
Dengan begitu telaten Marco menyuapi Nara untuk makan, Nara yang memang sedang hamil muda dan begitu lemah harus selalu berbaring di ranjang nya dan tak di perbolehkan melakukan apapun oleh Marco.
Memang awalnya Nara sangat ketakutan saat bertemu dengan Marco namun lambat laun rasa takut itu mulai hilang dan mulai terbiasa akan kehadiran Marco di sisinya.
Marco yang sudah menyadari akan kesalahannya berusaha keras untuk bisa menebusnya. Dari kebencian Nara yang ia buat karena telah merenggut kehormatan nya dengan paksa kini Marco berjuang penuh untuk menghilangkan kebencian itu dan berharap bisa mengubah menjadi cinta meskipun Marco sendiri belum bisa memberikan cinta itu untuk Nara. Semua itu butuh proses dan juga waktu, itulah yang selalu Marco katakan pada hatinya sendiri.
Beberapa hari lalu Marco dan juga Nara telah menikah, dan itu atas saran yang Joe katakan pada Marco. Suka atau tidak Marco harus bertanggung jawab akan Nara dan terpenting akan anak yang ada di kandungan Nara, darah daging Marco sendiri.
Baru beberapa suapan saja Nara sudah berhenti membuka mulut nya, dia terus menggeleng saat Marco ingin menyuapi nya lagi.
" Tidak tuan, saya sudah kenyang " ucapnya, namun panggilan dari Nara membuat Marco menggelengkan kepala nya.
Sudah berkali-kali Marco meminta Nara untuk memanggil dengan sebutan lain, namun Nara lagi-lagi terus memanggil tuan dan tuan lagi membuat Marco berdecak kesal.
" Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah memanggilku tuan. Panggil aku selayaknya kamu memanggil suamimu, karena sekarang aku memang suami mu kan? " ucap Marco dengan sabar.
Nara menunduk dia menyesal karena sangat lupa. " maaf, saya lupa " ucapnya sedih dan hampir menangis.
Inikah tingkah ibu hamil? Apakah setiap ibu hamil akan lebih sensitif akan sebuah kata-kata, dan bisa berubah ekspresi nya dengan cepat seperti yang terjadi dengan Nara sekarang?.
" iya... maaf maaf, tapi jangan nangis, oke "
Marco membelai lembut rambut Nara yang begitu hitam dan panjang.
Semakin hari ketakutan Nara pada Rico semakin hilang dan kini perlahan-lahan mulai tergantikan ingin menjadi milik Marco seutuhnya, begitu juga dengan Marco sendiri, Dia juga mulai tulus mencintai Nara.
Marco begitu perhatian dengan Nara, apapun yang dia minta pasti akan di berikan. Marco juga mulai posesif dengan Nara, nggak boleh inilah itulah, kadang hanya ingin ke kamar mandi saja Marco rasanya tak memperbolehkan dan tak rela membiarkan nya sendiri.
Marco lebih sibuk di rumah semenjak ada Nara, Hari-hari lebih banyak dia habiskan di rumah sementara untuk kerjaan nya dia telah percayakan kepada Asisten nya dan dia akan datang ke kantor jika ada Meeting saja, itupun jika meeting nya dengan orang lain selain karyawan kantor nya.
Kring... kring...
__ADS_1
Ponsel Marco berbunyi dengan sangat keras menghentikan Marco yang hendak kembali menyuapi Nara Lagi " sebentar " Marco mengambil ponsel nya yang ada di saku menaruh piring di sebelah Nara.
" Bryan? mau apa lagi dia? " Marco beranjak, mengedipkan matanya memberikan isyarat kalau dia ingin keluar dari sana pada Nara. Setelah Nara mengangguk setuju Marco pun keluar dari sana.
" Hem " angguk Nara seraya tersenyum manis.
Marco keluar, menutup pintu dan pergi ke ruang kerjanya yang tak jauh dari sana.
" Ada apa lagi Bryan?! " tanya Marco dengan nada yang sedikit tinggi.
" dimana saja kau, Marco. Apa kau melupakan tugasmu! apakah kau menginginkan kehancuran perusahaan mu itu! iya? "
" Aku nggak perduli apapun yang akan kau lakukan pada perusahaan ku. Aku tak mau lagi ikut campur dengan mu dan dendam kamu yang entah aku tak tau apa sebabnya!" jawab Marco.
" kau akan menyesal, Marco. Kau akan menyesal telah berani menantang ku. Tunggu saja apa yang bisa aku lakukan terhadap mu. "
" terserah, aku nggak perduli " sinis Marco.
Tut... tut...
Marco duduk di kursi kerja nya menyandarkan punggungnya seraya berpikir untuk kedepannya jika perusahaan benar-benar akan di hancurkan oleh Bryan.
" aku harus mempersiapkan antisipasi terlebih dahulu sebelum Bryan benar-benar bertindak. Aku tak bisa diam begini saja. Lagian kedua perusahaan itu salah satunya juga milik Farel yang masih aku kelola. Sebaiknya aku berikan apa yang menjadi hak dari Farel seenggaknya aku bisa tenang jika Bryan menghancurkan perusahaan yang menjadi milikku dan dengan itu perusahaan Farel tetap utuh dan tak tersentuh oleh Bryan " gumam Marco dengan segala rencananya.
Marco pun segera menghubungi pengacaranya untuk pengalihan satu perusahaan untuk Farel, meskipun Farel belum bisa mengelola nya sendiri sekarang yang terpenting bagi Marco dia sudah tenang, dan sementara waktu Marco bisa minta bantuan dari Opanya, Joe.
🌾🌾🌾🌾🌾
Akhsan dan Ikhsan tengah duduk berhadapan di ruang kerjanya Akhsan. Kejadian yang menimpa Fatma kemarin membuat Ikhsan sangat khawatir, kejadian kemarin bisa saja terulang lagi.
" Bang, bukan hanya Fatma tapi kita juga harus melindungi kak Kairi dan juga semua keluarga kita. Kita tak tau apa yang akan mereka lakukan dan rencanakan setelah ini." ucap Ikhsan.
__ADS_1
" kamu benar, Dek. Kita harus melindungi mereka, dan kita juga harus bertindak sebelum mereka kembali berulah lagi " jawab Akhsan.
" untuk sekarang, aku ingin memberikan pelajaran pada mereka. Setiap apa yang mereka mulai tanam mereka juga harus menuai nya. Mereka juga harus merasakan semua yang kita rasakan "
Ikhsan menyambar laptop yang ada di hadapannya, tangannya mulai bergerak dan mulai menjalankan apa yang menjadi rencananya.
Akhsan melihat Ikhsan dengan bingung? apa sebenarnya yang akan di lakukan oleh Ikhsan sekarang.
" apa yang akan kamu lakukan, Dek. " tanya Akhsan.
Ikhsan masih diam dan terus asyik dengan laptopnya.
" Dek! "
" bentar, Bang. Aku harus selesaikan dulu ini setelah itu kita akan lihat hasilnya. Apa yang akan mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah nya. " Iki tersenyum sinis.
" jangan gegabah, Dek"
" tidak, Bang. ini harus dilakukan. " jawab Ikhsan. Akhsan pun tak bisa berkutik lagi dan membiarkan Ikhsan melakukan apapun yang dia inginkan.
Klik...
Sentuhan akhir dari tangan Ikhsan setelah itu dia tersenyum puas dan kini hanya menunggu hasilnya.
" mereka salah telah berani berurusan dengan ku, siapapun yang berani melukai istriku mereka harus menanggung semuanya" seru Ikhsan.
" jangan terlalu membenci, Dek. Jangan sampai hatimu berubah menjadi pendendam. Jika kita harus melakukan itu, itu hanya sebagai pelajaran untuk mereka bukan sebagai pembalasan dendam kita " ucap Akhsan menasehati.
" aku tau, Bang. " jawab Ikhsan.
Ikhsan kembali melihat laptopnya, dia tersenyum bahagia akhirnya apa yang dia lakukan barusan langsung membuahkan hasil.
__ADS_1
" hahaha!! rasakan itu. Lebih baik sibuk dengan pekerjaan sendiri daripada mengurusi orang lain. " girang Ikhsan.
🌾🌾🌾🌾🌾