
Rifki kembali ketempat dimana Nadhira berada saat ini, setelah sampai disana Rifki langsung menuangkan es kepada gelasnya dan segera meminumnya hingga tandas tak tersisa, setelah itu ia mengambil sebuah cemilan dan memakannya dengan lahapnya.
Entah apa yang ada dibayangan pikiran Rifki saat ini, sehingga ia memakan cemilan tersebut seolah olah sedang memakan orang yang membuatnya begitu marah saat ini.
Nadhira dan Bayu yang melihat itu hanya bisa menahan nafasnya, sejak kembali dari ruangannya Nadhira melihat ada yang berbeda dari ekspresi wajah Rifki daripada sebelumnya. Nadhira menepuk pundak Rifki hingga membuat Rifki menoleh kepadanya, Rifki yang tadinya sibuk memakan cemilan kini menaruh kembali cemilannya dimeja.
"Ada apa Rif?". Tanya Nadhira.
"Ngak papa".
"Jujur sajalah, emang apa susahnya sih? Siapa tau kami bisa membantu". Ucap Bayu.
"Ngak papa, hanya saja aku merasa lelah dari pagi hingga siang belajar mengenai bisnis, dan mengurus inilah itu lah, tidak seperti biasanya". Keluh Rifki.
"Semangat lah Rif, kakekmu melakukan ini juga pasti karena ia sangat percaya kepadamu, dan ia yakin dengan kemampuan mu". Jawab Bayu.
"Emang ada apa sih?". Tanya Nadhira yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Bayu.
Bayu menjelaskannya kepada Nadhira mengenai situasi dimarkas tersebut secara terperinci sementara Rifki mendengarnya sambil terus memakan cemilan dan juga meminum es tersebut.
Bukan hanya Bayu yang menjelaskannya tetapi juga Vano dan Reno secara bergantian untuk menjelaskan kepada Nadhira, Nadhira begitu antusias untuk mendengarkannya dengan detail seakan akan ia tidak ingin kehilangan satu cerita pun dari hal itu.
"Kau tau Dhir? Rifki begitu terpukul dengan kepergian kakeknya, ia begitu galau dan sedih, yang ia inginkan adalah kehadiranmu". Ucap Bayu..
Glek
"Uhuk... Uhuk...".
Ucapan tersebut seketika membuat Rifki menelan minumannya dengan cepatnya sehingga membuatnya tersedak dan terbatuk batuk ketika Bayu melebih lebihkan dalam cerita tersebut, dalam batuknya Rifki berusaha untuk menjelaskan kepada Nadhira bahwa hal itu tidak seperti yang Bayu ceritakan saat ini.
"Uhuk... Uhuk...".
"Eh kamu kenapa Rif". Tanya Nadhira dengan begitu paniknya.
Rifki terus terbatuk batuk karena minuman tersebut, tenggorokannya terasa begitu gatal sehingga membuatnya tidak bisa berhenti untuk batuk, Nadhira segera menuangkan air putih dan memberikannya kepada Rifki agar batuk tersebut segera meredah.
Rifki segera meminumnya dengan perlahan lahan agar batuknya tersebut segera hilang dan bisa me jelaskan kepada Nadhira bahwa cerita yang diucapkan oleh Bayu adalah sebuah kebohongan karena melebih lebihkan dalam bercerita, Nadhira begitu khawatir melihat Rifki yang tidak berhentinya untuk terbatuk batuk.
Nadhira menepuk pundak Rifki berkali kali agar Rifki berhenti untuk terbatuk batuk karena terdesak minuman tersebut, karena lamanya batuk tersebut membuat airmata Rifki tiba tiba keluar.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya batuk Rifki berhenti juga, hal tersebut membuat Nadhira dan yang lainnya merasa begitu lega karena sahabat dan juga ketua mereka tidak terbatuk lagi.
Seluruh anak buah Rifki segera berkumpul ditempat itu karena mereka mendengar bahwa ketuanya terbatuk batuk yang cukup lama sehingga membuat mereka merasa begitu khawatirnya dan mereka segera mendatangi tempat dimana Rifki berada saat ini, mereka datang ketika Rifki mulai berhenti untuk terbatuk.
"Tuan Muda ngak papa?". Tanya salah satu anak buahnya yang datang.
"Ha.... Ngak papa, kalian kembali saja". Ucap Rifki sambil menghela nafas lega.
"Baik Tuan Muda".
Anak buahnya yang datang tersebut segera meninggalkan tempat itu ketika mereka sudah mengetahui bahwa ketuanya baik baik saja, kalau sampek terjadi apapun kepada Rifki mereka akan merasa gagal menjalankan perintah dari Aryabima untuk menjaga dan melindungi Rifki.
Rifki merasa begitu leganya ketika tenggorokannya sudah tidak sakit lagi, dan juga nafasnya mulai kembali normal lagi. Melihat Rifki yang sudah membaik membuat Nadhira kembali duduk dibangkunya, kini pandangan Rifki tertuju kepada Bayi yang ada dihadapannya saat ini.
Sebelum Rifki mengatakan sesuatu kepada Bayu, tiba tiba anak buahnya melaporkan sesuatu kepadanya, ia mengatakan bahwa ada anak yang bernama Susi datang kemarkas, Susi bilang bahwa ia adalah teman dari Rifki, Rifki segera menyuruh anak buahnya untuk membiarkan dia masuk kedalam.
Anak buahnya segera menjalankan perintah dari ketuanya dan bergegas menuju kegerbang markas tersebut, tak beberapa lama kemudian Susi datang dengan mengomel karena Rifki terlalu lama untuk memerintah anak buahnya membukakan gerbang, dan begitu banyak pertanyaan harus dijawab dengan benar olehnya untuk bisa masuk kedalam markas.
__ADS_1
Setelah selesai mengomel Susi segera mengambil sebuah gelas dimeja setelah itu ia menuangkan es kedalamnya dan segera meminumnya hingga tandas tak tersisa sedikit pun, Susi tidak berhenti disitu saja, ia juga mulai memakan cemilan yang ada didepannya dengan lahapnya seperti ia tidak pernah makan dalam waktu yang sangat lama.
"Setelah makan jangan lupa membayarnya". Tegur Nadhira kepada Susi.
Mendengar teguran tersebut membuat Susi menaruh kembali cemilan yang ada ditangannya tersebut dengan wajah cemberutnya, hal tersebut membuat semuanya tertawa karena sikap Susi, Bayu sendiri tidak mampu untuk menghentikan tawanya karena teguran dari Nadhira mampu memunculkan ekspresi cemberut diwajah Susi.
Melihat dirinya yang ditertawakan oleh semua orang yang ada digazebo tersebut membuat Susi merasa begitu malu dan menyembunyikannya wajahnya dibalik meja yang ada didepannya, ia tidak berani untuk menampakkan wajahnya saat ini.
"Aaa....". Teriak Susi dari balik meja.
Teriakan tersebut seketika membuat semua orang harus menahan tawanya karena mereka tidak mau membuat Susi menangis ditempat itu juga, ketika Susi sudah tidak mendengar tawaan mereka, ia segera kembali memunculkan wajahnya dari balik meja dan menatap kearah cemilan tersebut.
"Enak". Ucapnya sambil meraih cemilan tersebut.
Wajah yang tadinya begitu marahnya karena peraturan markas tersebut sekarang berubah menjadi wajah polos karena ia langsung saja memakan cemilan tersebut tanpa mengetahui siapa pemiliknya.
Susi memandangi Nadhira dengan kedua mata yang berkaca kaca seakan akan sangat menginginkan cemilan tersebut, Nadhira yang melihat itu segera memandang kearah Susi dengan tajam sambil mengerutkan dahinya seakan akan tatapan itu mengatakan bahwa itu adalah cemilan miliknya.
Susi berekspresi semelas mungkin agar Nadhira memberikan cemilan itu kepadanya, melihat ekspresi itu membuat Nadhira merasa tidak tega dengan sahabat itu, akhirnya Nadhira melepaskan semua tawanya kepada Susi, melihat dirinya dipermainkan oleh Nadhira membuat Susi segera menutup mulut Nadhira dengan cara menyuapinya menggunakan cemilan tersebut.
"Van tolong ambilkan minuman dan cemilan lagi didapur". Ucap Rifki memberi perintah kepada Vano.
"Baik Tuan Muda".
Vano segera menjalankan perintah dari Rifki, ia segera bergegas menuju kedapur dan membuatkan mereka minuman lagi setelah itu ia juga mengambilkan mereka beberapa cemilan yang tadinya dibeli oleh Rifki disebuah toko.
Mendengar Vano memanggil Rifki dengan sebutan Tuan Muda membuat Susi terbengong beberapa saat sampai Nadhira menyadarkannya dengan memberinya suapan cemilan tersebut, merasakan bahwa ada cemilan di mulutnya membuat Susi segera mengunyah dan menelannya.
"Sejak kapan kamu dipanggil Tuan Muda?". Tanya Susi dengan polosnya.
"Iyuhh.. kenapa kamu jadi homo seperti ini ha?".
"Sejak kamu menguapiku, bukankah tadi kamu yang pertama kali melakukan itu? Kenapa masih bertanya juga". Ucap Nadhira dengan romantisnya.
"Ya Tuhan ada apa dengan hari ini". Ucap Susi sambil menjerit.
Rifki dan Bayu tertawa melihat tingkah kedua gadis yang ada didekatnya tersebut, sementara Reno hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka, Reno berpikir bahwa gadis jika bertemu dengan gadis lain akan terlihat seperti Nadhira bertemu dengan Susi.
Tak beberapa lama kemudian datanglah Vano dengan dibantu oleh salah satu anak buah Rifki yang lainnya untuk membawa cemilan tersebut kehadapan Rifki saat ini, setelah menaruh cemilan tersebut dimeja orang yang bersama Vano segera kembali ketugasnya sebelumnya.
"Apakah semuanya ini gratis?". Tanya Susi sambil menatap kearah cemilan itu.
"Iya... Tapi khusus kamu mbayar dua kali lipatnya". Ucap Rifki dengan senyuman yang menakutkan.
"Kamu serius?". Tanya Susi bersungguh sungguh
"Duarius". Jawab Rifki.
"Tigarius". Jawab Nadhira
"Empatrius". Jawab Bayu.
"Kenapa ngak sekalian seratusrius". Ucap Susi dengan sebalnya.
"Apa kamu mau membayar seratus kali lipatnya? Kalo aku sih dengan senang hati aku akan menerimanya". Tanya Rifki kembali sambil tertawa.
"Aaaa..... Kenapa aku harus membayar!!! Sementara lainnya bebas makan tanpa harus membayar". Rengek Susi.
__ADS_1
"Karena lainnya adalah anak buahku, Bayu adalah wakilku, sementara Nadhira adalah muridku, sedangkan dirimu?".
"Mentang mentang kalian berlatih beladiri sehingga membuli aku yang tidak bisa beladiri sedikitpun, kalian jahat".
Susi pura pura menangis ditempat itu, agar Rifki berbelas kasih untuk membiarkannya makan cemilan tersebut tanpa harus membayarnya, tangisan itu justru membuat Nadhira tertawa lepas, bagi mereka menggoda Susi adalah suatu keharusan yang wajib dilakukan pertama kali.
Melihat Nadhira yang tertawa membuat semuanya ikut tertawa kembali, membuat Susi yang tengah berpura pura menangis tiba tiba menekuk wajahnya seakan akan ia akan menangis sungguhan.
"Tuh kan kalian ketawa lagi". Ucap Susi sambil mengusap liurnya.
"Maaf maaf, kami hanya bercanda". Nadhira tertawa mendengar ucapan Susi.
"Iya kami hanya bercanda jangan memasukkannya kedalam hati, beneran kami hanya bercanda saja kok Sus, tapi soal membayar kami serius". Tambahan Rifki.
"Kalian tega memalak seorang gadis seperti diriku".
"Ngak Susiana, kamu bebas memakannya, jangan dengarkan apa yang dikatakan oleh Rifki, dia itu sedikit bermasalah, percayalah kepadaku". Ucap Nadhira sambil menyodorkan cemilan kepada Susi.
"Eh.. siapa yang bermasalah? Enak saja kalo ngomong .... ". Rifki mendengus kesal mendengar ucapan Nadhira.
"Shutttt...".
Nadhira menempelkan jarinya dimulutnya untuk menghentikan Rifki terus melanjutkan bicaranya, Rifki seketika diam membisu, meskipun matanya masih melirik kearah Nadhira.
"Tuan Muda, jangan banyak bicara!! Nanti tenggorokanmu sakit lagi". Ucap Nadhira dengan pelannya.
Nadhira mengambil sebuah cemilan dan memasukkannya kepada mulut Rifki, Rifki segera mengunyahnya dengan kerasnya sehingga membuat Nadhira tertawa melihatnya.
Wajah sebal Rifki terlihat begitu jelas diwajahnya, Nadhira tidak pernah melihat wajah sebal tersebut diwajah Rifki, sehingga Nadhira merasa takjub karena baru pertama kali ia melihat wajah itu begitu imut bagi Nadhira.
"Sudah sore nih Rif, anterin pulang dong, nanti papa nyari in". Tidak sengaja Nadhira melihat gelang jam yamg ada ditangannya yang akan menunjukkan pukul 5 sore.
Rifki mengiyakan dan segera berdiri diikuti oleh Nadhira, Nadhira langsung berpamitan kepada temam temannya untuk pulang lebih dulu, sementara Susi masih tetap dimarkas untuk memakan cemilan milik Rifki, Nadhira dan Rifki segera menuju kehalaman depan markas tersebut.
"Mau diantar pakai mobil atau sepeda motor Tuan Putri?". Tanya Rifki.
"Terserah Pangeran saja".
"Baiklah, naik sepeda motor saja biar cepet".
Rifki segera menuju kearah bagasi markas tersebut dan mengambil motor kesayangannya itu, Nadhira melihat sekelilingnya yang penuh dengan anak buah Rifki, apalagi diarea gerbang markas tersebut.
Setelah mengambil motor tersebut, Rifki segera menyuruh Nadhira untuk naik, para anak buahnya yang menjaga gerbang segera membukakan pintu gerbang tersebut, Rifki melajukan motornya keluar dari markas tersebut, anak buahnya seketika menutup kembali markas tersebut setelah kepergian Rifki.
Rifki melajukan motornya kerumah Nadhira dengan kecepatan yang sedang, Nadhira berpegang erat kepada baju Rifki, tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai juga dirumah Nadhira, Nadhira segera turun dari sepeda motor tersebut, dan berdiri disamping Rifki.
"Oh iya Rif, kenapa anak buahmu begitu banyak yang berjaga didepan?". Tanya Nadhira tiba tiba.
"Ah itu, memang kemauan kakek, agar penjagaan ditempat itu lebih ketat sehingga tidak mudah orang untuk bisa masuk kedalamnya, tapi kamu ngak usah khawatir selama tidak mengajak orang lain masuk, kamu bisa masuk dengan mudah kesana".
"Oh seperti itu, pantesan aja Susi tadi sampek kesal karena itu".
"Karena yang jaga didepan adalah anak buah kakek, sehingga ia tidak begitu mengenal Susi, lagian Susi juga baru beberapa kali kemarkas kan, jadi ya begitulah".
"Iya juga sih".
Rifki segera berpamitan kepada Nadhira, Nadhira mengiyakannya tetapi Rifki menyuruh Nadhira untuk masuk terlebih dahulu kerumahnya baru ia akan pergi dari tempat itu, Nadhira mengikuti apa kemauannya setelah Nadhira masuk, Rifki segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1