
"Jadi bayangan itu sama sekali tidak ingin mencelakaiku? Tapi dia ingin menolongku?". Tanya Nadhira setelah mendengar cerita dari Rifki.
"Iya Nadhira, pohon yang ada didepan kita saat ini adalah rumahnya".
Rifki berjalan mendekati pohon yang rimbun tersebut, tetapi yang ia datangi adalah sosok remaja yang telah mendatanginya sebelumnya. Sebenarnya remaja itu telah memanggil Rifki untuk mendekat kearahnya, sehingga Rifki berjalan mendekatinya.
Melihat Rifki yang mendekat kearah pohon tersebut, Nadhira tidak berdiam diri saja, ia juga mengikuti Rifki untuk mendekat kearah pohon yang ditunjuk oleh Rifki sebelumnya. Dengan susah payah keduanya melangkah karena banyaknya akar akar pohon yang menghalangi jalannya.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya keduanya telah sampai ditempat yang mereka tuju sebelumnya, Rifki berdiri tepat dihadapan makhluk tersebut.
"Nadhira, dihadapanku saat ini adalah makhluk yang kau maksud".
"Dia benar benar ada disini?".
"Iya, dia sedang menatap kita saat ini, dan kita sedang menatapnya saat ini".
Nadhira berjalan mendekat kearah makhluk tersebut, ia berdiri disamping Rifki sambil menghadap kearah dimana Rifki saat ini sedang berhadapan dengan makhluk itu.
"Hari ini adalah hari terakhir kami berkemah disini, terima kasih atas bantuannya selama kami berada ditempat ini". Ucap Rifki kepada makhluk gaib tersebut.
"Kami merasa beruntung bisa bertemu dengan anda ditempat ini, kami akan berusaha untuk menjaga permata tersebut dengan sebaik baiknya". Tambah Raka yang berada didekat Rifki.
"Aku harap juga seperti itu, jika kalian butuh bantuan ditempat ini, aku bersedia untuk membantu kalian".
"Terima kasih karena sudah menolongku". Ucap Nadhira kepada mahluk itu.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah kewajibannya untuk menjagamu". Ucap Rifki.
"Aku tidak berbicara kepadamu Rif, aku hanya berbicara kepadanya saja". Tanya Nadhira.
"Aku hanya menyampaikan apa yang mahkluk itu katakan, kamu kan tidak bisa mendengarnya, bagaimana kamu bisa tau jawabannya, jadi aku akan menyampaikan apa yang ia katakan".
Nadhira tersenyum canggung kearah Rifki berada, memang benar apa yang diucapkan oleh Rifki, Nadhira memang tidak dapat mendengar ucapan mahkluk gaib, berbeda dengan orang yang ada disebelahnya yang dapat mendengarnya.
"Jangan sampai ada yang mengetahui mengenai permata itu, selama dia merasa tenang energi permata itu akan melemah karena sebuah energi yang telah lama berada didalam tubuhnya akan menguat dan menghalangi pancaran energi permata, aku tidak tau energi itu berasal dari mana, tapi yang aku tau energi itu semakin kuat beberapa hari ini daripada sebelumnya". Ucap mahkluk itu.
Rifki mengangguk kearah sosok yang ada didepannya saat ini, setelah itu Rifki mengajak Nadhira kembali keperkemahan mereka. Keduanya segera meninggalkan tempat itu.
"Rif apa yang kau katakan kepada mahkluk itu? Dan apa yang dikatakan oleh mahkluk itu?". Tanya Nadhira kepada Rifki.
"Dia hanya mengatakan bahwa aku harus menjagamu, jangan sampai tersesat lagi, karena tidak semua mahkluk yang berada di sini itu baik, bisa jadi kan kamu malah dimakan oleh mereka". Rifki menunjuk kesebuah semak semak yang terdekat dari mereka.
"Ada apa disitu? Mahkluk apa yang berada disitu?". Tanya Nadhira.
Nadhira mendekat ke arah semak semak itu berada, karena penasarannya membuatnya berjalan kearah semak semak tersebut.
"Aaaaa.....".
Teriak Nadhira ketika ia berhasil melihat apa yang ada didalam semak semak tersebut, ia melihat seekor ular besar yang sedang memutari telur telurnya. Nadhira segera bergegas mendatangi Rifki dan mengajak Rifki untuk pergi dari tempat itu.
"Kenapa? Kamu takut? Ular itu tidak berbisa tapi kalau digigit ya lumayan sakit". Goda Rifki.
__ADS_1
"Lumayan sakit katamu? Bagaimana bisa ada ular yang tidak memiliki bisa, kalau digigit tau rasa kau".
"Iya lumayanlah, daripada harus melihat kemarahanmu bisa bisa seluruh tubuhku berubah menjadi biru".
"Apa kau bilang?". Nadhira memegang tangan Rifki yang telah ia cubit sebelumnya.
"Arghhh.... ". Teriak Rifki.
Nadhira menjadi salah tingkah, apakah perbuatannya telah menyakiti Rifki sehingga Rifki berteriak seperti itu, padahal dia hanya memegangi luka Rifki, tetapi jika difikir fikir lagi sakit yang Rifki rasakan memang benar adanya.
"Cukuplah bercandanya Rifki, aku kan hanya memeganginya bukan mencubitnya kenapa kamu harus berteriak seperti itu ha? Kayak aku akan membunuhmu saja".
"Membunuhku, apa kau mau itu? Ah iya aku lupa, darahku rasanya enak lo, apalagi hatiku".
"TIDAK, aku vegetarian".
"Yakin nih tidak mau? Kamu tadi makan daging ikan, bagaimana bisa langsung berubah jadi vegetarian begitu cepat?".
"Sudahlah, aku mau diet".
Rifki terus menggoda Nadhira disepanjang perjalanan menuju keperkemahan, dengan berbagai macam kata Rifki keluarkan, ekspresi wajah Nadhira ketika merasa sebal membuatnya merasa senang.
Ketika keduanya kembali, keduanya tidak sengaja melewati tenda milik Amanda, Nadhira melihat Amanda sedang menyapu halaman tersebut. Nadhira begitu terkejut melihatnya, karena selama ini ia tidak pernah melihat Amanda melakukan hal seperti itu.
"Manda, kenapa kamu melakukan itu?". Tanya Nadhira.
"Diam kau!!! Semuanya gara gara dirimu". Ucap Amanda dengan kesalnya.
"Aku kan sudah minta maaf Rif, kenapa sih tinggal maafin aja susah banget". Ucap Amanda.
"Kau sama sekali tidak pantas mendapatkannya".
"Apa yang kalian bicarakan? Rif maafkan adikku jika dia salah". Ucap Nadhira kepada Rifki.
"Ngak usah pura pura baik deh kamu Nadhira, aku sudah tau bahwa hatimu begitu busuk".
"Apa yang kau katakan Manda? Kesalahan apa yang pernah aku lakukan kepadamu, kenapa kamu begitu sangat membenciku, katakan padaku!!". Ucap Nadhira mendengar kata kata yang keluar dari mulut Amanda, dari pelupuk matanya terlihat sebulir alir mata yang akan terjatuh.
"Sudahlah ayo pergi Dhira".
"Tidak Rif, aku butuh jawabanmu Manda". Nadhira memandang Amanda sambil menunggu jawabannya.
Rifki menarik tangan Nadhira untuk menjauh dari tempat tersebut, ia tidak mempedulikan ucapan Nadhira yang ingin membela saudara tirinya, melihat Rifki begitu kesalnya membuat Nadhira hanya pasrah ditarik oleh Rifki.
Keduanya segera bergegas menuju kewilayah tenda kelas mereka, Nadhira tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rifki dan adik tirinya bisa memiliki masalah diantara keduanya.
Nadhira terus memikirkan apa yang telah dikatakan oleh adik tirinya, mengapa ia bisa mengatakan hal yang begitu menyakitkan, Rifki dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Nadhira saat ini tetapi ia tidak bisa berbuat apa apa karena kebencian yang dimiliki oleh adik tirinya begitu mendalam.
"Jangan difikirankan terlalu lama masalah adik tirimu Dhira, ingatlah jangan sampai roh itu menguasaimu lagi".
"Ada apa sih Rif sebenarnya, mengapa Manda bisa mengatakan hal seperti itu".
__ADS_1
"Ceritanya panjang Nadhira, ketika kamu tersesat di hutan, pelaku sebenarnya adalah adikmu itu, sehingga ia mendapatkan hukuman dari bapak ibu guru karena perbuatannya, hukuman itu tidak akan berakhir sebelum ia mendapat maaf dariku dan darimu".
"Maksudmu? Jadi dia sekarang sedang menjalani hukumannya".
"Iya, awalnya ketika aku tidak bisa menemukanmu aku begitu marah kepada semuanya, malam itu tiba tiba berubah menjadi malam terpanas, dengan marahnya aku bergegas mencarimu sementara bapak dan ibu guru memberikan hukuman itu kepada Amanda".
Nadhira termenung mendengar cerita dari Rifki, jadi selama mereka berada ditempat ini, Amanda mendapatkan hukuman yang begitu berat bagi Nadhira maupun bagi Amanda.
Nadhira tidak pernah membenci adik tirinya meskipun ia selalu menyakiti perasaannya, mendengar Amanda sedang dihukum oleh para guru membuat hatinya merasa bersalah.
"Rif maafkan dia, aku mohon, aku mewakilinya untuk meminta maaf kepadamu, tolong maafkan dia, Allah saja Maha Pemaaf, kenapa kamu tidak bisa memaafkannya".
"Arghhh... kenapa gadis ini memohon untuk orang lain, aku tidak tau apa gadis ini begitu lugu atau begitu bodoh?". Teriak Raka mendengar ucapan Nadhira yang memohon untuk memaafkan saudara tirinya.
"Bukan aku tidak bisa memaafkannya Nadhira, tapi aku tidak ingin memaafkannya, biarkan dia mendapatkan hukuman atas perbuatannya sendiri".
"Tapi Rif, dia adalah adik tiriku, aku mohon kepadamu maafkan dia, aku tidak ingin dia mendapatkan hukuman seperti ini".
"Aku tidak tau bagaimana jalan fikirmu Nadhira, dia begitu jahat kepadamu, kenapa kamu harus memohon mohon seperti ini hanya untuk memaafkannya".
"Biar bagaimanapun juga, dia adalah saudaraku saat ini Rif, meskipun akhirnya aku harus tiada karenanya, aku akan bahagia".
"Apa yang kau katakan Nadhira? Aku akan memaafkannya tapi aku mohon jangan katakan hal itu lagi, jangan pernah meninggalkanku".
"Makasih Rif".
Didalam hatinya Rifki masih merasa begitu berat untuk memaafkan saudara tiri Nadhira, tetapi biar bagaimanapun itu adalah kemauan dari Nadhira sahabatnya. Akhirnya Rifki datang menemui Amanda dengan beratnya, didalam hatinya ia ingin menjerit karenanya.
Melihat Rifki yang berjalan kearahnya, Amanda segera mendatanginya dengan rasa senang.
"Rif, apa kamu memaafkanku?". Tanya Amanda.
"Iya, aku memaafkanmu, aku akan mengatakan kepada bapak ibu guru untuk mencabut hukumanmu saat ini". Ucap Rifki dengan malasnya.
"Berarti kamu sudah tidak marah lagi denganku? Terima kasih". Ucap Amanda sambil memegang tangan Rifki.
Melihat tangannya dipengang erat oleh Amanda, membuat Rifki begitu risih dan akhirnya melepaskan pegangan tangan itu dengan paksaan.
"Aku memaafkanmu bukan berarti kau bebas untuk memegangku sesukamu, jika bukan karena Nadhira aku tidak akan pernah menganggapmu ada".
"Kenapa harus Nadhira lagi Nadhira lagi, apa sih artinya Nadhira dalam hidupmu, Rif, aku menyukaimu sejak lama". Amanda mengungkapkan perasaannya dengan geramnya kepada Rifki.
"Bagiku Nadhira adalah segalanya, soal perasaanmu lebih baik lupakan saja".
"Rif, beri aku kesempatan untuk berada di dekatmu seperti Nadhira, lagian apa sih bedanya aku dengan dia? Cantik juga lebih cantikan aku".
"Kalian berdua berbeda bahkan jauh berbeda, kau tidak akan pernah mampu untuk disamakan dengannya".
Rifki segera meninggalkan Amanda sendirian di tempat itu, ia tidak ingin berlama lamaan bersama dengan Amanda, Rifki segera mendatangi tempat tenda guru untuk mengatakan bahwa ia telah memaafkan Amanda.
Setelah itu ia kembali ketendanya untuk berkemas, karena sebentar lagi bus sekolah akan menjemput mereka, karena acara Camping telah selesai dihari itu.
__ADS_1