Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Permata iblis


__ADS_3

Ketiganya merasa begitu kelelahan, apalagi orang yang berada dipaling bawah yakni Vano yang harus menanggung beban kedua tubuh yang tengah menimpanya saat ini.


"Ba.... bangun kalian". Ucap Vano dengan susahnya.


Karena kelelahan membuat keduanya kehilangan kekuatannya sehingga mereka kesulitan untuk segera bangun dari tubuh Vano, nafas mereka begitu cepatnya dan tenaga mereka semakin lama semakin berkurang.


"Kalian cepat bantu mereka!!". Ucap Rifki memberi perintah.


"Baik bos".


Anak buahnya segera membantu mereka untuk bangkit dan menapah mereka menuju ketempat Rifki berada saat ini, ketiganya langsung didudukkan di kursi yang ada digazebo dan Rifki segera menuangkan minuman dan memberikannya kepada ketiganya.


"Cepat katakan apa yang kamu lakukan ketika membawa Nadhira!!". Ucap Bayu dengan lemasnya sambil menunjuk nunjuk kearah Vano.


"Baiklah aku akan katakan". Jawab Vano dengan lemasnya.


Vano mencoba merilekskan tubunnya agar tidak merasa begitu lemas karena kejar kejaran tersebut, setelah nafasnya mulai normal ia menceritakan bagaimana caranya untuk membawa Nadhira pergi dengan berpura pura sebagai preman.


Preman itu dengan paksanya membawa Nadhira pergi, Vano menceritakan bagaimana dirinya dibicarakan banyak orang didalam sebuah angkot karena penampilannya dan juga ekspresi Nadhira yang mendominasi bahwa Nadhira benar benar diculik karena khawatirnya kepada Rifki.


"Kau!!! Aku tidak memintamu untuk melakukan itu". Bayu terkejut karena cerita itu.


"Dan kau!! Penyebab diriku dimarahi dan diceramahi oleh seorang ibu". Rifki menambahkan.


"Kau!! Kau membuatku tertawa sampai menangis,,, ck.. ck.. nikmatilah nasipmu...". Reno ikut menambahkan sambil berdecak kepada Vano.


"Vanooo.... Apa yang kau lakukan ha?". Teriak Bayu.


"Ma... Maaf". Jawab Vano dengan terbatah batah.


Nafas yang tadinya normal sekarang kembali memburu dan Vano berkeringat dingin karena hal itu, seluruh teman temannya memarahinya apalagi Rifki yang sebagai bosnya ikut memarahinya, rasanya ia ingin menangis kali ini.


Karena situasi saat itu membuat Vano merasa begitu sedih dan kecewa, dan pada akhirnya ia sampai meneteskan airmatanya karena penyesalannya yang telah membawa Nadhira dengan cara yang tidak baik.


"Kenapa menangis? Masih digertak seperti ini saja sudah menangis, anggap saja ini sebagai ujian mental untukmu, sebagai persiapan dimasa depan jika kau akan mengalami hal seperti ini". Ucap Rifki kepada Vano.


"I... Iya bos". Jawab Vano dengan terbatah batah.


"Untung Rifki sabar, kalo tidak huh sudah habis kau saat ini juga". Omel Bayu.


"Kau yang akan ku habisi lebih dahulu, karena beraninya merencanakan ide gila seperti ini". Guman Rifki tetapi masih mampu didengar oleh Bayu.


"Tidak.. tidak.. kau salah, justru kau harus berterima kasih denganku karena aku membawa dia kesana, dan kau bisa mendapatkan sebuah pelukan darinya..." Bayu mengejek kearah Rifki.


"Ck...". Rifki mendecak kesal kepada Bayu.


Setelah itu Rifki berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan tempat itu, tetapi perkataan Bayu membuatnya berhenti sesaat.


"Ternyata bosku bisa jatuh cinta juga ya, ku fikir hanya manusia normal yang bisa".


Rifki membalikkan badannya dan menatap Bayu dengan tajam, emang dia pikir Rifki siapa? hantu?. Rasanya Rifki ingin menelan Bayu hidup hidup, karena malunya membuat Rifki kembali meninggalkan tempat itu.


"Lihatkan? Dia tidak mungkin bisa marah denganku". Ucap Bayu dengan sombongnya setelah kepergian Rifki dari tempat itu.


"Iyaya.. ku akui dirimu begitu menyebalkan, dia bukannya tidak bisa marah denganmu, tapi yang kulihat sekarang singa sedang mengincar mangsanya". Jawab Reno dengan santainya.


*****


Diruang kamar Rifki sedang duduk dikursi kamarnya sambil membaca sebuah buku yang berada ditangannya saat ini, tiba tiba Raka muncul disampingnya dan duduk didekatnya.


"Bagaimana?". Tanya Rifki tanpa menoleh kearah Raka.

__ADS_1


"Mungkin hal ini tidak begitu enak didengarkan, tetapi itulah yang aku ketahui dari alam gaib yang ku datangi".


"Maksudmu apa, langsung saja katakan apa yang kamu ketahui dari tempat yang kamu datangi".


Raka menatap wajah Rifki sekilas setelah itu ia membuang pandangan dari wajah Rifki, dengan berat hati ia mengatakan mengenai informasi apa yang ia dapatkan dari alam gaib yang ia datangi.


"Kelemahan dari permata itu adalah sebuah keris...".


"Keris apa itu?".


"sebuah keris pusaka yang diberi nama keris xingsi, tapi keris itu...."


"Jangan setengah setengah".


"Bagaimana bisa langsung memberitahukan padamu, kau sendiri terus saja memotong ucapanku".


"Yaya.. maaf gitu saja marah, lanjutkan saja".


Rifki terus saja memotong ucapannya sebelum Raka menyelesaikan perkataannya, karena begitu penasarannya mengenai hal yang menyangkut Nadhira.


Raka melanjutkan perkataannya, Permata itu sebenarnya tercipta karena kekuatan Kuswanto yang berkumpul menjadi satu, untuk menjaga sebuah pusaka disuatu tempat.


Kuswanto adalah sosok seorang pangeran yang begitu tampan dan berbakat yang diberi gelar sebagai penghianat dari kerajaannya karena ia telah berkhianat kepada kerajaannya dan juga ayahandanya.


Nama asli kuswanto adalah Reden Kian Jayaningrat, ia menyamarkan namanya untuk bersembunyi dari kejaran anggota kerajaannya, sehingga dirinya menjadi buronan.


Pada suatu hari sang Ayahanda mendapatkan sebuah keris pusaka yang bermana keris xingsi dari kegiatan berburunya, keris itu adalah senjata pusaka yang tak tertandingi sehingga membuat kerajaan itu begitu disegani oleh beberapa kerajaan lainnya.


Karena hal itu membuat sang Ayahanda begitu merasa sombong dan menganggap semua orang lemah darinya, hingga ia sampai menyengsarakan rakyatnya, dan melakukan pembantaian dimana saja untuk menguji kemampuan keris pusaka tersebut.


Melihat seluruh rakyatnya menderita Kuswanto tidak mau tinggal diam, ia berencana untuk mencuri pusaka tersebut, karena aksinya terpergoki oleh ibundanya membuat ibundanya mendukung tindakan tersebut dan ia memberikan seluruh kekuatan spiritualnya kepada Kuswanto, ibundanya begitu lelah melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin berubah.


Kematian sang ibu menjadi sebuah pukulan yang besar baginya, disaat Kuswanto memeluk ibunya untuk terakhir kalinya, sang ayah tiba tiba datang melihat hal itu Kuswanto segera berlari sambil membawa keris tersebut.


Ayahandanya begitu marah karena penghianat dari sang anak sehingga ia memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghabisi nyawa Kuswanto, tanpa disangka Kuswanto lah yang menghabisi seluruh pasukan tersebut.


Demi menghindari kejaran tersebut, Kuswanto melepaskan seluruh perhiasan yang ada ditubuhnya dan berpakaian seperti orang biasa, ia juga menyamar menjadi masyarakat jelata, ia terus berlari dan akhirnya sampai disebuah goa, ia tinggal ditempat itu untuk waktu yang cukup lama, ia bertapa untuk meningkatkan kekuatannya.


"Apa yang terjadi setelah itu?". Tanya Rifki.


"Dengarkan dulu sebelum bertanya, atau aku bisa lupa denga informasi yang ku dapatkan, paham?".


"Baiklah aku akan diam".


Kuswanto berniat untuk menghilangkan energi negatif yang ada didalam tubuhnya, karena aura pembunuhan yang tercipta didalam tubuhnya setelah menghabisi begitu banyak prajurit kerajaan.


Tiba tiba terciptanya sebuah cahaya merah terang dari tubuh Kuswanto, terangnya cahaya tersebut perlahan lahan mulai meredup dan berubah menjadi warna merah pekat, sangking pekatnya hingga membuat cahaya tersebut berubah menjadi hitam.


Energi itu berlawanan dengan keris xingsi yang berada ditangannya saat ini, ia tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menghilangkan energi merah gelap tersebut, akhirnya dengan kekuatan dari pusaka tersebut membuat energi itu berubah menjadi permata hitam pekat.


Setelah kejadian itu ia berniat untuk membangun sebuah desa, desa itu yang disebut sebagai desa Mawar Merah, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis yang mampu memikat hatinya yaitu Rahayu.


Kuswanto menyimpan pusaka itu disebuah goa dan dilindungi oleh seluruh kekuatannya dan juga kekuatan ibundanya sehingga siapapun tidak dapat masuk kedalamnya kecuali keturunannya, karena pengabdian Nimas dan keluarganya, permata itu jatuh ditangan Nimas, ia mendapatkan kekuatan yang besar untuk membalaskan dendamnya didesa tersebut, tetapi siapa sangka teman masa kecilnya adalah musuhnya.


Sehingga ia tidak bisa melawan temannya tersebut, tetapi ia akan bangkit kembali ketika waktunya telah tiba, telah diramalkan akan lahir seorang gadis yang akan mampu menghancurkan permata tersebut, Nimas tidak akan membiarkan hal itu, jika permata itu hancur maka roh ayah dan ibunya juga akan menghilang, bukan hanya hal itu kekuatannya juga akan hilang dan rohnya akan hilang selamanya dari dunia.


"Setelah kejadian itu? Apa kau tau kemana Kuswanto pergi?".


"Tidak, tidak ada yang tau kemana dia pergi saat itu, tidak ada yang melihatnya lagi setelah ia pergi dari desa Mawar Merah dan tidak ada yang tau mengenai kematiannya, mereka menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya".


Raka menceritakan hal itu dengan detailnya kepada Rifki tentang yang ia ketahui setelah pergi kealam gaib untuk mencari tau mengenai kelemahan dari permata iblis yang tidak lain adalah keris xingsi.

__ADS_1


"Jika permata itu sudah muncul maka keris itu juga akan muncul".


"Kita harus mencari keberadaan keris itu".


"Jangan terburu buru, keris itu berada disebuah goa, dan hanya keturunan Kuswanto yang bisa mengambilnya, kita tunggu saja orang itu muncul, setelah itu kita bisa mengambil keris itu".


"Baguslah, itu artinya permata itu akan lenyap".


"Apanya yang bagus?? Kau pikir dengan mudahnya permata itu hancur meskipun dengan keris itu ha? Asal kau tau ya, nyawa Nadhiramu sedang dipertaruhkan".


"APA YANG KAU BILANG!!!". Bentak Rifki.


"Setiap tubuh yang terdapat permata itu, akan ikut hancur bersamaan dengan permata itu, kau pernah dengar bukan? Bahwa siapapun yang menelan permata itu tidak dapat diselamatkan begitu juga dengan kekasihmu itu".


"Tidak!! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi".


"Berusahalah kawan".


Seketika hal itu membuat Rifki tampak murung karena ia tidak ingin kehilangan Nadhira tetapi ia juga tidak bisa membiarkan permata itu terus berada ditubuh Nadhira, jika keris itu mampu menghancurkan permata itu artinya keris itu juga mampu merenggut nyawa Nadhira.


"Kita harus cari cara agar Nadhira masih bisa diselamatkan, biar bagaimanapun aku tidak bisa membiarkannya meninggal".


"Kalaupun ada pasti aku sudah memberitahumu Rif, tapi mahkluk mahkluk itu tidak memberitahukan hal itu kepadaku, mereka hanya bilang bahwa sudah terlambat untuk melakukan hal itu".


"Tidak, ini belum terlambat".


Tok tok tok


Tiba tiba ada yang mengetuk ruangan milik Rifki, Rifki segera bergegas untuk membukakan pintu, ia melihat Aryabima sudah berdiri dihadapannya saat ini. Tidak biasanya kakeknya datang langsung kekamarnya, biasanya ia akan menyuruh anak buahnya untuk memanggil Rifki.


"Ada apa kek? Tumben kemari".


"Kakek mau ngomong sesuatu sama kamu".


"Mari masuk kek".


Rifki mengajak kakeknya untuk masuk kedalam kamarnya karena kakeknya ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannnya saat ini, sehingga ia mengajaknya untuk masuk kedalam.


"Mulai hari ini, kakek serahkan tempat ini untuk kau rawat, kakek masih ada urusan yang menyebabkan kakek harus pergi menyelesaikannya".


"Urusan apa itu kek? Mengapa dengan tiba tiba kakek menyerahkan kepadaku tanggung jawab yang besar, lalu bagaimana bisa aku merawat tempat ini sendirian tanpa adanya kakek disisiku?".


"Jika waktunya sudah tiba kau akan tau sendiri nak, kau harus bisa menjalankan tanggung jawabmu meskipun tanpa adanya kakek disekitarmu, kakek yakin kau bisa melakukannya".


"Tidak kakek, aku mohon jangan pergi, aku ngak mau ditinggal sendiri".


Mata Rifki mulai berkaca kaca ketika kakeknya tiba tiba mengatakan hal itu kepadanya, bukan soal mengurus markas melainkan kehadiran kasih sayang seorang ayah yang Aryabima berikan kepadanya selama ini.


"Jaga diri baik baik ya nak, suatu hari kau akan tau apa yang aku dan papamu lakukan ini demi kebaikanmu, jaga ibu dan adikmu dengan baik".


"Kenapa kakek mengatakan hal seolah olah kakek akan pergi untuk selamanya?".


Aryabima hanya tersenyum kepada Rifki, senyum itu begitu hangat, ia lalu mengusap kepala Rifki dengan lembutnya, airmata Rifki tak lagi mampu tertahankan, ia memeluk kakeknya dengan erat, ia tidak ingin kakeknya pergi kali ini.


"Kau tau mengenai permata iblis, tetapi kenapa tidak menceritakannya kepada kakekmu ini, apakah kakekmu ini adalah orang asing bagimu?".


"Kakek tau darimana aku tau mengenai hal itu?".


"Dasar bodoh, emang apa yang tidak kakekmu ini ketahui? Bukankah kau pernah bercerita mengenai desa Mawar Merah ha? Bukan tanpa sebab kau diarahkan kesana bukan? Kau sudah dewasa nak, kakek sudah memerintahkan seseorang untuk mengajarimu bagaimana caranya memegang perusahaan besar, kelak kaulah yang akan memimpinnya, disaat itu kakek akan datang sambil membawa papamu kembali".


"Kakek".

__ADS_1


__ADS_2