Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Kisah Pangeran Kian 15


__ADS_3

Panji bertapa cukup lama sambil mengontrol peredaran darahnya menggunakan tenaga dalam miliknya, keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya karena aura yang mulai terpancar dari tubuhnya, aura yang dikeluarkan oleh keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya itu.


"Aku harus bertahan demi Indah".


Panji berusaha sebisa mungkin untuk mengeluarkan racun tersebut dari dalam tubuhnya, dan pada akhirnya dirinya termuntahkan seteguk darah dari mulutnya yang telah menghitam karena bercampur dengan racun ular yang begitu kuat.


Hingga sesuatu yang terasa begitu dingin dan sejuk menyelimuti tubuhnya, hal itu membuatnya merasa lebih tenang daripada sebelumnya, karena sejuknya udara yang tercipta disekitarnya membuat Panji mulai tidak sadarkan diri dan tubuhnya mulai jatuh keatas dedaunan yang telah gugur dari pohon inangnya dengan begitu pelannya.


Panji sudah tidak sadarkan diri hingga esok hati tiba Panji masih tetap bertahan dalam pingsannya sementara Indah mulai sadar dari pingsannya karena gigitan ular tersebut, Indah mulai membuka kedua matanya dan melihat sekelilingnya.


"Kepalaku pusing sekali, ada apa denganku".


Indah terus bangkit dari tidurnya, perlahan lahan dirinya mulai menjauh dari tempat itu untuk melanjutkan mencari sosok Panji dengan jalan yang masih sempoyongan karena pusing yang sedang ia alami saat ini.


Tidak jauh dari tempat Indah terbaring saat ini, Indah menemukan keberadaan orang lain yang ikut terbaring diatas tanah yang ada dihutan itu, Indah segera mendekat kearah orang yang ia lihat itu.


Dengan perlahan lahan Indah mulai mendekat kearah orang yang terbaring itu, Indah begitu terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang tengah terbaring itu tidak lain adalah orang yang ia cari selama ini, yakni Panji yang sudah tidak sadarkan diri.


"Panji". Teriak Indah yang langsung menjatuhkan tubuhnya didekat tubuh Panji yang sudah terbaring disana cukup lama.


Merasakan sesuatu yang menabrak tubuhnya membuat Panji berusaha untuk membuka matanya dengan sisa sisa kesadarannya yang masih ada, dengan redupnya Panji menatap wajah Indah dan tersenyum lembutnya kepadan Indah.


"Apa yang terjadi kepadamu Panji?". Tanya Indah dengan khawatirnya mengenai kondisi Panji saat ini.


"Akhirnya kau sadar juga Indah.... Aku merasa sangat senang sekarang". Ucap Panji dengan lirihnya dan sesekali mengambil nafas panjang.


"Panji, apa yang kau katakan? Apa yang telah kau lakukan ini begitu sangat membahayakan nyawamu Panji, kenapa? Kenapa kau melakukan ini Panji kenapa?".


"Aku tidak bisa melihatmu ter... luka Indah... Uhuk... Uhuk... Uhuk....".


Darah mulai kembali keluar dari mulut Panji setelah Panji terbatuk batuk, Panji tiba tiba tidak sadarkan diri kembali didekapan Indah, darah yang ada diujung bibir Panji menetes kebaju milik Indah, Indah menangis ketika melihat Panji mulai tidak sadarkan diri dihadapannya dengan darah yang mengalir diujung bibir Panji.


Darah yang keluar dari mulut Panji adalah darah yang tercampur dengan racun sebagian, dengan keluarnya darah itu juga telah mengurangi penyebaran racun yang ada didalam tubuhnya melalui darahnya.


"Panji bangun, aku mohon kepadamu, bangunlah hiks.. hiks.. hiks.. jangan tinggalkan aku, Panji bangun, aku mohon kepadamu, bangunlah". Tangis Indah pecah seketika dan menggoyang goyangkan tubuh Panji untuk menyadarkan.


Indah berusaha untuk membawa tubuh Panji pulang kerumahnya, ia tidak tau lagi harus berbuat apa, akhirnya dirinya memapah tubuh Panji yang dalam keadaan pingsan tersebut dengan sekuat tenaga untuk membawanya pulang kerumahnya.


"Panji bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai".


Indah terus berusaha untuk memapah tubuh Panji menuju rumahnya, meskipun beberapa kali dirinya hampir terjatuh karena beratnya tubuh Panji akan tetapi Indah sama sekali tidak menyerah sama sekali untuk membawa Panji pulang kerumahnya.


Ketika hampir sampai didepan rumahnya, tiba tiba tubuh Panji terjatuh dengan lemasnya, Indah yang kehilangan keseimbangannya pun ikut terjatuh disamping Panji yang sudah terbaring diatas tanah.


"Ayah!! Ibu!! Tolong!!". Teriak Indah memanggil kedua orang tuanya untuk meminta bantuan.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya kedua orang tua Indah segera keluar dari dalam rumahnya, keduanya begitu terkejut ketika melihat putrinya terduduk dilantai sementara orang yang dicari oleh putrinya terbaring tidak berdaya ditanah.


"Astaghfirullah,, apa yang terjadi Nak?". Tanya Ayahnya panik dan segera membantu Indah untuk berdiri kembali.

__ADS_1


Ayah Indah segera membantu membangkitkan Panji dan memapahnya masuk kedalam rumahnya setelah itu menidurkan Panji diatas ranjang kamarnya, sementara Ibunya membantu Indah yang tengah kelelahan untuk istirahat didalam rumahnya.


Indah begitu kelelahan untuk membawa Panji pulang kerumahnya, sehingga sesampainya dia dirumah, Indah langsung tidak sadarkan diri, Ibunya membaringkan Indah dikamarnya dan tidak lupa ia juga memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa keduanya yang tiba tiba tidak sadarkan diri itu.


Kedua orang tua Indah merasa sangat khawatir dengan keadaan keduanya yang tidak sadarkan diri tanpa sebab, setelah tabib itu memeriksa keadaan keduanya, ekspresi wajahnya berubah ketika menerima denyut nadi dari Panji.


"Bagaimana bisa?". Ucap tabib itu ketika merasakan denyut nadi dari Panji.


Ketika tabib itu memeriksa denyut nadi Panji, ia dapat merasakan bahwa adanya gejolak didalam tubuh Panji karena racun tersebut yang mulai menyebar keseluruh tubuhnya sehingga membuat detak jantungnya semakin meningkat dan tidak dapat bekerja dengan semaksimal mungkin.


Tabib itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya dengan apa yang dialami oleh Panji, bagaimana bisa tiga perempat darah yang ada didalam tubuhnya sudah terinfeksi oleh racun akan tetapi pemuda tersebut masih mampu mempertahankan nyawanya yang hampir melayang.


"Ada apa Bu?". Tanya Ayah Indah dengan sangat khawatirnya ketika mendengar ucapan dari sang tabib itu.


"Begitu banyak racun dalam tubuhnya dan sudah menyebar keseluruh tubuh, aku tidak yakin sampai kapan pemuda ini akan bertahan, hanya Allah yang tau apakah pemuda ini akan selamat atau tidaknya".


"Tolong selamatkanlah nyawa pemuda ini, kami akan memberikan apapun yang kau mau, asalkan pemuda ini dapat selamat". Ucap Ibu Indah memohon kepada tabib tersebut agar dapat menyelamatkan Panji.


"Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawanya, saya tidak bisa janji bahwa saya akan bisa menolongnya, selebihnya kita serahkan saja kepada Allah".


Tabib tersebut segera mengeluarkan beberapa botol obat dari dalam tas kainnya, dirinya juga tengah menghaluskan beberapa bahan yang akan dijadikan sebagai obat untuk mengeluarkan racun yang ada didalam tubuh Panji.


Dengan perlahan lahan wanita paruh baya tersebut menuangkan obat yang telah dihaluskan dan diberi air kedalam mulut Panji menggunakan sendok kecil, akan tetapi obat obatan tersebut sama sekali tidak berpengaruh kepadanya.


"Kenapa obat obatan yang aku berikan kepada pemuda ini sama sekali tidak berpengaruh kepadanya? Lalu bagaimana caranya aku mengeluarkan racun itu dalam tubuhnya?". Guman tabib tersebut yang tidak henti hentinya.


"Tolong selamatkanlah nyawanya Bu, kami mohon". Ucap Ibu Indah memohon kepada tabib tersebut.


"Bagaimana itu bisa terjadi?".


"Aku juga tidak tau, apakah pemuda ini memiliki sebuah khodam penjaga?".


"Aku tidak tau mengenai hal itu".


Tak beberapa lama kemudian, Indah terbangun dari pingsannya, Indah segera bergegas untuk mencari Panji, hal pertama yang ia tanyakan kepada Ibunya ketika dirinya tersadarkan adalah mengenai kondisi dari Panji dan bagaimana kabar Panji saat itu.


Indah segera bergegas menuju ketempat dimana Panji terbaring saat ini, tanpa menunggu jawaban dari Ibunya, dikamar tempat Panji dirawat itu, Ayahnya tengah berdiri untuk melihat bagaimana caranya tabib itu mengobati Panji.


"Ayah bagaimana keadaan Panji?". Tanya Indah ketika melihat tubuh Panji masih terbaring dengan lemasnya diatas ranjang.


"Kamu yang tenang ya Nak, doakan yang terbaik untuk dia, agar dia mampu melewati masa kritisnya".


"Ayah katakan apa yang terjadi kepada Panji hiks.. hiks.. hiks.. Panji pasti akan baik baik saja kan Ayah, tolong jangan pisahkan aku dari Panji, aku mohon kepadamu Ayah, selamatkan Panji". Tangis Indah pecah ketika melihat tubuh Panji yang terbarik tidak berdaya itu.


Apa yang tengah terjadi kepada Panji saat ini membuat hati Indah merasa sangat sakit dan tersayat sayat, ia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan nyawa Panji yang sedang berada diambang batasnya.


"Ayah hiks.. hiks.. hiks.. katakan kepadaku, Panji akan baik baik saja kan Ayah? Panji akan selamat kan? Ini semua salahku Ayah, andai saja dia tidak menghisap racun ular yang ada didalam tubuhku mungkin dirinya tidak akan terbaring seperti ini, ini semua salahku Ayah, selamatkanlah Panjiku".


Tabib tersebut berusaha untuk memasukkan obat cair kedalam mulut Panji, akan tetapi obat obatan itu sama sekali tidak bekerja didalam tubuhnya, dalam pingsannya Panji mampu mendengar tangisan dari Indah, mendengar itu hatinya terasa begitu sakit sehingga dirinya meneteskan airmatanya.

__ADS_1


"Sepertinya pemuda ini mampu mendengarkan suara yang ada disekitarnya, mungkin suara putri Bapak mampu menjadi penyemangat baginya untuk dapat bertahan dari kondisi kritisnya". Ucap tabib itu ketika melihat respon yang diberikan oleh Panji.


"Panji". Ucap Indah pelan dan bergegas menuju ketempat dimana Panji terbaring lemah.


Dialam bawah sadarnya, Panji seakan akan tengah terkurung disebuah tempat yang cukup asing baginya, dirinya tidak mampu untuk menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, sekan akan semuanya telah dilumpuhkan hingga membuatnya tidak berdaya seperti saat ini.


"Panji kembalilah, gunakan kekuatan keris itu untuk menetralkan racun yang ada di dalam tubuhmu". Tiba tiba sebuah suara terdengar ditelinga Panji.


"Siapa? Siapa yang mengatakan hal ini?".


"Aku adalah dirimu dan dirimu adalah aku, aku adalah suara hatimu, bertahanlah Panji, aku akan membantumu untuk menetralkan racun yang ada ditubumu, mungkin kau akan mengalami kedinginan yang luar biasa selama proses ini, apa kau siap menerimanya?".


"Lakukan apapun yang kau inginkan itu, aku siap menanggung semua resikonya, dan aku sangat siap jika harus kehilangan nyawa dalam proses ini".


"Baiklah".


Obat yang diberikan oleh tabib kepada Panji tersebut sama sekali tidak berdampak apapun terhadap dirinya, obat itu hanya mampu menahan racun tersebut agar tidak terlalu menyebar keseluruhan tubuh Panji, Indah yang melihat Panji tak kunjung sadarkan diri hanya bisa memandanginya dalam diamnya karena dirinya tidak bisa berbuat apa apa.


Tiba tiba tubuh Panji bergetar hebat seakan akan dirinya, tabib itu memeriksa denyut jantung Panji yang semakin lama semakin meningkat, hal itu membuat dirinya semakin panik dengan apa yang terjadi kepada pasiennya itu.


"Bu, apa yang terjadi dengan Panji? Kenapa dirinya mengigil seperti ini?". Tanya Indah dengan cemasnya.


"Ambilkan selimut untuk menutupi tubuhnya".


Ayah Indah segera bergegas untuk mencari selimut yang dia punya didalam rumah itu, setelah itu dirinya menutupi tubuh Panji dengan beberapa selimut hingga begitu tebalnya, akan tetapi tubuh Panji masih bergetar kedinginan.


"Akh...". Keluh Indah setelah memegangi kening Panji yang begitu panasnya seperti nyala api. "Apa yang terjadi dengan Panji? Kenapa badannya begitu panas dan mengigil seperti ini?".


"Aku juga tidak tau Nak, obat yang aku berikan kepadanya sama sekali tidak berpengaruh kepada tubuhnya, sampai sekarang tidak ada racun yang berhasil aku keluarkan dari dalam tubuhnya". Ucap tabib itu yang juga panik mengenai kondisi pasiennya yang tiba tiba mengigil.


"Bagaimana bisa anda tidak tau? Anda adalah seorang tabib yang terbaik disini, kenapa anda tidak mengetahui apa yang terjadi dengannya?". Ucap Indah dengan marahnya kepda tabib tersebut.


"Nak, tenanglah Nak, berdoalah semoga Panji baik baik saja, bukan saatnya untuk dirimu marah saat ini, serahkan semuanya kepada Allah, hanya Allah yang bisa mengubah takdir". Ucap Ayahnya menenangkan hati putrinya yang tengah tersulut emosi.


"Bagaimana aku bisa tenang Ayah? Bagaimana aku bisa melihatnya seperti ini Ayah? Hua.... Hua.... Apa yang terjadi kepada Panji Ayah? Semua ini adalah salahku hiks.. hiks.. hiks... Tolong selamatkan Panji, aku mohon, selamatkan Panji Ayah, aku mohon, ini semua adalah salahku, tolong selamatkan Panji, aku mohon selamatkan dirinya, aku mohon".


Tubuh Indah terasa kehilangan kekuatannya sehingga membuat terjatuh berlutut didekat ranjang Panji, ia tidak bisa melihat Panji seperti ini, Ayahnya yang melihat putrinya begitu rapuh itu hanya bisa memeluk putri tercintanya, Indah yang dipeluk Ayahnya itu hanya bisa memukul dada Ayahnya pelan untuk mengungkapkan perasaan saat ini.


"Tenanglah Nak, Panji adalah orang yang kuat, dia pasti bisa bertahan dengan ini semua, Ayah yakin bahwa Panji akan selamat, begitupun dirimu Nak, kau harus yakin bahwa Panji juga akan selamat".


Indah menangis didalam dekapan hangat Ayahnya, hingga perlahan lahan membuatnya merasa tenang didalam dekapan yang hangat itu, Indah hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi kali ini.


"Apakah aku dan Panji memang tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya Ayah?". Tanya Indah dengan pelannya.


"Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu Nak".


"Sejak awal, aku dan dirinya selalu menghadapi masalah ketika kita bersama sama, kenapa Ayah kenapa? Dan kenapa harus Panji yang menanggung semuanya sendirian Ayah?".


Ujian yang dihadapi keduanya terasa begitu berturut turut, sehingga Indah menganggap bahwa dirinya memang tidak pantas untuk Panji, begitupun sebalinya Panji akan melakukan apapun demi kebaikan dari orang orang yang ada disekitarnya.

__ADS_1


"Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu Nak, karena jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang menentukan, jika memang Panji adalah jodohmu dia tidak akan pernah bisa pergi jauh darimu, jika memang dia bukan jodohmu maka ikhlaskanlah kepergian nanti".


...Jangan lupa dukungannya...


__ADS_2