
" Assalamu'alaikum. " Akhsan melangkah masuk, kedatangannya langsung di sambut semua orang rumah yang tengah duduk di ruangan tengah.
" Wa'alaikumsalam. "
Akhsan berjalan masuk dengan langkah yang semakin cepat. " ada apa? " tanyanya pada semua orang yang terus menatapnya.
Kairi langsung menyambut suaminya, mengambil jas yang sudah terlepas dan ada di tangan nya dan juga tas kerjanya. " Wa'alaikumsalam, Mas. " jawab Kairi sembari mengurai senyum yang begitu manis.
" ada apa? " tanya Akhsan yang tak tau apa-apa dengan keadaan yang sekarang ini.
" Tadi....
" Akhsan,! di mana Ikhsan!! " tanya Rayyan dan menghentikan Kairi yang sedang akan menjelaskan nya pada Akhsan.
Kata-kata yang sedikit meninggi membuat Akhsan bingung dan langsung bergabung duduk di kursi. Akhsan terus menatap Rayyan meminta penjelasan padanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
" Pa, ada apa ini sebenarnya? " tanya Akhsan benar-benar di buat kebingungan dengan semua sikap keluarga nya.
" Di mana Ikhsan? " Tanya Rayyan sekali lagi.
" Tadi dia bilang sedang ada meeting Pa. sebenarnya ada apa sihh? " Akhsan semakin bingung, Kenapa sedari tadi hanya Ikhsan dan Ikhsan yang di tanyakan padahal dia yang pulang, tapi tak ada yang menanyakan bagaimana dengan nya.
" Fatma, Mas" jawab Kairi yang mendahului
" Fatma?, kenapa dia? " Akhsan mengernyit.
" Fatma....
" Assalamu'alaikum...!! teriak Ikhsan. Ikhsan berlari masuk ke rumah matanya langsung menatap semua orang yang ada di tengah dengan tercengang menatap dirinya.
" Wa'alaikumsalam " jawab mereka semua bersamaan.
" Dimana Fatma? " tanya Ikhsan, dia begitu panik karena tak melihat Istri nya di sana. " Fatma sakit apa? " tanyanya dengan sangat khawatir.
Belum juga mendapatkan jawaban Ikhsan sudah langsung lari menuju kamar nya dia tau Fatma pasti ada di sana.
"eishh.... , anak itu selalu saja begitu pertanyaan belum juga di jawab sudah lari begitu saja" kesal Rayyan.
Semua tersenyum melihat Rayyan.
" Sudah lah Ray, kayak kamu nggak aja " ucapan Tasya menambah wajah Rayyan semakin tertekuk sekarang, memang yang di katakan Bunda nya itu memang benar sih.
" Sudah lah, Akhsan mau bersih-bersih dulu " Akhsan beranjak bergegas ke kamar nya dan juga untuk bersih-bersih.
Kairi yang melihat Akhsan beranjak pun mengikutinya hingga ke kamar dengan membawa tas dan juga jas Akhsan yang masih dia bawa tadi.
" Sebenarnya ada apa sih dengan Fatma? " tanya Akhsan.
Kairi bergabung duduk di samping Akhsan, menjelaskan semua yang terjadi.
Mendengarkan semua penjelasan dari Kairi, Akhsan mengangguk mengerti dan juga merasa kasian juga dengan apa yang dialami oleh Fatma.
" kasian Fatma ya, Mas" Ucap Kairi dengan termenung menatap kosong ke depan.
Akhsan mengangguk, dia pun juga sangat kasian tapi mau bagaimana lagi itu adalah perjalanan hidup Fatma yang harus dia jalani.
" Iya. " jawab nya singkat. Akhsan beralih duduk menghadap Kairi mengapit kedua pipi Kairi dengan tangan nya dan membawa tatapan Kairi ke arah nya. " apapun yang terjadi pada Fatma kita hanya bisa mendukung dan memberi semangat untuk dia menjalani hidup nya. Dan kamu nggak boleh terlalu pusing atau banyak pikiran. ingat anak kita, dia juga butuh perhatian dari kamu, Hm " Akhsan tersenyum sembari mengangguk.
" Iya Mas " jawab Kairi.
Akhsan menurunkan tangan nya dan menaruhnya di perut rata Kairi, mengelus nya perlahan-lahan seakan menyalurkan kasih sayang nya pada anaknya yang masih ada di kandungan Kairi.
" jaga Umi baik-baik ya jagoan Abi, jangan biarkan Umi kelelahan, " Akhsan membungkuk membisikkan kata itu pada anaknya.
__ADS_1
" Iya Abi," jawab Kairi dengan senyum bahagia mendapatkan perhatian dari Akhsan.
Akhsan kembali duduk tegak menatap Kairi dan akhirnya mereka pun meringis bersama sebelum akhirnya mereka berdua berpelukan.
🌾🌾🌾🌾🌾
Ikhsan terus mengetuk pintu tapi tak kunjung Fatma buka, salam dan juga panggilan dari Ikhsan pun tak mendapatkan sahutan dari istrinya itu.
Iki semakin khawatir, sebenarnya apa yang Telah terjadi pada Fatma. kalau hanya sakit saja kenapa Fatma sampai mengunci pintu juga.
Untung saja Ikhsan selalu membawa semua kunci cadangan di setiap pintu. Dan dengan cepat Ikhsan pun membuka nya sendiri dan bergegas masuk.
" Assalamu'alaikum " ucap Ikhsan dengan langkah yang buru-buru.
Matanya menatap ranjang nya tapi ternyata kosong, Ikhsan berlari ke kamar mandi namun tetap saja tak dia temukan.
" Fatma kamu dima-na. " Ucapan nya tersendat di akhir saat matanya melihat Fatma yang tertidur dengan meringkuk di lantai. Ikhsan pun berlari dengan cepat mendekati Fatma " Astaghfirullahalazim " pekik Ikhsan.
Ikhsan buru-buru mengangkat Fatma dan di tidurkan nya di ranjang.
" Astaghfirullah, Fatma. sebenarnya apa yang terjadi? " tanyanya setelah berhasil menurunkan Fatma di ranjang.
Mata Fatma mengerjap perlahan, matanya terlihat sedikit bengkak karena dia menangis tadi. " Mas udah pulang " ucapnya berusaha tegar dan menyembunyikan semua kesedihannya yang masih menyeru dengan kompak di dalam hatinya.
" Hm" jawab Ikhsan singkat " kamu kenapa? kata Faisal kamu sakit, tapi kenapa kamu malah tidur di lantai?" tanya Ikhsan lirih.
Fatma menggeleng, dia masih enggan untuk cerita dengan Ikhsan. Fatma beralih memindahkan kepalanya di pangkuan Ikhsan dan membuat Ikhsan tau kalau ada yang terjadi pada Fatma.
Ikhsan mengusap perlahan puncak Kepala Fatma " apa kamu tidak percaya pada suamimu lagi? apa kamu tidak mau membagi penderitaan mu pada ku, Fatma? " tanya Ikhsan perlahan.
mendengar kata-kata itu dari Ikhsan membuat Fatma kembali terisak dan memeluk pinggang Ikhsan semakin erat, menyembunyikan Wajahnya di balik perut Ikhsan.
" Sudah sudah, kalau kamu belum mau cerita nggak apa-apa yang terpenting kamu jangan nangis lagi, aku nggak kuat lihat kamu seperti ini. sudah sudah " Ikhsan berusaha membuat Fatma tenang terus mengelus puncak kepala Fatma hingga beralih ke pundak Fatma.
Baru kali ini Ikhsan melihat Fatma benar-benar sedih dan terpuruk, bahkan Fatma belum juga mau bercerita dengan nya.
Beberapa saat hening, tak lagi terdengar suara isakan tangis dari Fatma, mungkin Fatma tertidur dengan posisi itu.tapi ternyata tidak, Fatma sama sekali tidak tidur dan kini dia mengubah posisi terlentang dan wajah nya menatap Wajah Ikhsan yang menunduk.
" Kenapa? tanya Ikhsan pelan, tak mau sampai membuat Fatma kembali menangis lagi.
" tadi aku ketemu Ibu " jawab Fatma begitu lirih bahkan hampir tak terdengar oleh Ikhsan.
Ikhsan mengernyit, kira-kira di mana Fatma bertemu dengan Ibu nya?
" Tadi aku dan Kak Kairi pergi ke supermarket untuk belanja, dan di sana aku bertemu dengan Ibu " imbuh Fatma dan menjelaskan semua kebingungan Ikhsan.
" terus kenapa kamu sedih? kenapa kamu mengunci pintu dan juga mengurung diri di kamar? " tanya Ikhsan.
" ya,, ya karena...
" karena apa? karena hanya aku ya yang boleh masuk ya? " Ikhsan mengedipkan matanya genit. " Hm.? apa kamu merindukan ku dan tak mau melihat yang lain selain aku? " imbuh Ikhsan.
" Apa sihh,,!! ihh pak Bambang genit " Fatma mencubit Perut Ikhsan dengan wajah yang merona, senyum nya kembali hanya karena gurauan Ikhsan.
" Awww,,, perut ku bengkak,!! teriak Ikhsan ngadi-ngadi.
Fatma ternganga matanya melotot menatap Ikhsan yang masih pura-pura meringis kesakitan. sejak kapan juga hanya karena di cubit perut bisa bengkak?. Fatma langsung duduk, mengambil guling dan memukul Ikhsan dengan itu.
"ihh,, nggak lucu..!! Fatma terus beraksi memukuli Ikhsan dengan guling, hatinya kesal dongkol karena gurauan Ikhsan tapi wajah nya malah semakin merah.
" benarkah? " Ikhsan tak mau membiarkan guling itu mendarat pada dirinya dengan mudah, tangan Ikhsan terus menghadang nya.
Fatma terus melancarkan aksinya dan akhirnya tawa keduanya menggema keras memenuhi kamar mereka berdua. " Hahaha..!!
__ADS_1
Ikhsan menangkap guling nya, menghentikan Fatma yang masih berusaha memukulinya. Ikhsan menarik guling itu membuat Fatma tertarik juga dan jatuh di tubuh Ikhsan yang juga akhirnya terbaring di ranjang.
Ikhsan memeluk Fatma erat, membuang guling yang menghalangi mereka berdua.
Fatma berusaha berontak tapi Ikhsan semakin mengeratkan pelukan nya. " mau kemana? mau kabur setelah membuatku khawatir " ucap Ikhsan.
" Mass...!! lepaskan, dadaku sesak. " ucap Fatma beralasan.
" alesan.! ketus Ikhsan.
Ikhsan menggulingkan Fatma dan tubuh nya hingga keduanya miring dan saling berhadapan. " apapun yang terjadi jangan pernah kamu menukar senyum mu itu Fatma, jangan pernah sedih atau sampai menangis lagi. apalagi sampai mengunci diri seperti tadi. mengerti kan? " ucap Ikhsan.
" Hm " Fatma mengangguk.
" Anak pintar, " puji Ikhsan di susul dengan mencubit hidung Fatma gemas.
" Awww,,! teriak Fatma kesakitan.
" sini aku obati " sengaja Ikhsan memajukan bibirnya untuk mencium Fatma tapi semua itu harus pupus karena Ada gangguan dari cacing Fatma yang mengadakan demo.
krukk
" kamu lapar? " tanya Ikhsan dan Fatma mengangguk malu-malu. " makanya, besok kalau sedih itu jangan mengurung diri di kamar, tapi makan yang banyak, oke " ucap Ikhsan.
" Mana ada orang sedih makan, biasanya kan nangis di kamar " jawab Fatma.
" ya.... itu model lama, kalau sekarang berubah dong. kalau sedih ambil makan yang banyak dan kenyangin perut pasti ilang nanti sedihnya".
" Masak sih? " bingung Fatma, tak pernah dia mendengar yang seperti itu. yang jelas itu hanya akal-akalan dari Suami nya saja kan.
Ikhsan mengangguk cepat. " Hmm" sekarang mau makan apa? mau makanan rumah atau makanan luar?. "
" Mau soto yang ada di sekolah? "
" mana masih ada? " Ikhsan mengernyit.
" masih, Mas.
" beneran? " Fatma mengangguk, dia sangat percaya apa yang ingin dia makan masih ada di sana. " ya sudah yuk siap-siap, apa sih yang enggak buat kamu, jangankan soto nya gerobak nya sekalian aku beli"
" Hahaha..!! tawa Fatma girang dan beranjak dengan cepat.
Fatma menyambar tas kecilnya di atas meja tak lupa menyampirkan di bahunya " yuk Mas " dengan cekatan Fatma menggandeng lengan Ikhsan dan menarik nya tak sabaran.
" Iya-iya " jawab Ikhsan dan ikut begitu saja apa yang Fatma lakukan.
Semua orang menoleh ke arah Ikhsan dan Fatma yang tengah bergandengan. semua merasa lega dapat melihat senyum Fatma lagi.
" kalian mau kemana? " tanya Keisha.
" Fatma permisi keluar dulu ya, Ma. Fatma mau makan soto di sekolah " ucapan Fatma membuat semua nya tercengang. bagaimana tidak? Fatma benar-benar seperti anak kecil yang mendapatkan balon.
Dengan buru-buru Fatma menyalami semua orang dan tentunya dengan wajah yang berbinar.
" I- iya. " jawab Keisha gagap.
" Assalamu'alaikum.. " ucap Fatma dan Ikhsan.
" Wa'alaikumsalam " jawab semua orang.
Semuanya saling lempar pandang satu sama lain, melihat menantu mereka yang terus berbinar bahagia. mood nya benar-benar tak dapat di tebak, barusan sedih nangis ngurung diri di kamar sedangkan sekarang.
" Alhamdulillah " seru mereka bersamaan di sambung dengan senyum mereka semua.
__ADS_1
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾