Akhsan Dan Ikhsann

Akhsan Dan Ikhsann
212.Kamar khususon


__ADS_3

____


Happy Reading....


__________________


Setelah kepergian Ikhsan, Aisyah kembali ke kamarnya dia duduk di kasur menaruh oleh-oleh yang Ikhsan bawakan untuknya. Aisyah terus mengamati amplop pemberian dari Rico yang tak tau apa isinya.


Pelan-pelan Aisyah membukanya, mengambil kertas berwarna pink yang sama dengan gambar di luar amplopnya.


Perlahan-lahan Aisyah mulai membacanya, kadang dia tersenyum kadang dia berkaca-kaca dan kadang air matanya kembali lolos karena kata-kata yang Rico tulis untuknya.


"𝘒𝘶 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘋𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘬𝘢 𝘬𝘶, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶. "


Secercah kata dari banyaknya surat yang Rico tulis untuknya. Aisyah kembali menangis lagi kali ini. Tak hanya saat bersama saja Rico selalu perduli dan selalu menasehati, namun saat mereka jauh saja Rico tetap peduli padanya bahkan dia rela menunggunya.


"Jika semuanya benar, aku janji penantian bang Rico tidak akan sia-sia. " Ucap Aisyah dengan menarik ujung bibirnya untuk tersenyum.


______


Ketiga komplotan wanita kini tengah tertawa bahagia, mereka saling berangkulan dan memasuki rumah kediaman Fatma dan juga Ikhsan. Mereka adalah Mirna, Santi dan juga Fatma.


Ketiganya baru saja pulau dari sekolah, dengan keberadaan Santi dan juga Mirna ternyata bisa sangat membantu Fatma dalam menghilangkan rasa kesepiannya.


Meskipun Ikhsan tak ada dan yang di ajak pulang adalah teman-teman wanitanya namun Fatma tetap meminta izin terlebih dahulu pada Ikhsan, sebelum pulang sekolah Fatma mengirim pesan pada Ikhsan dan meminta izin untuk keduanya menemaninya dan Ikhsan tak keberatan.


Fatma lega, akhirnya dia tidak akan kesepian lagi saat malam nanti. meskipun keduanya hanya ada waktu dua malam saja untuk menginap di sana namun Fatma sangat senang.


"Miss, kita tidur di mana nantinya? " Tanya Mirna.


Fatma terdiam sejenak, sepertinya tidak akan mungkin dia mengizinkan kedua sahabatnya ini tidur di kamar dirinya dan juga Ikhsan, tapi kalau tidak bagaimana dengan dirinya? Sama saja dia akan tidur sendiri kan?.


"Hemm." Fatma menaruh jari telunjuknya di bawah bibirnya dia masih terdiam dan berfikir dengan sangat fokus.


"Dimana, Miss. " Santi sudah sangat tak sabaran. Sebenarnya dia berharap bisa merasakan kasur Fatma dan juga Ikhsan, kasur yang menjadi saksi bisu cinta mereka berdua, kasur yang selalu menemani mereka saat mereka bermadu kasih. "Di kamar Miss dan pak Ikhsan ya! " Harap Santi.

__ADS_1


"Aha...! Kita akan tidur bersama-sama di kamar tamu. " Ucap Fatma membuat kecewa Santi yang sudah terlanjur berharap.


"Yah.., padahal aku maunya tiu di kamar kamu dan pak Ikhsan, Miss. Ternyata tidak kesampean, nasib dah.. " Ucap Santi tak semangat.


"Iya, bener. Padahal aku juga maunya begitu. " Saut Mirna.


"Ogahh! Jangan banyak mimpi ya kalian berdua. Itu adalah kamar khususon untuk ku dan Mas Ikhsan, tak ada satupun yang boleh tidur di sana selain kami berdua meskipun itu adalah kalian berdua. " Jawab Fatma.


"Yah.. " Keduanya terduduk lemas bin tak semangat, namun mau bagaimana ini sudah keputusan mutlak dari pemilik rumah jadi semua keputusan sudah tidak bisa di ganggu gugat. "Baiklah, lagian mau bagaimana lagi."


Mirna dan Santi malah melamun sekarang mereka begitu melamun kan saat Ikhsan xan Fatma berasa di dalam kamar mewah dan hanya mereka berdua, pastilah mereka akan melakukan hal yang di sunahkan.


"Miss, miss beneran sudah.. " Mirna mengangkat tangannya dan menghubungkan dua jari telunjuknya dengan saling berhadapan. "Beneran miss? " Tanyanya lagi, kepo nya benar talah meronta-ronta.


"Ohhh..., jangan bilang kalian berdua melamun karena melamun kan itu? Dan jangan bila kalian sepakat menginap di sini karena mau menelisik ku dan juga mas Ikhsan? " Fatma begitu terperangah tak habis pikir dengan pikiran kedua sahabatnya itu.


Dengan kompaknya mereka berdua mengangguk, otak mereka benar-benar seragam memikirkan hal yang sama.


"Kalian ini." Sungut Fatma.


Fatma mengambil bantal kecil yang ada di sebelahnya, melemparkannya dan pas mengenai sang pelaku yang mengatakan itu. "Aku tidak sebodoh itu juga kali, meskipun belum mau punya baby, bukan berarti aku harus melakukan itu juga kali. "


"Hah! Jadi miss udah ngelakuin itu! Beneran? "


"Iya! Kenapa? Kepingin juga? Makanya cepat nikah juga biar bisa ngerasain itu juga. "


"Miss, sakit nggak sih? "


"Pertanyaan tak beradat, jadi tak ada jawaban untuk itu. " Fatma beranjak dan melenggang pergi. Jika tidak di tinggal begitu saja mereka tidak akan diam dan pastinya akan terus ngoceh kayak burung pipit.


_______


Kairi mengambilkan baju ganti terlebih dahulu sebelum dia benar-benar akan pergi ke rumah Fatma, dia belum tau kalau Fatma kini di temani oleh kedua sahabatnya.


Menyiapkan air hangat untuk Akhsan mandi, menyiapkan baju dan juga semua kelengkapannya.

__ADS_1


"Biar aku saja, Kairi sayang. " Ucap Akhsan yang kini berdiri di pintu masuk kamar mandi.


Kairi masih asyik mengisi bak dengan air hangat dan juga menyiapkan handuk yang kini sudah menggantung manis di sebelahnya.


"Nggak apa-apa, Mas. Kairi bisa kok." Jawab Kairi.


Akhsan berjalan mendekat, "Jangan terlalu banyak bekerja, jaga diri baik-baik. Di kamar mandi itu licin jangan sering-sering kesini mas takut. " Ucap Akhsan yang bergidik ngeri.


"Hem." Kairi mengangguk, benar yang di katakan Akhsan, kalau kamar mandi itu memang licin tapi kamar mandi mereka tidaklah licin para pembantu sering membersihkannya jadi akan aman untuknya.


"Sekarang keluarlah, biar mas mandi. Atau mungkin kamu juga mau ikutan mandi juga? " Goda Akhsan.


"Tidak mas. Kairi sudah mandi. " Kairi segera pergi, dia takut kalau apa yang Akhsan katakan benar maka dia akan mandi lagi, padahal rambutnya saja belum kering.


"Beneran nggak mau ikutan mandi lagi? " Akhsan terus menggoda.


"Tidak mas, Kairi sudah mandi. " Kekeuh Kairi.


Kali benar-benar keluar sekarang. Kairi masuh belum berangkat ke rumah Fatma, dia masih ingin membuatkan teh panas untuk Akhsan, sehabis mandi pasti akan sangat enak kalau minum teh panas.


Lima belas menit berlalu, keluarAkhsan keluarAkh dari kamar mandi sedangkan Kairi masuk ke kamar dengan tangan membawa nampan kecil yang berisi teh untuk Akhsan.


"Mas, ini tehnya. " Ucap Kairi.


"Hem.. Terima kasih. " Jawab Akhsan.


Kairi pergi ke rumah Fatma seorang diri sementara Akhsan tidak ikutan karena dia begitu banyak pekerjaan.


Akhsan pergi ke ruang kerjanya, duduk di sana dan langsung sibuk dengan laptopnya.


___


Bersambung...


_______________

__ADS_1


__ADS_2