Apa Salahku Pa

Apa Salahku Pa
Aku menginginkan nyawa Papa


__ADS_3

Setelah perasaan Rifki kembali tenang seperti sebelumnya membuat dirinya memantapkan diri untuk datang kehutan untuk menemui Papanya, akhinya dirinya memberanikan diri untuk bertemu dengan Papanya setelah sekian lama keduanya tidak pernah bertemu apalagi mengobrol selama ini, Rifki segera bergegas menuju ketempat dimana Papanya memintanya untuk datang.


Setelah sekian lama perjalanan menuju hutan itu dengan mengendarai sepedah motor kesayangannya, tak beberapa lama kemudian akhirnya Rifki sampailah ditepi hutan tersebut, Rifki memarkirkan sepedahnya diantara rimbunnya semak semak yang ada ditepi hutan agar tidak ada yang mengetahui kedatangannya ketempat itu.


Dengan diam diam dirinya masuk kedalam hutan tersebut sambil menutupi wajahnya menggunakan slayer yang ia bawa dan menutupi kepalanya dengan menggunakan jaket hitam miliknya.


"Jangan sampai orang orang jahat itu melihatku berkeliaran disini sekarang". Guman Rifki.


Dengan perlahan lahan Rifki memasuki hutan tersebut, agar tidak menarik perhatian orang orang yang tengah berjaga ditempat itu, Rifki memasuki hutan itu dengan sangat hati hati dan sesekali ia bersembunyi dibalik semak semak.


Bukan hanya hutan itu yang terkenal sangat angker karena banyak mahluk gaib yang menjadi penghuni ditempat itu, akan tetapi orang orang yang berjaga ditempat itu tidak akan segan segan untuk membunuh siapapun yang datang ketempat itu dengan ganasnya kecuali orang orang yang mereka kenal sebagai atasan mereka.


Ditengah tengah perjalanan Rifki dapat melihat beberapa orang yang tengah berkeliling ditempat itu, dan sebagian dari mereka tengah bersembunyi dibalik semak semak yang rimbun.


Rifki menatap kearah mereka sambil terus berjaga jaga agar dirinya tidak diketahui oleh orang orang yang berada ditempat itu, perlahan lahan Rifki berjalan untuk mendekat kearah desa Mawar Merah.


Setelah cukup lama berjalan menuju hutan seorang diri, tak beberapa lama kemudian ada seseorang yang mendekat kearahnya tiba tiba dan menarik tangannya untuk menuju kesebuah tempat yang cukup asing bagi Rifki.


Orang itu tidak hanya menarik tangan Rifki saja, melainkan dengan mengunci tanganya agar tidak bisa bergerak dan orang itu juga tidak lupa untuk menutup mulut Rifki agar tidak berteriak dan memancing seluruh orang yang ada ditempat itu.


Orang itu membawa Rifki masuk kedalam sebuah goa yang tidak pernah ada orang yang bisa masuk kedalamnya dan tempat itu cukup tersembunyi dari dunia luar.


Setelah sampai didalam goa tersebut, orang itu segera melepaskan kuncian tangannya dari tangan Rifki dan melepaskan pegangan tangannya dari mulut Rifki.


Rifki sesegera mungkin untuk menjauh dari orang tersebut setelah mengetahui bahwa orang itu sudah melepaskannya dari kuncian itu.


"Siapa kamu? Kenapa kamu membawaku kesini? Apa tujuanmu?". Tanya Rifki setelah sampai ditempat tujuan orang yang membawa Rifki.


Tanpa Rifki sadari bahwa dirinya sudah berada didalam sebuah goa yang tidak pernah dirinya lihat sebelumnya, goa itu tidak lain adalah tempat dimana Pangeran Kian bersembunyi dahulu kala.


Orang yang membawa Rifki ketempat tersebut tidak menjawab pertanyaan dari Rifki, akan tetapi orang itu malah menyalakan sebuah obor kecil yang memang sudah ada ditempat itu untuk menerangi bagian dalam goa tersebut.


"Papa". Ucap Rifki pelan.


Ketika obor kecil itu menyala, tampaklah sebuah wajah yang tidak asing bagi Rifki, orang itu tersenyum kepada Rifki akan tetapi ekspresi wajah yang Rifki tunjukkan berbeda jauh dari orang itu.


"Apa kamu sebegitu marahnya kepadaku Nak? Sampai sampai kau tidak tersenyum ketika melihatku ada dihadapanmu saat ini". Tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Haris, Papa kandungnya.


Rifki mengalihkan pandangannya dari Papanya, seakan akan ini hanyalah sebuah mimpi yang sama sekali tidak ingin Rifki alami, entah bagaimana perasaannya saat ini, marah, kecewa, kesal, senang, sedih menjadi satu dan sulit untuk diungkapkan dengan kata kata.


Didalam goa tersebut cukup luas dan langit langit goa tersebut lumayan tinggi, akan tetapi melihat keadaan goa tersebut dapat Rifki menembaknya bahwa goa tersebut sudah cukup lama ditinggali karena banyak kayu bakar, peralatan untuk bertahan hidup dan alas untuk tidur ditempat itu.


Rifki tidak menyangka bahwa Papanya akan membawanya ketempat seperti ini, apalagi dengan cara seperti seorang tahanan yang dipaksa untuk ketempat seperti ini.


"Kau sudah sebesar ini sekarang Nak, dulu ketika dirimu masih kecil kau selalu mengeluh kepada Papa dan mencurahkan semua perasaanmu kepada Papa, dulu Papa merasa sangat senang waktu itu karena bisa melihatmu tumbuh dewasa sampai saat ini, kau begitu tampan dan sangat kuat".

__ADS_1


Rifki sama sekali tidak mampu untuk mengeluarkan kata katanya kepada sosok lelaki yang ada dihadapannya saat ini, sehingga dirinya hanya bisa berdiam diri sambil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Papanya kepadanya saat ini.


Melihat anaknya yang hanya berdiam diri dan tanpa ekspresi itu membuat Haris merasa bahwa apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar bahwa Rifki tengah marah kepadanya saat ini.


Putri mengatakan kepada Haris bahwa Putri pernah berdebat dengan Rifki karena Putri yang tiba tiba membahas tentang Haris didepan anaknya itu, hal itu membuat Putri merasakan bahwa anak lelakinya itu begitu sangat membenci sosok Papanya.


Hal itu seketika membuat Haris merasa sangat sedih ketika mengetahui bahwa anak itu lelakinya sangat membencinya, meskipun Putri beberapa kali membujuk Rifki agar tidak membenci Papanya itu.


"Maafkan Papa Nak, Papa tidak mampu untuk menemanimu tumbuh dewasa selama ini, Papa tidak mempunyai pilihan lain saat ini Nak, Maafkan Papa, izinkan Papa untuk memelukmu Nak walaupun itu hanya sebentar". Ucap Haris.


Ketika Haris ingin menyentuh tangan Rifki, Rifki segera mengalihkan tangannya, melihat tangan anaknya yang tidak ingin disentuh olehnya membuat dirinya hanya bisa pasrah dengan kemarahan dari anaknya tersebut.


Memang ini adalah kesalahannya karena meninggalkan anaknya selama ini, akan tetapi dirinya tidak punya pilihan lain selain melakukan hal itu, karena demi keselamatan keluarganya.


"Asal kamu tau Nak, jika Papa bisa memilih, Papa akan lebih memilih untuk mati daripada harus melihat dirimu begitu marah kepada Papa seperti saat ini, ini semua salah Papa, karena Papa begitu lemahnya dan Papa begitu tega meninggalkan kalian". Setetes air mata jatuh mengenai pipinya.


Mendengar ucapan Haris kepadanya, membuat Rifki juga ikut meneteskan air matanya, dirinya begitu sangat merindukan sosok Papanya akan tetapi kekecewaannya membuat dirinya tidak mampu mengalahkan perasaannya sendiri.


"Baguslah kalau Papa sudah sadar akan kesalahan yang telah Papa lakukan kepada kami, asal Papa tau, aku selalu menanti kabar dari Papa selama ini, tapi kenapa Papa tidak pernah memberikan kabar kepada kami? Aku kira Papa telah lupa kepada kami bertiga, aku sangat marah kepada Papa, Papa sama sekali tidak memiliki perasaan, Papa tidak pernah mengerti bagaimana perasaan kami selama ini". Ucap Rifki tanpa menoleh kearah dimana Haris berada.


Haris hanya mampu mendengarkan ucapan Rifki dengan rasa sangat bersalah kepada anaknya, selama ini ia selalu menyembunyikannya dari anak anaknya dan yang mengetahui tujuannya adalah istri tercintanya yang setiap hari dirinya temui dengan diam diam tanpa sepengetahuan dari banyak orang.


"Maafkan Papa, Papa salah Nak, maafkan Papa karena Papa telah meninggalkan kalian bertiga dengan cara seperti ini, semua salah Papa Nak, kau berhak untuk marah kepada Papa, pukul Papa Nak, jika kau juga menginginkan nyawa Papa, maka ambilah Papa rela untuk memberikan hal itu kepadamu, Papa hanya tidak akan sanggup untuk melihatmu marah seperti ini kepada Papa, maafkan Papa, Papa tau kesalahan yang telah Papa lakukan sangat sulit untuk mendapatkan maaf darimu".


"Papa tau bahwa kesalahan yang telah Papa lakukan ini terlalu besar bagimu Nak, dan bahkan seribu maaf yang Papa ucapkan tidak akan mengurangi rasa sakit hatimu kepada Papa, lantas bagaimana caranya agar Papa bisa untuk menebus kesalahan yang telah Papa lakukan Nak?".


"Jika aku menginginkan nyawa Papa sekarang, apa Papa akan memberikannya kepadaku saat ini juga?".


Pertanyaan Rifki seketika membuat perasaan Haris bagaikan tersambar oleh sebuah petir yang begitu dahsyatnya, akan tetapi Haris mampu menampakkan sebuah senyuman diwajahnya.


Haris lebih rela bahwa dirinya akan mati ditangan anaknya daripada harus melihat anaknya begitu marah seperti ini kepadanya, baginya kematian itu tidak begitu menakutkan yang ia takutkan hanyalah tidak mendapatkan maaf dari anak anaknya.


Haris tersenyum begitu bahagianya kepada Rifki yang ada dihadapannya saat ini, karena anaknya menginginkan nyawanya saat ini itu artinya dirinya akan mati ditangan anaknya.


Itu adalah hal yang membahagiakan bagi Haris, karena dirinya bisa mati ditangan anaknya, ditangan darah dagingnya sendiri agar mendapatkan maaf dari anaknya sendiri.


"Jika itu keinginanmu maka ambillah nak, dan jika harus mati ditanganmu itu tidak masalah bagi Papa, karena Papa akan merasa bahagia karena telah mati ditangan anak yang begitu hebat yang pernah papa lihat, asal kau mau memaafkan kesalahan yang telah Papa lakukan, Papa akan ikhlas untuk memberikan nyawa Papa kepadamu sekarang juga Nak".


"Maka lakukanlah Pa, aku sangat menginginkan nyawa Papa untuk saat ini".


"Apa kamu benar benar menginginkan nyawa Papa Nak?". Tanya Haris sekali lagi kepada anaknya.


"Iya, sangat menginginkannya, maka berikan hal itu kepadaku sekarang juga Pa, jika Papa memang benar benar menyayangi kami bertiga, maka berikanlah nyawa Papa kepadaku saat ini juga".


"Jika seorang anak meminta kepada orang tuanya maka orang tuanya akan berusaha untuk memberikan hal itu kepada anaknya". Ucap Haris sambil melangkah menuju kearah dimana peralatan bertahan hidup itu berada.

__ADS_1


Rifki memandangi wajah Papanya itu dengan seksama, tidak ada keraguan sedikitpun diwajah lelaki itu, lelaki itu begitu serius dengan ucapannya dan akan melakukan apapun asal anaknya dapat untuk memberikan maafnya kepadanya.


Haris memegang sebuah pisau yang cukup tajam dan lancip berjalan menuju kearah dimana Rifki berada, tatapan Rifki sama sekali tidak bergembing dari posisinya maupun wajahnya sedikitpun.


Hal itu membuat Haris hanya bisa menghela nafasnya karena anaknya benar benar menginginkan nyawanya, Haris memejamkan matanya dan berniat untuk menggoreskan mata pisau itu kelehernya, tanpa dia sangka bahwa bukan lehernya yang tergores melainkan tangan dari anaknya sendiri yang sedang memegangi mata pisau itu dengan eratnya.


Sringg....


Sebelum mata pisau itu menyentuh kulit Papanya, Rifki segera mengayunkan tangannya untuk memegang mata pisau tersebut dan tidak membiarkan mata pisau itu terkena leher dari Papanya, ia sama sekali tidak mempedulikan rasa perih yang dia rasakan saat ini.


Meskipun darahnya bercucuran bergitu derasnya, Rifki sama sekali tidak mempedulikan akan hal itu, darah bercucuran menetes ketanah tempat dimana Haris berdiri saat ini, Haris yang menyadari bahwa pisau yang ia pegang sedang dipegang oleh seseorang membuatnya membuka matanya.


"Akh...". Desah Rifki ketika merasakan sayatan ditangan karena pisau tersebut.


"Apa yang kau lakukan Nak?". Ucap Haris dengan paniknya ketika mengetahui tangan anaknya berdarah dan mengalir dengan derasnya.


Rifki segera menarik pisau yang ada digenggam tangannya tersebut dari tangan Haris, meskipun tangannya kini bersimbah darah, Rifki sama sekali tidak terlihat kesakitan dan bahkan Rifki membuang pisau itu jauh jauh dari dirinya.


Haris segera mengenggam tangan anaknya yang tersayat pisau itu, Haris dapat merasakan bahwa anaknya itu sedang menahan rasa sakit dari sayatan pisau karena tangan Rifki yang bergetar pelan dengan sendirinya tanpa kemauan dari Rifki.


Tangan yang tadinya terlihat sehat, kini mulai memucat karena banyaknya darah yang keluar melalui tangan tersebut, darah Rifki yang menetes ke atas tanah sebagian sudah mulai membeku dan menggumpal sedang ditangannya mulai terasa sedikit lengket dan bau anyir darah mulai tercium.


"Rifki pantas mendapatkannya Pa". Ucap Rifki pelan.


"Apa yang kamu katakan Nak, kenapa kamu melukai dirimu sendiri, maafkan Papa, jangan lakukan hal seperti ini lagi, Papa tidak mau melihatmu terluka". Ucap Haris yang bertambah panik ketika melihat Rifki meneteskan air matanya.


"Rifki tidak bisa marah kepada Papa, maafkan sikap Rifki terhadap Papa tadi, Rifki pantas mendapatkan luka seperti ini karena Rifki telah menyakiti hati orang tua Rifki, dan sekarang kekesalan dan kekecewaan didalam hati Rifki sekarang sudah benar benar sirna seiring dengan menetesnya darah ku ini Pa".


Sebenarnya ketika Rifki bertemu dengan Papa kandungnya, ada sebuah rasa kekesalan yang mendalam kepada sosok lelaki itu, bukan hanya lelaki itu yang tidak pernah memberikan kabar kepadanya melainkan caranya untuk membawanya ketempat ini bagaikan seorang tahanan saja.


Akan tetapi Rifki sadar bahwa sosok yang ada didepannya adalah Papa kandungnya sendiri, mendengar perkataan Papanya membuat Rifki merasa bersalah kepada Papanya, memang Rifki tidak mengetahui alasan kenapa Papanya pergi.


Tetapi dirinya tidak ingin menyesal diakhir karena telah membenci Papanya tanpa alasan yang tentunya, untuk menghilangkan rasa kecewanya Rifki mengucapkan kata bahwa dirinya sangat menginginkan nyawa dari Papanya itu.


Rifki sebenarnya tidak ada niatan untuk mengatakan hal itu kepada Haris, akan tetap melihat Haris yang sudah siap untuk memberikan nyawanya atas kemauan dari dirinya sendiri, membuat Rifki segera menggerakkan tangannya untuk menghalangi pisau yang akan menyayat kulit Haris itu.


Haris adalah orang yang paling disayangi oleh Mamanya meskipun keduanya tidak pernah bertemu selama ini, Rifki tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada orang yang disayangi oleh Mamanya itu meskipun harus dengan meneteskan darahnya sendiri, dan biar bagaimanapun orang itu adalah Papa kandungnya sendiri.


"Kenapa kamu melakukan ini Nak? Inilah keputusan yang telah Papa ambil selama ini, jadi Papa harus menanggung semuanya sendiri, Papa tidak bisa melihatmu terluka seperti ini".


Haris menyobek pakaian yang melekat pada tubuhnya untuk membalut luka yang ada ditangan Rifki, dengan perlahan lahan dirinya mengikat kain panjang tersebut kepada tangan Rifki yang terluka karena sayatan sebuah pisau.


"Papa tidak boleh menanggungnya seorang diri seperti ini, biar bagaimanapun Papa masih memiliki keluarga dan kami akan selalu ada untuk Papa".


*Jangan lupa like 🥰

__ADS_1


__ADS_2