
____
Happy Reading...
___________________
Hari sudah sangat siang, Kairi sudah menunggu jemputan dari Akhsan. Meskipun baru sepuluh menit saja menunggu tapi rasanya sudah sangat lama bagi Kairi, mungkin karena dia rak biasa menunggu semenjak dia hamil, biasanya Akhsan selalu datang lebih awal sekarang tidak, mungkin benar-benar lagi sibuk di kantor.
Tak lagi ada Nara yang menemaninya karena Nara sudah lebih dahulu di jemput oleh orang suruhan dari Marco dan Nara juga harus di antar ke kantor Marco bukan ke rumah.
" Pak Akhsan belum datang juga, Mbak?. " Tanya Kamila yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
Kairi menoleh dengan cepat awalnya dia terkejut namun setelah itu dia tersenyum tipis setelah melihat Kamila yang datang ke sana.
" Belum, mungkin sedang sibuk atau mungkin sedang di perjalanan. " Jawab Kairi dengan begitu ramah.
Kamila mengangguk pelan, entah mengapa hatinya sedikit memanas jika ada wanita yang ada di sekitar Akhsan dan selalu menanti kedatangannya. Kamila berusaha berontak dengan keadaan hatinya namun rasanya sangat susah. Bahkan rasa itu semakin besar saat dia berhadapan langsung dengan Akhsan dan juga Kairi.
Jika benar adanya mungkin hati Kamila mulai ada sebuah rasa untuk Akhsan, meskipun dia tau kalau Akhsan sudah mempunyai istri dan sebentar lagi akan menjadi ayah, namun itu seolah bukan masalah bagi Kamila.
" Mungkin, kalau begitu biar aku temani Mbak di sini, sekaligus saya mau berterima kasih pada Pak Akhsan karena sudah menyelamatkan saya tadi. " Jawab Kamila.
" Baiklah. " Ucap Kairi yang sama sekali tak menaruh curiga pada Kamila. Mungkin yang Kamila katakan butuh benar, mungkin Kamila hanya mau berterima kasih pada Akhsan suaminya.
Sepuluh menit menunggu bersama dengan Kamila, Akhsan datang, dia turun dari mobil dengan cepat, berlari ke arah Kairi dan meminta maaf karena terlambat datang.
" Assalamu'alaikum, maaf Mas telat. Tadi ada kolega yang memaksa bertemu jadi Mas terlambat menjemput kamu. " Ucap Akhsan yang sangat menyesal.
Dengan bersamaan Akhsan mengulurkan tangannya saat Kairi ingin meraihnya terlebih dahulu, Kairi menjawab salam dari Akhsan dan menyalami Akhsan dengan begitu takzim.
" Wa'alaikumsalam, Mas. Tidak apa-apa, lagian Kairi juga belum lama menunggu. " Kairi tersenyum simpul menyambut kedatangan Akhsan, dia tidak mau sampai Akhsan terus merasa bersalah nantinya.
"Pak." Panggil Kamila dengan wajah menunduk malu. Kamila juga berjalan mendekat supaya suaranya nanti lebih di dengar oleh Akhsan.
__ADS_1
Akhsan menoleh begitu juga dengan Kairi. Akhsan kembali melirik ke arah Kairi dia bingung dan mencoba mencari jawabannya apa Kairi.
" Kamila ingin berterima kasih, Mas. " Ucap Kairi yang langsung menjawab semua kebingungan dari Akhsan.
" Iya, pak. Saya hanya mau berterima kasih pada Pak Akhsan, terima kasih karena sudah menyelamatkan saya kalau tidak ada pak Akhsan, mungkin..?. " Ucapan Kamila terhenti dan dia semakin tertunduk.
" Tidak usah sungkan, Kamila. Itu semua sudah menjadi tugas saya. " Jawab Akhsan.
Mungkin inilah yang membuat Kamila langsung menaruh hati pada Akhsan, baik hati, suka menolong dan begitu menghormati wanita, apalagi Akhsan yang juga sangat tampan dan juga kaya raya , itu menambah kesan yang lebih untuk semua wanita.
" Iya, pak. Sekali lagi terima. " Ucap Kamila.
Setelah berbincang-bincang sejenak Akhsan ingin mengajak Kairi pulang, namun karena arah rumah mereka sama akhirnya Kairi juga mengajak Kamila.
Awalnya Kamila menolak namun setelah beberapa kali di rayu akhirnya dia menerima dan pulang bersama dengan Akhsan dan juga Kairi.
Rumah yang sederhana dengan cat berwarna krem dengan pagar dari bambu itulah rumah Kamila. Mobil Akhsan sekarang tengah berhenti di depan rumah itu.
" Terima kasih, pak. " Ucap Kamila, menatap Akhsan yang melirik kepadanya sebentar. " Makasih mbak Kairi. " Imbuhnya dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Kairi.
" Sama-sama, Mila. " Jawab Kairi dengan sangat lembut. Sedangkan Akhsan tidak menjawab dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
" Apa nggak sebaiknya Pak Akhsan dan Mbak Kairi mampir dulu?. " Tanya Kamila.
" Tidak usah, Mila. Kami ada kerjaan yang menunggu. " Jawab Kairi.
" Ya sudah, sekali lagi terima kasih. " Kamila bergegas keluar mobil, sedikit kecewa karena Akhsan dan Kairi tidak mau singgah sebentar di rumahnya tapi ya sudah lah itu adalah pilihan mereka.
Mobil kembali berjalan setelah Kamila turun, dan Kamila pun terus melihat mobil itu sampai benar-benar tak terlihat.
_____
Tiga wanita remaja, dan dua cowok kini tengah masuk ke rumah yang begitu sangat mewah, indah dan sangat besar. Rumah itu adalah rumah Fatma dan juga Ikhsan, dan yang masuk pun Fatma beserta komplotannya dan juga Ikhsan.
__ADS_1
Santi dan Mirna terperangah tak percaya kalau miss nya kini tinggi di sebuah istana, nasib memang tak bisa di pungkiri, kemarin tinggal di gubuk yang selayaknya kandang kambing dan sekarang tinggal di rumah mewah selayaknya istana.
" Miss beneran tinggal di sini?. " Mata Mirna terus mengamati setiap inci dari bangui itu, semuanya tak ada yang kasar, semuanya mulus dengan bangunan yang semua materialnya berbahan yang istimewa.
" Iya. " Fatma mengangguk, dia juga tersenyum sumringah, bahkan dirinya sendiri kadang tak percaya kalau kini dia tinggal di istana." Wah wah.. Dapat rezeki nomplok dari mana, miss?, " Celetuk Santi. " Miss nggak menang judi kan?. " Imbuhnya lagi.
Pletak...
Seketika Fatma langsung memukul kepala Santi dan membuatnya meringis kesakitan, Santi mengeluh sedangkan Mirna malah menertawainya.
" Sakit, miss! Benjol nih!. " Gerutu Santi.
" Hahaha.. Rasain loh! Makanya jaga tuh mulut, jangan banyak kate kalau di hadapan miss, kayak nari kenal sehari saja kau ini. " Seloroh Mirna cengengesan.
" Ihh.. " Santi begitu geram terhadap Mirna, dia sangat keterlaluan karena tertawa di atas penderitanya.
" Sabar sabar.. Orang sabar pa*tatnya lebar. Hahaha.. " Mirna semakin menjadi menertawakan Santi ini adalah kegemarannya jika bukan miss nya makan Santi pun jadi.
" Sudah sudah! Kalian mau masuk atau mau berdebat di mari?. " Kesal Fatma dan mulai melangkah mendahului mereka.
" Miss! Tungguin napa?." Mirna pun langsung menyusul Fatma sebagaimana juga dengan Santi.
" Dasar mulut ember semua, ember bocor di jadiin satu kompak deh tuh. " Celetuk Rico.
" Kamu nggak ikutan ember juga?. " Ucap Ikhsan sembari melirik sekejap. Memastikan ekspresi wajah Rico Ikhsan langsung mengayunkan kaki setelah itu sembari terkekeh.
"Ember teriak ember, apa nggak malu Pak. " Rico pun tak mau kalah dia menyusul Ikhsan dan mendahului masuk ke dalam rumah.
Ikhsan terdiam dia menghentikan langkah nya, mulutnya ternganga tak percaya kalau ada orang yang berani mengatai dirinya ember dan lebih parahnya lagi dia adalah muridnya sendiri.
" Benar-benar luar biasa. "
______
__ADS_1
Bersambung..
_______________