menepuk pundak Arlan sekali sebelum dia beralih bergabung melihat apa yang Akhsan lihat.
Terlintas di benak Akhsan. Mereka memasang kamera CCTV di mana-mana kenapa mereka tak berfikir untuk mencari Aisyah dan juga Shelvia dari itu juga? mungkin mereka juga bisa menemukan mereka dengan bantuan alat itu.
Akhsan memutar rekaman di beberapa tempat mencari-cari keberadaan kedua bocah itu yang selalu dia dan Ikhsan cari hingga sekarang.
Ikhsan bingung sebenarnya apa yang Abang nya cari hingga dia begitu Fokus.?
" Abang cari apa? tanya Ikhsan.
Akhsan melirik sebentar. mencoba menjelaskan apa yang terlintas di benaknya saat itu juga.
" mungkin kan kita juga bisa menemukan keberadaan Aisyah dan Shelvia dengan bantuan ini juga, Iya kan? " ucapnya, dan tatapan nya kembali ke arah layar setelah mengatakan itu pada Ikhsan.
Ikhsan mengangguk membenarkan sekaligus juga merutuki kebodohannya, kenapa tak sedari dulu mereka melakukan itu, seandainya sudah sejak lama pastilah mereka sudah menemukan mereka yang kini entah berantah.
" Dimana sih sebenernya mereka itu, di cari susah banget. Apa mereka sembunyi di lubang semut?, awas aja kalau ketemu, Abang bikin botak kalian berdua. " ancam Ikhsan dengan begitu geramnya.
Akhsan tak menanggapi Ikhsan lagi dan terus fokus dengan kerjaan nya. begitu juga dengan Arlan dia juga membantu Akhsan dengan monitor lain.
Ikhsan yang melihat sekelebat orang yang dia kenal langsung menghentikan Arlan yang ingin melanjutkan rekaman itu.
" Tunggu-tunggu.., putar lagi yang sebelum ini cepat putar lagi. " pinta Ikhsan.
" kenapa bos, ? bukannya itu bukan Nona Aisyah dan Shelvia. " jawab Arlan.
" pingin aku botakin juga kamu,? cepat putar lagi. sepertinya aku mengenal orang tadi " ucap Ikhsan yakin.
Arlan pun patuh memutar kembali rekaman yang sebelumnya, " Stop " teriak Ikhsan tangannya menunjuk pada layar, dan seketika melihat wajah orang itu.
" bukan nya dia Marco,,,? terus gadis itu..?"
🌾🌾🌾🌾🌾
" Kak Kairi, kakak beneran nggak kepingin apa-apa gitu.? maksudnya Fatma, kak Kairi nggak mau makan apa gitu, biasanya kan orang hamil itu pingin makan yang masam-masam, atau yang seger-seger gitu, Kak Kairi nggak kepingin? "
Tanya Fatma begitu kepo. Dari semua cerita yang dia dengar, semua perempuan yang sedang hamil akan ada masa-masa ngidam begitu ingin inilah itulah, jadi Fatma terusan kepo dan terus bertanya pada Kairi.
" Nggak ada" jawab Kairi singkat, dari pertanyaan Fatma yang seabrek, hanya dua kata saja dari Kairi sebagai jawaban.
Fatma mengangguk dengan mulut monyong, bagaimana mungkin semua informasi yang dia dapatkan itu palsu, padahal kemarin dengan khusus Fatma bertanya langsung pada ibu-ibu yang tengah hamil mengenai keadaan itu, dan ibu itu bilang dia mengalami semua yang Fatma tanyakan, tapi kenapa Kairi tidak mengalaminya, aneh bukan?.
__ADS_1
" apa aku salah informasi ya.? tapi beneran kok kemarin ibu-ibu itu bilang kalau dia juga merasakan ngidam " ucap Fatma bingung dan terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan.
" seharusnya cita-cita ku jadi bidan atau dokter gitu ya Kak, kan aku bisa tau tuh dengan pasti kenapa Kak Kairi tidak mengalami hal itu, iya kan kak "'Fatma menoleh sekejap ke arah Kairi sebelum dia terus mendorong troli belanjaan mereka berdua.
Ya mereka tengah belanja berdua di supermarket berdua saja, yang tentunya di antar sopir kepercayaan Akhsan dan Ikhsan yang sebenarnya adalah anak buah mereka, juga khusus untuk menjaga Fatma dan Kairi.
" terus kenapa kamu nggak bercita-cita menjadi dokter saja, seperti aunty Airin dan juga Om David, mereka dokter hebat. kenapa kamu malah kepingin jadi desainer.? "' tanya Kairi sembari tangannya memilih apapun yang ingin dia beli.
Fatma berfikir sejenak. iya juga ya, seharusnya dia menjadi dokter untuk menguasai pengetahuan itu. tapi nyatanya pilihannya sedari kecil, Fatma ingin sekali menjadi desainer besar.
" nggak tau juga sih Kak. sedari dulu Fatma ingin sekali menjadi desainer, dan mendesain baju-baju muslimah yang bagus-bagus, " jawab Fatma girang. membayangkan kesuksesan nya menjadi seorang desainer kondang dengan desain baju-baju muslimah yang kini kian di gemari.
" kakak hanya bisa doain semoga kamu sukses." ucap Kairi tulus
" Amin " jawab Fatma bahagia dengan doa yang sekilas Kairi katakan tapi itu benar-benar menjadi motivasi untuk Fatma untuk berjuang demi cita-cita nya.
Fatma benar-benar bahagia bisa memiliki kakak ipar seperti Kairi, Fatma benar-benar sayang sama Kairi. bagi Fatma, Kairi sudah seperti seorang kakak, teman bahkan seperti seorang ibu untuk Fatma.
Kairi selalu ada untuk Fatma, selalu mendukung Fatma dalam hal yang ia ingin kan. Kairi benar-benar kakak ipar terbaik untuk Fatma, kemarin, kini, nanti, dan selamanya.
Fatma melepaskan tangannya dari troli, memeluk Kairi dari belakang. " makasih ya Kak, makasih banget kakak selalu dukung Fatma, makasih " ucap Fatma dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.
" iya sama-sama. tapi jangan mewek, nanti orang-orang kira aku cubit kamu lagi "'gurau Kairi membuat Fatma langsung menyeka air mata yang pertama kali jatuh dan berhasil menghentikan yang lainnya.
" makasih Kak, Fatma sayang kakak "' ucap nya
" iya -iya." jawab Kairi. " yuk kasir udah terbeli semua kan apa yang harus kita beli "
" sudah " jawab Fatma yakin. Fatma melepaskan pelukan nya dari Kairi dan kembali ke troli nya dan mendorong nya sampai ke kasir.
Mungkin masih sayang keduanya lah yang membuat Fatma menanggung ngidam nya dari Kairi. kata orang, ngidam bisa saja suaminya atau orang terdekat nya yang mengalami nya. dan semua itu karena ikatan kasih sayang di antara keduanya yang begitu sangat kuat.
" Semuanya menjadi delapan ratus tiga puluh ribu ya bu " ucap petugas kasir dengan begitu ramah.
" Iya, Mbak " jawab Kairi.
Untuk kali ini Kairi lah yang mengeluarkan kartu limited dari Akhsan, yang belanja kemarin sudah Fatma dan sekarang adalah giliran Kairi. mereka berdua selalu belanja bersama untuk kebutuhan rumah dan mereka akan bergantian mengeluarkan kartu limited untuk membayar nya.
" Alhamdulillah, akhirnya selesai juga belanja nya. "' puji syukur Kairi panjatkan.
Kairi dan Fatma keluar dari supermarket dengan beberapa kantong saja di tangan mereka dan sisanya adalah supir mereka yang membawa nya. lagian Kairi sedang hamil muda jadi tak boleh membawa barang terlalu berat sedangkan untuk Fatma, dia masih terlalu kecil tubuhnya jadi Ikhsan juga melarang keras untuk dirinya.
Saat Fatma keluar dan membawa kantong kresek nya, Fatma tak sengaja menubruk seorang anak kecil, langkah nya yang buru-buru membuat nya menabrak anak itu sedikit keras dan membuat nya terjatuh.
" Awww" pekik anak laki-laki itu, anak itu meringis kesakitan, benturan nya sangat keras membuat nya mendapatkan rasa sakit.
" Astaga, Edooo,,!! teriak seorang wanita dan langsung berlari mengejar anak itu yang sudah terjatuh.
Wanita itu langsung membantu anak itu berdiri, wajah nya terlihat sangat khawatir. Bagaimana tidak? anaknya terjatuh dan kesakitan karena perbuatan Fatma meskipun tak dia sengaja tapi tetap saja kan itu tak seharusnya terjadi, seharusnya Fatma bisa lebih berhati-hati kan.
Sementara dua kresek yang di bawa Fatma sudah terjatuh dan isi di dalam nya berserakan di keluar.
Air mata Fatma keluar begitu saja saat melihat wanita itu. seorang yang benar-benar Fatma rindukan selama ini dan terus dia cari keberadaannya dan sekarang tanpa di sengaja Fatma melihat nya langsung di depan matanya.
Kerinduan yang begitu terasa sangat mendalam dari Fatma, ingin rasanya Fatma menubruk wanita itu dan memeluk nya dengan sangat erat. tapi lagi-lagi ingatan akan kejahatan nya pada Aira mengubah segalanya.
" Ibu " lirih Fatma.
" Fatma,, ayo cepat kita pulang " panggil Kairi tanpa menoleh ke arah Fatma. Kairi yang sedang menaruh belanjaan nya di bagasi benar-benar tak menyadari apa yang tengah terjadi pada Fatma saat ini.
__ADS_1
Air mata Fatma semakin deras saat melihat keadaan wanita itu. saat dia meninggalkan dirinya dan Aira dulu dia begitu cantik, terawat, penampilan nya pun dia utamakan, dan tubuhnya pun juga padat dan berisi tapi sekarang?.
Nesa ibunya begitu kurus, wajahnya pun tak lagi terurus dan penampilan nya pun sekarang tak beda dengan yang Fatma dan Aira pakai waktu itu, hanya pakaian sederhana dan itupun hanya pemberian dari orang saja.
" Ibu" panggil Fatma sekali lagi, dan Nesa kini berhenti memeluk anak laki-laki itu dan beralih menatap Fatma.
Nesa mengernyit bingung, meskipun sekilas dia mulai mengenali Fatma tapi apa mungkin yang di hadapan nya ini adalah anaknya yang hampir Dua belas tahun ini dia terlantarkan.? .
" Fat-ma. " meskipun ragu Nesa tetap memanggil anak pertamanya itu. yang pasti dia juga langsung mengeluarkan air mata setelah Fatma mengangguk.
" Fatma anakku " Ucapnya lagi.
Hati Fatma berontak. menolak dengan keras saat Nesa memanggil nya anakku, hatinya tak dapat menerima semua itu.
Fatma menggeleng dengan keras, " Tidak! aku bukan anak mu, Bukan,!! " ucapan Fatma meninggi membuat Kairi tersentak dan langsung berlari kecil ke arah Fatma karena begitu khawatir.
" Fatma "'panggil Kairi.
Fatma tak perduli dengan panggilan Kairi tatapan nya terus fokus pada Nesa yang juga sama sudah berderai air mata.
" Fatma, maafkan ibu, nak. maafkan Ibu " Nesa terisak memohon ampun pada Fatma dengan apa yang telah dia lakukan pada Fatma saat itu.
" Aku bukan Fatma anak Ibu!!, aku bukan lagi anak ibu setelah ibu membuang ku dan juga Aira.! bukankah bagi ibu dan bapak, Fatma dan Aira adalah anak pembawa sial kan. bukan kan kami anak yang membawa mala petaka kan? " Ucap Fatma dan Nesa hanya menggeleng.
" bukankah hubungan kita sudah berakhir kan, Bu. jadi Fatma mohon jangan pernah anggap Fatma dan Aira anak Ibu dan Bapak lagi. Fatma benci pada Ibu, Fatma benci!! " teriak Fatma.
Kairi yang sudah berada di belakang Fatma mencoba menenangkan nya, mengelus pundak nya perlahan-lahan berharap Fatma bisa mengontrol emosi nya." sabar Fatma, Sabar. "
" Fatma, maafkan Ibu dan Bapak nak. kami berdua menyesal. kami benar-benar menyesal "'ucap Nesa yang sepertinya benar-benar telah menyesali semua kesalahan nya.
" Fatma tidak butuh kata itu dari Ibu, Ibu dan Bapak tidak pantas di maafkan, tidak pantas,!! teriak Fatma.
Fatma yang sudah berlinang air mata dan juga emosinya nya yang sudah memuncak menarik tangan Kairi dan mengajak nya untuk segera masuk ke mobil dan mengajak nya pulang.
" Yuk Kak, Fatma tidak mau melihat dia lagi. " ucapnya dengan usahanya menegarkan hatinya.
" tapi Fatma " ada rasa iba dan kasihan di hati Kairi saat melihat Nesa yang terus menangis. sepertinya Nesa benar-benar telah menyesal namun semua itu tidak bisa Fatma lihat karena tertutup akan kemarahannya.
" sudah Kak, Fatma lelah. fatma mau pulang" ucap Fatma dengan dingin.
Kairi kembali menoleh sebelum benar-benar masuk ke mobilnya, bahkan sampai Kairi mau menutup pintu pun dia masih melihat Nesa yang terus menangis.
" Fatma, apa kamu tidak....
" Tidak!! " jawab Fatma singkat memotong pertanyaan Kairi yang belum selesai.
Nesa terduduk lemas di atas paving yang tertata rapi. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala penyesalan nya.
" Fatma..!!! maafkan Ibu,,,!! teriak nya histeris.
Edo masih terlihat bingung dengan apa yang dia lihat saat ini. Dia belum tau kebenarannya bahwa dia memiliki dua kakak perempuan, dan salah satunya adalah Yang selama ini tinggal dengan nya dan selalu mendapatkan siksaan dari Nesa.
" Ibu, kakak tadi siapa? " tanyanya. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu hanya bisa bertanya namun tetap bingung karena tak mendapatkan satupun sepatah kata pun dari Nesa sebagai jawaban.
" maafkan Ibu, Fatma. maafkan Ibu "'
🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
__ADS_1